6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #22

Santri Baru

Santri Baru

Fadil harus beradaptasi dengan kehidupan pesantren.

°˖✧✿✧˖°

Fadil tiba di Pesantren Darul Hikmah ketika matahari belum sepenuhnya muncul. Bus yang membawanya dari kota berhenti di depan gerbang besar berwarna hijau tua. Catnya mengelupas di beberapa bagian, tetapi tulisan Arab di atasnya masih jelas terbaca. Di balik gerbang, bangunan pesantren berdiri memanjang, terdiri atas masjid, asrama, ruang kelas, dapur umum, dan beberapa rumah sederhana untuk para ustaz.

Fadil turun sambil membawa koper tua, tas kecil, dan kitab peninggalan kakeknya. Kakinya terasa kaku setelah duduk berjam-jam. Ia berdiri di tepi jalan, memandangi tempat yang selama ini hanya ia kenal melalui cerita ayahnya.

"Ini Darul Hikmah?" tanya seorang pemuda di dekatnya.

Fadil menoleh. Pemuda itu membawa dua tas besar dan memakai peci hitam yang agak miring.

"Iya. Sepertinya begitu."

"Kamu santri baru juga?"

"Namaku Fadil."

"Aku Salim." Pemuda itu mengulurkan tangan. "Kalau kamu belum tahu harus ke mana, ikut saja. Aku sudah dua tahun di sini."

Fadil menjabat tangannya. "Kamu yang bertemu denganku di terminal waktu itu?"

Salim tertawa. "Akhirnya ingat juga. Aku kira kamu lupa karena terlalu sibuk memeluk kitab."

Fadil tersenyum kecil. Ia melihat sekeliling. Beberapa santri berjalan cepat membawa ember, sapu, dan pakaian yang baru dicuci. Ada yang menghafalkan sesuatu sambil menundukkan kepala. Ada pula yang duduk di teras masjid, membaca kitab dengan suara lirih.

"Di sini semua orang bangun sepagi ini?" tanya Fadil.

"Belum. Ini malah sudah agak terlambat."

"Agak terlambat?"

"Subuh berjemaah dimulai pukul empat lewat sedikit. Setelah itu mengaji sampai matahari terbit. Kamu datang pukul lima lewat, berarti sudah melewatkan bagian pertama."

Fadil menelan ludah. "Aku baru sampai."

"Pengurus tidak akan menerima alasan itu."

"Pengurus siapa?"

Salim menunjuk seorang santri tinggi yang berdiri di dekat gerbang. Ia mengenakan kemeja putih, sarung gelap, dan membawa papan tulis kecil. Wajahnya tegas, hampir tanpa senyum.

"Itu Zaki, ketua keamanan asrama. Kalau ada santri tidur saat pengajian, dia yang pertama mengetuk pintu."

Seolah mendengar namanya, Zaki berjalan mendekat.

"Santri baru?" tanyanya.

"Namanya Fadil, Kak," jawab Salim.

Zaki menatap Fadil dari kepala sampai kaki. "Kamar?"

"Saya belum tahu."

"Surat penerimaan?"

Fadil segera menyerahkan surat dari pesantren. Zaki membacanya sekilas, lalu mengembalikannya.

"Blok B, kamar tujuh. Bawa barangmu ke sana. Setelah itu ke kantor pengasuhan untuk melapor."

"Baik, Kak."

"Jangan panggil saya kakak. Panggil Ustaz Zaki."

Fadil mengangguk. "Baik, Ustaz Zaki."

Zaki berbalik, tetapi langkahnya berhenti. "Dan satu lagi. Di sini tidak ada 'saya' dan 'kamu' di antara santri. Biasakan memanggil diri dengan 'ana' dan orang lain dengan 'antum' atau nama. Kalau ingin belajar agama, mulai dari cara bicara."

"Baik."

Setelah Zaki pergi, Salim menyentuh siku Fadil. "Jangan terlalu dipikirkan. Hari pertama memang begitu."

"Kamu dulu juga dimarahi?"

"Lebih parah. Aku pernah disuruh mencuci seluruh kamar mandi karena membawa sandal ke dalam masjid."

"Berapa lama kamu mencucinya?"

"Seharian."

"Seharian?"

"Jangan khawatir. Kalau kamu melakukan kesalahan, hukumannya mungkin lebih ringan."

"Bagaimana kamu bisa tahu?"

"Karena aku sudah melakukan hampir semua kesalahan yang mungkin dilakukan santri baru."

Fadil tertawa pelan, tetapi kegelisahannya belum hilang. Ia mengangkat koper dan mengikuti Salim menuju asrama. Di belakangnya, gerbang pesantren perlahan ditutup.

Untuk pertama kalinya, Fadil berada jauh dari rumah tanpa ayah dan ibunya. Ia memasukkan tangan ke saku baju, menyentuh tasbih peninggalan kakeknya, lalu mengingat pesan Pak Dul.

