Keinginan yang Berbeda
Fadil mengungkapkan keinginannya untuk memperdalam agama.
°˖✧✿✧˖°
Fadil pulang ke kampung di akhir pekan kedua bulan itu. Angkutan umum yang ia tumpangi sejak pagi membawanya menembus jalan berdebu, dan ketika ia turun di depan masjid kecil, langit sudah menguning. Di rumah, Bu Zubaidah sudah menyiapkan teh, dan Pak Dul duduk di beranda sambil mengupas kacang untuk ayamnya.
"Sudah sampai, Dil?" suara ibunya menyambut dari dapur.
"Alhamdulillah, Bu. Lelah, tapi pulang selalu senang."
"Lelah memang, tapi jangan lupa makan dulu." Bu Zubaidah muncul membawa piring berisi nasi dan lauk. "Kamu pasti belum makan siang."
Malam itu, di meja makan, terjadi percakapan yang mengubah banyak hal.
"Ayah, Ibu," Fadil memulai setelah menyendok nasi ke piring, "aku mau bilang sesuatu."
Pak Dul menoleh, sendoknya berhenti di tengah jalan. Bu Zubaidah juga berhenti mengaduk sayur. Wajah mereka menunggu.
"Kamu pulang bawa kabar apa?" tanya Pak Dul.
"Bukan kabar sekolah." Fadil menunduk sebentar, lalu mengangkat wajahnya. "Aku mau memperdalam agama."
Keheningan jatuh di ruang makan. Lampu minyak berkedip seperti ikut terkejut.
"Maksudmu memperdalam agama, seperti apa?" Pak Dul mengerutkan kening.
"Aku ingin belajar agama lebih dalam. Bukan sekadar shalat dan mengaji. Aku ingin benar-benar mengenal agama, mendalami ilmunya, bahkan berencana melanjutkan ke pesantren setelah SMK selesai, atau berguru langsung kepada seorang ustad. Kalau Allah mengizinkan."
Pak Dul meletakkan sendoknya pelan-pelan. Pandangannya mencari wajah anak tertuanya. "Kamu sudah dapat beasiswa SMK di kota. Baru beberapa bulan berjalan, kamu sudah bersekolah di sana. Kenapa sekarang bicara soal pesantren?"
"Bukan meninggalkan sekolah, Ayah. Tapi aku merasa ada bagian hidupku yang belum aku isi. Di kota, aku banyak melihat teman yang hanya mengejar dunia, mengejar uang, mengejar nilai, tanpa pernah bertanya untuk apa semua itu. Aku tidak ingin jadi seperti mereka."
Bu Zubaidah menatap anaknya dengan mata yang lembut. "Kamu serius, Dil?"
"Serius, Bu. Aku sering ke masjid dekat asrama, ikut pengajian malam. Semakin lama aku mendengar, semakin aku sadar, selama ini aku baru hidup di kulitnya saja. Aku ingin masuk lebih dalam."
Pak Dul diam lama. Tangannya yang kasar menyeka wajah. Suaranya pelan ketika akhirnya berbicara. "Ayah tidak melarang. Tapi ayah cuma ingin kamu tahu, jalan itu tidak mudah. Belajar agama juga berat, Dil. Kadang lebih berat daripada jualan ikan di pasar. Banyak yang berhenti di tengah jalan."
"Saya tahu, Ayah. Tapi saya sudah siap."
Bu Zubaidah mengangguk pelan, mengusap punggung tangan suaminya. "Kalau itu keinginanmu, biar kita doakan. Insya Allah dibukakan jalannya."
Fadil tersenyum, merasa lega. Tapi ia belum tahu, di kampung ini ada dua orang lain yang juga menyimpan keinginan yang berbeda. Dan ketiganya akan bertemu di satu persimpangan yang sama.
°˖✧✿✧˖°
Keesokan paginya, Fadil pergi ke rumah Raka, sahabatnya sejak kecil. Raka tinggal seberang sungai, di rumah panggung yang catnya sudah mengelupas dimakan usia. Di teras, Raka sedang memompa sepeda motor tua, dan dari dapur terdengar suara Alya menyiapkan sarapan.
"Heh, orang kota pulang kampung!" Raka menyambut dengan tawa. "Masuk SMK di kota, sudah lupa sama kampung, ya?"
"Lupa? Coba saja lupa, pasti kamu datangin ke pasar." Fadil menjabat tangannya erat.
Alya keluar membawa dua piring. Ia tersenyum, rambutnya disanggul sederhana. "Fadil, masuk dulu. Kebetulan aku masak banyak pagi ini."
"Terima kasih, Al. Baunya sudah tercium dari seberang sungai."
Mereka makan bersama, membicarakan hal-hal ringan, sampai Raka mencondongkan badan dan raut wajahnya berubah serius.
"Fadil, ada satu hal. Jangan bilang siapa-siapa dulu, ya. Aku dapat tawaran kerja di kota besar, Jakarta. Gajinya besar, dua kali lipat dari kerja serabutan di sini. Bosnya teman lamaku, sudah dikenal lama."
Fadil berhenti mengunyah. "Jakarta? Raka, kamu mau pindah ke sana?"
"Aku belum bilang Alya." Raka menunduk. "Kalau aku bilang, pasti dia nangis. Kamu tahu sendiri, dia tidak mau hidup jauh dari kampung."
"Justru itu masalahnya, Ra." Fadil menggeleng pelan. "Kamu harus bilang. Kalau tidak, kamu cuma menunda luka, dan itu jauh lebih sakit."
"Sulitnya di situ, Dil. Aku takut kehilangan dia."
"Kalau kamu pergi tanpa bilang, kamu sudah kehilangan dia lebih dulu."
Keheningan. Lalu, dari balik jendela dapur, suara Alya terdengar dingin tapi tenang. "Terus, kapan kamu mau bilang, Ra?"
Raka tersentak. Alya berdiri di ambang pintu, wajahnya pucat, tangannya memegang lap piring yang kusut.
"Al, dengar..."
"Sudah, aku dengar semua." Alya melangkah masuk dan duduk di kursi di seberang meja. "Kamu mau pergi. Itu hakmu, Ra. Tapi aku juga punya keinginan sendiri. Aku ingin kita menikah tahun ini, membangun rumah kecil di sini, hidup tenang. Bukan ditinggal di kampung sambil menunggu kabar dari jauh."
"Dengar, aku melakukan ini demi kita. Demi masa depan kita."
"Masa depan yang seperti apa, Ra? Rumah kosong di sini, sementara kamu di sana? Aku tidak butuh uang sebesar itu. Aku butuh suami yang ada di sisiku."
Fadil menelan ludah. Ia tidak mengira sarapan akan berubah menjadi perselisihan begini. Ia menarik napas dan memutuskan bicara.
"Raka, Alya, aku mungkin bukan orang yang tepat untuk menasihati. Tapi aku baru bertanya kepada ayah dan ibuku tentang keinginanku sendiri untuk memperdalam agama. Yang sedang aku pelajari, hidup bukan soal siapa yang paling cepat kaya. Hidup soal apa yang benar-benar kamu kejar dan untuk siapa kamu mengejarnya."
Raka menatapnya tajam. "Jadi kamu juga punya keinginan sendiri?"
"Iya. Dan aku bersyukur karena orang tuaku mendukung."
Alya mengusap matanya, lalu tersenyum getir. "Kalau begitu, jangan jadikan rumah ini tempat perang. Makan dulu sampai habis. Sore nanti kita bicarakan baik-baik, seperti orang dewasa."
°˖✧✿✧˖°