6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #8

Usaha Kecil yang Bangkrut

Usaha Kecil yang Bangkrut

Fadil mencoba membantu keluarga dengan usaha sederhana, tetapi mengalami kegagalan.

°˖✧✿✧˖°

Matahari pagi belum sepenuhnya mengangkat kabut dari permukaan sungai ketika Fadil sudah duduk di beranda belakang rumahnya. Uap panas dari cangkir kopi murahnya menari-nari di udara, tapi pikirannya jauh melayang. Tiga minggu sudah ia menganggur setelah pabrik sepatu tempatnya bekerja selama lima tahun menutup operasi. Kabar itu datang begitu saja—sepucuk surat pengumuman yang ditempel di papan informasi, disaksikan ratusan pekerja yang wajahnya mendadak pucat.

"Bang, sarapan dulu," suara Sari, istrinya, membuyarkan lamunan. Perempuan itu meletakkan sepiring nasi goreng sederhana di meja kayu yang catnya mulai mengelupas. "Ibu sudah bangun, tapi belum mau makan. Katanya menunggu kamu."

Fadil mengangguk pelan. Ia menyeruput kopinya, merasakan pahit yang menjalar hingga ke tenggorokan. Pahit yang sama dengan yang dirasakannya setiap kali melihat dompet kosong di laci meja. Tabungan mereka menipis. Uang pesangon dari pabrik hanya cukup untuk bertahan dua bulan, dan sekarang sudah masuk minggu ketiga bulan kedua.

"Bu," panggil Fadil pelan sambil duduk di sisi ranjang ibunya. Perempuan tua itu berbaring menghadap dinding, tubuhnya kurus dibalut selimut tipis yang sudah bertambal. "Fadil sudah punya rencana. Kita akan buka usaha kecil-kecilan."

Ibunya berbalik perlahan. Mata yang dulu tajam kini keruh dimakan usia dan penyakit gula. "Usaha apa, Le? Kita tidak punya modal."

"Aku akan pinjam dari koperasi. Pak RT bilang ada program pinjaman modal usaha tanpa bunga untuk warga yang kena PHK."

"Berapa?"

"Lima juta. Cukup untuk beli gerobak dan peralatan masak. Sari bisa bantu masak. Kita jual nasi uduk dan lauk pauk sederhana di depan gang."

Ibunya terdiam lama. Fadil tahu apa yang ada di pikiran perempuan itu—keraguan, ketakutan, dan bayang-bayang kegagalan usaha mendiang suaminya dulu. Ayah Fadil pernah membuka warung kelontong yang bertahan hanya delapan bulan sebelum akhirnya tutup karena kalah bersaing dengan minimarket.

"Kamu yakin?" tanya ibunya akhirnya.

"Fadil harus yakin, Bu. Tidak ada pilihan lain."

Sari setuju. Malam itu, mereka duduk berdua di meja makan, menghitung ulang anggaran dengan saksama. Sari yang lulusan SMA dan pernah bekerja sebagai asisten rumah tangga di Jakarta selama tiga tahun, punya sedikit pengalaman soal masak-memasak. Ia pernah membantu majikannya berjualan kue basah untuk arisan. Setidaknya, ada modal keterampilan.

"Kalau kita jual nasi uduk, modal per porsi sekitar empat ribu. Kita jual tujuh ribu. Untung tiga ribu per porsi," kata Sari sambil mencoret-coret buku tulis bekas.

"Target kita minimal tiga puluh porsi sehari. Untung sembilan puluh ribu. Sebulan dua juta tujuh ratus," hitung Fadil.

"Belum dipotong biaya operasional, Bang. Gas, listrik, transportasi kalau belanja ke pasar induk."

"Tetap saja, itu lebih baik daripada menganggur."

Mereka memutuskan untuk mulai minggu depan. Fadil mengurus pinjaman ke koperasi, sementara Sari mulai mengumpulkan resep dari tetangga dan mencari pemasok bahan baku yang murah. Ada gairah baru di rumah kecil itu—harapan yang lama mati, kini menyala kembali meski redup.

°˖✧✿✧˖°

Gerobak itu akhirnya berdiri di depan gang pada Senin pagi. Fadil membelinya second dari seorang pedagang bakso yang pindah ke kota lain. Warnanya biru pudar, ada beberapa bagian yang berkarat, tapi masih kokoh. Sari menghiasinya dengan taplak plastik bergambar bunga dan menuliskan menu sederhana di papan putih kecil: Nasi Uduk, Tempe Orek, Bihun Goreng, Telur Balado.

