Perjalanan Panjang
Perjalanan menuju Jawa Timur menjadi pengalaman pertama Fadil meninggalkan kampung halaman.
°˖✧✿✧˖°
Perjalanan menuju Jawa Timur menjadi pengalaman pertama Fadil meninggalkan kampung halaman. Udara subuh di tepian rimba Sumatera masih menyisakan kabut tebal yang basah, merayap dingin menembus jaket kanvas usang warisan almarhum ayahnya. Suara kokok ayam hutan bersahut-sahutan di kejauhan, mengiringi derit roda koper tua yang ditarik Fadil di atas jalan berbatu. Jantung pemuda berdarah Ar Rimbai itu berdegup tak beraturan, diapit rasa cemas dan gelora penasaran yang tak terbendung.
"Jangan pernah lepaskan liontin kayu cendana hitam itu dari lehermu, Fadil," bisik Mak Inah lembut seraya merapikan kerah baju putranya dengan jemari yang gemetar menahan haru. "Di tanah seberang lautan, angin berembus dengan bahasa yang berbeda. Orang-orang di sana menyimpan seribu topeng dalam senyuman manis mereka."
"Fadil paham, Mak. Tapi apakah Fadil benar-benar harus pergi sejauh itu? Tidakkah petunjuk tentang rahasia leluhur Ar Rimbai bisa dicari di hutan adat kita sendiri tanpa harus menyeberang pulau?" tanya Fadil seraya menatap mata ibunya yang berkaca-kaca di remang lampu pelita teplok.
"Pohon besar tak akan pernah menguji kekokohan akarnya jika hanya berlindung di bawah naungan bukit kelahirannya, Anakku. Kitab silsilah yang terbakar sepuluh tahun silam menyisakan selembar alamat di lereng Gunung Wilis. Kiai Hasan di sana adalah satu-satunya sahabat ayahmu yang memegang sumpah janji masa lalu."
Mak Inah menyelipkan sebungkus bekal nasi gurih bertabur serundeng kelapa, sambal teri balado, dan beberapa lembar uang kertas lusuh hasil tabungan getah karet ke dalam saku ransel Fadil. Aroma rempah kampung halaman menguar pekat dan hangat, seolah menjadi penawar terakhir sebelum Fadil menelan debu jalanan beribu kilometer.
"Bus Antar Kota Antar Provinsi sudah membunyikan klakson panjang di simpang tiga, Dil! Cepat naik ke atas boncengan sebelum kernetnya meninggalkan barang-barangmu di pinggir jalan!" seru Paman Ramli dari atas motor bebek tuanya yang sarat muatan.
"Fadil pamit, Mak. Ridai setiap tarikan napas dan langkah kaki Fadil ke tanah Jawa. Doakan agar Fadil pulang membawa terang bagi nama keluarga kita," ucap Fadil seraya membungkuk takzim mencium punggung tangan ibunya yang kasar oleh tempaan hidup.
"Pergilah dengan nama Allah dan kehormatan Ar Rimbai. Jangan cari musuh di tanah orang, tapi jangan pernah lari selangkah pun saat harga diri dan kebenaran diinjak," pesan Mak Inah dengan suara tercekat menahan tangis.
Langkah kaki Fadil membawanya menjauh dari gerbang bambu desa. Gemuruh mesin bus berbadan baja kusam menyambutnya di bibir jalan lintas Sumatra. Bau asap solar pekat, deru klakson bernada ganda, dan teriakan para calo tiket menciptakan riuh yang begitu asing di telinga seorang anak rimba yang terbiasa dengan desau dedaunan pinus.
"Nomor kursi tiga puluh empat di baris belakang dekat kaca jendela! Jangan letakkan tas besar di lorong kalau tidak mau disepak penumpang lain!" sentak kernet bertubuh gempal dengan sebatang rokok kretek terselip di daun telinganya.
"Terima kasih banyak, Bang. Saya taruh ransel di bawah pangkuan saja biar tidak memakan ruang penumpang lain di sebelah saya," jawab Fadil tenang dan sopan seraya menyusup ke kursinya.
"Bagus kalau sadar diri. Perjalanan kita ini jauh menembus tiga provinsi sebelum sampai pelabuhan feri Bakauheni, jadi nikmati saja goncangannya!"
Saat bus mulai bergetar hebat dan bergerak perlahan melindas aspal basah yang berkilat, Fadil menempelkan dahinya ke kaca jendela yang dingin berembun. Bayangan pepohonan kelapa sawit, bukit barisan yang membiru, dan atap seng rumah panggung ibunya berangsur-angsur menyusut hingga akhirnya hilang ditelan kelabu pagi. Detik itu juga, Fadil menyadari bahwa jembatan kepulangannya telah runtuh; ia kini adalah musafir mandiri yang mempertaruhkan segenap takdir di hamparan pulau seberang.
°˖✧✿✧˖°
Kapal feri penyeberangan membelah gulita ombak Selat Sunda dengan deburan busa putih yang menyala di bawah sorot lampu suar anjungan. Angin laut beraroma garam dan karat menghantam wajah Fadil yang berdiri termangu di pagar besi geladak kelas ekonomi. Di hadapannya, daratan Pulau Jawa mulai membayang bagai siluet raksasa hitam yang sedang berbaring lelap menanti kedatangannya.
"Angin selatan malam ini membawa bau getah damar dari pedalaman Bukit Barisan," tegur seorang kakek berbaju batik lurik kusam yang tiba-tiba menyandarkan siku di sebelah Fadil sambil mengepulkan asap tembakau wangi kemenyan.
"Mata dan hidung Bapak begitu awas mencium aroma hutan di tengah hamparan air laut asin seluas ini," balas Fadil waspada, secara refleks menyembunyikan rajah daun paku di pergelangan tangannya ke balik lengan jaket.
"Bukan hanya hidungku yang awas, Cah Bagus. Rajah tiga sulur di urat nadimu itu adalah cap pusaka keluarga pemburu kabut Ar Rimbai. Mengapa darah penguasa rimba sepertimu nekat menyeberang ke tanah Jawa yang sedang memendam bara intrik perebutan kekuasaan?"
Darah Fadil seketika berdesir dingin membeku. Ia menatap lekat paras lelaki tua itu; guratan pipinya bagai kulit kayu jati tua dengan sorot mata yang menyala tajam di balik kelopak mata yang mengendur. Fadil tahu persis, identitas aslinya tidak boleh bocor ke sembarang orang sebelum ia berhasil menginjakkan kaki di Padepokan Lereng Wilis.
"Saya hanya perantau muda yang hendak mencari rezeki halal di kota orang, Pak. Tidak ada sangkut pautnya dengan cerita dongeng rimba masa lalu yang Bapak sebutkan tadi," kilah Fadil seraya menggeser posisinya menjaga jarak aman.
"Jangan berdusta pada angin malam, Fadil. Mata-mata Paguyuban Keris Hitam sudah menyusup di sepanjang jalur Pantura. Mereka tahu pewaris Ar Rimbai sedang menyeberang membawa pecahan kunci prasasti leluhur. Jika kau lengah di terminal nanti, lehermu tak akan sempat melihat fajar Jawa Timur!"
Sebelum Fadil sempat menuntut penjelasan lebih jauh, dengung sirene kapal meraung keras menandakan lambung feri bersiap merapat ke dermaga Pelabuhan Merak. Deru puluhan truk tronton mulai dinyalakan serentak di dek bawah, dan saat Fadil menoleh kembali ke sampingnya, sosok lelaki tua berbatik lurik itu telah lenyap tanpa meninggalkan jejak langkah sedikit pun.
°˖✧✿✧˖°