6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #24

Hampir Menyerah

*Kesulitan belajar membuat Fadil merasa tidak pantas menjadi santri.*

°˖✧✿✧˖°

Malam merayap lambat di atas atap genting kayu serambi madrasah. Aroma minyak kayu putih berbaur dengan kepulan uap teh melati hangat dari cangkir seng di samping meja rendah ustadz. Puluhan santri duduk bersila membentuk setengah lingkaran, menundukkan pandangan ke arah kitab kuning masing-masing yang bertengger di atas rehal jati. Detak jam dinding kuno berbunyi monoton, seolah menghitung sisa keberanian yang masih bersemayam di dalam dada Fadil. Jari-jemarinya yang dingin mencengkeram ujung halaman kitab Jurumiyyah hingga kertas kuning kecokelatan itu berkerut tipis. Keringat dingin merembes dari pelipisnya, jatuh menitik tepat di atas baris tulisan gundul yang sejak tadi tampak bagai labirin tak berpintu.

"Fadil, silakan baca fasal berikutnya. Baca harakatnya dengan lantang, lalu jelaskan tarkib dan i'rab pada kalimat pembukanya," suara Ustadz Mansur memecah hening serambi. Suara itu tenang, namun di telinga Fadil terdengar laksana dentum guruh yang merontokkan seluruh persendian.

Fadil menelan ludah yang terasa sekering pasir gurun. Ia membetulkan letak peci hitamnya yang sedikit miring, berusaha menutupi kegugupan yang mengguncang dadanya. "B-bismillahirrahmanirrahim... Al-kalamu huwa al-lafzhu al-murakkabu..." suaranya bergetar parau, patah-patah di udara dingin malam itu.

"Hentikan sejenak di situ," potong Ustadz Mansur seraya menatap lurus melewati bingkai kacamata tebalnya. "Ulangi harakat pada kata murakkabu. Mengapa engkau membacanya dengan rafa', Fadil? Apa kedudukan kata tersebut terhadap lafadz sebelumnya?"

Hening seketika menyergap ruangan. Fadil merasa puluhan pasang mata teman-temannya kini terarah tepat ke tengkuknya. Beberapa santri senior di barisan depan saling berbisik lirih, sementara Ilham yang duduk tepat di sebelah kirinya menyentuh lututnya memberi dorongan samar. Namun pikiran Fadil mendadak kosong melompong. Huruf-huruf Arab gundul di hadapannya seperti menari-nari mengejek kebodohannya.

"Dia... dia menjadi maf'ul bih, Ustadz?" jawab Fadil terbata-bata dengan nada ragu yang sangat kentara.

Sebuah desah napas panjang terdengar dari balik meja ustadz. Beberapa santri di barisan belakang menahan tawa kecil, membuat telinga Fadil serasa terbakar oleh rasa malu yang menyengat.

"Maf'ul bih?" Ustadz Mansur meletakkan spidol koreksinya ke atas meja kayu dengan ketukan pelan yang sarat kekecewaan. "Bagaimana mungkin na'at terhadap isim yang marfu' bisa engkau jadikan maf'ul? Bukankah kaidah tawabi' sudah kita pelajari dan kita ulang selama tiga pekan berturut-turut, Fadil?"

"Mohon maaf, Ustadz... saya... saya lupa rumusnya," bisik Fadil sangat pelan, kepalanya kini tertunduk sedalam-dalamnya hingga dahinya nyaris menyentuh permukaan kitab.

"Belajar kitab ini bukan sekadar menghafal bunyi tanpa mengerti jalan pikirannya," ujar Ustadz Mansur dengan nada yang lebih melunak, namun justru kata-kata itulah yang menghunjam ulu hati Fadil. "Jika kaidah paling dasar ini saja masih tertukar setiap malam, bagaimana engkau akan menyelami Alfiyah kelak? Malam ini kitabmu belum bisa saya sahkan. Ulangi soroganmu besok malam setelah engkau benar-benar paham."

"Inggih, Ustadz," sahut Fadil pasrah seraya menahan genangan air mata yang mulai mengaburkan pandangannya.

Ustadz Mansur mengetukkan jarinya ke atas rehal lalu beralih memanggil nama santri berikutnya. "Zainal, lanjutkan bacaan kawanmu."

