Pekerjaan yang Gagal
Lamaran pekerjaan Fadil kembali ditolak.
°˖✧✿✧˖°
Pagi itu, rumah kecil keluarga Abdul Jabbar di pinggir Prabumulih terasa lebih sunyi daripada biasanya.
Udara masih dingin. Embun menempel di ujung daun singkong di belakang rumah. Dari dapur terdengar bunyi sendok beradu dengan gelas. Bu Zubaidah sedang membuat teh manis untuk suaminya, sementara aroma nasi hangat dan telur dadar sederhana memenuhi ruangan.
Di ruang depan, Fadil duduk dengan kemeja putih yang sudah disetrika sejak malam sebelumnya. Celana hitamnya terlihat sedikit pudar di bagian lutut. Di atas meja kayu yang catnya mulai mengelupas, sebuah map cokelat tergeletak bersama fotokopi ijazah, kartu identitas, dan beberapa lembar dokumen lamaran pekerjaan.
Fadil memandangi map itu cukup lama.
Hari ini adalah hari yang ia tunggu.
Hari ketika ia berharap sebuah pintu akhirnya terbuka.
"Sudah siap, Dil?" suara Abdul Jabbar terdengar dari belakang.
Fadil menoleh.
Ayahnya berdiri di ambang pintu kamar. Lelaki yang biasa dipanggil Pak Dul oleh tetangga itu mengenakan kemeja lengan panjang berwarna abu-abu. Usianya tidak lagi muda, tetapi tubuhnya masih tampak kokoh karena sejak dahulu terbiasa bekerja dengan tenaga sendiri.
"Insyaallah, sudah, Yah."
Pak Dul mengambil kursi dan duduk di hadapan anaknya.
"Tempatnya di mana?"
"Di gudang perusahaan dekat jalan lintas, Yah. Katanya bagian administrasi sekaligus membantu mengawasi barang."
Pak Dul mengangguk.
"Berarti bukan pekerjaan berat seperti mengangkat barang terus-menerus?"
"Katanya tidak. Tapi mungkin tetap harus turun ke gudang."
"Itu tidak masalah. Yang penting halal."
Fadil tersenyum kecil.
"Itu juga yang Fadil pikirkan."
Bu Zubaidah keluar membawa tiga gelas teh.
"Minum dulu. Jangan berangkat dengan perut kosong."
"Terima kasih, Bu."
Bu Zubaidah meletakkan gelas di hadapan mereka. Pandangannya kemudian jatuh pada map cokelat.
"Ini yang kemarin kamu ceritakan?"
"Iya, Bu."
"Semoga kali ini diterima."
Fadil terdiam.
Kalimat sederhana itu justru membuat dadanya terasa berat.
Beberapa hari sebelumnya ia telah mengajukan lamaran ke sebuah bengkel besar. Sebelum itu ada toko bangunan. Sebelumnya lagi sebuah perusahaan perkebunan. Semuanya berakhir dengan jawaban yang sama.
Tidak diterima.
Namun Fadil tidak ingin menunjukkan kekecewaan itu kepada ibunya.
"Fadil akan berusaha sebaik mungkin."
Pak Dul menepuk bahunya.
"Jangan terlalu memikirkan hasil sebelum berangkat."
Fadil menatap ayahnya.
"Kalau tidak diterima lagi bagaimana, Yah?"
Pak Dul tersenyum tipis.
"Ya, pulang."
"Sesederhana itu?"
"Memangnya kamu mau bagaimana?"
Fadil tertawa kecil.
Pak Dul ikut tersenyum.
"Kalau pintu pertama tertutup, kita cari pintu kedua."
"Kalau pintu kedua juga tertutup?"
"Cari pintu ketiga."
"Kalau semuanya tertutup?"
Pak Dul menyesap teh sebelum menjawab.
"Berarti mungkin Allah sedang menyuruhmu berhenti mengetuk pintu itu."
Bu Zubaidah memandang suaminya.
"Pak, jangan membuat Fadil berpikir pekerjaan itu tidak penting."
"Saya tidak bilang tidak penting, Bu."
Pak Dul menatap putranya.
"Saya hanya tidak ingin anak saya mengukur harga dirinya dari diterima atau tidaknya dia bekerja."
Kata-kata itu membuat Fadil diam.
Ia menunduk dan menggenggam map di pangkuannya.
"Fadil mengerti."
Beberapa menit kemudian, Fadil berdiri.
"Fadil berangkat."
Bu Zubaidah segera bangkit.
"Hati-hati."
"Iya, Bu."
Pak Dul mengulurkan tangan.
"Jaga lisan."
Fadil mencium tangan ayahnya.
"Insyaallah."
"Jaga salat."
"Insyaallah."
"Dan kalau nanti ditanya tentang kemampuanmu, jangan melebih-lebihkan."
Fadil tersenyum.
"Fadil akan berkata apa adanya."
Pak Dul mengangguk puas.
"Itu saja."
Fadil kemudian mencium tangan ibunya.
Sebelum keluar, ia sempat menoleh.
Bu Zubaidah berdiri di dekat pintu. Pak Dul duduk di kursinya.
