Tangan yang Terlatih
Kemampuan bela diri Fadil mulai diperlihatkan, tetapi ayahnya
melarangnya menggunakan ilmu untuk kesombongan.
°˖✧✿✧˖°
Matahari belum sepenuhnya naik ketika Fadil sudah berdiri di halaman belakang rumahnya. Embun masih menempel di dedaunan, dan udara pagi terasa dingin menusuk kulit. Namun, pemuda berusia sembilan belas tahun itu tidak peduli. Ia sudah mengenakan kaus hitam lusuh dan celana pendek, siap memulai latihan rutinnya.
Halaman belakang rumah keluarga Fadil bukanlah tempat yang istimewa. Hanya sepetak tanah berukuran sekitar enam kali delapan meter, dengan rumput yang tidak terlalu rapi dan beberapa pot tanaman cabai milik ibunya. Namun, di sudut kanan, terdapat sebuah tiang kayu setinggi dua meter yang sudah berdiri sejak sebelum Fadil lahir. Tiang itu menjadi saksi bisu dari setiap gerakan yang ia latih.
Fadil menarik napas panjang. Ia menutup mata, merasakan udara mengalir masuk ke paru-parunya. Perlahan, ia membuka mata dan mulai bergerak.
Gerakan pertama adalah kuda-kuda dasar. Kaki kirinya maju, kaki kanannya mundur, lutut sedikit ditekuk. Tubuhnya rendah, stabil. Ia menahan posisi itu selama beberapa detik sebelum melesat ke depan dengan pukulan lurus. Tangannya menembus udara, cepat dan presisi.
"Lagi," gumamnya pada diri sendiri.
Ia mengulangi gerakan itu. Pukulan, tangkisan, tendangan. Setiap gerakan dilakukan dengan penuh konsentrasi. Keringat mulai membasahi pelipisnya. Napasnya teratur, tidak terengah-engah. Sudah sebelas tahun ia melatih gerakan-gerakan ini, sejak ayahnya pertama kali mengajarinya di usia delapan tahun.
"Fadil!"
Suara itu memecah konsentrasinya. Fadil menghentikan gerakannya dan menoleh. Ibunya, Siti Zubaidah, berdiri di ambang pintu dapur dengan tangan memegang sendok kayu.
"Kamu belum sarapan. Sudah jam tujuh, sekolahmu jam delapan," kata Zubaidah dengan nada sedikit kesal.
Fadil mengusap keringat di dahinya. "Iya, Bu. Sebentar lagi."
"Sebentar lagi, sebentar lagi. Kamu itu kalau latihan bisa lupa waktu. Ayahmu dulu juga begitu." Zubaidah menggeleng-gelengkan kepala sebelum kembali masuk ke dapur.
Fadil tersenyum kecil. Ia tahu ibunya tidak benar-benar marah. Hanya saja, Zubaidah selalu khawatir jika Fadil terlalu larut dalam latihannya. Apalagi sejak ayahnya, Pak Abdul Jabbar mulai sibuk dengan pekerjaannya sebagai pengajar silat di padepokan kampung sebelah.
Fadil melanjutkan latihannya. Kali ini, ia berlatih gerakan kombinasi. Tiga pukulan cepat, satu tendangan samping, lalu berputar untuk menghindari serangan imajiner. Gerakannya luwes, seperti air yang mengalir. Setiap perpindahan berat badan dilakukan dengan tepat, tidak ada gerakan yang sia-sia.
Namun, di balik keluwesan itu, tersimpan kekuatan yang terlatih. Otot-otot lengannya yang tidak terlalu besar namun padat menunjukkan hasil latihan bertahun-tahun. Perutnya rata, dengan otot perut yang terbentuk dari ribuan sit-up dan plank. Fadil bukan tipe pemuda yang suka pamer. Ia lebih suka menunjukkan kemampuannya melalui tindakan, bukan kata-kata.
Selesai latihan, Fadil bergegas mandi dan sarapan. Ia duduk di meja makan, menyantap nasi goreng buatan ibunya dengan lahap. Di seberang meja, Pak Dul sedang membaca koran sambil menyeruput kopi.
"Ayah," panggil Fadil di sela kunyahannya.
Pak Dul menurunkan korannya. "Ya?"
"Tadi aku latihan gerakan kombinasi yang Ayah ajarkan minggu lalu. Rasanya sudah lebih enak."
Pak Dul mengangguk. "Bagus. Tapi ingat, Fadil. Ilmu itu bukan untuk pamer. Bukan untuk kesombongan."
Fadil mengangguk. Ia sudah mendengar nasihat itu berkali-kali. Namun, ia tidak pernah bosan mendengarnya. Ada nada serius dalam suara ayahnya yang selalu membuatnya merasa bahwa nasihat itu bukan sekadar kalimat kosong.
"Ayah tahu, kamu sudah cukup mahir," lanjut Pak Dul. "Tapi kemampuan tanpa kebijaksanaan itu seperti pisau tanpa sarung. Bisa melukai siapa saja, termasuk pemiliknya."
Fadil menelan makanannya. "Aku mengerti, Yah."
"Apakah kamu benar-benar mengerti?" Pak Dul menatap mata putranya. "Suatu hari nanti, kamu akan dihadapkan pada situasi di mana kamu harus memilih. Menggunakan ilmumu untuk membela diri, atau untuk membela yang lemah. Dan saat itu tiba, kamu harus tahu batasannya."
Fadil tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan. Di dalam hatinya, ia menyimpan pertanyaan yang belum berani ia utarakan. Apakah ada situasi di mana menggunakan ilmu untuk membela diri justru dianggap kesombongan? Apakah ada garis tipis antara membela diri dan sombong?
