Air Mata Zubaidah
Zubaidah berat melepas anaknya pergi jauh.
°˖✧✿✧˖°
Pagi itu rumah sederhana keluarga Fadil terasa lebih sunyi daripada biasanya.
Tidak ada suara radio yang menyala seperti biasanya. Tidak terdengar pula percakapan ringan antara Pak Dul dan Bu Zubaidah dari dapur. Bahkan bunyi sendok yang beradu dengan piring pun terasa pelan.
Di tengah ruang kamar, Fadil sedang memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas.
Satu demi satu.
Kemeja.
Celana.
Sarung.
Peci.
Buku catatan.
Al-Qur'an.
Semuanya disusun dengan rapi.
Namun di balik gerak tangannya yang tenang, ada perasaan berat yang tidak mampu ia sembunyikan.
Hari keberangkatannya semakin dekat.
Sangat dekat.
Fadil berhenti sejenak ketika menemukan sebuah baju lama yang pernah diberikan ibunya.
Ia tersenyum.
"Ini masih ada."
Dari pintu kamar, Bu Zubaidah memandang anaknya.
"Ibu yang belikan waktu kamu masuk SMA."
Fadil menoleh.
"Masih bagus, Bu."
"Sudah bertahun-tahun."
"Karena Ibu yang belikan."
Bu Zubaidah tersenyum tipis.
"Kalau begitu jangan dibuang."
"Fadil bawa."
"Jangan sampai hilang."
"Iya."
Bu Zubaidah melangkah mendekat.
Ia melihat isi tas anaknya.
"Jangan terlalu banyak membawa barang."
"Fadil hanya membawa yang perlu."
"Obat sudah?"
"Sudah."
"Perlengkapan mandi?"
"Sudah."
"Al-Qur'an?"
Fadil mengangkat sebuah Al-Qur'an kecil.
"Ini."
Bu Zubaidah mengangguk.
"Bagus."
Tangannya kemudian menyentuh pakaian Fadil.
Untuk beberapa saat, ia hanya diam.
Fadil memperhatikannya.
"Ibu kenapa?"
"Enggak apa-apa."
"Ibu menangis?"
Bu Zubaidah cepat-cepat mengusap sudut matanya.
"Mana ada."
Fadil tersenyum kecil.
"Ibu."
"Benar. Mata Ibu hanya..."
"Kenapa?"
"Kelilipan."
Fadil menahan tawa.
"Kelilipan di kamar?"
Bu Zubaidah menatap anaknya.
"Kamu sekarang pintar sekali menggoda Ibu."
Fadil mendekat.
"Ibu sedih?"
Bu Zubaidah menghela napas.
"Sedih."
Jawaban itu akhirnya keluar juga.
Fadil terdiam.
"Apa Ibu tidak rela Fadil pergi?"
Bu Zubaidah menggeleng cepat.
"Bukan begitu."
"Lalu?"
"Ibu rela."
"Kalau rela, kenapa menangis?"
Bu Zubaidah memegang lengan anaknya.
"Karena seorang ibu bisa merelakan anaknya pergi sambil tetap merasa hatinya sakit."
Fadil tidak mampu menjawab.
Bu Zubaidah memandang wajahnya.
"Fadil, sejak kamu kecil, Ibu yang melihat kamu tidur."
Fadil diam mendengarkan.
"Kalau kamu sakit, Ibu yang duduk di sampingmu."
"Iya."
"Kalau kamu pulang terlambat, Ibu menunggu."
"Iya."
"Kalau kamu punya masalah di sekolah, Ibu yang pertama kali bertanya."
Fadil menundukkan kepala.
"Dan sekarang kamu akan pergi jauh."
Bu Zubaidah menarik napas panjang.
"Jauh sekali."
Fadil menggenggam tangan ibunya.
"Fadil akan baik-baik saja."
"Ibu tahu."
"Fadil akan sering menelepon."
"Ibu tahu."
"Fadil akan menjaga salat."
"Ibu tahu."
"Lalu kenapa Ibu masih menangis?"
