6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #12

Pertanyaan tentang Masa Depan

Pertanyaan tentang Masa Depan

Ia mulai menghadapi pertanyaan besar: bekerja, berusaha, atau melanjutkan pendidikan?

°˖✧✿✧˖°

Pagi itu pasar masih basah oleh gerimis semalam. Fadil sudah berdiri di balik meja kayu sejak matahari belum naik, memilah ikan kembung ke dalam tiga ember: yang paling segar untuk pelanggan tetap, yang agak layu untuk ditawarkan ke ibu-ibu yang suka menawar, dan yang kecil-kecil untuk dijadikan ikan asin. Gerakannya kini cepat dan hafal, tidak seperti dua bulan lalu ketika ia masih canggung memegang pisau.

Pak Dul sedang istirahat di rumah. Punggungnya pulih pelan-pelan, dokter bilang ia boleh beraktivitas ringan tapi tidak untuk mengangkat keranjang penuh. Maka gerobak itu kini sepenuhnya milik Fadil. Ia bangun subuh, berangkat sebelum azan, pulang ketika matahari tergelincir. Lelah, tapi ada rasa yang sebelumnya tak pernah ia kenal: rasa punya arah.

"Ikan kembungnya berapa, Mas?" tanya seorang ibu yang membawa keranjang anyaman.

"Dua puluh lima ribu, Bu. Kalau ambil lima, saya potong jadi dua puluh dua."

"Boleh, lima. Tapi sisakan yang besar-besar, ya."

"Itu sudah saya sisihkan untuk ibu."

Ibu itu tersenyum, membayar, lalu pergi. Fadil menimbang, membungkus, mencuci tangan di ember. Saat mengangkat kepala, ia melihat sesosok berdiri di ujung deretan kios. Perempuan berjilbab cokelat dengan tas kain, menatapnya dengan senyum yang sudah lama tidak melihatnya.

"Fadil?" panggilnya.

Bu Laras, gurunya di SMP, tiga tahun lalu.

Fadil membasuh tangan cepat-cepat, lalu maju. "Bu Laras? Ada apa Bu, kok sampai ke pasar?"

"Ada yang harus ibu sampaikan. Kamu masih ingat nilaamu waktu kelas tiga? Peringkat kelima dari sepuluh besar." Bu Laras membuka tas kainnya, mengeluarkan selembar kertas. "Ini surat dari yayasan. Ada beasiswa untuk lanjut SMK di kota. Biaya ditanggung, ada asrama, tinggal daftar minggu ini."

Fadil terdiam. Matanya menatap kertas itu, tapi tangannya tidak bergerak untuk mengambil.

"Bu, saya sudah dua tahun tidak sekolah."

"Ibu tahu. Tapi guru-gurumu tidak pernah lupa. Nilaimu bagus, Fadil. Sayang kalau berhenti di sini."

"Sayang buat apa, Bu? Ini pekerjaan saya sekarang."

Bu Laras menatap gerobak yang penuh ikan, lalu kembali ke wajah Fadil. "Ini bukan soal pekerjaanmu sekarang, Nak. Ini soal pekerjaanmu dua puluh tahun lagi."

Dari kejauhan, sebuah suara berat menyela. "Fadil! Masih ada ikan kembung yang besar nggak?"

Seorang laki-laki berbadan besar berjalan mendekat, memakai kemeja lusuh dan sandal jepit. Pak Salam, tengkulak yang biasa membeli ikan dalam jumlah banyak untuk dibawa ke pasar kota. Fadil kenal dia sejak ayahnya masih aktif jualan.

"Ada, Pak. Tinggal beberapa ekor."

"Ngak usah beberapa. Saya mau semuanya." Pak Salam menyenderkan tongkatnya ke meja. "Tapi ada yang lebih penting dari ikan. Dengar, Fadil. Saya lihat kamu dua bulan ini jualan bener, nggak bolong-bolong. Nggak kayak dulu. Saya mau tawarin sesuatu."

