6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #17

Restu Abdul Jabbar

Restu Abdul Jabbar

Ayah akhirnya memberikan izin dengan pesan agar Fadil tidak kehilangan Allah di tanah perantauan.

°˖✧✿✧˖°

Malam itu, Fadil membawa pulang selembar kertas yang mengubah segalanya. Surat dari Pesantren Darul Hikmah itu ia pegang erat sepanjang perjalanan pulang, sampai kertasnya sedikit lecek oleh keringat di tangannya. Ketika ia melangkah ke halaman rumah, lampu minyak di beranda masih menyala, dan Pak Dul sedang duduk menganyam tali jaring di bawah cahaya itu.

"Sudah pulang, Dil?" Pak Dul tidak menoleh, tangannya sibuk.

"Sudah, Pak. Ada satu kabar."

"Apa?"

Fadil duduk di sebelah ayahnya, meletakkan surat itu di atas pangkuannya. "Surat dari pesantren, Pak. Saya diterima di Darul Hikmah."

Tangan Pak Dul berhenti. Untuk sesaat, senar jaring itu menggantung di antara jari-jarinya seperti ingin menyelesaikan kalimat yang tak pernah diucapkan.

"Kapan berangkat?" Suaranya datar, seperti menanyakan harga ikan di pasar.

"Pekan depan. Berangkat dari terminal kota, menyeberang, kemudian naik bus dua hari ke Lamongan." Fadil menelan ludah. "Saya perlu restu Ayah."

Pak Dul menurunkan tangannya, meletakkan jaring itu di lantai. Ia menatap surat itu lama, tapi tidak menyentuhnya. Dari dalam rumah, Bu Zubaidah yang sejak tadi menguping di balik pintu akhirnya keluar membawa dua gelas teh hangat.

"Dil, selamat, Nak." Suara ibunya bergetar bahagia. "Ibu sudah berdoa sejak lama biar kamu sampai ke pintu ini."

"Terima kasih, Bu."

Tapi mata Fadil tertuju pada ayahnya. Ia menunggu. Bu Zubaidah juga menunggu. Namun Pak Dul hanya berdiri, berjalan ke dapur, lalu kembali dengan sebatang rokok daun yang baru ia gulung. Ia menyalakannya, mengisap dalam-dalam, dan mengembuskan asap ke arah kegelapan halaman.

"Berangkat ke mana pun, itu urusanmu," katanya akhirnya, tanpa menatap anaknya. "Kamu sudah besar. Tidak perlu minta izin ayah."

Fadil merasakan dadanya menekan. "Bukan izin, Pak. Restu."

Pak Dul diam. Jari-jarinya yang kasar memutar rokok itu pelan-pelan. Di kejauhan, suara jangkrik mengisi keheningan yang terasa membesar.

"Restu ayah nggak penting, Dil. Restu Allah yang penting."

Kalimat itu terasa seperti pintu yang ditutup rapat. Bu Zubaidah menoleh ke arah suaminya dengan pandangan yang tidak bisa Fadil baca. Fadil menggenggam surat itu erat-erat, lalu bangkit berdiri.

"Kalau begitu saya pamit mandi, Pak, Bu."

Ia masuk ke dalam, meninggalkan dua orang tuanya di beranda. Dari kamar, ia mendengar bisikan ibunya, dan jawaban ayahnya yang pendek, keras, lalu senyap. Ia tidak tahu bahwa malam itu, di balik tembok tipis itu, ayahnya memandangi surat yang ia tinggalkan semalaman, tanpa berani membukanya.

°˖✧✿✧˖°

Hari-hari berikutnya, rumah itu terasa seperti berjalan di atas kulit telur. Bu Zubaidah sibuk menjahit dan mencuci baju Fadil, menyiapkan perbekalan yang ia bungkus satu per satu seperti ibu-ibu lain di kampung itu menyiapkan anaknya yang akan merantau. Sedangkan Pak Dul, seperti biasa, pergi ke warung, ke sawah, ke pasar, seolah tidak ada yang berubah.

Suatu sore, Fadil menemukan koper lamanya di depan pintu kamarnya. Di dalamnya, pakaian, sarung, peci, kitab-kitab, dan sebuah tasbih kayu anyaman yang dulu ia lihat di tangan ibunya.

"Bu, tasbih ini punya siapa?"

Bu Zubaidah berhenti melipat kain. Wajahnya berubah sekilas. "Punyai kakekmu. Ibu simpan sejak ia meninggal. Sekarang ibu berikan kepadamu, biar mengajarimu bersabar."

Fadil mengambil tasbih itu. Butir-butirnya halus, hangat di tangannya, seperti menyimpan doa-doa lama. "Kakekku dulu hafal Quran, Bu?"

"Ibu tidak banyak tahu." Bu Zubaidah duduk di tepi ranjang. "Ayahmu tidak pernah mau bercerita. Tapi ibu pernah mendengar dari orang-orang, kakekmu adalah tuan guru di pesantren itu. Di Darul Hikmah."

Fadil menatap ibunya. "Kenapa Ayah tidak pernah mau bercerita?"

Bu Zubaidah terdiam lama. "Kadang, orang diam bukan karena tidak sayang, Dil. Tapi karena ada luka yang terlalu besar untuk dikata."

Malam itu, Fadil menunggu ayahnya di beranda, tepat di kursi yang biasa ditempati Pak Dul. Ketika ayahnya datang dengan langkah lelah, ia berdiri.

"Pak, saya mau minta maaf."

Pak Dul menghentikan langkahnya. "Minta maaf kenapa?"

"Kemarin, saya mungkin terlalu memaksa minta restu. Saya tidak bermaksud membuat Ayah tidak nyaman." Fadil menunduk. "Saya hanya takut. Takut pergi jauh tanpa ada yang mengantar doa."

Pak Dul menatapnya lama. Wajahnya yang keras itu, untuk sesaat, melembut. Lalu ia berdeham.

"Ayah tidak melarang kamu, Dil. Itu sudah cukup, kan?"

"Ayah tidak melarang. Tapi Ayah juga tidak merestui."

Pak Dul menghela napas panjang, lalu duduk di kursi, menunduk, tangannya memijat pelipisnya. "Restu itu bukan kalimat, Dil. Restu itu doa. Dan doa ayah tidak perlu kamu dengar untuk menjadi nyata."

"Kalau begitu, Ayah berdoa untuk saya?"

Keheningan. Pak Dul tidak menjawab. Ia hanya menatap kegelapan halaman, dan Fadil tahu, jawaban itu sedang disembunyikan. Malam itu ia tidur dengan pertanyaan menggantung, dan di dalam hatinya, ia bersumpah akan pergi meski tanpa kata-kata yang ia inginkan.

°˖✧✿✧˖°

H-1 keberangkatan, kabar itu datang seperti air bah. Bu Zubaidah demam tinggi sejak subuh, dan oleh-oleh yang biasanya cekatan itu kini terbaring lemas di ranjang. Fadil duduk di sisi ibunya sepanjang hari, menggantikan perannya memilah ikan, memasak, dan menyiapkan kebutuhannya sendiri.

Lihat selengkapnya