Bu Zubaidah tersenyum sambil menahan air mata.
"Karena Ibu adalah ibu."
Kalimat sederhana itu membuat Fadil ikut berkaca-kaca.
Dari ruang depan terdengar suara Pak Dul.
"Zubaidah."
"Iya?"
"Jangan terlalu lama."
Bu Zubaidah menjawab,
"Iya."
Fadil memandang pintu.
Ayahnya mungkin sedang menyiapkan kendaraan dan barang-barang untuk keberangkatan.
Hari itu benar-benar akan datang.
Dan tidak ada seorang pun di rumah itu yang mampu menghentikan waktu.
°˖✧✿✧˖°
Menjelang siang, Fadil membantu Pak Dul mengangkat barang.
Pak Dul memperhatikan tas besar milik anaknya.
"Berat?"
"Lumayan."
"Kalau berat, kurangi."
"Sudah Fadil pilih yang penting."
Pak Dul mengangguk.
Kemudian ia melihat wajah Fadil.
"Kamu siap?"
Fadil terdiam.
"Insyaallah."
"Kenapa tidak bilang siap saja?"
"Karena Fadil masih takut."
Pak Dul tersenyum.
"Bagus."
Fadil mengernyit.
"Bagus?"
"Orang yang tidak takut sama sekali terkadang tidak tahu apa yang sedang dihadapinya."
Fadil tertawa kecil.
"Kalau takut bagaimana?"
"Takut boleh."
"Lalu?"
"Jangan biarkan takut mengalahkan tujuan."
Fadil mengangguk.
Dari dalam rumah, Bu Zubaidah mendengar percakapan itu.
Ia keluar membawa dua gelas teh.
"Minum dulu."
Pak Dul menerima gelas.
"Terima kasih."
Fadil mengambil gelasnya.
"Bu."
"Hm?"
"Kalau Fadil nanti sudah sampai, Ibu jangan terlalu khawatir."
Bu Zubaidah duduk.
"Bagaimana Ibu tidak khawatir?"
"Karena Fadil akan menjaga diri."
"Ibu tahu kamu akan berusaha."
"Fadil juga akan ditemani orang-orang baik."
"Semoga."
Bu Zubaidah menatap halaman.
"Jawa Timur itu jauh, Dil."
"Iya."
"Kalau kamu sakit?"
"Berobat."
"Kalau uangmu habis?"
"Fadil akan menghubungi Ayah."
Pak Dul langsung menyela.
"Jangan terlalu memikirkan uang."
Bu Zubaidah menatap suaminya.
"Bagaimana tidak?"
Pak Dul tersenyum.
"Anak kita pergi untuk belajar. Jangan membuat dia takut hanya karena keadaan kita."
Bu Zubaidah diam.
Pak Dul melanjutkan,
"Kalau ada kesulitan, kita hadapi bersama."
Fadil menatap ayahnya.
"Ayah yakin?"
"Yakin."
"Padahal keadaan kita juga tidak mudah."
Pak Dul mengangguk.
"Memang."
"Kalau nanti biaya pesantren bertambah?"
"Kita pikirkan."
"Kalau pekerjaan Ayah sedang sepi?"
"Kita pikirkan."
Fadil menundukkan kepala.
"Ayah..."
"Jangan merasa bersalah karena ingin belajar."
Fadil menatapnya.
"Fadil tidak mau menjadi beban."
Pak Dul mendekat.
"Kamu bukan beban."
Bu Zubaidah mengangguk.
"Anak tidak pernah menjadi beban selama dia berusaha menjadi anak yang baik."
Fadil mengusap matanya.
"Terima kasih."
Bu Zubaidah tiba-tiba berdiri.
"Ibu mau ke dapur."
"Kenapa?"
"Mau mengambil sesuatu."
Ia masuk ke dapur.
Begitu berada di sana, Bu Zubaidah menutup mulut dengan tangan.
Air matanya kembali jatuh.
Ia bersandar pada dinding.
"Ya Allah..."
