6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #26

Satu Halaman Setiap Hari

Satu Halaman Setiap Hari

Fadil mulai belajar dengan disiplin.

°˖✧✿✧˖°

Fadil berada di pesantren selama tiga bulan ketika rasa tidak sabarnya mulai terasa seperti gatal yang tidak bisa digarami. Semua santri di sekitarnya tampak melesat. Zain sudah menyelesaikan dua jilid nahwu. Salim mampu membacakan kitab kuning dengan lancar, bahkan menambahkan penjelasan tanpa membuka catatan. Sementara Fadil, masih di kelas yang sama, dengan halaman yang sama, dan perasaan bahwa ia berjalan jauh lebih lambat dari semua orang.

Suatu sore, ia duduk di bawah pohon mangga, membuka kitab yang sudah ia baca sejak pagi. Ia tidak benar-benar membaca. Matanya meluncur di atas huruf-huruf Arab itu tanpa pernah mendarat. Ia menghafal dengan cara menutup kitab, mengulang, lalu membukanya lagi, tetapi setiap kali ia membuka bagian baru, bagian yang lama menguap seperti embun.

"Fadil," suara Salim memanggil. "Sudah sore. Kamu belum pindah dari tempat ini?"

"Belum selesai."

"Selesai apa?"

"Selesai membaca bab ini."

Salim duduk di sebelahnya, mengambil kitab itu. "Kamu membaca bab ini sejak pagi. Sekarang ceritakan padaku isinya."

Fadil terdiam. Ia membuka mulut, lalu menutupnya. Ia tidak sanggup menceritakan satu kalimat pun.

"Itulah masalahmu," kata Salim. "Kamu membaca, tapi tidak memahami. Kamu menoleh, tapi tidak melihat."

"Aku bisa menghafal."

"Menghafal bukan memahami. Besok kamu akan lupa."

"Kalau begitu, bagaimana caranya supaya tidak lupa?"

Salim mengembalikan kitab itu. "Mungkin kamu harus belajar dari satu orang. Di perpustakaan lama, ada seorang ustaz yang menguasai cara itu. Namanya Ustaz Manshur. Dia dulu teman ayahmu, dan dia mengajar kelas manuskrip yang kamu ikuti itu."

Fadil menegakkan badan. "Ustaz Manshur? Orang yang menungguku di pintu perpustakaan malam itu?"

"Ya. Dia yang mengajukan namamu untuk kelas sejarah."

"Aku belum pernah berbicara dengannya."

"Karena kamu sibuk mencoba membaca bab ini sejak pagi."

Fadil menatap kitab di tangannya. Ia menyadari, selama ini ia terlalu sibuk mengejar banyaknya halaman, sampai lupa bahwa belajar bukan tentang seberapa banyak yang dilahap, melainkan seberapa dalam yang ditelan.

Esok paginya, ia berdiri di depan perpustakaan lama. Pintu kayu itu berderit ketika ia mendorongnya. Di dalam, debu menari di bawah cahaya yang masuk dari jendela kecil. Seorang laki-laki tua duduk di sudut, memegang sebuah kitab, dengan kaca mata yang bertengger di ujung hidungnya. Ia tidak terkejut melihat Fadil.

"Masuklah," katanya tanpa menoleh. "Tutup pintunya, supaya angin tidak membalik halaman."

Fadil masuk, menutup pintu. Ustaz Manshur menempatkan kitab di pangkuannya dan menatapnya.

"Kamu Fadil, anaknya Abdul Jabbar."

"Iya, Ustaz."

"Kamu melihat buku sejarah pesantren yang kukirimkan lewat Ustaz Hamdan?"

"Sudah saya baca, Ustaz."

"Ceritakan bagian pertama."

Fadil menelan ludah. Ia membaca buku itu, tetapi sekarang, di hadapan laki-laki yang menatapnya dengan tenang, semua yang ia baca terasa asing.

"Saya ... saya lupa, Ustaz."

"Kamu membacanya, tapi kamu tidak memahaminya."

"Bagaimana supaya saya tidak lupa?"

Ustaz Manshur mengambil sebuah kitab tipis dari rak, meletakkannya di hadapan Fadil, dan membuka halaman pertamanya.

"Apa yang kamu lihat?"

"Halaman."

"Berapa banyak yang harus kamu baca?"

"Saya tidak tahu."

"Mulai sekarang, satu halaman. Setiap hari."

