6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #25

Nasihat Sang Kiai

Nasihat Sang Kiai

Kiai Zulfakar mengajarkan bahwa orang berilmu pun pernah menjadi orang yang tidak tahu.

°˖✧✿✧˖°

Langit pagi di atas Pondok Pesantren Al-Quthuz berwarna kelabu, seperti selimut basah yang menutupi seluruh cakrawala. Hujan semalaman telah menyisakan genangan di sudut-sudut jalan setapak, memantulkan bayangan pohon-pohon sawo yang rindang. Udara terasa dingin, menusuk sampai ke tulang, membuat siapa pun yang berani keluar dari selimut akan menggigil dalam sekejap.

Fadil Ar Rimbai duduk termenung di beranda asrama timur. Tubuhnya terbungkus sarung tebal yang ia tarik sampai menutupi dagu. Di tangannya, ada secangkir kopi hitam tanpa gula yang mulai dingin karena tidak ia sentuh sejak sepuluh menit lalu. Matanya menatap kosong ke arah halaman yang masih sepi. Belum ada santri yang keluar dari kamar. Bedug subuh baru akan berkumandang setengah jam lagi.

Ada yang mengganggu pikirannya. Bukan soal ujian, bukan soal hafalan, bukan soal teman-teman yang kadang masih menggodanya. Kali ini lebih dalam. Kali ini menyangkut harga dirinya sebagai santri.

Tiga hari lalu, Fadil mengikuti ujian lisan kitab Jurumiyah. Ujian itu diadakan setiap bulan untuk mengukur kemampuan santri dalam memahami tata bahasa Arab dasar. Fadil sudah belajar keras. Ia begadang tiga malam berturut-turut, menghafal nadhom, mencatat i'rab, mengulang-ulang contoh kalimat sampai mulutnya kering.

Tapi hasilnya hancur.

Ustadz Farid, penguji yang terkenal tegas, menanyainya tentang bab marfu'atul asma'. Fadil menjawab dengan lancar di awal. Tapi ketika sampai pada bagian isim yang dirafa'kan karena menjadi naib fa'il, ia tersangkut. Ia lupa satu syarat penting. Ustadz Farid menunggu. Fadil terdiam. Waktu terus berjalan. Akhirnya, Ustadz Farid menggeleng pelan dan berkata, "Cukup. Kamu perlu mengulang bab ini dari awal."

Kata-kata itu menghantam Fadil seperti batu. Ia keluar dari ruang ujian dengan wajah pucat. Rahmat, yang menunggu di luar, langsung tahu ada sesuatu yang tidak beres.

"Bagaimana?" tanya Rahmat.

Fadil hanya menggeleng dan berjalan pergi. Sejak hari itu, ia enggan mengaji di kelas. Ia merasa malu. Ia merasa bodoh. Ia merasa bahwa semua kerja kerasnya sia-sia.

Dan pagi ini, ia duduk di beranda, mencoba menelan pil pahit yang bernama kegagalan.

"Belum tidur atau baru bangun?"

Suara itu membuat Fadil tersentak. Ia menoleh. Kiai Zulfakar berdiri di ujung beranda, memakai mantel putih tebal dan kopiah hitam. Di tangannya, sebatang tongkat kayu berukir kepala burung. Wajah tuanya tampak lebih keriput di bawah cahaya kelabu, tapi matanya tetap tajam.

"Kiai," Fadil buru-buru berdiri. "Saya... belum tidur, Kiai."

Kiai Zulfakar mendekat, lalu duduk di bangku kayu di samping Fadil. Ia meletakkan tongkatnya di lantai. "Kamu biasanya tidak pernah begadang. Ada apa?"

Fadil menunduk. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia malu mengakui bahwa ia sedang larut dalam kegagalan. Ia malu mengakui bahwa ia merasa tidak layak menjadi santri.

"Hmm," Kiai Zulfakar mengangguk pelan. "Kamu tidak perlu menjawab. Wajahmu sudah bicara."

Fadil menelan ludah. Kiai Zulfakar selalu bisa membaca isi hati orang tanpa perlu bertanya panjang. Ia seperti bisa melihat melalui kulit, menembus daging, sampai ke bagian paling dalam dari jiwa seseorang.

"Kiai," akhirnya Fadil bersuara. "Saya... gagal ujian."

Kiai Zulfakar tidak tampak terkejut. Ia hanya menatap langit kelabu, lalu tersenyum tipis. "Ujian apa?"

"Jurumiyah. Bab marfu'atul asma'. Saya lupa syarat naib fa'il."

"Lalu?"

