6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #11

Lulus SMA

Lulus SMA

Fadil menyelesaikan sekolah menengah atas di Prabumulih.

°˖✧✿✧˖°

Pagi itu, Prabumulih terasa berbeda.

Matahari belum terlalu tinggi ketika halaman SMA mulai dipenuhi para siswa yang mengenakan pakaian terbaik mereka. Ada yang datang bersama orang tua, ada yang berkelompok dengan teman-teman, dan ada pula yang sibuk mengambil foto di depan gerbang sekolah sebagai kenang-kenangan.

Hari itu adalah hari pengumuman kelulusan.

Bagi sebagian siswa, kelulusan hanyalah akhir dari masa sekolah. Namun bagi Fadil Ar Rimbai, hari itu terasa seperti sebuah pintu besar yang sebentar lagi terbuka.

Ia berdiri di depan cermin kecil di kamarnya. Seragam putih abu-abu yang selama tiga tahun dikenakannya kini terlihat begitu berbeda. Bukan karena seragam itu berubah, melainkan karena Fadil sadar bahwa setelah hari ini, ia tidak akan lagi menjadi siswa SMA.

“Sudah siap, Dil?” terdengar suara ibunya dari luar kamar.

“Sebentar, Bu.”

Fadil merapikan rambutnya, lalu mengambil tas.

Ketika keluar, ia melihat Bu Zubaidah sedang menyiapkan sarapan sederhana di meja. Di sudut ruangan, Pak Dul baru saja meletakkan gelas kopi.

Ayahnya menatap Fadil beberapa saat.

“Sudah besar kau, Dil.”

Fadil tersenyum.

“Baru juga lulus SMA, Yah.”

Pak Dul tertawa kecil.

“Justru itu. Rasanya baru kemarin Ayah mengantarmu masuk sekolah.”

Bu Zubaidah menatap putranya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

“Jangan bicara begitu pagi-pagi. Nanti Ibu menangis.”

“Kenapa menangis, Bu?”

“Karena sebentar lagi anak Ibu ini akan meninggalkan rumah.”

Fadil terdiam.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi memiliki makna yang dalam.

Ia memang belum mengatakan semuanya kepada kedua orang tuanya. Namun dalam hatinya, keputusan itu sudah lama tumbuh.

Setelah lulus, Fadil ingin pergi ke Jawa Timur.

Ia ingin belajar agama di pesantren.

Bukan karena ia membenci kampung halaman. Justru karena ia mencintai keluarganya, ia ingin mencari ilmu agar suatu hari bisa menjadi seseorang yang lebih bermanfaat.

Pak Dul mengambil napas panjang.

“Kalau sudah siap, kita berangkat.”

“Baik, Yah.”

Mereka bertiga kemudian meninggalkan rumah sederhana itu.

Di sepanjang perjalanan, Fadil lebih banyak diam. Ia melihat jalan-jalan kota Prabumulih yang selama ini begitu akrab dengannya. Warung kecil, masjid di ujung jalan, pepohonan, rumah-rumah warga, dan jalan yang setiap hari dilewatinya menuju sekolah.

Hari itu semuanya terasa seperti kenangan yang sedang berjalan di depan matanya.

Sesampainya di sekolah, Fadil bertemu beberapa sahabatnya.

“Dil!”

Fadil menoleh.

“Rian!”

Rian langsung menepuk bahunya.

“Bagaimana? Siap menerima kenyataan bahwa kita sudah tua?”

Fadil tertawa.

“Baru lulus SMA sudah merasa tua?”

“Ya. Setelah ini kita mau ke mana?”

Fadil tersenyum kecil.

“Belum tahu.”

Rian menatapnya curiga.

“Jangan bohong. Kau pasti sudah punya rencana.”

Fadil tidak langsung menjawab.

Ia menatap gedung sekolah.

“Ada sesuatu yang ingin aku kejar.”

“Apa?”

“Ilmu.”

Rian mengerutkan kening.

“Ilmu?”

Fadil mengangguk.

“Insyaallah.”

°˖✧✿✧˖°

Acara pengumuman kelulusan berlangsung menjelang siang.

