Fadil berangkat hanya membawa barang sederhana dan doa kedua orang tuanya.
Matahari belum menunjukkan wajahnya ketika Raka terbangun dari tidurnya yang gelisah. Kamar kosnya yang sempit terasa lebih sesak pagi ini, dinding-dinding tipis seolah mendesak dari segala arah. Ia menatap langit-langit yang penuh bercak kelembapan, mendengarkan suara tetesan air dari keran bocor di kamar mandi bersama. Suara itu teratur, seperti detak jam yang menghitung mundur menuju sesuatu yang tidak bisa dihindari.
Di atas meja lipat di sudut kamar, sebuah tas ransel usang tergeletak. Isinya sudah ia siapkan sejak malam—beberapa helai pakaian, dokumen penting dalam plastik bening, dan sebuah kotak kecil berisi obat-obatan yang dibeli Alya beberapa hari lalu. Raka menatap tas itu lama, lalu mengalihkan pandangannya ke ponsel yang bergetar di samping bantal.
Ada tiga pesan masuk dari Alya.
"Kamu sudah bangun?"
"Jangan lupa sarapan dulu sebelum ke terminal."
"Aku akan ke sana. Tunggu aku."
Raka tersenyum tipis, tapi senyum itu cepat memudar. Ia tahu Alya akan datang. Ia tahu gadis itu tidak akan membiarkannya pergi tanpa perpisahan yang layak. Tapi justru itu yang membuat hatinya berat. Perpisahan selalu lebih sulit ketika ada seseorang yang benar-benar peduli.
Ia bangkit dari kasur, mencuci muka di kamar mandi bersama yang baunya apek, lalu mengenakan kemeja lusuh berwarna biru tua—satu-satunya kemeja yang masih layak untuk perjalanan jauh. Di cermin retak yang tergantung miring di dinding, Raka menatap bayangan dirinya. Wajah yang kurus, mata yang sayu, dan rahang yang mulai terlihat lebih tegas karena berat badan yang turun beberapa kilogram dalam sebulan terakhir.
"Ini jalanmu," bisik Raka pada bayangannya sendiri. "Kamu yang pilih. Jangan menyesal."
Tapi kata-kata itu terasa hampa. Menyesal atau tidak, keputusan sudah diambil. Surat kontrak kerja di perkebunan Kalimantan sudah ia tanda tangani. Tiket bus sudah di tangan. Semua sudah berjalan sesuai rencana. Yang tersisa hanyalah melangkah.
Dari luar kamar, terdengar suara pemilik kos yang sedang menyapu halaman. Raka membuka pintu, menghirup udara pagi yang dingin, dan menatap langit yang masih gelap. Di kejauhan, lampu-lampu kota berkedip seperti kunang-kunang yang sekarat. Ia akan meninggalkan kota ini. Kota yang telah memberinya begitu banyak luka, tapi juga begitu banyak pelajaran.
°˖✧✿✧˖°
Alya tiba tepat saat Raka selesai mengikat tali sepatunya. Gadis itu muncul dengan jaket tebal dan rambut yang diikat asal-asalan, menandakan ia bangun terburu-buru. Di tangannya, sebuah kantong plastik berisi nasi uduk dan telur dadar.
"Kamu belum sarapan, kan?" tanya Alya sambil menyerahkan kantong itu.
"Belum sempat," jawab Raka.
"Makanya aku bilang, jangan lupa sarapan. Kamu ini kalau sudah kepikiran sesuatu, lupa makan, lupa minum, lupa tidur."
Raka menerima kantong itu. Aroma nasi uduk dan telur dadar menyeruak, mengingatkannya pada sarapan yang dulu selalu disiapkan ibunya. Ia duduk di tangga depan kamar kos, membuka bungkusan itu, dan mulai makan. Alya duduk di sampingnya, tidak bicara, hanya menatap jalanan yang mulai ramai oleh kendaraan pagi.
"Kamu sudah pamit ke ibumu?" tanya Alya akhirnya.
Raka berhenti mengunyah. Pertanyaan itu menghantamnya seperti batu yang dilempar ke kolam tenang.
"Sudah," jawab Raka pelan. "Semalam."
"Bagaimana reaksinya?"
Raka menatap nasi uduk di tangannya. Ia teringat semalam, ketika ia duduk di ruang tamu rumah ibunya yang sederhana, menyampaikan bahwa ia akan pergi ke Kalimantan. Ibunya tidak menangis. Tidak marah. Hanya diam, lalu berkata, "Kalau itu yang kamu mau, Ibu tidak melarang."
Tapi mata ibunya berkata lain. Mata itu berkata, "Jangan pergi." Mata itu berkata, "Ibu akan kesepian." Mata itu berkata, "Siapa yang akan Ibu tunggu pulang setiap malam?"
"Ibu diam saja," kata Raka. "Cuma bilang, hati-hati."
Alya mengangguk pelan. Ia tahu bagaimana rasanya. Ia tahu bagaimana ibunya Raka—seorang janda yang telah membesarkan anaknya sendirian setelah suaminya meninggal sepuluh tahun lalu—pasti merasa kehilangan. Tapi Alya juga tahu, Raka tidak punya pilihan. Di kota ini, tidak ada pekerjaan yang layak untuknya. Tidak ada masa depan yang menunggu.