6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #15

Permintaan kepada Ayah dan Ibu

Fadil meminta izin merantau.

°˖✧✿✧˖°

Langit sore itu berwarna jingga keemasan, seperti kuning telur yang pecah di atas kain putih. Fadil duduk di beranda rumahnya, menatap sawah yang baru saja selesai dipanen. Jerami-jerami kering berserakan di tanah, sisa-sisa kehidupan yang telah memberi makan banyak orang. Angin bertiup pelan, membawa aroma tanah basah dan asap pembakaran jerami dari kejauhan.

Di tangannya, sebuah surat terbuka. Kertas itu sudah ia pegang sejak pagi, dilipat dan dibuka berkali-kali hingga lipatannya mulai tipis dan berbulu. Isinya sederhana—hanya beberapa paragraf—tapi kata-katanya menghantam Fadil seperti badai yang datang tiba-tiba.

"Fadil, kamu dipanggil wawancara di perusahaan perkebunan di Kalimantan. Gaji awal cukup besar. Kalau kamu tertarik, konfirmasi dalam seminggu."

Fadil membacanya lagi untuk kesekian kali, meski ia sudah hafal di luar kepala. Setiap kata terasa berat, seperti batu yang harus ia telan. Ini kesempatan. Kesempatan yang ia cari selama berbulan-bulan. Tapi kenapa rasanya begitu menakutkan?

Ia melipat surat itu dan memasukkannya ke kantong jaketnya. Dari dalam rumah, terdengar suara Bu Zubaidah yang sedang menyiapkan makan malam. Aroma tumis kangkung dan ikan asin menyeruak keluar, mengingatkannya bahwa hidup terus berjalan, tidak peduli seberapa bingung ia merasa.

"Masih di luar, Dil? Sudah mau maghrib," panggil Bu Zubaidah dari dalam.

"Sebentar lagi, Bu," jawab Fadil.

Tapi ia tidak bergerak. Kakinya terasa berat, seolah bumi menariknya untuk tetap duduk di sana. Ia menatap cakrawala yang semakin gelap, menatap bintang pertama yang mulai muncul di langit timur. Bintang itu kecil, redup, tapi ia berani bersinar meski sendirian.

Seperti aku, pikir Fadil. Kecil, redup, tapi ingin bersinar.

Dari kejauhan, ia melihat sosok Pak Dul yang sedang berjalan pulang dari sawah. Langkahnya pelan, tubuhnya sedikit membungkuk, tapi ia tetap melangkah. Seperti biasa. Tidak pernah berhenti. Tidak pernah mengeluh.

Fadil tahu, ia harus berbicara dengan orang tuanya. Ia tidak bisa terus menunda. Surat itu meminta konfirmasi dalam seminggu, dan waktu terus berjalan. Tapi bagaimana ia harus memulai? Bagaimana ia harus mengatakan bahwa ia ingin pergi, meninggalkan rumah yang selama ini menjadi tempat berlindungnya? Bagaimana ia harus mengatakan bahwa ia ingin merantau, jauh dari orang-orang yang paling ia cintai?

Pak Dul tiba di beranda dan duduk di kursi kayu di samping Fadil. Ia mengeluarkan rokok kretek, menyalakannya, lalu menghirup dalam-dalam. Asap putih mengepul, bercampur dengan udara senja yang mulai dingin.

"Kenapa mukanya kusut begitu?" tanya Pak Dul. Suaranya serak, tapi hangat.

Fadil tidak langsung menjawab. Ia menatap ayahnya, menatap wajah tua yang penuh kerutan, menatap tangan yang penuh kapalan. Tangan yang telah bekerja keras sepanjang hidup, tanpa pernah mengeluh, tanpa pernah menyerah.

"Yah," Fadil memulai dengan suara pelan. "Fadil... Fadil dapat surat."

"Surat apa?"

"Dari perusahaan perkebunan di Kalimantan. Fadil dipanggil wawancara."

Pak Dul tidak langsung menjawab. Ia mengisap rokoknya lagi, lalu menatap sawah di kejauhan. Di matanya, ada sesuatu yang sulit diartikan—campuran antara kebanggaan dan kecemasan, antara harapan dan ketakutan.

"Kalimantan," ulang Pak Dul pelan. "Jauh."

"Ya, Yah. Jauh."