Dua orang tua yang selalu berusaha terlihat kuat itu menyimpan harapan yang sama.
Semoga hari ini anak mereka mendapatkan pekerjaan.
Fadil melangkah menuju motornya.
Ia belum tahu bahwa beberapa jam kemudian, map cokelat itu akan kembali ke meja yang sama.
Dengan sebuah jawaban yang kembali mengecewakan.
°˖✧✿✧˖°
Perjalanan menuju perusahaan tidak terlalu jauh.
Namun bagi Fadil, setiap kilometer terasa seperti perjalanan menuju sebuah penentuan.
Ia melewati pasar, sekolah, deretan rumah penduduk, lalu memasuki kawasan pergudangan. Di sepanjang jalan, ia melihat banyak orang seusianya sudah bekerja.
Ada yang mengenakan seragam perusahaan.
Ada yang mengendarai kendaraan operasional.
Ada pula yang sedang mengangkat barang sambil bercanda dengan rekan kerja.
Fadil memperlambat motornya.
Dalam hati ia berkata, "Kapan giliranku?"
Sesampainya di perusahaan, ia memarkirkan motor lalu masuk ke ruang tunggu.
Beberapa pelamar sudah duduk di sana.
Seorang pemuda berambut pendek duduk di sebelahnya.
"Melamar bagian apa, Bang?" tanyanya.
"Administrasi gudang."
"Oh. Saya juga."
Fadil mengangguk.
"Sudah pernah kerja?"
"Belum. Baru lulus."
"Sama."
Pemuda itu mengulurkan tangan.
"Rian."
"Fadil."
Mereka berjabat tangan.
"Semoga kita diterima," kata Rian.
"Amin."
Tak lama kemudian seorang staf keluar.
"Pelamar atas nama Rian Pratama?"
Rian berdiri.
"Ya, Pak."
"Silakan masuk."
Rian menatap Fadil sebelum pergi.
"Doakan saya."
"Semoga lancar."
Setengah jam kemudian, giliran Fadil.
Ia masuk ke ruangan kecil dengan meja, dua kursi, dan sebuah lemari arsip.
Seorang pria berkacamata duduk di belakang meja.
"Fadil Ar Rimbai?"
"Iya, Pak."
"Duduk."
"Terima kasih."
Pria itu membaca berkasnya.
"Lulusan SMA?"
"Iya, Pak."
"Pengalaman kerja?"
"Belum ada secara resmi."
"Keahlian?"
Fadil berpikir sejenak.
"Saya bisa mengoperasikan komputer dasar, membuat laporan sederhana, dan saya cukup terbiasa mengatur kegiatan."
"Organisasi?"
"Di sekolah pernah membantu kegiatan olahraga dan beberapa kegiatan kepemudaan."
Pria itu mengangguk.
"Kamu juga mencantumkan bela diri."
"Iya, Pak."
"Kenapa?"
"Saya belajar bela diri sejak kecil."
"Untuk apa?"
Fadil tersenyum.
"Untuk menjaga diri dan membantu orang lain kalau diperlukan."
Pria itu kembali membaca berkas.
"Kamu siap bekerja dengan target?"
"Insyaallah, siap."
"Kalau diminta lembur?"
"Kalau memang dibutuhkan dan sesuai aturan perusahaan, saya siap."
Wawancara berlangsung sekitar dua puluh menit.
Saat keluar, Fadil merasa cukup yakin.
Ia duduk kembali di ruang tunggu.
Rian ternyata masih ada.
"Bagaimana?" tanya Rian.
"Alhamdulillah."
"Kayaknya bagus."
"Semoga."
Menjelang siang, beberapa pelamar mulai dipanggil kembali.
Nama Rian dipanggil.
Fadil ikut menunggu.
Lima menit kemudian, Rian keluar dengan wajah berseri-seri.
"Alhamdulillah, saya diterima."
"Serius?"
"Iya. Senin mulai kerja."
Fadil langsung berdiri dan menjabat tangannya.
"Selamat, Rian."
"Terima kasih."
Rian memperhatikan wajah Fadil.
"Namamu belum dipanggil?"
"Belum."
"Semoga menyusul."
Fadil mengangguk.
Namun beberapa menit kemudian, seorang staf keluar membawa selembar kertas.
"Saudara Fadil Ar Rimbai?"
"Iya, Pak."
"Silakan ke ruangan."
Fadil masuk.
Kali ini pria berkacamata itu tidak mempersilahkannya duduk lama.
"Fadil, setelah kami pertimbangkan, untuk sementara kami belum bisa menerima kamu."
Fadil membeku.
"Belum bisa menerima, Pak?"
"Iya."
"Kalau boleh tahu, kekurangannya di mana?"
Pria itu terlihat agak canggung.
"Secara kemampuan dasar kamu cukup. Tapi kami memilih kandidat yang memiliki pengalaman administrasi."
Fadil menelan ludah.
"Baik, Pak."
"Jangan berkecil hati. Coba lagi di tempat lain."
Fadil berdiri.
"Terima kasih atas waktunya."
Ia keluar dari ruangan dengan langkah perlahan.
