6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #27

Ayat yang Menguatkan

Ayat yang Menguatkan

Al-Qur'an menjadi sumber ketenangan ketika Fadil mengalami kerinduan kepada keluarga.

°˖✧✿✧˖°

Malam telah turun di Pondok Pesantren Al-Quthuz.

Udara terasa lebih dingin daripada biasanya. Angin bergerak perlahan melewati celah-celah jendela kamar santri, membawa aroma tanah yang masih lembap setelah hujan sore tadi. Dari kejauhan terdengar suara beberapa santri yang masih mengulang hafalan sebelum tidur.

Fadil duduk seorang diri di sudut kamar.

Di hadapannya terbuka sebuah mushaf Al-Qur'an yang selama ini selalu ia jaga baik-baik. Namun malam itu, matanya tidak benar-benar membaca.

Pikirannya melayang jauh.

Ke Prabumulih.

Ke rumah sederhana yang telah ditinggalkannya.

Ke suara ibunya.

Ke wajah ayahnya.

Fadil menarik napas panjang.

"Bu..." gumamnya pelan.

Ia teringat bagaimana Bu Zubaidah selalu berdiri di depan pintu setiap kali dirinya hendak pergi ke sekolah.

"Fadil, sarapan dulu."

"Sebentar lagi, Bu."

"Jangan sebentar terus. Nanti terlambat."

Kenangan sederhana itu tiba-tiba terasa begitu mahal.

Fadil tersenyum kecil, tetapi senyum itu segera berubah menjadi kesedihan.

Ia mengambil ponsel dari sampingnya. Jarum jam telah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam.

Tangannya sempat membuka daftar kontak.

Nama Ibu berada di sana.

Fadil menatap nama itu lama.

"Telepon atau tidak?"

Ia mengusap wajah.

Kalau menelepon, ia takut suaranya terdengar sedih. Ia tidak ingin membuat ibunya khawatir. Sejak berangkat ke pesantren, Fadil selalu berusaha mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.

Padahal malam itu, ia sedang tidak baik-baik saja.

Ia sangat merindukan rumah.

Sangat merindukan keluarganya.

Akhirnya ia menekan tombol panggilan.

Nada sambung terdengar.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Kemudian terdengar suara yang sangat dikenalnya.

"Assalamu'alaikum, Fadil?"

Mata Fadil langsung berkaca-kaca.

"Wa'alaikumussalam, Bu."

"Kok telepon malam-malam? Kamu belum tidur?"

"Belum, Bu."

"Ada apa?"

Fadil terdiam.

"Tidak ada apa-apa."

Bu Zubaidah sepertinya mengenal anaknya terlalu baik.

"Kalau tidak ada apa-apa, kenapa suara kamu begitu?"

Fadil tertawa kecil.

"Suara Fadil memang begini, Bu."

"Jangan bohong sama ibu."

Fadil menunduk.

Beberapa detik ia tidak mampu menjawab.

Kemudian akhirnya ia berkata pelan.

"Fadil kangen rumah, Bu."

Di seberang telepon, suasana mendadak hening.

Lalu terdengar suara ibunya yang lebih lembut.

"Ibu juga kangen kamu."

Fadil memejamkan mata.

Kalimat sederhana itu justru membuat dadanya semakin sesak.

"Pak Dul bagaimana, Bu?"

"Ayahmu baik. Tadi habis dari tempat kerja. Sekarang sudah tidur."

"Capek?"

"Namanya juga ayahmu. Kalau ditanya capek, selalu bilang tidak."

Fadil tersenyum.

"Itu memang Ayah."

Bu Zubaidah tertawa kecil.

Percakapan mereka berlangsung beberapa menit. Tentang makanan. Tentang keadaan rumah. Tentang tetangga. Tentang pekerjaan ayahnya. Tentang hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting, tetapi malam itu terasa sangat berarti.

Sebelum telepon ditutup, Bu Zubaidah berkata,

"Fadil, jangan terlalu memikirkan rumah sampai membuat kamu sedih."

"Fadil berusaha, Bu."

"Kalau rindu, doakan kami."

"Insyaallah."

"Dan jangan lupa mengaji."

Fadil terdiam.

"Iya, Bu."

"Al-Qur'an itu temanmu di sana. Kalau hati kamu sedang berat, bacalah."

Fadil mengangguk meski ibunya tidak dapat melihat.

"Iya, Bu."

"Jaga diri."

"Ibu juga."

Panggilan berakhir.

Fadil meletakkan ponselnya.

Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh.

Ia menatap mushaf di hadapannya.

Untuk pertama kalinya malam itu, ia membuka halaman Al-Qur'an bukan karena kewajiban mengaji, melainkan karena hatinya benar-benar sedang membutuhkan pertolongan.

°˖✧✿✧˖° Titik Plot Pertama — 650–1.050 Kata °˖✧✿✧˖°

Fadil mengusap air matanya.

Ia mengambil wudu.

Setelah itu, ia kembali ke kamar dan duduk di tempat semula.

Beberapa santri sudah mulai tidur. Lampu kamar diredupkan. Suasana menjadi tenang.

Fadil membuka mushaf.

Tangannya berhenti pada satu halaman.

Ia mulai membaca perlahan.

"Alif Lam Mim..."

Suaranya lirih.

Tidak keras, tetapi cukup untuk dirinya sendiri.

Setiap ayat ia baca dengan perlahan. Sesekali ia berhenti karena matanya kembali berkaca-kaca.

Ia tidak sedang mengejar jumlah halaman.

