Aku Harus Berubah
Fadil mulai berpikir bahwa dirinya harus mencari jalan baru.
°˖✧✿✧˖°
Hujan gerimis menggantung di langit senja ketika Fadil pulang. Sepatu bututnya bunyinya berdetak di atas papan jembatan kecil, satu-satunya jalan ke rumahnya yang berdiri di ujung kampung. Tangan kanannya masuk ke saku celana, menyentuh sisa uang receh yang tadi pagi masih utuh dalam genggamannya. Sakitnya menekan perut seperti ditonjok.
Di bawah lampu minyak yang berkelip, Bu Zubaidah duduk di atas tikar, menekuk dua lututnya sambil mengambil jahitan. Jarumnya naik turun. Ketika pintu terbuka, ia mengangkat muka dan tersenyum tipis. Matanya yang redup menatap Fadil dari ujung kaki sampai ke wajah.
"Sudah sampai, Dil? Ibumu tadi sempat khawatir."
Fadil tidak menjawab. Ia melepaskan sandal, lalu duduk di lantai kayu, jauh dari ibunya, membelakangi cahaya. Dadanya sesak. Di belakang rumah, suara Pak Dul memangkas kayu bakar berhenti sejenak. Kemudian langkah berat itu mendekat.
"Uang jualan ayahmu mana?" Pak Dul berdiri di ambang pintu. Keringat membasahi pelipisnya. "Katanya kamu jual ikan di pasar tadi pagi. Ini sudah malam, Dil. Mana uangnya?"
Fadil menunduk. Lidahnya kaku. "Uangnya... habis, Pak."
"Habis?" Suara Pak Dul meninggi sedikit, tapi kemudian ia menahan, menoleh ke arah istrinya yang menatapnya dengan mata memohon. "Habis di mana? Ikan tadi pagi masih banyak, kamu bilang baru laku setengah."
Fadil tidak bisa berbohong lagi. Kata-kata itu akhirnya keluar, pecah-pecah seperti kayu yang dipatahkan. "Aku... main, Pak. Di belakang warung Bang Karjo. Aku pikir bisa menang, biar uangnya tambah buat beli obat Ibu."
Pecahan kaleng minyak di atas tungku seakan ikut membeku. Bu Zubaidah berhenti menjahit. Pak Dul menarik napas panjang, lalu mengembuskan dengan pelan-pelan, seperti ingin menahan sesuatu yang jauh lebih besar.
"Obat ibumu," ucapnya, hampir berbisik. "Kamu mainkan obat ibumu?"
°˖✧✿✧˖°
Bu Zubaidah menaruh jarumnya. Ia berdiri, berjalan lima langkah mendekati Fadil, lalu mengambil tangan anaknya yang gemetar. Suaranya pelan, tidak menuduh, tidak juga menangis.
"Duduk sini, Dil. Dekat ibumu."
"Bu, aku..."
"Duduk."
Fadil duduk. Dadanya terasa seperti sedang ditusuk oleh ribuan jarum yang tadi pagi dipakai ibunya menjahit. Bu Zubaidah meraih tangannya yang kasar, membaliknya, lalu menatap garis-garis hitam di kuku jarinya, sisa dari mencuci ikan yang tidak pernah ia tinggalkan.
"Ayamahmu kerja sejak subuh. Jualan, mangkal di pasar sampai matahari tenggelam. Yang ia kejar cuma satu: obat ibu, dan uang sekolah adikmu." Suaranya lirih seperti doa. "Kamu juga anak kami, Dil. Ibu tidak pernah berhenti berdoa untukmu."
"Bu, aku janji..."
"Jangan janji dulu." Bu Zubaidah menggeleng pelan, mengusap tangan Fadil. "Ibu tidak minta janji. Ibu cuma minta kamu pulang. Pulang ke dirimu sendiri."
Pak Dul yang sejak tadi berdiri di ambang pintu akhirnya duduk di kursi pendek dekat tungku. Ia menyalakan rokok daunnya, menghisap dalam-dalam, lalu menatap Fadil dengan mata yang tidak marah, tapi lelah sekali.
