6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #28

Al-Qur'an Adalah Jamuan Allah

Jamuan Allah

Fadil belajar memahami : bahwa Al-Qur'an Adalah Jamuan Allah

Malam kian melarut di kompleks Pondok Pesantren Darul Hikmah, Jawa Timur. Angin dingin khas pegunungan berembus lembut menembus celah-celah ukiran kayu surau tua, membawa keharuman tanah basah dan dedaunan pinus yang menentramkan jiwa. Di dalam aula utama surau yang beralaskan karpet hijau tebal, puluhan santri duduk bersila dalam barisan yang amat rapi. Di hadapan mereka, Kiai Haji Zulfakar Al-Quthuz duduk bersila di atas dampar kayu jati dengan keanggunan serta ketenangan yang bersahaja. Di sekeliling beliau, enam santri utama—Fadil, Fauzan, Faris, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq—duduk khusyuk di barisan paling depan dengan kitab catatan serta pena yang siap di genggaman.

Lampu gantung tembaga tua memancarkan pendar cahaya keemasan yang hangat, menerangi lembaran-lembaran kitab klasik bertinta hitam. Kiai Zulfakar menatap keenam muridnya satu per satu dengan pandangan mata yang sangat teduh, membawa kedamaian bagi siapa saja yang memandangnya. Di sudut ruangan, wewangian kayu gaharu membumbung tipis dari tempat pembakaran dupa tembaga, menciptakan nuansa spiritual yang amat kental.

"Anak-anakku sekalian," buka Kiai Zulfakar dengan suara yang dalam, lembut, namun amat berwibawa. "Malam ini kita akan mendalami petunjuk agung dari Baginda Nabi Muhammad SAW tentang kedudukan Al-Qur'an di dalam kehidupan seorang mukmin."

Fadil menunduk takzim, lalu memberanikan diri mengangkat tangannya pelan. "Sembah sungkem saya, Kiai. Bagaimanakah hadis Nabi SAW yang menjelaskan tentang hakikat Al-Qur'an sebagai karunia terbesar bagi kita?"

Kiai Zulfakar tersenyum mendengar pertanyaan itu. Beliau membacakan sebuah hadis riwayat Ad-Darimi dengan tartil yang indah: "Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya Al-Qur'an ini adalah jamuan Allah, maka ambillah darinya semampu kalian. Sungguh, aku tak mengetahui sesuatu yang lebih kosong dari kebaikan selain rumah yang di dalamnya tak ada bacaan Al-Qur'an. Sungguh, hati yang di dalamnya tak ada bacaan Al-Qur'an adalah hancur seperti hancurnya rumah yang tak berpenghuni."

Fauzan membetulkan letak pecinya, lalu ikut menyela dengan nada penasaran. "Mengapa Rasulullah SAW mengistilahkan Al-Qur'an sebagai 'jamuan Allah' (Ma'dubatullah), Kiai?"

"Pertanyaan yang amat cerdas, Fauzan," jawab Kiai Zulfakar seraya mengelus janggut putihnya. "Sebagaimana seorang tuan rumah menyajikan hidangan terbaik bagi tamu-tamunya, Allah menyediakan Al-Qur'an sebagai santapan rohani yang penuh dengan gizi keimanan, obat bagi jiwa yang sakit, dan petunjuk bagi hati yang bingung."

"Bagaimana cara kita menikmati jamuan agung tersebut dalam kehidupan harian kita di pondok ini, Kiai?" pangkas Faris penuh ketakziman.

Kiai Zulfakar mengangguk pelan. "Dengan membacanya secara rutin, merenungi maknanya, serta mengamalkan setiap hukum dan akhlak yang tertuang di dalamnya."

Ghalib, Rayyan, dan Yafiq mendengarkan dengan penuh rasa hormat, menyiapkan catatan mereka untuk menyerap tiap petuah emas sang guru.

°˖✧✿✧˖°

Suasana di aula surau mendadak semakin hening dan penuh kekhusyukan. Suara gesekan pena di atas kertas catatan milik Ghalib, Rayyan, dan Yafiq terdengar teratur di antara dengungan embun malam yang kian dingin. Kiai Zulfakar membetulkan posisi sorban hijaunya, lalu menatap keenam santri di hadapannya satu per satu dengan pandangan mata yang jernih dan mendalam.

"Setiap orang yang diundang ke suatu jamuan," tutur Kiai Zulfakar pelan namun tegas, "pasti akan berusaha mencicipi hidangan yang disajikan. Sungguh aneh jika seorang hamba mengaku beriman kepada Allah, namun ia enggan mendekati jamuan Al-Qur'an yang telah dibentangkan untuknya."

Fadil terdiam merenungi kata-kata sang guru. Hatinya tersentuh begitu dalam. Beberapa hari terakhir, Fadil sempat merasa lelah dan jenuh akibat padatnya kegiatan pondok. Ia kerap membaca Al-Qur'an sekadar mengejar target hafalan tanpa menghayati keindahan maknanya. Penjelasan Kiai Zulfakar mengenai hadis riwayat Ad-Darimi tersebut menyentak batinnya. Ia menyadari bahwa menjadikan Al-Qur'an sekadar rutinitas tanpa rasa haus akan petunjuk Allah adalah sebuah kekeliruan besar. Jiwanya merindukan kehangatan dari jamuan Ilahi itu.

