Abdul Jabbar, Lelaki yang Tak Pernah Menyerah
Kisah perjuangan ayah Fadil mencari nafkah meskipun pekerjaan selalu datang dan pergi.
°˖✧✿✧˖°
Abdul Jabbar menutup pintu rumahnya pelan-pelan agar tidak membangunkan Fadil dan istrinya. Jam baru menunjukkan pukul empat pagi, tetapi langit di ujung timur sudah mulai berwarna kelabu. Ia mengikat tali sepatu bututnya dengan gerakan yang sudah terlatih—tangan kasar yang penuh kapalan itu bergerak cepat meski udara pagi menusuk tulang. Di dinding kayu rumahnya, tergantung sebuah jaket lusuh berwarna cokelat tanah. Jaket itu sudah bersamanya selama tujuh tahun, dan setiap jahitannya menyimpan cerita tentang panas terik, hujan deras, dan debu proyek yang tak pernah habis.
"Pak, sarapan dulu," suara Sari menghentikannya sebelum ia melangkah keluar.
Abdul Jabbar menoleh. Istrinya berdiri di ambang pintu dapur, masih mengenakan kain sarung dan rambutnya yang mulai beruban terurai seadanya. Di tangannya, ada secangkir kopi hitam tanpa gula dan sepotong ubi rebus yang masih mengepul.
"Kau bangun terlalu pagi," katanya lirih, menerima cangkir itu dengan kedua tangan.
"Kau yang terlalu pagi," balas Zubaidah "Proyek di mana hari ini?"
Abdul Jabbar menyesap kopinya. "Perumahan baru di sebelah timur sungai. Kata mandor, butuh tukang batu. Upahnya harian."
Zubaidah mengangguk, tetapi matanya menyimpan kekhawatiran yang tak pernah hilang. Sudah tiga minggu sebelumnya Abdul Jabbar tidak mendapat pekerjaan tetap. Ada kalanya ia hanya membantu tetangga memperbaiki atap bocor, atau mengangkut barang di pasar dengan upah yang bahkan tidak cukup untuk membeli beras seminggu. Namun, lelaki itu tidak pernah mengeluh. Tidak pernah sekalipun.
"Jangan lupa makan siang," pesan Zubaidah.
Abdul Jabbar tersenyum tipis—senyum yang jarang muncul, tetapi selalu berhasil membuat Zubaidah merasa tenang. "Kau ini seperti ibuku dulu."
"Karena aku memang ibumu untuk anakmu," jawab Zubaidah, setengah bercanda.
Abdul Jabbar tertawa kecil. Ia mencium kening istrinya sebentar, lalu melangkah keluar ke jalanan yang masih basah oleh embun. Sepeda tuanya—sebuah sepeda ontel tua berwarna hitam yang ia beli dari uang hasil menjual kambing lima tahun lalu—menunggu di samping rumah. Ia mengayuhnya perlahan, melewati gang-gang sempit yang masih gelap, menuju jalan raya utama.
Di belakangnya, dari balik jendela yang retak, Fadil mengintip. Ia melihat punggung ayahnya yang mulai bungkuk, mengayuh sepeda dengan tenaga yang tersisa. Di hati pemuda itu, ada rasa campur aduk antara kagum dan sedih. Ayahnya adalah lelaki yang tak pernah menyerah—bahkan ketika dunia seakan menutup semua pintu untuknya.
°˖✧✿✧˖°
Matahari baru saja naik ke atas kepala ketika Abdul Jabbar tiba di lokasi proyek. Perumahan baru itu masih berupa kerangka beton dan tumpukan bata yang belum tersusun. Debu beton menari-nari di udara, bercampur dengan suara mesin molen yang meraung-raung. Puluhan lelaki dengan pakaian lusuh sibuk dengan pekerjaannya masing-masing—ada yang mengangkut bata, ada yang mencampur semen, ada yang memanjat perancah.
Abdul Jabbar memarkir sepedanya di bawah pohon mangga yang rindang, lalu berjalan menuju mandor yang sedang mencatat sesuatu di buku tulisnya.
"Assalamualaikum, Pak," sapanya.
Mandor itu—seorang lelaki gemuk berusia lima puluhan bernama Pak Hasyim—menoleh. "Waalaikumsalam. Jabbar, kan?"
"Iya, Pak."
"Kau datang tepat waktu. Bagus." Pak Hasyim menutup bukunya. "Hari ini kau kerja di blok C. Pasang bata untuk dinding kamar mandi. Ada tukang lain yang bantu kau—namanya Darwis. Dia sudah di sana."
Abdul Jabbar mengangguk. "Baik, Pak."
Ia berjalan menuju blok C, melewati tumpukan semen dan besi yang berserakan. Di sana, seorang pemuda kurus berusia sekitar dua puluhan sedang sibuk mengukur dinding dengan meteran.
"Kau Darwis?" tanya Abdul Jabbar.
Pemuda itu menoleh. "Iya, Pak. Bapak yang ditugaskan bantu saya?"
"Bukan bantu," jawab Abdul Jabbar sambil tersenyum. "Kita kerja sama. Sama-sama tukang."
Darwis tersenyum malu. "Maaf, Pak. Saya masih baru."
"Tidak apa-apa. Saya juga dulu pernah baru."
Mereka mulai bekerja. Abdul Jabbar mengambil bata satu per satu, mengolesinya dengan semen, lalu menyusunnya dengan rapi. Tangannya bergerak cepat dan terampil—hasil dari pengalaman bertahun-tahun. Darwis memperhatikan dengan kagum.
"Pak Jabbar sudah lama jadi tukang bangunan?" tanya Darwis sambil menyerahkan bata berikutnya.
"Sejak sebelum kau lahir, mungkin," jawab Abdul Jabbar sambil tertawa kecil. "Dulu saya mulai sebagai kuli angkut. Gaji sehari cuma cukup untuk beli rokok."
"Terus, bagaimana bisa jadi tukang batu?"
"Belajar. Saya perhatikan tukang-tukang tua dulu. Saya tiru cara mereka. Kalau salah, saya perbaiki. Lama-lama, mandor lihat saya bisa, jadi saya diangkat jadi tukang."
Darwis mengangguk-angguk. "Jadi, semua butuh proses, ya, Pak."
"Betul. Tidak ada yang instan di dunia ini, Darwis. Kecuali mie instan."
Mereka berdua tertawa. Di tengah debu dan panas yang menyengat, tawa itu terasa seperti oase di padang gurun.
Namun, tawa itu tidak berlangsung lama. Sekitar pukul sebelas siang, Pak Hasyim datang dengan wajah yang tidak biasa. Ia mengumpulkan semua tukang di depan kantor proyek sementara—sebuah kontainer kecil yang dijadikan pos.
"Ada pengumuman," kata Pak Hasyim. Suaranya berat. "Proyek ini... dihentikan sementara."
Semua orang terdiam. Abdul Jabbar merasakan sesuatu yang dingin menjalar di punggungnya.
"Kenapa, Pak?" tanya seseorang dari belakang.
"Pemilik lahan belum melunasi pembayaran ke kontraktor. Jadi, kita semua diliburkan sampai waktu yang belum ditentukan."
Gemuruh protes terdengar. Ada yang mengumpat, ada yang hanya diam dengan wajah pucat. Abdul Jabbar tidak berkata apa-apa. Ia hanya menundukkan kepala, menatap tanah yang penuh bekas sepatu pekerja.