6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #3

Doa di Sepertiga Malam

Zubaidah dan Doa di Sepertiga Malam

Sang ibu menjadi sosok yang menjaga kehidupan religi keluarga.

°˖✧✿✧˖°

Zubaidah menunggu hingga rumah sunyi. Suaminya, Abdul Jabbar, telah tertidur lelap setelah seharian mengangkut karung di pasar—tubuhnya yang kurus tampak tenggelam dalam selimut tipis yang sudah bertambal di beberapa bagian. Fadil pun sudah lama memejamkan mata setelah belajar hingga larut. Syarifah, ibu mertuanya yang sudah berusia senja, juga sudah beristirahat di kamar belakang. Hanya Zubaidah yang masih terjaga, duduk di atas sajadah usang yang ia gelar menghadap kiblat.

Malam itu adalah malam ketiga belas bulan Rajab. Zubaidah menghitung-hitung hari dalam kalender dinding yang sudah lusuh. Ia selalu menghafal bulan-bulan Arab, bukan karena ia pernah belajar di pesantren—ia bahkan hanya tamat sekolah dasar—tetapi karena ibunya dulu mengajarinya. Ibunya adalah perempuan tua yang buta huruf, tetapi hafal banyak doa dan selalu bangun di sepertiga malam untuk bermunajat.

"Shalat tahajud itu senjata orang beriman," begitulah kata ibunya dulu. "Kalau kau punya masalah yang tidak bisa kau selesaikan, bangunlah di sepertiga malam. Allah mendengarkan."

Zubaidah masih ingat betul bagaimana ibunya selalu bangun sebelum subuh, mengambil air wudhu dengan air yang dingin menusuk tulang, lalu berdiri di atas sajadah yang sama—sajadah yang kini ia warisi. Ibunya tidak pernah mengeluh. Tidak pernah mengeluh tentang suami yang meninggalkan mereka, tentang rumah yang bocor, tentang makan yang sering hanya nasi dan garam. Ibunya hanya berdoa. Dan doa-doa itu, Zubaidah percaya, adalah alasan mengapa ia masih hidup hingga hari ini.

Zubaidah menutup matanya. Ia mulai melafalkan doa yang ia hafal sejak kecil—doa yang tidak pernah ia tinggalkan, bahkan ketika tubuhnya lelah, bahkan ketika hatinya hampir menyerah.

"Ya Allah, aku titipkan suamiku kepada-Mu. Aku titipkan anakku kepada-Mu. Aku titipkan keluarga kecil ini kepada-Mu. Berikanlah kami kekuatan untuk melewati hari-hari yang sulit. Berikanlah kami rezeki yang halal dan berkah. Jangan biarkan kami jatuh dalam keputusasaan..."

Air matanya mengalir tanpa ia sadari. Di luar, angin malam berhembus pelan, menggoyangkan dedaunan pohon mangga di halaman. Di dalam rumah kecil itu, Zubaidah terus berdoa hingga azan subuh berkumandang.

°˖✧✿✧˖°

Ketika suara azan subuh terdengar dari masjid kampung, Zubaidah mengakhiri shalatnya. Ia melipat sajadah dengan hati-hati, lalu berjalan ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Namun, sebelum ia sempat menyalakan kompor, Abdul Jabbar sudah muncul di ambang pintu dapur dengan wajah pucat.

"Ada apa, Pak?" tanya Zubaidah.

Abdul Jabbar terdiam sejenak. Ia menatap istrinya yang masih mengenakan mukena, dengan mata yang sembab dan bibir yang kering. Ia tahu, Zubaidah baru saja selesai shalat tahajud. Dan ia tahu, istrinya selalu berdoa untuk keluarganya.

"Zubaidah," katanya pelan. "Aku... aku sudah telepon Rahmat."

Zubaidah menghentikan gerakannya. "Jadi?"

"Jadi," Abdul Jabbar menarik napas panjang. "Aku akan mulai kerja Senin depan. Sebagai mandor."

Zubaidah terdiam. Ia menatap suaminya dengan mata yang berkaca-kaca. Ia ingin berteriak, ingin melompat, ingin memeluk suaminya. Tetapi ia hanya berdiri di sana, menggenggam spatula yang belum sempat ia gunakan.

"Bersyukurlah," katanya akhirnya, suaranya bergetar. "Ini jawaban dari doa-doa kita."

Abdul Jabbar menghampiri istrinya. Ia menggenggam tangan Zubaidah yang dingin. "Kau... kau selalu bilang bahwa doa itu senjata. Aku tidak pernah benar-benar percaya. Tapi sekarang... aku mulai percaya."

Zubaidah tersenyum. "Kau tidak perlu percaya padaku. Kau hanya perlu percaya pada Allah."

Mereka berdiri di dapur sempit itu, dalam pelukan yang sederhana namun penuh makna. Di luar, matahari mulai terbit, mengusir dingin malam. Dan Zubaidah tahu, hari ini adalah hari pertama dari sisa hidupnya yang baru.

°˖✧✿✧˖°

Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Tiga hari sebelum Abdul Jabbar mulai bekerja sebagai mandor, Zubaidah menerima kabar bahwa ibunya, perempuan tua yang mengajarinya shalat tahajud itu, jatuh sakit parah di kampungnya di pelosok desa. Kabar itu datang dari tetangga yang mengirim surat melalui seorang pedagang yang lewat.

Zubaidah menatap surat itu dengan tangan gemetar. Ia belum pernah membaca surat dengan tulisan yang begitu buruk—tulisan tangan tetangganya yang hanya tamat sekolah dasar. Tetapi ia mengerti isinya.

"Pak," katanya kepada Abdul Jabbar yang baru pulang dari pasar. "Ibu sakit. Aku harus pulang."

Abdul Jabbar menerima surat itu dan membacanya perlahan. "Kampungmu jauh, Zubaidah. Butuh biaya untuk pergi ke sana."

"Aku tahu," jawab Zubaidah. "Tapi ini ibuku, Pak. Aku tidak bisa diam saja."

Abdul Jabbar mengangguk. Ia mengambil dompet lusuhnya dan mengeluarkan uang yang baru saja ia terima dari hasil mengangkut barang. "Ini... ini uang untuk berangkat. Aku akan cari tambahan."

Lihat selengkapnya