6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #21

Kiai Haji Zulfakar Al-Quthuz

Kiai Haji Zulfakar Al-Quthuz

Pertemuan pertama Fadil dengan pengasuh pondok.

°˖✧✿✧˖°

Matahari sore itu menggantung rendah di ufuk barat, memantulkan cahaya keemasan di atas kubah-kubah hijau Pondok Pesantren Al-Quthuz. Fadil menghentikan langkahnya tepat di depan gerbang utama yang terbuat dari kayu jati berukir kaligrafi. Sepatu lusuhnya berdebu setelah perjalanan panjang dari terminal bus. Tas ransel di punggungnya terasa berat, bukan karena isinya yang hanya beberapa helai pakaian dan kitab-kitab tipis, melainkan karena beban harapan yang ia bawa.

"Assalamualaikum," ucapnya lirih, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada siapa pun.

Gerbang itu terbuka sedikit, dan seorang santri bertubuh kurus dengan peci hitam miring menyambutnya. "Waalaikumsalam. Ada perlu apa, Mas?"

"Saya... saya ingin bertemu dengan Kiai Haji Zulfakar Al-Quthuz," jawab Fadil, suaranya sedikit bergetar. "Saya membawa surat dari Pak Dukuh Sumberrejo."

Santri itu mengangguk pelan. "Tunggu di sini. Saya sampaikan dulu."

Fadil duduk di bangku panjang dari bambu di sisi gerbang. Matanya menyapu sekitar. Beberapa santri lalu-lalang membawa kitab kuning, ada yang duduk melingkar di serambi masjid, terdengar suara hafalan Al-Qur'an bersahutan. Ada juga yang mencuci piring di sumur dekat dapur. Semuanya tampak sibuk dengan urusannya masing-masing. Fadil merasa seperti orang asing yang tiba-tiba mendarat di planet lain.

Ia menunduk, menatap telapak tangannya yang berkeringat. Surat lusuh dari Pak Dukuh masih ia genggam erat. Surat itu ditulis dengan tangan gemetar oleh seorang tetua desa yang mengenal ayahnya semasa hidup. Isinya sederhana: permintaan agar Kiai Zulfakar berkenan menerima Fadil sebagai santri, anak yatim yang ibunya baru saja meninggal tiga bulan lalu.

"Mas Fadil?"

Fadil mengangkat kepala. Santri tadi telah kembali, kali ini ditemani seorang pria paruh baya berpakaian serba putih, berkacamata tebal, dan membawa buku catatan di tangan kanannya.

"Silakan ikut saya. Kiai sedang di ndalem."

Fadil berjalan mengikuti pria itu melewati lorong-lorong pesantren. Setiap langkah terasa berat. Ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Di sepanjang jalan, santri-santri menatapnya sekilas, lalu kembali pada aktivitas mereka. Fadil merasa dievaluasi tanpa suara.

Ndalem Kiai Zulfakar adalah sebuah rumah joglo tua namun terawat. Cat putihnya masih bersih, meski beberapa bagian kayunya mulai dimakan usia. Di depan rumah, ada pohon sawo besar yang rindang. Di bawahnya, beberapa kursi rotan ditata melingkar.

"Silakan duduk. Saya panggil Kiai dulu."

Fadil duduk di kursi rotan paling pinggir. Ia meletakkan tasnya di lantai, lalu menyandarkan punggung. Angin sore berhembus lembut, membawa aroma tanah basah dan bunga melati. Dari dalam rumah, terdengar suara orang berdehem. Fadil menegakkan punggung.

Beberapa saat kemudian, pintu utama ndalem terbuka. Seorang lelaki tua berjalan perlahan keluar. Usianya mungkin lebih dari tujuh puluh tahun. Tubuhnya kurus namun tegap. Janggutnya putih panjang, rapi. Matanya kecil namun tajam, seperti bisa menembus apa pun yang ia lihat. Ia memakai kopyah putih dan sarung bermotif garis-garis tipis. Di tangannya, sebatang tongkat kayu berukir kepala burung.

Kiai Haji Zulfakar Al-Quthuz.

Fadil buru-buru berdiri, lalu menunduk dalam-dalam. "Assalamualaikum, Kiai."

"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Kiai Zulfakar. Suaranya berat namun menenangkan, seperti suara air sungai yang mengalir di batu-batu besar. "Duduklah, Nak."

Fadil duduk kembali. Tangannya gemetar saat menyerahkan surat dari Pak Dukuh. Kiai Zulfakar menerimanya, membuka lipatan kertas itu dengan hati-hati, lalu membacanya dalam diam. Fadil memperhatikan wajah tua itu. Tidak ada ekspresi yang bisa ia baca. Hanya kerutan-kerutan di dahi yang semakin dalam.

Setelah selesai membaca, Kiai Zulfakar melipat kembali surat itu dan memasukkannya ke kantong baju. Ia menatap Fadil lekat-lekat.

