Pesantren di Jawa Timur
Fadil mengetahui tentang sebuah pesantren di Jawa Timur.
°˖✧✿✧˖°
Deru roda besi kereta api malam perlahan mereda ketika gerbong tua itu berhenti sempurna di peron stasiun. Udara dingin khas pedalaman Jawa Timur langsung menyergap kulit Fadil begitu ia melangkah turun sambil mendekap ransel kanvasnya yang lusuh. Kota ini masih diselimuti kabut tipis sisa hujan sore tadi.
Di sudut luar stasiun, sebuah warung kopi sederhana dengan penerangan temaram lampu minyak masih menyisakan kepulan asap wedang jahe. Fadil melangkah ragu ke arah bangku kayu panjang yang tampak reot.
"Monggo, Mas. Mau minum apa malam-malam begini?" sapa seorang lelaki paruh baya berkopiah miring yang sedang mengelap cangkir kaleng.
"Kopi tubruk panas saja, Pak. Gulanya sedikit saja," jawab Fadil dengan suara serak yang kentara menyembunyikan kelelahan panjang.
Lelaki itu mengangguk cekatan, lalu menuangkan air mendidih dari ceret tembaga ke dalam cangkir porselen kusam.
"Baru datang dari barat ya, Mas? Kelihatan dari wajahnya yang menyimpan banyak beban perjalanan," ujar sang pemilik warung ramah sembari meletakkan cangkir kopi mengepul di depan Fadil.
"Iya, Pak. Perjalanan jauh tanpa tujuan yang pasti," sahut Fadil sambil menghela napas panjang dan menatap cairan hitam pekat di hadapannya.
"Semua orang yang turun di sini selalu bilang begitu, Mas. Tapi hati manusia tidak pernah benar-benar tersesat tanpa alasan."
Pintu anyaman bambu warung mendadak berderit pelan. Seorang pria berjaket tebal cokelat dengan sarung kotak-kotak melangkah masuk. Tatapan pria itu seketika tertuju ke arah Fadil yang sedang termangu.
"Fadil? Masya Allah, benar kamu kan, Fadil?" seru pria itu dengan nada suara yang setengah tak percaya.
Fadil terperanjat, matanya menyipit memandangi wajah pria yang tampak akrab itu.
"Cak Harun? Antum... bagaimana bisa ada di stasiun ini jam segini?" tanya Fadil seraya bangkit dan menyalami tangan pria itu erat.
"Aku baru saja mengantar titipan kitab dari Jombang untuk saudaraku di sini. Tapi melihatmu duduk sendirian di sudut warung begini sungguh kejutan besar," ucap Cak Harun sembari menarik kursi kayu di sebelah Fadil.
"Dunia memang sempit, Cak. Atau mungkin takdir yang memang sedang mempermainkan langkahku," gumam Fadil pelan, tersenyum kecut.
"Jangan berprasangka buruk pada takdir, Dil. Ceritakan padaku, kenapa wajahmu tampak begitu kusut? Ada apa dengan perjalananmu dari kota kemarin?" selidik Cak Harun dengan nada penuh kehangatan persaudaraan.
Fadil menunduk dalam-dalam. Jemarinya mencengkeram erat pinggiran cangkir kopi yang hangat.
"Aku sudah kehilangan arah, Cak. Semua urusan di ibu kota runtuh berantakan. Jiwaku rasanya kering, seolah shalat dan doa-doaku selama ini hanya rutinitas kosong tanpa ruh. Aku butuh tempat berteduh, tapi aku tidak tahu ke mana harus melangkah."
Cak Harun menatap lekat-lekat mata Fadil yang berkaca-kaca. Hening sejenak merayap di antara kepulan asap kopi.
"Kalau memang batinmu sedang mencari oase sejati, mungkin ini saatnya kamu mendengar tentang sebuah tempat di lereng bukit timur sana," bisik Cak Harun perlahan.
"Tempat apa maksudmu, Cak?" tanya Fadil penasaran.