"Siapa di antara kalian yang sering merasa hatinya hampa padahal ia berada di dalam lingkungan pesantren?" tanya Kiai Zulfakar memecah keheningan.

Fadil perlahan menundukkan kepala, lalu menjawab dengan jujur. "Saya, Kiai. Kadang kala saya membaca Al-Qur'an hanya mengejar setoran hafalan, sehingga hati saya terasa hampa dan hancur seperti rumah yang tak berpenghuni."

"Kejujuran yang amat mulia, Fadil," puji Kiai Zulfakar lembut. "Mengapa engkau merasa kehampaan itu bisa terjadi?"

"Karena saya mendatangi Al-Qur'an sebagai beban kewajiban, bukan sebagai tamu yang rindu akan jamuan Tuhannya," aku Fadil pelan.

Ghalib yang duduk di samping Fadil menepuk bahu sahabatnya itu. "Kita semua pernah mengalami fase rapuh itu, Fadil. Kata-kata Kiai Zulfakar malam ini adalah teguran untuk kita semua."

Rayyan mengacungkan jari penunjuknya. "Kiai, apa tanda-tanda awal bahwa hati seseorang mulai hancur bagaikan rumah tak berpenghuni?"

"Tandanya adalah ketika engkau malas mendengar lantunan ayat suci dan hatimu tak lagi bergetar saat hukum-hukum Allah disebutkan," tegas Kiai Zulfakar.

Yafiq yang duduk di samping Rayyan ikut angkat bicara. "Apakah dengan membaca satu ayat saja dengan tadabur sudah termasuk mengambil bagian dari jamuan Allah, Kiai?"

"Sangat benar, Yafiq," jawab Kiai Zulfakar yakin. "Satu ayat yang meresap ke dalam dada jauh lebih menghidupkan jiwa ketimbang khatam tanpa pemahaman."

Fadil menunduk penuh rasa haru. Nasihat sang Kiai seolah merawat dahaga spiritual yang selama ini menyiksa batinnya.

"Masya Allah..." bisik Yafiq penuh ketakjuban. "Betapa besarnya rahmat Allah melalui Al-Qur'an ini."

"Maka sambutlah jamuan itu dengan hatimu," pangkas Kiai Zulfakar dengan tatapan teduh.

°˖✧✿✧˖°

Kiai Zulfakar membalikkan lembaran kitab klasiknya yang berwarna kekuningan. Beliau menunjuk pada barisan kaligrafi Arab yang menguraikan bagian kedua dari hadis riwayat Ad-Darimi tersebut. Beliau memandang keenam santrinya dengan tatapan yang penuh makna tersembunyi.

"Perhatikan perumpamaan Nabi SAW," jelas Kiai Zulfakar memecah keheningan. "Rumah yang tidak ada bacaan Al-Qur'an di dalamnya dikiaskan sebagai rumah kosong yang hancur. Rumah kosong akan mudah menjadi sarang kegelapan, debu, dan makhluk-makhluk pengganggu. Begitu pula hati yang sepi dari Al-Qur'an, ia akan mudah dimasuki oleh penyakit iri, dengki, dan keraguan."

Fadil memberanikan diri mengangkat tangannya pelan, lalu bertanya dengan rasa ingin tahu yang mendalam. "Kiai, bagaimanakah cara kita memulihkan hati yang sudah terlanjur hancur dan sepi agar kembali makmur oleh pendar cahaya Al-Qur'an?"

Kiai Zulfakar menatap Fadil dengan pandangan yang penuh kasih sayang guru. "Fadil, mulailah dengan membersihkan debu-debu maksiat melalui istigfar. Lalu paksa dirimu untuk duduk bersanding dengan Mushaf setiap selesai shalat. Anggaplah setiap ayat yang kau baca sebagai surat cinta pribadi dari Allah untuk memperbaiki dirimu."

Fauzan menyimak penjelasan tersebut seraya bertanya, "Kiai, bagaimana jika saat membaca Al-Qur'an kita masih sulit meresapi maknanya karena keterbatasan bahasa Arab?"

"Tetaplah membaca," terang Kiai Zulfakar. "Lisan yang membasahi diri dengan Al-Qur'an tetap mendapat pahala kebaikan. Pelajarilah terjemahan dan tafsirnya secara bertahap bersama para ustadz."

Faris mengangkat tangannya pelan. "Kiai, apakah menghias rumah dengan bacaan Al-Qur'an secara keras dapat mengusir pengaruh buruk di sekitarnya?"

"Sangat berpengaruh, Faris," jawab Kiai Zulfakar. "Rumah yang di dalamnya terlantun ayat-ayat Allah akan terasa lapang bagi penghuninya dan dihadiri oleh para malaikat rahmat."

Lihat selengkapnya