5 Years

rehanaja
Chapter #1

Hari-Hari Abu-abu #1

Waktu seakan berjalan pelan pagi itu. Embung masih menempel di kaca jendela kelas, aroma buku baru tersebar di udara, dan riuh obrolan teman-temanku terdengar seperti musik latar yang tak pernah berhenti.

Namaku Raihan, atau biasanya orang memanggilku Rehan. Namun dikalangan temen dekat, aku lebih dikenal sebagai Rei. Mereka memberiku banyak julukan aneh, tapi ada satu yang paling menempel, Reitao. Aku tahu, kedengerannya agak unik, dan mungkin sedikit konyol, tapi percayalah, nama itu menyimpan cerita. yang.... untuk sekarang, biarlah tetep menjadi rahasia.

Dan disinilah aku, seorang siswa kelas sembilan yang baru memulai semester pertama. Masa dimana semuanya mulai terasa lebih berat, lebih cepat, lebih rumit. Masa ketika orang-orang mulai bertanya soal rencana, mimpi, dan masa depan. Aku hanya mencoba bertahan dikehidupan ini.

Hari itu, aku sedang bengong sambil menatap keluar jendela kelas. Matahari masuk lewat sela tirai, membuat debu-debu kecil melayang pelan. Hingga suara guru matematika memecah lamunanku.

"Rehan! Jangan melamun aja. Coba kamu jawab nomor satu, Bagian B!"

Aku tersentak panik. Aku bahkan tak tahu halaman mana yang sedang dibahas. Teman sebangku ku, Faiz, hanya terkekeh sambil menutup mulut.

"Itu Han. Halaman 98 yang sebelah kanan."

Aku pun spontan membuka halaman yang dikatakannya, dan langsung membaca soal yang tertulis dengan suara yang lantang dan pede.

"Nomor satu B, Apa rumus luas segitiga siku-siku?" Kelas mendadak sunyi. Guruku menggelengkan kepalanya.

"Astaghfirullah, rehan. Berdiri kamu! Itu bab apa rehan? Kita lagi belajar bab kordinat, yang kamu bacakan itu bab kuartal semester kemarin. Makanya kalo lagi belajar fokus,jangan melamun melulu!"

Aku berdiri dengan pasrah. Faiz tersenyum lebar penuh kepuasan. Aku hanya melirik kesal kepadanya, walaupun aku sadar bahwa yang salah adalah diriku sendiri karena telah melamun saat pelajaran. Pelajaran berlanjut. Aku mencoba Fokus, berharap diberi izin duduk secepatnya. Tak lama, bel zuhur berbunyi. Setelah salat, tubuh terasa lebih ringan. Temanku, Dhika, tiba-tiba menghampiriku.

"Oi han han, ke kantin yuk! mumpung nasi ayam mas Fuad belum diserbu pemburu kantin."

"Gaslah, kebetulan gw ada ceban nih, kuy lah."

Kami pun bergegas menuju kantin, untung aja masih sepi. Setelah membeli beberapa jajanan disana, kami berniat kembali ke kelas. Namun di perjalanan, kami melihat beberapa teman kelasku sedang berkumpul di belakang masjid. Rumpiannya heboh sekali! karena penasaran, aku dan Dhika memutuskan duduk dan makan di sana saja. Saat aku membuka bungkus piscok yang ku beli tadi, Pandangan teman-temanku langsung tertuju ke makananku.

Lihat selengkapnya