Harga Diri Seorang Pemuda
Fadil menolak melakukan pekerjaan yang menurutnya tidak benar meskipun membutuhkan uang.
°˖✧✿✧˖°
Tiga minggu setelah kejadian di sekolah, kehidupan Fadil kembali berjalan normal. Namun, ada yang berbeda dalam dirinya. Ia lebih tenang, lebih bijaksana dalam bertindak. Latihan paginya tetap rutin, tetapi kini setiap gerakan diiringi dengan kesadaran penuh. Ia tidak lagi sekadar menggerakkan tubuh, tetapi juga mengasah batin.
Di meja makan suatu pagi, Pak Dul membuka pembicaraan yang tidak biasa.
"Fadil," katanya sambil menyeruput kopi. "Sudah tiga bulan kamu tidak menerima uang saku tambahan dari Ayah."
Fadil mengangkat wajah dari piring nasi gorengnya. "Iya, Yah. Aku masih punya tabungan dari hasil membantu Pak Slamet mengajar anak-anak."
"Tabunganmu itu tinggal sedikit, kan?"
Fadil terdiam. Ayahnya benar. Uang tabungannya memang menipis. Ia sudah menggunakannya untuk membeli buku pelajaran, sepatu baru karena yang lama sudah rusak, dan sesekali mentraktir teman-temannya makan di kantin. Ia tidak ingin membebani orang tuanya, apalagi sejak Pak Harun mengurangi jam mengajarnya di padepokan karena sakit punggung yang sering kambuh.
"Ibu bilang, kamu butuh uang untuk membeli buku persiapan ujian," lanjut Pak Dul. "Dan kamu juga ingin ikut turnamen silat bulan depan. Ada biaya pendaftaran, kan?"
Fadil mengangguk pelan. "Iya, Yah. Tapi aku bisa mencari sendiri."
"Bagaimana caranya?"
Fadil tidak menjawab. Sebenarnya, ia sudah memikirkan beberapa cara. Ia bisa membantu Pak Slamet lebih sering, atau berjualan kue buatan ibunya di sekolah. Tapi penghasilannya tidak akan cukup untuk menutupi semua kebutuhan.
"Ada teman Ayah yang punya usaha di kota," kata Pak Dul. "Dia butuh orang untuk menjaga tokonya. Gajinya lumayan. Kamu bisa kerja paruh waktu sepulang sekolah."
Fadil mengangkat wajahnya. "Benarkah, Yah? Di toko apa?"
"Toko kelontong. Namanya Toko Berkah. Pemiliknya, Pak Rudiyanto. Dia sudah lama kenal Ayah."
Fadil tersenyum. "Aku mau, Yah. Kapan aku bisa mulai?"
Pak Dul mengangguk. "Besok sore. Ayah akan antar kamu ke sana."
Bu Zubaidah yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara. "Fadil, kamu yakin bisa membagi waktu antara sekolah, latihan, dan bekerja?"
Fadil menatap ibunya. "Bisa, Bu. Aku akan atur waktunya dengan baik."
Siti menghela napas. "Ibu hanya tidak ingin kamu terlalu lelah."
"Tenang, Bu. Aku sehat."
Malam itu, Fadil berbaring di kasurnya dengan perasaan campur aduk. Ia senang karena akan mendapatkan penghasilan sendiri. Ia merasa bangga karena bisa membantu meringankan beban orang tuanya. Tapi di sisi lain, ada kekhawatiran. Ia belum pernah bekerja sebelumnya. Ia tidak tahu apa yang akan ia hadapi.
Ia menutup mata dan berdoa. Besok adalah hari baru. Hari di mana ia akan belajar tentang tanggung jawab, tentang kerja keras, dan tentang harga diri.
°˖✧✿✧˖°
Toko Berkah terletak di jalan utama kota, tidak jauh dari pasar. Bangunannya cukup besar, dengan rak-rak yang penuh barang kebutuhan sehari-hari. Fadil tiba di sana bersama ayahnya pada sore hari.
Pak Rudi, pemilik toko, adalah pria berusia lima puluhan dengan perut buncit dan senyum yang ramah. Ia menyambut Fadil dengan hangat.
"Jadi ini Fadil, ya?" katanya sambil menjabat tangan Fadil. "Ayahmu sudah bercerita banyak tentangmu. Katanya kamu jago silat."
Fadil tersenyum malu. "Hanya belajar sedikit, Pak."
Pak Rudi tertawa. "Bagus, bagus. Di sini kamu tidak perlu silat. Yang penting rajin dan jujur."
Pak Dul berpamitan. "Fadil, Ayah pulang dulu. Nanti sore Ayah jemput."
"Baik, Yah."
Setelah Pak Harun pergi, Pak Rudi mengajak Fadil berkeliling toko. Ia menjelaskan tugas-tugas Fadil: menjaga kasir, menata barang, membantu pembeli, dan sesekali mengantar barang ke rumah pelanggan.
"Gajinya dua ratus ribu seminggu. Kamu kerja Senin sampai Jumat, jam empat sampai jam delapan malam. Sabtu kamu libur. Bagaimana?"
Fadil mengangguk. "Cukup, Pak."
"Bagus. Mulai hari ini, ya."
Fadil memulai pekerjaannya dengan semangat. Ia belajar menggunakan mesin kasir, mencatat stok barang, dan melayani pembeli dengan ramah. Pak Rudi tampak puas dengan kinerjanya.
Namun, di hari ketiga, sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Sore itu, toko sedang ramai. Fadil sibuk melayani pembeli ketika seorang pria bertubuh besar masuk. Pria itu mengenakan jaket kulit dan rantai emas di lehernya. Ia berjalan ke arah Fadil dengan senyum sinis.
"Kamu pegawai baru?" tanyanya.
Fadil mengangguk. "Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?"
Pria itu mendekat, lalu berbisik. "Aku kenal Pak Rudi. Aku sering bantu dia. Kamu tahu, kadang ada barang yang tidak tercatat di kasir. Nah, kalau kamu mau, kita bisa bagi hasil."
Fadil mengerutkan dahi. "Maksud Pak?"
Pria itu tersenyum. "Simpel. Kamu jual barang tanpa catat. Uangnya kita bagi dua. Pak Rudi tidak akan tahu."
Fadil terdiam. Ia memahami apa yang dimaksud pria itu. Itu adalah kecurangan. Pencurian.
"Maaf, Pak," kata Fadil dengan suara tegas. "Saya tidak bisa melakukan itu."
Pria itu mengangkat alis. "Kamu tidak butuh uang? Aku lihat kamu masih muda. Pasti butuh banyak uang."
"Maaf, Pak. Saya tidak bisa."
Pria itu mendengus. "Kamu ini bodoh atau sok suci? Semua orang melakukannya. Pak Rudi juga dulu begitu."
Fadil menatap mata pria itu. "Saya tidak peduli apa yang orang lain lakukan. Saya tidak akan melakukannya."
Pria itu tertawa kasar. "Terserah kamu. Tapi ingat, kamu akan menyesal."
Ia pun pergi, meninggalkan Fadil dengan jantung berdebar. Fadil menarik napas panjang. Ia tahu ia baru saja membuat musuh. Tapi ia juga tahu bahwa ia baru saja mempertahankan harga dirinya.
°˖✧✿✧˖°