6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #23

Kitab yang Tidak Bisa Dibaca

Kitab yang Tidak Bisa Dibaca

Ia berhadapan dengan kitab kuning yang sama sekali belum dikuasainya.

°˖✧✿✧˖°

Pagi di Pondok Pesantren Al Hidayah, Jawa Timur, selalu dimulai dengan suara yang hampir sama.

Suara azan Subuh dari masjid utama, lantunan Al-Qur'an dari berbagai penjuru asrama, suara sandal para santri yang bergegas menuju tempat wudu, dan suara ustaz yang sesekali mengingatkan santri agar tidak kembali tidur setelah salat.

Namun pagi itu terasa berbeda bagi Fadil.

Ia duduk di serambi ruang belajar dengan sebuah kitab kuning terbuka di hadapannya.

Kitab itu sudah berada di tangannya hampir lima belas menit.

Tetapi tidak satu kalimat pun berhasil ia pahami.

Fadil mengusap wajah.

"Kenapa satu halaman saja rasanya seperti membaca tembok?"

Di sebelahnya, Rasyid yang sedang mencatat makna gandul menoleh.

"Kamu belum selesai membaca?"

Fadil menggeleng.

"Belum mulai."

Rasyid tertawa kecil.

"Belum mulai atau sudah menyerah?"

Fadil memandangnya.

"Bedanya apa?"

"Kalau belum mulai, berarti kamu masih punya kesempatan. Kalau menyerah, berarti kamu sudah menutup pintunya."

Fadil kembali menatap kitab.

Tulisan Arab tanpa harakat itu tampak begitu rapat. Ada kata-kata yang ia kenal, tetapi ketika disatukan menjadi kalimat, maknanya seolah menghilang.

Ia mencoba membaca pelan.

"Al... hamdu... lillahi..."

Rasyid segera menggeleng.

"Itu bukan masalah harakat saja."

"Lalu apa?"

"Nahwu, sharaf, kedudukan kata, konteks kalimat."

Fadil menghela napas panjang.

"Berarti masalahnya banyak."

"Memang."

Jawaban sederhana itu justru membuat Fadil semakin terdiam.

Beberapa hari sebelumnya ia masih merasa dirinya mulai mampu mengikuti kehidupan pesantren. Ia sudah terbiasa bangun sebelum Subuh, mengikuti kajian, membersihkan lingkungan pondok, menghafal pelajaran, dan mengurangi kebiasaan lamanya yang terlalu bergantung pada kenyamanan.

Tetapi pagi ini ia menyadari sesuatu.

Ada satu kemampuan yang belum tersentuh.

Membaca kitab kuning.

Bel tanda pelajaran berbunyi.

Para santri mulai memasuki ruang kelas.

Fadil menutup kitab, lalu membawanya masuk.

Di depan kelas, Ustaz Rahman sudah duduk dengan tenang.

"Letakkan kitab kalian di meja."

Semua santri membuka halaman yang sama.

Fadil ikut membuka.

Jantungnya mulai berdebar ketika Ustaz Rahman berkata,

"Hari ini kita tidak hanya mendengarkan. Saya ingin kalian membaca satu per satu."

Beberapa santri tampak santai.

Fadil justru menelan ludah.

Ia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi.

Ustaz Rahman mulai memanggil nama.

"Rasyid."

Rasyid membaca dengan lancar.

"Bagus."

Nama berikutnya dipanggil.

Satu per satu santri membaca.

Kemudian Ustaz Rahman berhenti.

Matanya melihat daftar nama.

"Fadil."

Ruangan seketika terasa lebih sunyi.

Fadil perlahan mengangkat wajah.

"Saya, Ustaz?"

"Iya. Silakan lanjutkan dari baris ketiga."

Fadil melihat halaman itu.

Tangannya mulai berkeringat.

Ia mencoba menarik napas.

"Baik, Ustaz."

Tetapi ketika mulutnya mulai bergerak, suara yang keluar terdengar terbata-bata.

"Wa... min... ahka... mi..."

Ia berhenti.

Beberapa santri menundukkan kepala.

Bukan mengejek, tetapi Fadil tetap merasa malu.

Ustaz Rahman tidak memarahinya.

"Ulangi."

Fadil mencoba lagi.

Kali ini lebih lambat.

Namun kesalahan kembali muncul.

Ustaz Rahman menunjuk sebuah kata.

"Di sini kedudukannya apa?"

Fadil diam.

"Kenapa harakat akhirnya seperti itu?"

Fadil semakin bingung.

Ia menatap tulisan itu seolah berharap kitab tersebut tiba-tiba memberikan jawaban.

Tetapi kitab tetap diam.

Untuk pertama kalinya sejak berada di Al Hidayah, Fadil merasakan dirinya benar-benar tertinggal.

