Fadil tanpa sengaja mendengar kedua orang tuanya membicarakan kondisi ekonomi keluarga.
°˖✧✿✧˖°
Sore itu, bias jingga tembaga merambat pelan di sepanjang jalan gang sempit Kampung Sukamaju. Udara lembap sisa gerimis masih menyisakan aroma tanah basah yang menenangkan jiwa. Fadil melangkah dengan dada membusung ringan, jemarinya mendekap erat sebuah map kulit sintetis berwarna biru tua berlogo lambang garuda emas. Di dalam map itu, tersimpan lembaran sertifikat kelulusan seleksi akhir beasiswa tingkat provinsi—sebuah kabar luar biasa yang telah ia perjuangkan selama berbulan-bulan tanpa mengenal lelah.
“Ibu pasti tersenyum bangga sore ini,” gumam Fadil lirih sambil mempercepat ayunan langkah kakinya melewati deretan pagar bambu tetangga. “Ayah juga tidak perlu lagi cemas memikirkan biaya semester pertamaku nanti.”
Bayangan senyum hangat sang ibu dan tepukan bangga di pundak dari sang ayah terus menari-nari di pelupuk matanya. Selama ini, Fadil selalu melihat ayahnya pulang larut malam dengan kemeja kusam bernoda oli dan peluh yang membasahi dahi. Fadil ingin membuktikan bahwa segala tetes keringat orang tuanya tidak pernah terbuang sia-sia.
Sesampainya di depan teras rumah berlantai semen abu-abu miliknya, Fadil sengaja tidak mengetuk pintu utama secara keras. Ia ingin memberikan sebuah kejutan yang tak terlupakan. Gagang pintu kayu tua berputar perlahan tanpa menimbulkan derit berlebih, memperlihatkan ruang tamu sederhana berlampu temaram kekuningan yang sunyi senyap.
“Assalamu’alaikum, Bu? Ayah?” panggil Fadil dengan suara berbisik pelan di ambang pintu masuk.
Tak ada sahutan ramah dari arah dapur seperti biasanya. Hanya ada gemerisik angin yang menyusup lewat lubang ventilasi kayu dan detak jam dinding tua yang berdetik teratur di dinding ruang tengah.
“Aneh, ke mana Ibu dan Nia pergi?” batin Fadil sembari melepaskan sepatu kanvasnya yang telah mulai menipis pada bagian tumit.
Ia melangkah tanpa alas kaki menyusuri lantai lorong pendek menuju kamar tengah. Namun, tepat ketika langkahnya mencapai dinding pemisah yang lembap, sebuah suara parau menghentikan seluruh pergerakannya seketika. Suara itu berasal dari kamar tidur orang tuanya yang pintunya sedikit terbuka renggang beberapa sentimeter.
“Sudahlah, Bu. Jangan menangis terus seperti ini. Air mata kita tidak akan bisa melunasi uang tagihan itu besok pagi,” suara Ayah terdengar begitu berat, serak, dan sarat akan keputusasaan yang tertahan.
Fadil terperanjat. Jantungnya berdegup dua kali lebih kencang. Ia belum pernah mendengar nada suara ayahnya segetir itu seumur hidupnya.
“Tapi bagaimana mungkin kita bisa tenang, Pak?” sahut Ibu dengan nada bergetar hebat di sela isak tangis yang terdengar menyayat hati. “Tenggat waktu yang mereka berikan tinggal sampai matahari terbit besok. Kalau uang itu tidak ada, apa yang akan terjadi pada rumah ini? Apa yang harus kita katakan kepada anak-anak?”
“Aku sudah mencoba meminjam ke mana-mana, Zubaidah,” jawab Ayah dengan napas memburu. “Aku sudah mendatangi Mas Broto, Pak Haji Usman, bahkan koperasi bengkel. Tidak ada satu pun yang mau memberi pinjaman sepeser pun. Mereka tahu bengkel kita sudah tutup sejak tiga minggu lalu.”