Para siswa duduk dengan wajah tegang. Sebagian berdoa dalam hati. Sebagian lagi saling bercanda untuk mengurangi ketegangan.

Fadil duduk tenang.

Ia tidak terlalu khawatir.

Selama tiga tahun, ia sudah berusaha semampunya. Ia belajar dengan sungguh-sungguh meskipun keadaan keluarganya sederhana.

Ketika kepala sekolah akhirnya mengumumkan bahwa seluruh siswa dinyatakan lulus, ruangan langsung dipenuhi tepuk tangan.

Beberapa siswa menangis.

Ada yang berpelukan.

Ada pula yang langsung menelepon orang tua.

Fadil hanya menundukkan kepala dan mengucapkan syukur.

“Alhamdulillah.”

Setelah acara selesai, ia keluar menuju halaman.

Pak Dul dan Bu Zubaidah sudah menunggunya.

Begitu melihat putranya, Bu Zubaidah langsung tersenyum lebar.

“Bagaimana?”

“Lulus, Bu.”

“Alhamdulillah!”

Bu Zubaidah memeluk Fadil.

Pak Dul menepuk pundaknya.

“Selamat, Nak.”

“Terima kasih, Yah.”

Mereka bertiga kemudian duduk di bawah pohon di halaman sekolah.

Pak Dul membuka pembicaraan.

“Setelah ini, apa rencanamu?”

Fadil menunduk.

“Fadil ingin bicara sesuatu.”

Bu Zubaidah memandang suaminya.

“Dari cara bicaranya, sepertinya serius.”

Pak Dul mengangguk.

“Katakan.”

Fadil menarik napas.

“Fadil ingin merantau.”

Bu Zubaidah langsung terdiam.

“Merantau?”

“Ya, Bu.”

“Ke mana?”

“Jawa Timur.”

Pak Dul tidak langsung menjawab.

“Untuk bekerja?”

“Bukan.”

“Lalu?”

“Fadil ingin belajar di pesantren.”

Angin berembus pelan.

Bu Zubaidah menatap putranya lama sekali.

“Pesantren?”

“Iya, Bu.”

“Kenapa jauh sekali?”

Fadil menatap ibunya.

“Karena Fadil ingin belajar agama lebih dalam.”

Pak Dul menyandarkan tubuhnya.

“Sudah lama kau memikirkan ini?”

“Sudah, Yah.”

“Kenapa tidak pernah cerita?”

“Fadil takut Ayah dan Ibu khawatir.”

Pak Dul tersenyum tipis.

“Orang tua memang akan khawatir. Itu bukan alasan untuk menyembunyikan keinginan.”

“Maaf, Yah.”

“Tidak perlu minta maaf.”

Pak Dul menatap wajah putranya.

“Kalau itu memang jalan yang ingin kau tempuh, Ayah ingin mendengarnya sampai selesai.”

Fadil mengangguk.

Ia kemudian menjelaskan tentang pesantren yang ingin dituju, tentang keinginannya mempelajari kitab kuning, memperdalam ilmu agama, dan belajar menjadi manusia yang lebih baik.

Bu Zubaidah mendengarkan dengan mata berkaca-kaca.

“Kalau kau pergi, siapa yang akan membantu Ayah?”

Pertanyaan itu membuat Fadil terdiam.

Ia tahu keadaan keluarganya.

Ayahnya bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan rumah. Ibunya juga tidak pernah berhenti membantu dengan segala cara yang mampu dilakukan.

“Ayah tidak meminta kau tinggal hanya karena kasihan kepada kami,” ujar Pak Dul perlahan.

Fadil menatap ayahnya.

“Tapi kalau kau pergi, pergilah dengan niat yang benar.”

°˖✧✿✧˖°

Dalam perjalanan pulang, suasana di dalam kendaraan lebih banyak diam.

Bu Zubaidah beberapa kali mengusap sudut matanya.

Fadil menyadarinya.

“Bu…”

“Hmm?”

“Kalau Ibu tidak mengizinkan, Fadil tidak akan pergi.”

Bu Zubaidah menoleh.

“Kenapa kau mengatakan begitu?”

“Karena Fadil tidak ingin membuat Ibu sedih.”

Ibunya tersenyum.