Fadil menarik tangannya pelan-pelan dari atas rehal. Setiap tarikan napasnya terasa sesak, dipenuhi rasa sesal yang membelit. Di sekelilingnya, bait-bait ilmu dibacakan dengan begitu lancar oleh santri lain, mengalir laksana air jernih di sungai pegunungan. Sementara bagi Fadil, lembaran-lembaran kitab suci itu menjelma dinding tebal tak tertembus yang seakan berteriak di telinganya bahwa ia salah tempat, bahwa anak desa sepertinya tidak layak menyandang sebutan santri pencari ilmu.

°˖✧✿✧˖°

Begitu majelis sorogan dibubarkan sebelum tengah malam, Fadil tidak bergabung bersama santri lain yang berkerumun di kantin pondok untuk menyeduh kopi. Langkah kakinya menyeret tubuhnya yang lunglai menuju sudut tergelap di teras belakang Asrama Al-Ghazali 3. Di sanalah ia menjatuhkan punggungnya ke dinding bata yang lembap, menatap nanar ke arah kerlip bintang di langit malam yang tertutup kabut tipis. Dadanya masih bergemuruh oleh rasa sesak yang tak kunjung reda.

"Sudahlah, Dil. Jangan dimasukkan ke dalam hati terlalu dalam," suara Ilham tiba-tiba memecah lamunannya. Sahabatnya itu datang membawa dua gelas plastik berisi teh hangat yang masih mengepulkan uap tipis.

"Bagaimana mungkin aku tidak memikirkannya, Ham?" suara Fadil bergetar, menolak gelas yang disodorkan sahabatnya. "Tiga bulan aku di sini, tapi kepalaku seperti batu cadas. Huruf-huruf itu tidak pernah mau menetap di ingatanku."

"Semua orang butuh waktu beradaptasi. Ustadz Mansur menegurmu karena beliau ingin engkau teliti, bukan karena beliau membencimu," bujuk Ilham seraya duduk merapatkan sarungnya di samping Fadil.

"Engkau berkata begitu karena engkau cerdas, Ham! Engkau membaca matan sekali saja langsung hafal di luar kepala," potong Fadil dengan nada pahit yang tak mampu ia bendung lagi. Matanya menatap tajam ke arah sahabatnya itu. "Sedangkan aku? Aku mengulang satu fasal sampai fajar pun tetap saja buyar saat berhadapan dengan meja ustadz. Otakku bebal. Aku rasa aku memang tidak ditakdirkan menjadi santri."

"Istighfar, Fadil! Jangan pernah bicara begitu pada dirimu sendiri," tegas Ilham menatap mata sahabatnya dengan sorot kepedulian yang tulus. "Bukankah Kyai sering dawuh bahwa ilmu itu bukan warisan kecerdasan semata, melainkan buah dari kesabaran menahan perihnya kebodohan?"

"Tetapi kesabaranku sudah habis, Ham," bisik Fadil lemah seraya menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya yang terlipat. "Bapak di kampung memeras keringat mencangkul sawah orang demi membiayai pondokku. Beliau membayangkan anaknya kelak bisa membaca kitab gundul dan memimpin doa di kampung. Kalau Bapak tahu anaknya sebodoh ini, betapa hancurnya hati beliau."

"Bapakmu tidak akan kecewa selama engkau tidak menyerah di tengah jalan," sahut Ilham pelan.

"Engkau tidak mengerti rasanya menjadi orang paling tertinggal di ruangan ini," gumam Fadil getir, membiarkan angin malam menyapu pipinya yang basah oleh air mata keterasingan.

°˖✧✿✧˖°

Tepat pukul dua belas malam, kentongan kayu di serambi utama dipukul bertalu-talu. Puluhan santri bergegas mengenakan sarung rapi dan peci putih untuk mengikuti jadwal lalaran malam di aula tengah masjid. Suara dengung ratusan suara melantunkan bait-bait Alfiyah Ibnu Malik menggema serentak, membahana memenuhi langit-langit kubah masjid dengan irama yang ritmis dan bersemangat. Mereka bergoyang pelan mengikuti ketukan nada hafalan, larut dalam keindahan simfoni gramatika yang agung. Namun bagi Fadil yang duduk terpojok di pilar belakang, suara riuh itu terdengar laksana palu godam yang menghakimi ketidakmampuannya.

Lihat selengkapnya