Fadil menatapnya. "Satu halaman saja?"

"Satu halaman. Tetapi satu halaman yang kamu pahami sampai ke akarnya."

"Saya bisa membaca lebih banyak, Ustaz."

"Kamu bisa. Tetapi kamu tidak akan memahaminya. Dan apa gunanya halaman yang banyak, kalau tidak satu pun yang tinggal?"

°˖✧✿✧˖°

Kebiasaan itu dimulai keesokan harinya, dan terbukti jauh lebih sulit daripada kedengarannya.

Fadil duduk di serambi masjid setelah Subuh, membuka kitab yang diberikan Ustaz Manshur. Satu halaman. Ia membaca baris pertama. Kata-kata itu dikenalinya satu per satu, tetapi maknanya belum menyatu. Ia membaca baris kedua, lalu kembali ke baris pertama, mencoba merangkai.

Salim lewat, membawa ember. "Belajar?"

"Ya."

"Sudah sampai halaman berapa?"

Fadil menunjuk halaman yang masih terbuka. "Masih di sini."

"Sejak Subuh sampai sekarang?"

"Ustaz Manshur bilang satu halaman setiap hari."

Salim tertawa. "Berarti kamu akan menghabiskan kitab ini dalam sekian bulan."

"Itu maksudnya."

"Mengapa tidak mempercepat?"

"Karena kalau aku mempercepat, aku tidak paham."

Salim berhenti, menatap Fadil dengan cara yang berbeda. "Kamu berubah."

"Aku belum berubah. Aku baru mencoba."

"Berubah adalah ketika kamu mulai memilih pelan daripada banyak."

Salim melanjutkan langkahnya. Fadil kembali ke halaman itu. Ia menulis terjemahan di tepi kitab dengan pensil kecil, menandai kata-kata yang belum ia mengerti, lalu berhenti ketika pikirannya mulai lelah.

Saat ia hendak pindah ke halaman berikutnya, tangannya berhenti. Satu halaman. Ia ingat perintah itu. Ia menutup kitab, meskipun hatinya masih ingin melanjutkan.

Di kelas, Ustaz Hamdan bertanya tentang pelajaran pekan itu. Fadil mengangkat tangan, menjawab dengan perlahan. Ia tidak menjawab dengan sempurna, tetapi jawabannya tidak lagi kosong.

"Menarik," kata Ustaz Hamdan. "Kamu mulai memahami."

"Saya membaca satu halaman setiap hari, Ustaz."

"Karena siapa?"

"Ustaz Manshur."

Ustaz Hamdan mengangguk, seolah sudah menduga.

"Bagus. Tapi ingat, disiplin itu bukan hanya tentang memulai. Disiplin adalah tentang tetap berjalan ketika tidak ada yang menonton."

Fadil mengangguk. Malamnya, ia kembali ke perpustakaan lama untuk mengembalikan kitab pertama. Ustaz Manshur sedang duduk di tempat yang sama.

"Satu halaman, dan kamu paham?" tanyanya.

"Ada dua kata yang belum saya mengerti."

"Apa?"

Fadil menyebutkan dua kata itu. Ustaz Manshur menjelaskan satu kata dengan panjang, dan ketika Fadil mengangguk, ia menjelaskan kata yang kedua dengan cara yang berbeda.

"Sekarang ceritakan kembali halaman itu."

Fadil bercerita. Suaranya tersendat di beberapa bagian, tetapi kali ini ia bercerita, bukan menghafal. Ketika selesai, Ustaz Manshur tersenyum tipis.

"Besok, halaman kedua."

Fadil pulang dengan perasaan aneh. Ia merasa seperti baru saja menanam sesuatu, meskipun ia belum melihat tunasnya.

Di kamar, Zain menatapnya. "Kamu dari mana? Ustaz Manshur lagi?"

"Iya."

"Setiap malam?"

"Setiap hari."

Zain menggeleng. "Kamu mengorbankan banyak waktu untuk satu halaman."

"Kamu lebih suka menghabiskan sepuluh halaman tanpa memahami?"

"Sepuluh halaman tanpa paham lebih baik daripada satu halaman."

"Untuk apa?"

Zain tidak menjawab. Ia membalikkan badan di ranjang. Fadil tidak mempermasalahkannya. Ia tahu, perdebatan itu bukan tentang jumlah halaman, melainkan tentang cara yang selama ini mereka yakini.

Lihat selengkapnya