
Fadil berangkat hanya membawa barang sederhana dan doa kedua orang tuanya.
°˖✧✿✧˖°
Matahari belum sepenuhnya terbit di ufuk timur kota Prabumulih, Sumatera Selatan. Di dalam rumah panggung kayu yang sederhana, suasana sepi terpancar dari perabotan lusuh yang tertata rapi. Fadil Ar Rimbai duduk bersila di tengah ruang tamu yang beralaskan tikar pandan. Di hadapannya terhampar sebuah tas ransel kain berwarna hitam pudar yang resletingnya sudah agak tersendat. Barang-barang bawaannya tidak banyak: dua stel pakaian koko putih yang sudah tipis, selembar sarung tenun, peci hitam, serta sebuah bundel Al-Qur’an bersampul kulit kecokelatan.
Fadil menatap barang-barang itu dengan pandangan yang sarat akan renungan. Setiap helai kain dan benda di dalam tas tersebut bukan sekadar perbekalan fisik, melainkan perwujudan dari peluh, doa, dan pengorbanan seluruh anggota keluarganya. Ayahnya, Abdul Jabbar, yang bertubuh kurus namun berotot keras akibat puluhan tahun bekerja sebagai buruh tani, melangkah pelan keluar dari kamar tidur. Langkah kakinya terdengar berat membentur lantai papan kayu.
"Fadil, apakah semua barangmu sudah masuk ke dalam tas, Nak?" tanya Pak Abdul Jabbar seraya mendudukkan diri di samping anak laki-lakinya.
Fadil menoleh, mengulas senyum tipis penuh hormat. "Sudah, Ayah. Semua barang sederhana yang saya miliki sudah masuk. Tidak ada lagi yang tertinggal."
Pak Abdul Jabbar mengusap janggutnya yang mulai memutih. Matanya menatap tajam namun hangat ke arah Fadil. "Perjalananmu ke Jawa Timur bukanlah perjalanan untuk bersenang-senang atau mencari kekayaan duniawi. Kamu pergi menyeberangi lautan menuju Pondok Pesantren Darul Hikmah untuk menimba ilmu agama dan menempah jiwa."
"Saya paham betul, Ayah," sahut Fadil pelan seraya menundukkan kepala. "Amanah Ayah akan selalu saya pegang erat di mana pun kaki ini berpijak."
"Dengarkan Ayah baik-baik, Fadil," tegas Pak Abdul Jabbar seraya memegang kedua bahu putra sulungnya. "Ayah tidak bisa memberimu perbekalan uang yang berlimpah atau pakaian yang mewah. Tapi Ayah membekalimu dengan pesan bahwa kehormatan seorang lelaki terletak pada keteguhan salatnya, kejujuran perilakunya, serta ketaatannya kepada guru. Di perantauan nanti, jangan pernah merasa lebih tinggi dari orang lain."
"Insya Allah, Ayah. Saya akan senantiasa mengingat dan menjalankan semua nasihat Ayah," janji Fadil dengan nada suara yang bergetar menahan haru.
Ibu Siti Zubaidah keluar dari dapur membawa sebuah bungkusan kain berisi beberapa potong kue lepet dan botol air minum. Wajah wanita paruh baya itu tampak sembap, tanda bahwa air matanya telah menetes di sudut-sudut malam saat memanjatkan doa untuk keselamatan anak tercintanya.
"Fadil, ini ada sedikit bekal makanan untuk di perjalanan bus dan kapal nanti," kata Bu Siti Zubaidah seraya menyerahkan bungkusan kain tersebut.
Fadil menerima bungkusan itu dengan kedua tangannya, lalu mencium jemari ibunya yang kasar oleh pekerjaan rumah tangga. "Terima kasih banyak, Ibu. Ibu tidak perlu cemas atau terlalu mengkhawatirkan keadaan Fadil di jalan."
"Bagaimana Ibu tidak cemas, Nak?" bisik Bu Siti Zubaidah dengan mata berkaca-kaca. "Ini kali pertama kamu merantau sangat jauh meninggalkan rumah panggung ini. Jawa Timur itu sangat jauh dari Prabumulih."
"Ibu harus merelakan dan mendoakannya dengan lapang dada," potong Pak Abdul Jabbar menenangkan istrinya. "Doa seorang ibu adalah benteng tak terlihat yang akan menjaga Fadil dari segala marabahaya di tanah rantau."
"Ibu selalu mendoakanmu di setiap sujud, Fadil," tutur Bu Siti Zubaidah seraya mengusap lembut kepala anak laki-lakinya. "Pegaglah teguh Al-Qur'an ini. Jika hatimu merasa gentar atau cemas, bukalah dan bacalah ayat-ayat Allah."
°˖✧✿✧˖°
Keheningan pagi di rumah panggung itu terusik oleh langkah kaki yang berlari menaiki tangga kayu. Alya, adik gadis Fadil yang masih berusia remaja, masuk ke ruang tamu dengan napas yang memburu. Matanya yang sembap menunjukkan bahwa ia telah menangis sejak terbangun dari tidurnya. Di tangannya, Alya menggenggam erat sebuah kantong kain kecil yang diikat dengan tali benang.
"Kak Fadil..." panggil Alya dengan suara terdesak seraya menahan isak tangisnya.
Fadil bangkit berdiri, menghampiri adik perempuannya dengan tatapan penuh kasih sayang. "Alya, ada apa? Kenapa kamu menangis pagi-pagi begini?"
Alya menyodorkan kantong kain kecil itu ke telapak tangan kakaknya. "Ini... ini ada sedikit tabungan Alya dari hasil membantu Ibu menjual kue di pasar. Tolong Kakak bawa untuk bekal tambahan."