"Pesantren Al-Ikhlas Karomah di pedalaman lereng Gunung Wilis. Sebuah pesantren salaf tua yang hampir tidak terjamah keramaian dunia. Di sana diasuh oleh Kyai Sepuh Syamsuddin, seorang waliyullah yang hanya menerima santri dengan niat tulus membersihkan hati."
Fadil menatap Cak Harun dengan keraguan yang membuncah di dadanya.
"Pesantren di Jawa Timur? Apakah orang yang penuh dosa dan kekacauan sepertiku pantas menginjakkan kaki di tanah suci para penuntut ilmu itu, Cak?"
"Pesantren bukan tempat untuk orang yang sudah suci, Fadil. Pesantren adalah bengkel bagi jiwa-jiwa yang remuk dan ingin diperbaiki," tegas Cak Harun sambil menepuk pundak sahabatnya itu dengan tatapan penuh keyakinan.
°˖✧✿✧˖°
Cahaya fajar mulai menyingsing di ufuk timur, memecah selimut malam yang dingin dengan semburat jingga keemasan. Fadil masih berdiri di tepian jalan berbatu, menatap ke arah punggung bukit yang menjulang gagah berselimut halimun tebal.
"Kamu yakin mau berjalan kaki dari pertigaan desa ini, Dil?" tanya Cak Harun seraya mematikan mesin sepeda motor tuanya di persimpangan jalan setapak.
"Yakin, Cak. Anggap saja ini langkah awal tirakat kecilku untuk melunturkan kesombongan diri," sahut Fadil sambil mengencangkan tali ransel di pundaknya.
"Ingat pesanku, Fadil. Pesantren itu tidak memiliki papan nama megah. Kamu hanya perlu mengikuti aliran sungai kecil sampai menemukan jembatan bambu gantung," pesan Cak Harun sungguh-sungguh.
"Bagaimana kalau gerbangnya tertutup dan mereka menolak orang asing sepertiku?" tanya Fadil dengan nada cemas yang tak bisa ia sembunyikan.
"Di pesantren itu, gerbang lahiriah mungkin selalu terbuka, tetapi gerbang batinlah yang menguji setiap musafir yang datang. Ketuklah pintu dengan adab dan kerendahan hati yang mutlak," jawab Cak Harun tersenyum teduh.
Fadil menarik napas panjang, menghirup udara pegunungan yang segar merasuk ke dalam dadanya yang sesak.
"Terima kasih banyak atas petunjukmu, Cak. Doakan aku agar menemukan apa yang selama ini hilang dari dadaku."
"Bismillah, saudaraku. Berangkatlah. Allah tidak pernah menyia-nyiakan langkah hamba yang rindu perbaikan diri," tutur Cak Harun sembari melambaikan tangan.
Fadil membalikkan badan lalu mulai melangkahkan kaki menapaki jalan tanah menanjak. Pepohonan pinus dan rumpun bambu betung di kanan-kiri jalan saling bergesekan ditiup angin pagi, menciptakan desau alami yang menenangkan detak jantungnya.
Setiap ayunan langkah terasa begitu berat, bukan semata karena tanjakan curam, melainkan karena perang batin yang terus berkecamuk di dalam kepalanya. Kenangan masa lalu di kota—kegagalan usaha, fitnah rekan kerja, dan keputusasaan cinta—seakan berbisik menyuruhnya berbalik arah.
"Apakah ini jalan yang benar, atau sekadar pelarian pengecut?" bisik Fadil pada kesunyian rimba pinus.
Namun gemericik air sungai yang mengalir deras di lembah perlahan menyadarkan lamunannya. Di kejauhan, sayup-sayup terdengar suara lantunan selawat badar yang mengalun merdu dari corong pengeras suara surau kayu, menandakan batas pesantren yang ia tuju sudah semakin dekat.
°˖✧✿✧˖°
Sebuah jembatan bambu tua terbentang di atas sungai berbatu yang berarus deras. Di seberang jembatan, tampak kompleks bangunan panggung dari kayu jati bersahaja dengan surau beratap ijuk hitam. Tidak ada gapura megah berbatu marmer, hanya gapura bambu bertuliskan kaligrafi Arab sederhana: *Baitul Ikhlas*.