Jangan pernah kehilangan Allah di tanah perantauan.

Fadil mengulang kalimat itu dalam hati. Namun, saat ia melihat lorong asrama yang penuh santri asing, ia sadar bahwa menjaga kalimat itu tidak akan semudah mengingatnya.

°˖✧✿✧˖°

Kamar tujuh berada di ujung lorong. Ukurannya tidak luas, hanya cukup untuk delapan ranjang kayu bertingkat. Dindingnya dipenuhi rak kecil untuk menyimpan kitab. Di dekat jendela, pakaian-pakaian bergantung pada tali yang diikat dari satu tiang ke tiang lain.

Salim membantu Fadil meletakkan koper di ranjang paling atas.

"Ini tempatmu. Ranjang bawah sudah ditempati Hamzah."

Seorang santri berbadan kurus mengangkat wajah dari kitabnya. "Namamu Fadil?"

"Iya."

"Jangan terlalu banyak bergerak saat malam. Ranjang atas gampang berderit."

"Baik."

Dari ranjang pojok, seorang santri lain menutup kitabnya. "Dia bukan dari daerah sini, ya?"

"Dia dari kampung dekat sungai," jawab Salim.

"Kelihatannya sudah tua."

Fadil menoleh. Santri itu tersenyum mengejek.

"Umurmu berapa?" tanyanya.

"Delapan belas."

"Delapan belas baru masuk pesantren? Aku masuk umur tiga belas."

"Bagus."

"Bagus bagaimana?"

"Berarti kamu lebih lama belajar."

Santri itu terdiam. Salim tertawa kecil.

"Namanya Zain," bisik Salim. "Jangan terlalu dihiraukan."

"Aku dengar," kata Zain. "Tapi memang benar, dia kelihatan seperti orang yang sudah bekerja bertahun-tahun."

Fadil tidak menjawab. Ia membuka koper dan mulai menyusun pakaian. Dari dalamnya, ia mengambil sarung, beberapa buku, dan kitab tua yang diberikan ayahnya. Ketika ia meletakkan kitab itu di rak, Zain kembali memperhatikan.

"Kitab apa itu?"

"Kitab lama."

"Kitab lama tidak berarti kamu bisa membacanya."

"Aku memang belum bisa."

Jawaban itu membuat Zain terdiam lagi. Fadil menyadari, ia tidak ingin memulai kehidupan baru dengan berkelahi. Di rumah, ayahnya selalu mengajarkan bahwa orang yang kuat bukan orang yang paling keras berbicara, melainkan orang yang mampu menahan diri.

Belum sempat ia menyelesaikan susunan barang, lonceng kecil di halaman berbunyi. Semua santri segera berdiri.

"Itu tanda apel pagi," kata Salim. "Bawa sapu."

"Untuk apa?"

"Setiap kamar punya tugas kebersihan."

"Baru sampai sudah bekerja?"

"Di sini, datang berarti langsung menjadi bagian dari pekerjaan."

Mereka berkumpul di halaman. Ustaz Hamdan, pengasuh asrama, berdiri di depan barisan. Usianya sekitar empat puluh tahun, berkacamata, dengan janggut pendek yang terawat.

"Santri baru, maju satu per satu. Sebutkan nama, asal, dan tujuan kalian datang ke Darul Hikmah."

Satu per satu santri memperkenalkan diri. Ketika tiba giliran Fadil, ia maju dengan dada berdebar.

"Nama saya Fadil. Saya dari Kampung Sungai Kecil. Saya datang untuk memperdalam ilmu agama."

"Kenapa ingin memperdalam agama?" tanya Ustaz Hamdan.

Fadil terdiam sejenak. Ia ingin memberikan jawaban yang baik, tetapi tiba-tiba semua kata terasa salah.

"Karena saya ingin menjadi orang yang lebih baik."

Ustaz Hamdan menatapnya. "Itu jawaban umum. Apa yang membuatmu merasa belum baik?"

Fadil menunduk. "Saya pernah menyusahkan orang tua. Saya ingin belajar supaya tidak mengulangi kesalahan."

"Baik. Ingat, ilmu agama bukan tempat untuk melarikan diri dari masa lalu. Ilmu agama adalah jalan untuk memperbaiki diri. Kalau kamu hanya ingin melupakan kesalahan, kamu akan mudah pulang. Kalau kamu ingin memperbaiki diri, kamu harus bersedia menghadapi kesalahan itu setiap hari."

"Baik, Ustaz."

"Silakan kembali."

Setelah apel, Fadil diberi jadwal yang membuat kepalanya pening. Pengajian pagi, kelas nahwu, hafalan, piket dapur, salat berjemaah, pengajian malam, dan setoran hafalan sebelum tidur. Semua kegiatan memiliki waktu yang ketat.

"Kalau terlambat satu menit bagaimana?" Fadil bertanya.

"Kalau kamu terlambat satu menit, kamu tetap terlambat," jawab Salim.