"Fadil bin Abdul Karim," ucapnya pelan. "Anak Pak Karim. Saya masih ingat beliau. Orang baik. Sering mengantar beras ke pesantren ini dulu, sebelum kamu lahir."

Fadil terkejut. "Kiai... mengenal ayah saya?"

"Kenal," jawab Kiai Zulfakar. "Beliau pernah mondok di sini sebentar. Sebelum menikah dengan ibumu. Lalu pulang ke desa, jadi petani. Tapi hatinya masih di sini. Setiap panen, beliau selalu menyisihkan sebagian untuk pesantren."

Fadil menelan ludah. Ia tidak pernah tahu itu. Ayahnya meninggal saat Fadil masih berusia lima tahun. Ia hanya mengingat samar-samar sosok lelaki berbadan kurus dengan senyum hangat yang sering menggendongnya di sawah.

"Ibumu... Siti Aminah, ya?" lanjut Kiai Zulfakar.

"Iya, Kiai."

"Beliau juga orang sabar. Saya dengar beliau sakit cukup lama."

Fadil mengangguk. Matanya mulai panas. "Tiga bulan lalu, Kiai. Setelah pemakaman, saya tidak tahu harus ke mana. Pak Dukuh menyarankan saya ke sini."

Kiai Zulfakar mengangguk-angguk. "Pak Dukuh orang bijak. Beliau tahu apa yang kamu butuhkan."

°˖✧✿✧˖°

Kiai Zulfakar bangkit dari kursinya. "Ikut saya."

Fadil mengikuti Kiai Zulfakar masuk ke dalam ndalem. Ruangan itu sederhana. Ada meja kayu besar dengan tumpukan kitab-kitab tebal. Di dinding, tergantung kaligrafi Arab dan beberapa foto lama. Ada juga rak buku yang penuh dengan manuskrip kuning. Aroma kertas tua dan tembakau memenuhi ruangan.

Kiai Zulfakar duduk di belakang meja. Ia menunjuk kursi di seberangnya. "Duduk."

Fadil duduk. Kiai Zulfakar membuka laci meja, mengeluarkan sebuah buku besar bersampul kulit. Buku itu tampak tua, dengan halaman-halaman yang mulai menguning.

"Ini adalah buku induk pesantren," kata Kiai Zulfakar. "Semua santri yang masuk, namanya dicatat di sini. Termasuk ayahmu."

Ia membuka halaman-halaman awal. Jari tuanya menelusuri baris demi baris. Lalu berhenti. "Ini. Abdul Karim bin Suryo. Masuk tahun 1972. Keluar tahun 1975. Catatan: santri rajin, tetapi harus pulang karena orang tua sakit."

Fadil membaca tulisan itu. Nama ayahnya, ditulis dengan tinta hitam yang sudah mulai pudar. Ia merasa dadanya sesak. Ada sesuatu yang bergerak di dalam dirinya, seperti pintu tua yang berderit dibuka.

"Sekarang," lanjut Kiai Zulfakar, menutup buku itu. "Kamu. Fadil bin Abdul Karim. Apakah kamu benar-benar ingin mondok di sini? Atau hanya karena tidak ada tempat lain?"

Pertanyaan itu menusuk. Fadil terdiam. Ia menunduk, memikirkan jawabannya. Beberapa detik berlalu. Lalu ia mengangkat kepala, menatap Kiai Zulfakar dengan mata yang mulai basah.

"Saya ingin di sini, Kiai. Saya tidak tahu apakah ini tempat yang tepat. Tapi saya ingin belajar. Saya ingin... menjadi seperti ayah."

Kiai Zulfakar menatapnya lama. Matanya yang tajam seperti sedang menimbang-nimbang. Lalu, perlahan, ia tersenyum. Senyum tipis yang jarang muncul, namun mengubah seluruh wajahnya.

"Bagus," katanya. "Karena di sini, kamu akan belajar banyak hal. Tidak hanya kitab. Tapi juga hidup."

Ia kembali membuka buku induk, mengambil pena bulu, dan menulis dengan tangan yang masih stabil. "Fadil bin Abdul Karim. Masuk tahun ini. Santri baru. Catatan: anak yatim, direkomendasikan oleh Dukuh Sumberrejo."

Lalu ia menutup buku itu dan meletakkannya kembali di laci. "Kamar kamu sudah disiapkan. Kamar nomor tujuh, di asrama sebelah timur. Kamu akan berbagi dengan dua santri lain. Besok pagi, kamu mulai mengaji."

Fadil berdiri, menunduk. "Terima kasih, Kiai."

"Jangan berterima kasih dulu," kata Kiai Zulfakar, mengangkat tangan. "Kamu belum tahu apa yang akan kamu hadapi di sini. Banyak santri yang datang dengan semangat, tapi pulang dengan setengah jalan. Saya harap kamu bukan salah satunya."

Lihat selengkapnya