6:54:08

byarbi18
Chapter #2

Chapter 2 Sekenang Jalan

Chapter 2

Sekenang Jalan


Pintu berderit, menggeser lamunan ke arah yang saling berlawanan. Dari sana pahamku termaktub, bahwa perpisahan adalah jalan lebar menuju kesempatan baru yang tertutupi. Tak percaya? Lewatlah pintu KRL otomatis itu. Mafhum kah kau? Kuharap secepatnya paham.

Lama nian desakan, gesekan, dan erangan yang tak tergubris bersatu dalam tapak sepatu mengekor keluar. Wajah-wajah gugup menggeser mata melihat angka bundar, atau entahlah bentuknya, maksudku jam. Terburu-buru tentunya, tak harap kenal kanan maupun kiri, tak penting jua.

Jelita parasmu tersentakkan ke lamunanku akan penjelasanku tentang suasana ingin keluar gerbong. Aku merunut bekas langkahmu, berharap kau akan menilik jejakmu dan kita bersua pandang. Namun aku tahu itu hanya rekaan imaji. Karena jika kau lakukan itu, banyak mulut terbuka merusuh orang yang berhenti di pintu kereta dikala waktu turun demi melihat apakah jejaknya nyata atau hanya angan.

Lihat selengkapnya