Di luar, matahari terasa jauh lebih panas.
Ia duduk di atas motornya tanpa langsung menyalakan mesin.
Map cokelat itu masih ada di tangannya.
Kali ini lebih berat.
°˖✧✿✧˖°
Fadil tiba di rumah menjelang sore.
Bu Zubaidah sedang menyapu halaman ketika suara motor anaknya terdengar.
"Dil?"
Fadil turun.
"Iya, Bu."
"Bagaimana?"
Pertanyaan itu sederhana.
Tetapi Fadil tidak langsung menjawab.
Ia mematikan motor, meletakkan helm, lalu membawa map ke dalam rumah.
Bu Zubaidah mengikuti.
"Ditanya apa saja?"
"Macam-macam."
"Terus?"
Fadil meletakkan map di meja.
"Tidak diterima."
Tangan Bu Zubaidah berhenti bergerak.
"Oh."
Hanya satu kata.
Tetapi Fadil tahu ibunya sedang menahan sesuatu.
"Katanya belum punya pengalaman."
Bu Zubaidah duduk.
"Ya Allah..."
"Bu, jangan sedih."
"Ibu bukan sedih."
Fadil tersenyum pahit.
"Kelihatan."
Bu Zubaidah menghela napas.
"Sudah berapa kali?"
Fadil diam.
"Fadil?"
"Sudah beberapa."
"Beberapa itu berapa?"
"Entahlah."
"Jangan bohong kepada Ibu."
Fadil menatap ibunya.
"Empat."
Bu Zubaidah menunduk.
"Empat kali?"
"Iya."
"Dan semuanya ditolak?"
"Iya."
Bu Zubaidah mengusap ujung jilbabnya.
"Kenapa susah sekali?"
Fadil tidak tahu harus menjawab apa.
Tak lama kemudian Pak Dul pulang dari bekerja.
Ia masuk dengan langkah lelah. Keringat membasahi bagian leher bajunya.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam," jawab Fadil dan Bu Zubaidah hampir bersamaan.
Pak Dul mencuci tangan dan duduk.
"Bagaimana tadi?"
Fadil menatap ayahnya.
"Gagal lagi, Yah."
Pak Dul terdiam sebentar.
Kemudian ia bertanya,
"Alasannya?"
"Belum punya pengalaman."
Pak Dul mengangguk.
"Masuk akal."
Bu Zubaidah memandang suaminya.
"Pak..."
"Apa?"
"Anak kita sudah berusaha."
"Saya tahu."
"Kasihan."
Pak Dul menatap Fadil.
"Siapa bilang saya tidak kasihan?"
"Tapi Bapak kelihatannya biasa saja."
Pak Dul tersenyum.
"Kalau saya ikut menangis, siapa yang menguatkan kalian?"
Ruangan mendadak sunyi.
Fadil menunduk.
Pak Dul kemudian membuka tas kerjanya dan mengeluarkan dompet.
Ia menghitung beberapa lembar uang.
Bu Zubaidah memperhatikan.
"Masih cukup untuk berapa hari?" tanyanya.
Pak Dul memasukkan kembali uang itu.
"Jangan dipikirkan."
"Pak."
"Zubaidah."
"Kalau terus begini bagaimana?"
Pak Dul tidak langsung menjawab.
"Selama saya masih bisa bekerja, kita makan."
"Kalau Bapak sakit?"
"Jangan bicara begitu."
"Ini kenyataan."
Pak Dul menatap istrinya.
"Memang kenyataan. Tapi kita belum sampai pada hari itu."
Fadil merasa dadanya sesak.
"Yah..."
Pak Dul menoleh.
"Kenapa?"
"Kalau Fadil dapat pekerjaan, mungkin bisa membantu."
"Saya tahu."
"Fadil ingin membantu Ayah dan Ibu."
"Saya juga tahu."
"Kalau Fadil belum bisa?"
Pak Dul tersenyum.
"Belum bisa bukan berarti tidak akan bisa."
Fadil mengusap wajah.
"Kadang Fadil merasa tidak berguna."
Pak Dul langsung menggeleng.
"Jangan pernah mengatakan itu lagi."
"Tapi..."
"Kamu anak saya."
Pak Dul berdiri dan mendekati Fadil.
"Nilai dirimu tidak ditentukan oleh slip gaji."
Fadil menatap ayahnya.
"Kalau begitu oleh apa?"
"Allah melihat hati, usaha, dan amalmu."
Bu Zubaidah mengusap matanya.
Pak Dul melanjutkan,
"Kalau kamu bekerja, bekerjalah dengan baik. Kalau belum bekerja, jangan berhenti menjadi orang baik."
Kalimat itu menancap dalam pikiran Fadil.
Malamnya, setelah makan sederhana, Fadil duduk sendirian di teras.
Rian mengirim pesan.
"Dil, Senin aku mulai kerja. Semoga kamu segera dapat pekerjaan juga."
Fadil membalas.
"Amin. Selamat ya."
Setelah itu ia mematikan ponsel.
Dari dalam rumah terdengar suara ibunya berbicara dengan ayahnya.