“Ya Allah... kenapa cobaan ini datang bertubi-tubi saat anak kita sedang butuh-butuhnya biaya pendaftaran?” ratap Ibu tersengal-sengal.
Fadil berdiri mematung di balik bayang-bayang kusen pintu kayu. Map biru tua di dekapannya perlahan mengendur, dan kegembiraan yang meluap di dadanya mendadak lenyap ditelan hawa dingin yang menusuk tulang.
°˖✧✿✧˖°
Fadil menahan napasnya dalam-dalam. Tenggorokannya terasa seperti tercekik gumpalan duri tajam saat ia menempelkan telinganya lebih dekat ke celah pintu kayu jati yang telah kusam itu. Matanya terpaku menatap seberkas cahaya lampu neon yang membelah kegelapan lorong sempit.
“Bengkel sudah tutup?” batin Fadil berteriak dalam kebisuan yang menyiksa. “Bukankah setiap pagi Ayah masih pamit berangkat mengenakan seragam mekanik birunya?”
Di dalam ruangan sempit itu, suara gesekan kertas terdengar dibentangkan di atas meja kayu kecil. Ayah mendesah panjang, sebuah desah kepasrahan seorang lelaki yang telah kehabisan seluruh tenaganya.
“Surat peringatan ketiga dari pihak bank sudah ada di tanganku sejak kemarin lusa, Bu,” ucap Ayah terdengar sangat letih. “Sertifikat rumah warisan almarhum Bapak ini dijadikan jaminan utang modal usaha bersama Hendra. Sekarang bajingan itu kabur membawa lari uang puluhan juta, dan seluruh beban cicilan jatuh ke pundakku seorang diri.”
“Tega sekali dia menipu kita, Pak! Padahal kamu sudah menganggapnya seperti saudara kandung sendiri!” jerit Ibu tertahan, disusul suara tepukan tangan ke dadanya yang sesak.
“Percuma menyalahkan orang yang sudah menghilang, Bu,” potong Ayah dengan nada pasrah yang lirih. “Pihak juru sita bank bilang, kalau besok siang kita tidak bisa menyetorkan uang bunga penundaan sebesar lima belas juta rupiah, mereka akan memasang plang penyitaan di halaman depan rumah kita.”
“Lima belas juta? Dari mana kita bisa dapat uang sebanyak itu dalam waktu semalam, Pak?” tangis Ibu pecah kembali di atas kasur kapuk. “Tabungan kita tinggal dua ratus ribu rupiah. Bahkan uang arisan minggu lalu sudah habis terpakai untuk membeli beras dan seragam sekolah Nia.”
“Aku tahu, Bu. Aku sungguh kepala keluarga yang gagal dan tak berguna,” bisik Ayah seraya menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan sang istri.
Mendengar kata-kata itu, lutut Fadil serasa lemas tak bertulang. Dinding lorong yang dingin menjadi satu-satunya sandaran agar tubuhnya tidak jatuh merosot ke lantai. Kenyataan yang selama ini tertutup rapat di hadapannya kini terbentang telanjang, memperlihatkan jurang kehancuran yang begitu nyata mengancam keluarganya.
°˖✧✿✧˖°
Suasana di dalam kamar tidur kembali sunyi sejenak, hanya menyisakan gemuruh napas berat Ayah dan isak sedu Ibu yang tersumbat di ujung bantal. Di balik pintu, Fadil mencengkeram dadanya sendiri. Jantungnya berdegup kencang menahan denyutan rasa bersalah yang teramat pekat mengalir di nadinya.
Tiba-tiba, suara laci lemari kayu tua ditarik berderit pelan. Langkah kaki Ibu yang lambat terdengar mendekati meja kerja Ayah.
“Pak, ambil ini,” ujar Ibu dengan nada suara yang bergetar namun sarat akan keteguhan hati seorang perempuan.