Fadil tertegun, menatap kantong kain lusuh itu lalu mengembalikannya ke jemari Alya. "Tidak, Alya. Kamu simpan saja uang ini untuk kebutuhan sekolahmu. Kakak sudah membawa perbekalan yang cukup dari Ayah dan Ibu."
"Tapi Kak Fadil!" seru Alya menatap kakaknya dengan pandangan memohon. "Di tanah perantauan nanti Kakak akan hidup sendirian tanpa keluarga. Alya takut Kakak kelaparan atau kekurangan uang saat sampai di Pesantren Darul Hikmah."
"Alya, dengarkan Kakak," tutur Fadil seraya memegang kedua pipi adiknya. "Keberangkatan Kakak menuntut ilmu dibiayai oleh doa dan ketulusan keluarga kita. Kakak tidak membutuhkan uang yang banyak. Yang Kakak butuhkan adalah senyuman dan keikhlasanmu melepas Kakak pergi."
"Apakah Kakak benar-benar harus pergi jauh ke Jawa Timur?" tanya Alya lirih, air matanya menetes melewati pipi. "Rumah ini pasti terasa sangat sepi tanpa kehadiran Kakak."
"Kakak pergi untuk belajar, Alya," sahut Fadil lembut. "Kakak berjanji akan belajar dengan tekun di Darul Hikmah agar kelak bisa menjadi pelindung dan kebanggaan untukmu, Ayah, dan Ibu. Jaga Ayah dan Ibu baik-baik selama Kakak tidak ada di rumah, ya?"
Alya mengangguk pelan seraya memeluk erat tubuh kakak laki-lakinya. "Alya janji akan menjaga Ayah dan Ibu. Tapi Kakak juga harus berjanji untuk selalu memberi kabar lewat surat dan segera pulang jika masa belajar Kakak sudah selesai."
"Kakak janji, Alya," bisik Fadil merapatkan pelukannya.
Dari balik pintu depan yang terbuka, terdengar suara ketukan pelan dan sapaan salam yang sangat akrab di telinga keluarga tersebut. Raka, sahabat karib Fadil sejak kecil, berdiri di ambang pintu dengan mengenakan jaket lusuh dan membawa sebuah tas kecil.
"Assalamu'alaikum, Pak Jabbar, Bu Zubaidah," sapa Raka seraya membungkukkan badan penuh sopan santun.
"Wa'alaikumussalam, Raka. Masuklah, Nak," sahut Pak Abdul Jabbar tersenyum hangat.
Raka melangkah masuk, lalu menatap Fadil yang sedang merapikan tas ranselnya di atas meja kayu. "Fadil, apakah kamu sudah siap berangkat ke stasiun dan terminal?"
"Aku sudah siap, Raka," jawab Fadil. "Terima kasih sudah datang pagi-pagi sekali untuk mengantarku."
"Bagaimana mungkin aku tidak mengantarmu, Fadil?" kata Raka dengan nada tegas namun ramah. "Kamu adalah sahabat terbaikku. Hari ini aku akan mengawal perjalananmu sampai pintu bus berangkat."
°˖✧✿✧˖°
Matahari mulai merayap naik, memancarkan sinar hangat yang menembus celah-celah pepohonan di sepanjang jalan Prabumulih. Fadil melangkah keluar dari halaman rumah panggungnya dengan tas ransel menempel di punggung. Pak Abdul Jabbar, Bu Siti Zubaidah, Alya, dan Raka berjalan mengiringi langkahnya menuju tepi jalan raya tempat angkutan umum biasa melintas.
Raka berjalan bersisian dengan Fadil, membawa bungkusan makanan yang diberikan oleh Bu Siti Zubaidah.
"Fadil," panggil Raka memecah keheningan di antara langkah kaki mereka.
"Ya, Raka?" sahut Fadil menoleh ke arah sahabatnya.
"Aku masih terasa sulit mempercayai bahwa hari ini kamu benar-benar akan berangkat ke Jawa Timur," ujar Raka seraya menghela napas panjang. "Sejak kecil kita selalu menghabiskan waktu bersama di kampung ini. Bermain di sungai, mengaji di surau, hingga bekerja mencari kayu bakar."
Fadil tersenyum tipis, mengenang masa-masa kecil mereka yang penuh kenangan indah. "Perpisahan ini hanya sementara, Raka. Jarak antara Prabumulih dan Jawa Timur tidak akan mengikis tali persahabatan kita."
"Aku tahu itu, Fadil," kata Raka seraya menepuk bahu sahabatnya. "Tapi perantauan adalah dunia yang keras. Kamu akan bertemu dengan orang-orang dari berbagai suku dan watak di Pesantren Darul Hikmah. Jangan sampai kamu merasa minder atau berkecil hati karena berasal dari keluarga sederhana di kampung ini."
"Pesan Ayahku selalu kuingat, Raka," tegas Fadil. "Kemuliaan seseorang tidak diukur dari kekayaan atau asal-usulnya, melainkan dari ketakwaan dan keteguhan hatinya. Aku datang ke pondok pesantren untuk menimba ilmu, bukan untuk membandingkan nasib."
"Itulah sifatmu yang selalu aku kagumi sejak dulu," puji Raka. "Kamu selalu memiliki pandangan yang lurus dan tidak mudah tergoyahkan oleh hal-hal duniawi."
Pak Abdul Jabbar yang berjalan di belakang mereka menyela pembicaraan dengan suara beratnya yang mantap. "Raka benar, Fadil. Dunia luar akan menguji ketahanan iman dan mentalmu. Jangan pernah tergoda oleh pergaulan yang bisa merusak niat awalanmu."