"Kamu tahu, Dil, waktu kamu kecil, kamu selalu bilang mau jaga kampung ini. Mau jadi orang yang berguna." Pak Dul mengibaskan abu. "Ayahmu sudah tujuh belas tahun menderes getah dan jualan ikan. Bukan karena ayah tak punya mimpi. Tapi mimpi ayah, satu-satunya, adalah kalian anak-anakku tidak jadi beban untuk diri sendiri."
Malam itu Fadil tidur tanpa makan. Ia mematikan lampu kamarnya lebih awal, berbaring menatap langit-langit yang bocor di satu sudut, tempat air hujan tadi menetes. Ketukan di dadanya tak kunjung berhenti. Di luar, suara jangkrik bersahutan. Di dalam, ia mendengar ibunya berdoa, pelan-pelan, menyebut namanya.
Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, Fadil menangis. Bukan karena marah, bukan karena kalah judi. Ia menangis karena sebuah kalimat ibunya terus berputar di kepalanya: kamu bisa pulang ke dirimu sendiri.
Sebelum tidur, ia menggumam dalam gelap, hampir tak terdengar. "Aku harus berubah. Besok."
°˖✧✿✧˖°
Keesokan harinya, Fadil bangun sebelum azan Subuh berkumandang. Ia menimba air, membasuh muka, dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia ikut ibunya membentangkan sajadah. Bu Zubaidah terkejut, tapi tidak berkata apa-apa. Ia hanya tersenyum, dan senyum itu terasa seperti cahaya yang belum pernah Fadil lihat di rumah itu.
Setelah Subuh, ketika langit masih ungu, Fadil menghampiri ayahnya yang sedang menyiapkan gerobak. Pak Dul menoleh, menunggu.
"Ayah, mulai hari ini, aku mau ikut jualan."
Pak Dul menghentikan tangannya. Ia tidak langsung menjawab, hanya menatap Fadil lama. Tujuh belas tahun ia banting tulang, mendidik dua anak, dan tidak satu kalipun anak sulungnya pernah menawarkan untuk ikut. Sekarang, pagi dingin ini, tawaran itu datang.
"Kamu serius?" tanya Pak Dul akhirnya.
"Serius, Pak."
"Jualan itu bukan main-main, Dil. Bangun subuh, angkat keranjang, hadapi pembeli yang kadang galak, pulang malam dengan punggung pegal. Ayah tidak mau kamu menyesal di tengah jalan."
"Aku tidak akan menyesal, Pak."
Pak Dul menatapnya sekali lagi. Lalu ia mengangguk, satu anggukan kecil, dan menepuk bahu Fadil. "Kalau begitu, bawakan keranjang ikan itu. Yang paling besar. Supaya kamu tahu rasa keringat ayah."
Fadil mengangkat keranjang yang beratnya hampir setara dengan beban yang selama ini ia hindari. Punggungnya menegang, tapi ia tidak menurunkan. Ia membawanya ke gerobak, lalu berjalan di samping ayahnya menuju pasar, melewati jembatan kecil yang tadi malam ia seberangi dengan tangan kosong.
Di warung Bang Karjo, tempat para temannya biasa berkumpul, Fadil melihat Udin dan dua anak lainnya sedang duduk mengelilingi meja. Udin bersiul.
"Eh, Fadil! Sini! Semalam kamu kabur aja. Kita pikir kamu takut kalah terus."
Fadil berhenti. Keranjang di pundaknya terasa jauh lebih berat sekarang. Ia menarik napas, lalu melanjutkan langkah.
"Sori, Din. Aku nggak main lagi."
"Main lagi? Lu nggak main lagi kayak gimana? Baru kalah sekali langsung ciut?" Udin tertawa, tapi matanya serius. "Datanglah nanti malam. Bisa. Aku pinjemin modal."
"Terima kasih, Din. Tapi nggak."
Fadil pergi. Di belakangnya, tawa teman-temannya pecah, menyebutnya pengecut, anak mamih, cengeng. Tapi Fadil terus berjalan. Di ujung jalan, Pak Dul yang sudah sampai lebih dulu di gerobaknya, berhenti, menatap anaknya yang datang dengan napas memburu. Ia tidak bertanya apa-apa. Ia hanya mengulurkan sebotol air minum.