"Kalau terlambat lima menit?"

"Lebih terlambat."

"Kalau terlambat setengah jam?"

"Berarti kamu mencari masalah."

Hari pertama belum selesai, tetapi tubuh Fadil sudah terasa remuk. Ia harus membersihkan halaman, mengangkat air, membantu dapur, dan mengikuti kelas sore. Ketika malam tiba, ia duduk di tepi ranjang, memandangi telapak tangannya yang memerah.

Salim duduk di sebelahnya. "Kangen rumah?"

"Sedikit."

"Sedikit itu artinya banyak."

Fadil tersenyum lemah. "Aku kangen ibu. Biasanya sebelum tidur, ibu selalu mengetuk pintu kamar."

"Di sini tidak ada yang mengetuk pintu dengan lembut. Yang ada Zaki membawa kentongan."

Seolah mendengar namanya, suara kentongan terdengar dari lorong.

"Semua santri ke masjid! Lima menit!"

Salim berdiri. "Ayo."

Fadil masih duduk. "Aku belum sempat membaca kitab."

"Besok juga ada waktu."

"Kalau aku tidak belajar malam ini, kapan bisa mengejar?"

Salim menatapnya serius. "Kamu tidak bisa mengejar semua hal dalam satu malam. Di pesantren, yang pertama harus kamu pelajari adalah mengatur tenaga."

Fadil menatap pintu yang mulai dipenuhi santri. Ia mengambil pecinya dan berdiri. Malam itu, ia mengikuti Salim ke masjid dengan langkah berat, tetapi ia mulai memahami bahwa kehidupan pesantren bukan hanya tentang kitab dan hafalan.

Kehidupan pesantren adalah tentang disiplin, kesabaran, dan kesediaan untuk hidup bersama orang lain.

°˖✧✿✧˖°

Minggu pertama menjadi masa paling melelahkan bagi Fadil. Ia sering terlambat bangun karena tubuhnya belum terbiasa dengan jadwal yang padat. Beberapa kali ia lupa membawa kitab yang sesuai. Ia juga masih kesulitan memahami pelajaran bahasa Arab.

Pada suatu pagi, Ustaz Hamdan menulis beberapa kalimat di papan tulis.

"Fadil, coba baca kalimat ini."

Fadil berdiri. Matanya mengikuti tulisan di papan, tetapi susunan huruf itu seperti berdesakan.

"Al waladu..."

"Berhenti." Ustaz Hamdan menunjuk bagian akhir kalimat. "Apa harakatnya?"

Fadil menatap papan lebih lama. "Saya tidak tahu, Ustaz."

"Kamu harus belajar dasar-dasarnya."

"Saya akan belajar."

"Belajar bukan mengatakan akan. Belajar adalah melakukannya."

Beberapa santri menahan tawa. Zain bahkan berbisik cukup keras untuk didengar.

"Masuk pesantren ingin menjadi ulama, membaca saja tidak bisa."

Fadil duduk kembali dengan wajah panas. Ia tidak membalas. Namun, sepanjang pelajaran, tangannya mencengkeram ujung kitab.

Setelah kelas selesai, Salim menghampirinya.

"Jangan pikirkan Zain."

"Dia tidak salah."

"Dia tetap salah kalau mengejek orang yang sedang belajar."

"Aku memang tertinggal."

"Tertinggal bukan berarti tidak bisa menyusul."

Fadil menggeleng. "Di rumah, aku terbiasa bekerja. Membawa ikan, mengangkat keranjang, menghitung uang. Di sini, semua orang seperti sudah memiliki dasar. Aku tidak tahu harus mulai dari mana."

"Mulai dari bertanya."

"Kalau aku bertanya, mereka akan menganggapku bodoh."

"Kalau kamu tidak bertanya, kamu akan tetap bodoh."

Fadil menatap Salim, lalu tertawa kecil. "Nasihatmu kadang menyakitkan."

"Nasihat yang terlalu manis biasanya tidak berguna."

Malamnya, Fadil mencoba membaca kitab tua peninggalan kakeknya. Ia berharap kitab itu bisa membantunya, tetapi tulisan di dalamnya lebih sulit dipahami. Beberapa halaman bahkan menggunakan catatan kecil di pinggir yang tidak ia mengerti.

Ia membaca satu baris berkali-kali.

"Kenapa tidak tidur?" tanya Hamzah dari ranjang bawah.

"Aku ingin memahami halaman ini."

"Sudah tiga puluh menit kamu membaca baris yang sama."

"Sebentar lagi aku paham."

"Kalau tidak paham?"

"Aku akan membacanya lagi."

Hamzah bangun dan naik ke tangga ranjang Fadil. "Coba lihat."

Fadil memberikan kitab itu. Hamzah membaca sebentar.

"Ini bukan untuk pemula. Kamu seharusnya belajar kitab dasar dulu."

"Aku tahu."

Lihat selengkapnya