Suaranya nyaris tidak terdengar.
"Ibu tahu anak ini harus pergi."
Ia mengusap air mata.
"Tapi kenapa rasanya berat sekali?"
Dari ruang tengah, suara Fadil terdengar.
"Bu?"
Bu Zubaidah segera menghapus air matanya.
"Iya!"
"Bu, cari apa?"
"Enggak ada."
"Ibu baik-baik saja?"
"Iya."
Namun suaranya terdengar bergetar.
Fadil tahu ibunya sedang menangis.
Ia tidak mengejar.
Ia tahu ada kesedihan yang terkadang membutuhkan waktu untuk disampaikan.
°˖✧✿✧˖°
Sore hari, Fadil mengajak ibunya duduk di teras.
Langit Prabumulih mulai berubah warna.
Angin bergerak pelan melewati pepohonan.
Fadil duduk di samping ibunya.
"Bu."
"Iya."
"Fadil ingin bertanya."
"Tanya saja."
"Apakah sejak awal Ibu sebenarnya tidak ingin Fadil pergi?"
Bu Zubaidah tidak langsung menjawab.
Ia memandang jalan di depan rumah.
"Kalau ditanya sebagai seorang ibu?"
"Iya."
"Ibu ingin kamu tetap di rumah."
Fadil terdiam.
"Kenapa?"
"Karena Ibu ingin melihat kamu setiap hari."
"Ibu bisa menelepon."
"Bukan itu."
"Lalu?"
"Ibu ingin tahu apakah kamu sudah makan tanpa harus bertanya melalui telepon."
Fadil tersenyum.
Bu Zubaidah melanjutkan,
"Ibu ingin tahu kapan kamu tidur."
"Bu..."
"Ibu ingin melihat wajahmu kalau sedang bahagia."
Fadil menunduk.
"Dan kalau sedang sedih."
Air mata Bu Zubaidah kembali mengalir.
"Kalau kamu jauh, Ibu tidak bisa melakukan semua itu."
Fadil menggenggam tangan ibunya.
"Tapi Ibu bisa mendoakan."
Bu Zubaidah mengangguk.
"Itu yang akan Ibu lakukan."
"Dan Fadil akan selalu mengingat doa Ibu."
Bu Zubaidah memandang anaknya.
"Kalau suatu hari kamu merasa sendirian..."
"Iya?"
"Ingat rumah."
"Insyaallah."
"Kalau kamu merasa gagal..."
"Aku akan bangkit."
"Kalau kamu merasa tidak mampu?"
"Aku akan berdoa."
"Kalau kamu bingung?"
"Aku akan mencari nasihat."
"Kalau kamu mendapatkan keberhasilan?"
Fadil tersenyum.
"Aku tidak akan sombong."
Bu Zubaidah mengangguk puas.
"Itu yang Ibu inginkan."
Fadil kemudian bertanya,
"Bu, kenapa Ibu mendukung Fadil kalau sebenarnya Ibu berat?"
Bu Zubaidah menghela napas.
"Karena cinta tidak selalu berarti menahan."
Fadil menatapnya.
"Kadang cinta berarti membiarkan orang yang kita cintai berjalan menuju sesuatu yang baik."
Fadil terdiam cukup lama.
"Kalau begitu, Ibu benar-benar ikhlas?"
Bu Zubaidah tersenyum.
"Ibu sedang belajar ikhlas."
"Belajar?"
"Iya."
"Berarti Ibu belum sepenuhnya ikhlas?"
Bu Zubaidah tertawa kecil di antara air matanya.
"Jangan terlalu jujur."
Fadil ikut tertawa.
"Ibu memang belum siap."
"Tidak apa-apa."
"Tapi Ibu akan mencoba."
Fadil mengangguk.
"Fadil juga akan mencoba."
"Mencoba apa?"
"Mencoba menjadi anak yang membuat Ibu tidak menyesal telah mengizinkan Fadil pergi."
Bu Zubaidah langsung memegang wajah anaknya.
"Jangan berpikir begitu."