°˖✧✿✧˖°
Hari itu, Fadil pulang sekolah dengan hati yang ringan. Ujian matematika yang ia takutkan ternyata berjalan lancar. Ia bahkan sempat membantu teman sebangkunya, Rina, yang kesulitan mengerjakan soal nomor lima. Rina berterima kasih dengan senyum lebar, dan Fadil hanya mengangguk sambil tersenyum kecil.
Namun, perjalanan pulang tidak berjalan seperti yang ia harapkan.
Saat melewati gang sempit menuju rumahnya, Fadil mendengar suara ribut-ribut. Ada jeritan, suara benda pecah, dan tawa-tawa kasar. Ia mempercepat langkahnya. Di ujung gang, ia melihat tiga pemuda bertato sedang mengeroyok seorang pria paruh baya.
Pria itu sudah terjatuh, tangannya menutupi kepala. Darah mengalir dari hidungnya. Tasnya tergeletak di tanah, isinya berserakan.
"Heh, mana uangnya?" bentak salah satu pemuda berbadan besar. Ia menendang kaki pria itu.
"Aku... aku tidak punya uang," jawab pria itu dengan suara gemetar.
"Bohong! Tadi kamu belanja di toko, kan? Aku lihat sendiri!"
Fadil mengepalkan tangannya. Darahnya mendidih. Ia ingin sekali menerjang ketiga pemuda itu. Ia tahu ia bisa. Dengan kemampuan bela dirinya, ia yakin bisa mengalahkan mereka. Tapi, suara ayahnya terngiang di telinganya.
Ilmu itu bukan untuk pamer. Bukan untuk kesombongan.
Fadil menarik napas panjang. Ia melangkah maju, bukan dengan sikap menantang, tetapi dengan tangan terbuka.
"Bang," panggilnya dengan suara tenang. "Tolong hentikan."
Ketiga pemuda itu menoleh. Yang berbadan besar, yang tampaknya menjadi pemimpin, menyeringai. "Apa urusanmu, bocah? Minggir, kalau tidak mau ikut kena."
Fadil tidak bergerak. "Bapak ini sudah tua. Dia tidak punya uang. Kalau kalian butuh uang, aku bisa kasih. Tapi tolong lepaskan dia."
Pemuda itu tertawa. "Kamu pikir kami butuh uang recehmu? Kami butuh uang yang lebih banyak. Dan kamu, bocah, lebih baik pergi sebelum kami habisi kamu juga."
Fadil menghela napas. Ia tahu negosiasi tidak akan berhasil. Tapi ia tidak boleh menyerang lebih dulu. Ayahnya selalu mengajarkan bahwa bela diri adalah pertahanan terakhir, bukan yang pertama.
"Baik," kata Fadil. "Aku akan pergi. Tapi bapak ini ikut denganku."
Ia melangkah maju, meraih lengan pria paruh baya itu. Namun, pemuda berbadan besar itu menghalanginya. Tangannya mendorong dada Fadil dengan kasar.
Fadil terhuyung ke belakang. Tubuhnya bereaksi secara refleks. Kaki kanannya mundur satu langkah, tangannya otomatis menangkis. Dalam sepersekian detik, ia sudah dalam posisi kuda-kuda.
"Eh, bocah ini berani," kata pemuda itu. Ia melayangkan pukulan ke arah wajah Fadil.
Fadil menghindar dengan sedikit memiringkan kepala. Pukulan itu hanya mengenai udara. Tanpa berpikir, tangannya menangkap pergelangan tangan pemuda itu dan memelintirnya. Bunyi "krak" kecil terdengar, diikuti jeritan pemuda itu.
"Aw! Lepaskan!" teriaknya.
Dua pemuda lainnya bergerak maju. Fadil melepaskan pegangan dan mundur dua langkah. Ia mengangkat kedua tangannya, bukan untuk menyerang, tetapi untuk menangkis.
"Jangan macam-macam," kata Fadil dengan suara dingin. "Aku tidak mau melukai kalian."
Tapi mereka tidak mendengarkan. Yang satu menendang ke arah perutnya, yang satu lagi mencoba meninju dari samping. Fadil bergerak cepat. Ia menangkis tendangan dengan lengan bawahnya, lalu berputar untuk menghindari pukulan. Kakinya menyapu kaki pemuda yang menendang, membuatnya terjatuh.
Yang terakhir mencoba menerjang. Fadil menangkap lengan pemuda itu, memutar tubuhnya, dan mendorongnya ke dinding. Bunyi "buk" terdengar. Pemuda itu mengerang kesakitan.
Ketiga pemuda itu akhirnya mundur. Mereka saling membantu bangun, lalu berlari pergi sambil mengumpat. Fadil tidak mengejar. Ia hanya berdiri di sana, napasnya sedikit memburu.
Pria paruh baya yang tadi dipukuli bangkit dengan susah payah. "Terima kasih, Nak. Kamu menyelamatkan saya."
Fadil mengangguk. "Tidak apa-apa, Pak. Bapak baik-baik saja?"
"Luka ringan saja. Kamu hebat, Nak. Namamu siapa?"
"Fadil, Pak."
"Fadil... kamu murid silat, ya?"
Fadil mengangguk pelan. "Saya belajar dari Ayah."
Pria itu tersenyum. "Ayahmu pasti bangga."
Fadil tersenyum tipis. Tapi di dalam hatinya, ada keraguan. Apakah ayahnya akan bangga? Atau justru marah karena ia menggunakan ilmu bela dirinya?
°˖✧✿✧˖°