6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #20

Gerbang Pesantren

Gerbang Pesantren

Fadil tiba di pesantren dan bertemu lingkungan baru.

°˖✧✿✧˖°

Bus yang ditumpangi Fadil berhenti dengan sentakan kasar. Debu jalanan mengepul masuk melalui jendela yang setengah terbuka, membuat beberapa penumpang batuk-batuk. Fadil mengusap wajahnya dengan lengan baju, lalu bangkit dari kursi yang sudah ia tempati selama hampir empat jam. Kakinya terasa kaku, dan tas ransel di punggungnya terasa semakin berat.

"Turun di mana, Nak?" tanya kondektur bus, seorang pria setengah baya dengan kumis tebal.

"Pondok Al-Quthuz," jawab Fadil.

"Oh, pesantrennya Kiai Zulfakar? Turun di pertigaan depan. Jalan kaki sekitar lima ratus meter dari situ. Ada gapura besar, tidak akan salah."

Fadil mengangguk, lalu turun dari bus. Udara panas menyengat kulitnya. Ia berdiri di tepi jalan aspal yang retak-retak, memandang ke arah yang ditunjuk kondektur. Jalan tanah yang berdebu membentang di antara sawah-sawah yang menguning. Di kejauhan, ia bisa melihat sebuah gapura besar berwarna hijau dengan tulisan Arab yang ia tidak bisa baca dari jarak itu.

Ia menghela napas panjang. Ini pertama kalinya ia keluar dari desanya. Pertama kalinya ia meninggalkan rumah yang sekarang kosong. Pertama kalinya ia benar-benar sendiri.

Fadil mulai berjalan. Sepatu lusuh pemberian Pak Dukuh itu sudah mulai menganga di bagian depan. Setiap langkah terasa seperti menapaki tanah yang asing. Sawah-sawah di kiri-kanan jalan mulai menguning, pertanda musim panen sudah dekat. Beberapa petani tampak membungkuk di lumpur, mencabut rumput atau memeriksa padi. Mereka tidak memperhatikan Fadil. Mereka sibuk dengan dunia mereka sendiri.

Setelah berjalan sekitar sepuluh menit, Fadil tiba di gapura itu. Tulisan Arab di atasnya terbaca jelas sekarang: Pondok Pesantren Al-Quthuz. Di bawahnya, ada tulisan kecil: Didirikan 1952 oleh KH. Zulfakar Al-Quthuz. Gapura itu terbuat dari batu bata yang dilapisi semen, dicat hijau dengan ornamen emas yang mulai pudar. Di sisi kanan dan kiri gapura, ada pos jaga kecil yang kosong.

Fadil berdiri di depan gapura. Ia merasa seperti berdiri di ambang pintu yang menuju dunia yang sama sekali berbeda. Dunia yang tidak ia kenal. Dunia yang ia takuti, tapi juga ia rindukan.

"Assalamualaikum," ucapnya lirih, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada siapa pun.

Ia melangkah masuk.

°˖✧✿✧˖°

Begitu melewati gapura, Fadil disambut oleh pemandangan yang membuatnya tertegun. Halaman pesantren sangat luas, jauh lebih luas dari yang ia bayangkan. Di tengah, berdiri sebuah masjid besar berkubah hijau dengan menara setinggi tiga lantai. Di sekeliling masjid, terdapat beberapa bangunan asrama berlantai dua, dengan lorong-lorong yang menghubungkan satu bangunan ke bangunan lain. Pohon-pohon besar tumbuh di sepanjang jalan setapak, memberikan keteduhan bagi siapa pun yang lewat.

Yang paling membuat Fadil terkejut adalah jumlah orang. Santri-santri lalu-lalang dengan kitab di tangan, ada yang berjalan cepat, ada yang duduk di serambi masjid sambil mengaji, ada yang mencuci piring di sumur dekat dapur. Suara hafalan Al-Qur'an bersahutan dari berbagai penjuru, bercampur dengan suara tawa dan obrolan ringan. Tempat ini hidup. Sangat hidup.

Fadil berdiri kaku di tengah jalan setapak, tidak tahu harus ke mana. Tasnya masih di punggung, tangannya masih menggenggam erat tali tas. Ia merasa seperti ikan kecil yang tiba-tiba dilepaskan ke laut luas.

"Mas, mau ke mana?"

Fadil menoleh. Seorang santri bertubuh kurus dengan peci hitam miring menghampirinya. Usianya mungkin sebaya dengan Fadil, tapi wajahnya tampak lebih tua karena kelelahan.