"Bang, aku deg-degan," bisik Sari sambil menata piring-piring plastik.

"Tenang aja. Kita sudah persiapan matang," Fadil menepuk pundak istrinya, meski sebenarnya hatinya juga berdebar.

Pembeli pertama datang setengah jam kemudian. Pak Herman, tukang ojek langganan ayahnya dulu. "Wah, anak Pak Rahmat jualan? Sini, saya beli dua bungkus. Buat saya dan istri."

Fadil tersenyum lebar. "Terima kasih, Pak. Semoga cocok."

Hari pertama, mereka berhasil menjual dua puluh dua porsi. Tidak mencapai target, tapi setidaknya tidak ada yang tersisa. Sari menghitung uang di meja makan malam itu, wajahnya berseri-seri.

"Seratus lima puluh empat ribu, Bang. Modal kita tadi habis delapan puluh delapan ribu. Untung enam puluh enam ribu."

"Alhamdulillah," Fadil menghela napas lega.

Minggu pertama berjalan lancar. Pelanggan mulai bertambah. Beberapa ibu-ibu komplek perumahan sebelah mulai berlangganan. Anak-anak sekolah yang lewat setiap pagi juga mampir. Fadil mulai mengenal pelanggannya satu per satu—siapa yang suka pedas, siapa yang tidak makan telur, siapa yang minta tambah bihun.

"Bang Fadil, besok saya pesan lima bungkus ya. Buat rapat di kantor," kata Bu Ratna, seorang guru SD yang tinggal di ujung jalan.

"Boleh, Bu. Jam berapa mau diambil?"

"Jam tujuh pagi. Saya butuh yang dibungkus rapi, buat dibawa ke sekolah."

"Insya Allah siap, Bu."

Pesanan besar pertama. Fadil dan Sari begadang malam itu, menyiapkan bahan lebih banyak dari biasanya. Sari memasak nasi uduk dengan santan yang lebih kental, sementara Fadil menggoreng tempe dan membuat sambal. Mereka bekerja hingga pukul dua pagi, tapi semangat membara.

Namun, Senin pagi berikutnya, masalah pertama muncul. Gerobak mereka didatangi dua pria berbadan tegap. Salah satunya memakai kemeja lusuh dengan lengan digulung, memperlihatkan tato di lengan kanan.

"Bang, ini jualan di sini bayar sewa ke siapa?" tanya yang bertato.

Fadil menelan ludah. "Saya sudah izin sama Pak RT. Katanya boleh jualan di sini."

"Pak RT mah bukan yang punya jalan. Jalan ini punya kita. Setiap pedagang di sini bayar lima puluh ribu sehari. Kamu belum bayar, ya?"

"Lima puluh ribu? Itu terlalu besar, Bang. Kami baru mulai usaha."

"Justru karena baru mulai, saya kasih diskon. Tiga puluh ribu sehari. Mulai besok. Kalau tidak, gerobak ini jangan berdiri di sini."

Mereka pergi setelah mengambil sebungkus nasi uduk tanpa membayar. Fadil terduduk di kursi lipatnya. Sari menggenggam tangannya erat.

°˖✧✿✧˖°

Tiga puluh ribu sehari. Itu berarti sembilan ratus ribu sebulan. Untung bersih mereka yang tadinya dua juta, kini tinggal satu juta lebih sedikit. Fadil menghitung ulang anggaran. Mereka harus menjual minimal empat puluh porsi sehari untuk menutupi biaya sewa dan tetap untung.

"Kita coba cari lokasi lain, Bang," usul Sari suatu malam. "Mungkin di dekat pasar."

"Di pasar sewa kios lebih mahal. Kita tidak mampu."

"Bagaimana kalau kita jualan keliling? Pakai gerobak dorong?"

Fadil menggeleng. "Gerobak ini terlalu berat untuk didorong keliling. Lagi pula, pelanggan kita sudah terbiasa di sini."

Mereka memutuskan untuk bertahan. Fadil bangun lebih pagi, pukul tiga, untuk membantu Sari memasak. Mereka menambah menu: tahu isi, bakwan, dan tempe mendoan. Harga tetap terjangkau—seribu per potong. Pelanggan menyukainya. Penjualan naik sedikit, tapi belum cukup menutupi sewa harian.

Hari keempat belas, hujan turun deras sejak subuh. Fadil memandang langit kelabu dari balik jendela, hati berat. Sari sudah memasak sejak pukul dua, dan sekarang semua makanan itu terancam tidak terjual.

"Bang, bagaimana kalau kita tetap buka? Pakai terpal?" tanya Sari.

Lihat selengkapnya