Ia hanya ingin membaca.

Ia ingin hatinya tenang.

Beberapa menit kemudian, Fadil mendengar suara langkah.

"Kamu belum tidur?"

Fadil menoleh.

Ternyata Farhan berdiri di dekat pintu kamar.

"Belum."

"Kenapa?"

Fadil menutup mushaf sebentar.

"Kangen rumah."

Farhan tersenyum tipis.

"Begitu rupanya."

"Jangan ditertawakan."

"Aku tidak tertawa."

Farhan duduk di samping Fadil.

"Aku juga pernah begitu."

"Kapan?"

"Awal-awal di pesantren."

Farhan menatap halaman mushaf yang terbuka.

"Kadang kita pikir orang yang paling kuat itu orang yang tidak menangis."

Fadil diam.

"Padahal belum tentu."

Farhan melanjutkan,

"Menangis karena rindu keluarga bukan berarti lemah."

Fadil mengangguk.

"Aku cuma takut terlalu larut."

"Makanya baca."

"Al-Qur'an?"

"Iya."

Fadil menatap mushafnya.

"Memangnya Al-Qur'an bisa menghilangkan rasa rindu?"

Farhan menggeleng.

"Mungkin bukan menghilangkan."

"Lalu?"

"Menenangkan kita saat rasa rindu itu datang."

Fadil terdiam.

Kalimat itu sederhana, tetapi terasa masuk ke dalam hatinya.

Farhan kemudian berdiri.

"Sudah, lanjutkan bacaanmu."

"Kamu mau tidur?"

"Iya."

"Terima kasih."

Farhan tersenyum.

"Sama-sama."

Setelah Farhan pergi, Fadil kembali membaca.

Kali ini ia tidak memikirkan berapa banyak halaman yang harus diselesaikan.

Ia membaca dengan hati.

Setiap ayat seolah mengajaknya berhenti sejenak dari kegelisahan.

Ia mulai memahami bahwa selama ini dirinya terlalu sering memikirkan jarak.

Jarak antara dirinya dan rumah.

Jarak antara dirinya dan orang tua.

Jarak antara Prabumulih dan pesantren.

Padahal ada sesuatu yang tidak pernah berjarak.

Doa.

Dan firman Allah.

Fadil menarik napas.

"Ya Allah..."

Ia berhenti membaca.

"Kalau aku tidak bisa pulang malam ini, setidaknya tenangkan hatiku."

Matanya kembali basah.

Namun kali ini air matanya tidak terasa menyakitkan.

Ada ketenangan yang perlahan muncul.

°˖✧✿✧˖°

Keesokan paginya, Fadil terlihat lebih pendiam.

Saat sarapan bersama santri lain, ia hanya makan secukupnya.

Rasyid memperhatikannya.

"Kamu sakit?"

Fadil menggeleng.

"Enggak."

"Semalam menangis?"

Fadil hampir tersedak.

"Siapa bilang?"

"Matamu."

Fadil mengusap wajah.

"Kurang tidur."

Rasyid tersenyum.

"Kurang tidur karena rindu rumah?"

Fadil tertawa kecil.

"Kalian ini..."

Rasyid tidak melanjutkan godaannya.

Namun sebelum Fadil meninggalkan tempat makan, seorang santri senior datang.

"Fadil."

"Iya, Kak?"

"Kiai memanggilmu."

Fadil langsung berdiri.

"Sekarang?"

"Iya."

Fadil berjalan menuju kediaman Kiai Haji Zulfakar Al-Quthuz.

Sesampainya di sana, ia melihat sang kiai sedang duduk membaca kitab.

"Assalamu'alaikum, Kiai."

"Wa'alaikumussalam."

"Duduklah."

Fadil duduk dengan sopan.

Kiai Zulfakar menatapnya beberapa saat.

"Bagaimana keadaanmu?"

"Alhamdulillah, baik, Kiai."

"Benarkah?"

Fadil terdiam.

Kiai tersenyum.

"Jawaban seorang santri biasanya selalu 'baik'. Tetapi wajah kadang berkata lain."

Fadil menunduk.

"Saya sedang rindu rumah, Kiai."

"Rindu kepada siapa?"

"Kepada ibu dan ayah."

"Bagus."

Fadil mengangkat wajah.

"Bagus, Kiai?"

"Rindu kepada orang tua adalah tanda bahwa hatimu masih memiliki kasih."

Fadil diam mendengarkan.

"Tetapi," lanjut Kiai, "rindu juga harus diarahkan."

"Maksud Kiai?"

"Kalau rindu membuatmu lalai, ia menjadi beban. Kalau rindu membuatmu berdoa, ia menjadi ibadah."

Fadil menelan ludah.

"Saya semalam membaca Al-Qur'an karena rindu."

Kiai tersenyum.

"Itulah yang ingin saya dengar."

Fadil menatap sang kiai.

"Ketika manusia sedang gelisah, ia sering mencari tempat untuk bersandar. Ada yang mencari manusia. Ada yang mencari harta. Ada yang mencari hiburan."

Kiai berhenti sejenak.

"Padahal seorang mukmin harus belajar kembali kepada Allah."

Fadil mengangguk.

"Al-Qur'an bukan hanya untuk dibaca ketika kita bahagia."

"Al-Qur'an juga untuk saat kita menangis?"

"Terutama ketika hatimu sedang membutuhkan kekuatan."

Fadil menunduk.

"Kiai, apakah salah kalau saya ingin pulang?"

"Tidak."

Lihat selengkapnya