°˖✧✿✧˖°

Keheningan di antara mereka terasa panjang, seperti jalan berkelok yang tidak ada ujungnya. Fadil bisa mendengar detak jantungnya sendiri, keras dan cepat. Ia menunggu ayahnya bicara, tapi Pak Dul tetap diam, menikmati rokoknya seperti tidak ada yang salah.

"Bapak tidak melarang," kata Pak Dul akhirnya. "Tapi Bapak mau tahu, kamu ini sudah yakin?"

Fadil terdiam. Pertanyaan itu sederhana, tapi jawabannya tidak. Apakah ia yakin? Ia tidak tahu. Yang ia tahu, hatinya berdebar setiap kali memikirkan Kalimantan. Berdebar karena takut, tapi juga berdebar karena... sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

"Fadil belum tahu, Yah," jawab Fadil jujur. "Fadil takut. Tapi Fadil juga... penasaran."

"Penasaran bagaimana?"

"Penasaran apa yang ada di luar sana, Yah. Selama ini Fadil cuma tahu desa ini. Cuma tahu sawah ini. Fadil ingin tahu bagaimana rasanya hidup di tempat lain. Ingin tahu bagaimana rasanya berdiri di atas kaki sendiri."

Pak Dul mengangguk pelan. Ia mematikan rokoknya, lalu menatap anaknya dengan tatapan yang dalam.

"Dulu," kata Pak Dul, "waktu Bapak masih muda, Bapak juga ingin merantau. Ingin ke kota, ingin cari kerja, ingin sukses. Tapi Bapak tidak pernah pergi. Kakekmu sakit, sawah harus diurus, dan Bapak... Bapak tidak punya keberanian."

Fadil menatap ayahnya. Ini pertama kalinya ia mendengar cerita itu. Selama ini, Pak Dul tidak pernah bercerita tentang mimpinya. Ia selalu hanya bercerita tentang pekerjaan, tentang sawah, tentang bagaimana ia harus bertahan.

"Bapak menyesal?" tanya Fadil pelan.

"Setiap hari," jawab Pak Dul tanpa ragu. "Setiap hari Bapak bertanya-tanya, bagaimana hidup Bapak kalau dulu Bapak pergi. Tapi Bapak juga tahu, kalau Bapak pergi, mungkin kamu tidak akan ada di sini. Mungkin Bapak tidak akan punya keluarga yang sebaik ini."

Fadil merasa dadanya sesak. Ada begitu banyak hal yang tidak pernah ia sadari tentang ayahnya. Ada begitu banyak pengorbanan yang tidak pernah ia hargai.

"Yah," kata Fadil dengan suara gemetar. "Fadil ingin pergi. Fadil ingin coba wawancara itu. Tapi Fadil butuh restu Bapak dan Ibu."

Pak Dul tidak langsung menjawab. Ia menatap sawah di kejauhan, menatap jerami yang berserakan, menatap langit yang mulai gelap.

"Besok pagi," kata Pak Dul akhirnya, "kita bicara dengan Ibu. Ini keputusan besar, Dil. Kita harus bicara bersama."

°˖✧✿✧˖°

Malam itu, Fadil tidak bisa tidur. Ia berbaring di kasur tuanya, menatap langit-langit kamar yang penuh dengan bayangan. Pikirannya berputar-putar, seperti kincir air yang tidak pernah berhenti. Ia memikirkan Kalimantan, memikirkan wawancara, memikirkan bagaimana rasanya meninggalkan rumah.

Ia teringat masa kecilnya. Teringat bagaimana ia bermain di sawah bersama teman-temannya, teringat bagaimana ia belajar mengaji di surau desa, teringat bagaimana ia selalu merasa aman karena tahu orang tuanya ada di rumah. Sekarang, ia harus meninggalkan semua itu. Ia harus berdiri sendiri, tanpa jaring pengaman, tanpa tempat berlindung.

Fadil bangkit dari kasur dan membuka jendela. Udara malam masuk, membawa aroma tanah dan suara jangkrik. Di kejauhan, lampu-lampu desa berkedip-kedip seperti kunang-kunang yang lelah. Desa ini kecil, tapi ia adalah rumah. Rumah yang selalu ia cintai, meski kadang ia merasa sesak di dalamnya.

Lihat selengkapnya