Fadil mengerutkan kening. "Tawaran apa, Pak?"

"Kamu pinjam modal ke saya. Beli ikan langsung dari tambak di pesisir, bawa ke kota, jual dengan harga lebih tinggi. Saya ambil untung sepuluh persen. Kamu yang mikirin barang, saya yang mikirin jalan." Pak Salam menepuk-nepuk bahu Fadil. "Uang kamu bisa tiga kali lipat dari jualan di pasar kaya gini."

Fadil tidak menjawab Pak Salam saat itu. Ia bilang akan memikirkannya, lalu melayani pembeli sampai pasar sepi. Di kepalanya, dua suara berbenturan sepanjang hari: suara Bu Laras yang membicarakan dua puluh tahun ke depan, dan suara Pak Salam yang menjanjikan uang lebih cepat.

Malam harinya, setelah makan, Fadil duduk di ruang depan bersama ayahnya. Pak Dul sedang menyalakan pipa kecil, menatap api yang berkedip. Fadil membuka cerita.

"Pak, tadi pagi ada dua orang datang ke pasar."

"Pembeli?" tanya Pak Dul tanpa menoleh.

"Bu Laras sama Pak Salam."

Pak Dul berhenti menyalakan pipanya. "Bu Laras? Guru kamu itu? Ngapain dia ke pasar?"

"Dia bawa surat beasiswa, Pak. Buat lanjut SMK di kota. Asrama, gratis, tinggal daftar minggu ini." Fadil berhenti sejenak. "Terus Pak Salam nawarin modal buat jualan ikan sampai ke pasar kota. Katanya uangnya bisa tiga kali lipat."

Pak Dul tidak langsung menjawab. Ia mengisap pipanya, mengembuskan asap pelan, lalu menatap anaknya dengan mata yang sulit dibaca.

"Kamu mau yang mana?"

"Justru itu, Pak. Saya bingung."

"Kamu nggak perlu bingung, Dil." Pak Dul meletakkan pipanya di atas meja. "Sekarang kamu tanya satu hal ke diri kamu: dua puluh tahun lagi, kamu mau jadi orang yang kayak apa?"

Fadil membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia tidak pernah berpikir sampai sejauh itu.

"Sekarang ini kamu jualan buat makan, buat obat ibumu, buat sekolah adikmu. Itu mulia." Pak Dul menunjuk ke dadanya sendiri. "Tapi kalau kamu berhenti di sini, hidupmu cuma segini. Ayahmu tahu, karena ayah cuma segini."

"Tapi kalau saya ambil beasiswa, siapa yang jaga gerobak, Pak? Ayah belum boleh angkat berat."

"Gerobak bisa dijaga orang lain. Hidup kamu tidak."

Suara Bu Zubaidah menyaingi dari dapur. "Pak Dul, jangan membebani anak dengan pilihan yang belum matang."

Ia muncul membawa dua cangkir teh, meletakkan satu di depan suaminya, satu di depan Fadil. Lalu ia duduk di antara mereka.

"Dil, ibu tidak akan menentukan buat kamu. Tapi ibu mau bilang satu hal." Suaranya lembut tapi teguh. "Waktu ayahmu sakit, kamu jual cincin pusaka tanpa diminta. Kamu jaga gerobak tanpa disuruh. Itu artinya kamu sudah dewasa. Sekarang biarkan keputusanmu yang dewasa yang berbicara."

"Tapi Bu..."

"Kamu tidak perlu menjawab malam ini," potong Bu Zubaidah. "Malam ini, tidur. Besok, pikirkan dengan kepala dingin. Ibu dan ayahmu mendukung apa pun."

Fadil menunduk menatap tehnya yang mengepul. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa pilihan itu benar-benar miliknya, dan justru karena itu, beban itu terasa lebih berat.

Lihat selengkapnya