°˖✧✿✧˖°

Pelajaran berakhir ketika bel berbunyi.

Para santri mulai menutup kitab.

Fadil tidak bergerak.

Ia masih menatap halaman yang sama.

Ustaz Rahman menghampirinya.

"Fadil."

"Iya, Ustaz."

"Kamu kecewa?"

Fadil tersenyum tipis.

"Sedikit."

"Sedikit?"

Fadil menunduk.

"Baiklah. Banyak."

Ustaz Rahman tersenyum.

"Kecewa karena belum bisa membaca?"

"Karena saya merasa semua orang sudah jauh di depan."

"Semua orang?"

Fadil melihat sekeliling.

"Sebagian besar."

Ustaz Rahman duduk di sampingnya.

"Jangan membandingkan halaman pertama perjalananmu dengan halaman kesepuluh perjalanan orang lain."

Fadil terdiam.

"Tapi saya sudah belajar."

"Saya tahu."

"Saya membaca setiap malam."

"Saya juga tahu."

"Kenapa tetap tidak bisa?"

"Karena belajar kitab bukan hanya soal berapa lama kamu duduk di depan kitab."

Fadil mengerutkan kening.

"Lalu?"

"Kamu harus memahami dasar yang membentuk kalimatnya."

Ustaz Rahman menunjuk halaman.

"Kalau kamu hanya menghafal cara membaca tanpa memahami kenapa sebuah kata dibaca demikian, kamu akan mudah tersesat ketika bertemu susunan kalimat yang berbeda."

Fadil memperhatikan jarinya.

"Jadi saya harus mulai dari awal?"

"Ya."

Fadil terdiam cukup lama.

"Ustaz..."

"Hm?"

"Kalau saya mulai dari awal, bukankah teman-teman saya akan semakin jauh?"

"Kalau kamu terus berdiri karena takut tertinggal, kamu justru tidak akan ke mana-mana."

Kalimat itu menancap dalam hati Fadil.

Ustaz Rahman kemudian menutup kitab.

"Besok setelah Magrib, datang ke serambi perpustakaan."

"Untuk apa?"

"Kita mulai dari dasar."

Fadil mengangguk.

"Baik, Ustaz."

Ketika Ustaz Rahman pergi, Rasyid datang menghampiri.

"Kamu dapat tambahan belajar?"

Fadil mengangguk.

"Mulai besok."

"Bagus."

"Tapi saya malu."

"Kenapa?"

"Tadi saya tidak bisa membaca."

Rasyid duduk di sampingnya.

"Fadil, kamu tahu sesuatu?"

"Apa?"

"Saya dulu juga begitu."

Fadil langsung menoleh.

"Serius?"

"Serius."

"Rasanya mustahil."

Rasyid tertawa.

"Karena sekarang kamu melihat saya setelah bertahun-tahun belajar."

"Jadi?"

"Jangan takut menjadi santri yang belum bisa. Yang perlu ditakutkan adalah menjadi santri yang tidak mau belajar."

Fadil tersenyum.

"Kalimatmu mirip Ustaz Rahman."

"Berarti saya pintar."

"Jangan terlalu percaya diri."

Keduanya tertawa.

Tetapi setelah tawa itu berhenti, Fadil kembali memandang kitab di tangannya.

Ada rasa takut.

Namun untuk pertama kalinya, rasa takut itu tidak sepenuhnya menguasainya.

°˖✧✿✧˖°

Malam berikutnya, setelah salat Magrib dan makan malam, Fadil berjalan menuju perpustakaan.

Serambi di depan perpustakaan cukup sepi.

Ustaz Rahman sudah menunggunya.

"Datang tepat waktu."

Fadil duduk.

"Saya takut terlambat."

"Takut terlambat itu baik kalau membuatmu datang tepat waktu."

Ustaz Rahman membuka sebuah buku kecil.

"Kita tidak langsung membaca kitab."

Fadil terkejut.

"Lalu?"

"Kita belajar mengenali kata."

Pelajaran berlangsung sederhana.

Ustaz Rahman menjelaskan isim, fi'il, huruf, kemudian perlahan masuk pada perubahan bentuk kata.

Awalnya Fadil merasa materi itu terlalu dasar.

Tetapi setelah beberapa contoh, ia mulai memahami mengapa kalimat yang selama ini tampak rumit ternyata memiliki pola.

"Jadi kalau bentuk katanya berubah, maknanya juga bisa berubah?"

"Benar."

"Dan itu harus saya kenali?"

"Benar."

Fadil mengangguk pelan.

Ustaz Rahman memberinya beberapa kata.

"Coba tentukan mana yang termasuk isim."

Fadil berpikir.

"Ini?"

"Benar."

Lihat selengkapnya