“Justru karena Ibu menyayangimu, Ibu takut.”

“Takut apa?”

“Takut kau kesulitan di tempat orang. Takut kau sakit. Takut kau tidak punya uang. Takut kau bertemu orang yang salah.”

Fadil menunduk.

“Fadil juga takut, Bu.”

Pak Dul yang sejak tadi mengemudi akhirnya berbicara.

“Takut itu wajar.”

Fadil menatap ayahnya dari belakang.

“Yang tidak boleh adalah membiarkan rasa takut menghentikan kita dari sesuatu yang baik.”

Kalimat itu membuat Fadil terdiam.

Sesampainya di rumah, Bu Zubaidah masuk ke kamar dan membuka sebuah kotak kecil.

Di dalamnya terdapat beberapa lembar uang yang disimpan sedikit demi sedikit.

Ia menghitungnya.

Tidak banyak.

Sangat tidak banyak.

Namun itulah hasil dari penghematan yang dilakukan selama berbulan-bulan.

Pak Dul melihat istrinya.

“Jangan keluarkan semuanya.”

“Untuk apa uang ini kalau bukan untuk anak?”

“Kita masih punya kebutuhan.”

“Fadil juga kebutuhan kita.”

Pak Dul terdiam.

Bu Zubaidah mengusap uang itu.

“Ibu tidak tahu apakah cukup untuk bekalnya.”

Pak Dul duduk di sampingnya.

“Kita ikhtiar.”

Malamnya, Fadil duduk bersama kedua orang tuanya di ruang tengah.

Lampu rumah menyala redup.

Di atas meja ada teh hangat dan beberapa makanan sederhana.

Pak Dul berkata, “Kalau kau benar-benar ingin pergi, kita harus mempersiapkan semuanya.”

“Baik, Yah.”

“Cari informasi pesantrennya dengan baik.”

“Sudah.”

“Jangan hanya karena namanya terkenal.”

Fadil mengangguk.

“Lihat gurunya, sistem belajarnya, lingkungan, dan bagaimana mereka mendidik santri.”

“Insyaallah.”

Bu Zubaidah menambahkan, “Dan jangan lupa menjaga shalat.”

Fadil tersenyum.

“Ibu selalu mengatakan itu.”

“Karena manusia bisa lupa.”

Pak Dul tertawa kecil.

“Ibumu benar.”

Kemudian ayahnya menjadi serius.

“Dan satu lagi.”

“Apa, Yah?”

“Jangan merasa lebih baik daripada orang lain hanya karena kau belajar agama.”

Fadil mengangguk perlahan.

“Ilmu seharusnya membuat seseorang semakin rendah hati.”

“Bagus.”

Malam semakin larut.

Namun pembicaraan belum selesai.

Pak Dul mengambil sebuah amplop.

“Ini.”

Fadil menerimanya.

“Apa ini?”

“Sedikit bekal.”

Fadil membukanya.

Matanya langsung berkaca-kaca.

“Yah…”

“Jangan ditolak.”

“Tapi…”

“Ambil.”

Fadil menunduk.

“Fadil takut uang Ayah habis.”

Pak Dul tersenyum.

“Uang bisa dicari lagi. Kesempatan menuntut ilmu belum tentu datang dua kali.”

°˖✧✿✧˖°

Beberapa hari setelah kelulusan, Fadil mulai mempersiapkan keberangkatannya.

Ia membereskan pakaian.

Tidak banyak yang dibawa.

Beberapa baju, sarung, peci, perlengkapan mandi, buku catatan, dan kitab-kitab dasar yang selama ini dimilikinya.

Di sela-sela persiapan, ia kembali mengunjungi sekolah.

Ia berjalan melewati koridor yang selama tiga tahun menjadi bagian dari hidupnya.

Di depan kelas, ia berhenti.

“Banyak sekali kenangan,” gumamnya.

Seorang guru yang kebetulan lewat menghampirinya.

“Fadil?”

Fadil menoleh.

“Assalamu'alaikum, Pak.”

“Wa'alaikumussalam. Belum pulang?”

“Sebentar lagi, Pak.”

“Katanya mau merantau?”

“Iya, Pak.”

“Ke Jawa Timur?”

Lihat selengkapnya