"Saya... saya santri baru," jawab Fadil. "Saya ingin bertemu dengan Kiai Zulfakar."

Santri itu mengangguk. "Bawa surat?"

"Iya. Dari Pak Dukuh Sumberrejo."

"Oh, dari Sumberrejo. Jauh juga. Ikut saya, saya antar ke kantor administrasi dulu. Nanti dari sana diarahkan."

Fadil mengikuti santri itu melewati lorong-lorong pesantren. Setiap langkah terasa berat. Ia bisa merasakan tatapan santri-santri lain yang memperhatikannya sekilas, lalu kembali pada aktivitas mereka. Fadil merasa dievaluasi tanpa suara. Ia menunduk, berusaha tidak menatap balik.

"Namanya siapa?" tanya santri itu.

"Fadil."

"Saya Syakir. Santri sini sudah tiga tahun. Kamu dari mana?"

"Sumberrejo. Desa kecil di sebelah barat."

"Sendiri?"

Fadil terdiam sejenak. "Iya. Sendiri."

Syakir tidak bertanya lagi. Ia mungkin merasakan ada sesuatu dalam suara Fadil yang tidak ingin ia lanjutkan. Mereka berjalan dalam diam sampai tiba di sebuah bangunan kecil di sisi utara masjid. Di depannya, ada papan bertuliskan Kantor Administrasi.

"Masuk saja. Ada Ustadz Hasan di dalam. Beliau yang mengurus pendaftaran santri baru," kata Syakir. "Saya lanjut dulu. Semoga betah, Fadil."

"Terima kasih, Syakir."

Syakir pergi. Fadil berdiri di depan pintu kantor administrasi. Ia menghela napas, lalu mengetuk pintu.

°˖✧✿✧˖°

"Masuk," suara dari dalam.

Fadil membuka pintu. Ruangan itu kecil, dipenuhi lemari arsip dan tumpukan kertas. Di belakang meja, duduk seorang pria paruh baya berkacamata tebal. Ustadz Hasan. Wajahnya ramah, dengan kerutan-kerutan di sudut mata yang menandakan ia sering tersenyum.

"Assalamualaikum," kata Fadil.

"Waalaikumsalam. Silakan duduk. Ada perlu apa, Nak?"

Fadil duduk di kursi yang ditunjuk. Ia mengeluarkan surat dari Pak Dukuh dari kantong bajunya. Surat itu sudah lusuh, terlipat-lipat, dengan beberapa noda air di sudutnya. Ia menyerahkannya dengan tangan gemetar.

Ustadz Hasan menerima surat itu, membukanya, lalu membacanya dalam diam. Fadil memperhatikan wajahnya. Tidak ada ekspresi yang bisa ia baca. Setelah selesai membaca, Ustadz Hasan meletakkan surat itu di meja dan menatap Fadil.

"Fadil bin Abdul Jabbar," katanya pelan. "Anak Pak Jabbar."

Fadil terkejut. "Ustadz... mengenal ayah saya?"

"Kenal," jawab Ustadz Hasan. "Beliau pernah mondok di sini. Sebentar. Sebelum menikah dengan ibumu. Lalu pulang ke desa, jadi petani. Tapi hatinya masih di sini."

Fadil menelan ludah. Ia tidak pernah tahu itu. Ayahnya meninggal saat Fadil masih berusia lima tahun. Ia hanya mengingat samar-samar sosok lelaki berbadan kurus dengan senyum hangat yang sering menggendongnya di sawah.

"Ibumu... Siti Aminah, ya?" lanjut Ustadz Hasan.

"Iya, Ustadz."

"Beliau juga orang sabar. Saya dengar beliau sakit cukup lama."

Fadil mengangguk. Matanya mulai panas. "Tiga bulan lalu, Ustadz. Setelah pemakaman, saya tidak tahu harus ke mana. Pak Dukuh menyarankan saya ke sini."

Ustadz Hasan mengangguk-angguk. "Pak Dukuh orang bijak. Beliau tahu apa yang kamu butuhkan."

Ia membuka laci meja, mengeluarkan sebuah buku besar bersampul kulit. Buku itu tampak tua, dengan halaman-halaman yang mulai menguning. "Ini adalah buku induk pesantren. Semua santri yang masuk, namanya dicatat di sini. Termasuk ayahmu."

Ia membuka halaman-halaman awal. Jari tuanya menelusuri baris demi baris. Lalu berhenti. "Ini. Abdul Jabbar bin Abdul

Qohhar. Masuk tahun 1972. Keluar tahun 1975. Catatan: santri rajin, tetapi harus pulang karena orang tua sakit."

Lihat selengkapnya