Fadil mengangkat kepala. "Lalu saya malu, Kiai. Saya sudah belajar keras. Tapi tetap gagal. Mungkin saya memang bodoh. Mungkin saya tidak cocok mondok di sini."

Kiai Zulfakar terdiam sejenak. Angin pagi berhembus, membawa aroma tanah basah dan bunga sawo. Beberapa tetes air jatuh dari atap beranda, menimpa genangan di bawah.

"Fadil," kata Kiai Zulfakar pelan. "Apakah kamu tahu siapa yang mengajar Jurumiyah pertama kali di pesantren ini?"

Fadil menggeleng.

"Saya," jawab Kiai Zulfakar.

Fadil terkejut. "Kiai... mengajar Jurumiyah?"

"Tiga puluh tahun yang lalu. Ketika pesantren ini masih kecil. Hanya ada lima santri. Saya mengajar mereka setiap hari, dari subuh sampai malam. Saya hafal seluruh kitab Jurumiyah di luar kepala. Saya bisa menyebutkan setiap bab, setiap pasal, setiap contoh tanpa melihat kitab."

Kiai Zulfakar berhenti sejenak. Ia menatap Fadil. "Tapi tahukah kamu apa yang terjadi pada ujian pertama saya sebagai pengajar?"

Fadil menggeleng lagi.

"Saya lupa satu bab. Bab yang paling dasar. Bab kalam. Saya berdiri di depan santri-santri saya, dan tiba-tiba pikiran saya kosong. Saya tidak bisa menjelaskan apa itu kalam. Saya tidak bisa menyebutkan pembagiannya. Saya hanya berdiri di sana, seperti patung, selama lima menit yang terasa seperti lima jam."

Fadil menatap Kiai Zulfakar dengan mata membelalak. Ia tidak pernah membayangkan bahwa Kiai Zulfakar, orang yang paling dihormati di pesantren ini, pernah mengalami hal yang sama.

"Lalu apa yang Kiai lakukan?" tanya Fadil.

°˖✧✿✧˖°

Kiai Zulfakar tersenyum. Senyum itu bukan senyum yang mengejek, bukan senyum yang meremehkan. Senyum itu hangat, seperti senyum seorang ayah kepada anaknya yang sedang belajar berjalan.

"Saya pulang," jawab Kiai Zulfakar. "Saya pulang ke ndalem, menangis. Saya merasa gagal. Saya merasa tidak layak menjadi pengajar. Saya bahkan berpikir untuk berhenti mengajar dan kembali ke desa, menjadi petani seperti ayah saya."

Fadil mendengarkan dengan saksama. Ia merasa ada sesuatu yang bergerak di dalam dirinya. Sesuatu yang hangat. Sesuatu yang ia tidak bisa jelaskan.

"Lalu, kakek saya—Kiai Zulfakar yang pertama, pendiri pesantren ini—datang kepada saya. Beliau duduk di samping saya, memegang tangan saya, dan berkata: 'Zulfakar, orang berilmu pun pernah menjadi orang yang tidak tahu. Bahkan orang yang paling pintar di dunia ini pernah menjadi bayi yang tidak bisa bicara. Bahkan Nabi Adam, manusia pertama, pernah tidak tahu apa-apa sampai Allah mengajarinya.'"

Kiai Zulfakar berhenti. Ia menatap Fadil. "Kata-kata itu mengubah hidup saya. Saya sadar bahwa menjadi tidak tahu bukanlah aib. Aib adalah ketika kita tidak mau belajar. Aib adalah ketika kita berhenti karena satu kegagalan."

Fadil menunduk. Ia merasa dadanya sesak. Ia merasa seperti baru saja mendengar rahasia terbesar di dunia.

"Kiai," katanya pelan. "Jadi... saya tidak bodoh?"

"Bodoh?" Kiai Zulfakar tertawa kecil. "Fadil, kamu bukan bodoh. Kamu hanya sedang belajar. Semua orang yang belajar pasti pernah gagal. Bahkan saya. Bahkan Ustadz Farid. Bahkan ulama-ulama besar yang kitabnya kamu baca setiap hari."

Fadil mengangkat kepala. "Ustadz Farid juga pernah gagal?"

"Tentu," jawab Kiai Zulfakar. "Ustadz Farid pernah tidak lulus ujian kitab Alfiyah tiga kali berturut-turut. Ia hampir dikeluarkan dari pesantren. Tapi ia tidak menyerah. Ia terus belajar. Sekarang, ia menjadi salah satu pengajar terbaik di pesantren ini."

Lihat selengkapnya