6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #28

Cahaya yang Mulai Terlihat

Cahaya yang Mulai Terlihat

Fadil mulai menunjukkan perkembangan besar dalam membaca dan memahami kitab.

°˖✧✿✧˖°

Enam bulan telah berlalu sejak Fadil berdiri di depan pintu perpustakaan lama. Musim pertama ia lewati dengan satu halaman setiap hari, musim berikutnya mulai terasa ada yang berubah di dalam dirinya. Ia tidak lagi membaca seperti orang yang mengejar halaman. Ia membaca seperti orang yang sedang bertamu kepada sebuah kalimat, memandanginya lama, lalu bertanya sebelum pergi.

Pagi itu, di pengajian keliling santri kelas tahqiq, Fadil duduk di lingkaran dalam. Di hadapannya terbuka kitab kuning bersampul cokelat, halaman yang sama yang dulu hampir membuatnya menyerah. Kini ia membacanya dengan suara yang tidak lagi tersendat.

"Maa fahimtu min hādzihi aj-jumlah," ucapnya pelan, menunjuk satu baris. "Yang saya pahami dari kalimat ini adalah bahwa ilmu tidak akan hadir kepada orang yang tidak siap menerimanya."

Ustaz Hamdan mengangguk. "Bagus. Ada yang ingin menambahkan?"

Zain, yang kini duduk di samping Fadil, mengangkat tangan. "Ustaz, saya dulu pernah menertawakan cara Fadil belajar. Sekarang saya malu sendiri."

"Kenapa malu?" tanya Ustaz Hamdan.

"Karena apa yang saya pikir tidak masuk akal, ternyata pelan-pelan menunjukkan hasilnya."

Tawa kecil berkelebat di antara santri. Fadil menunduk, bukan karena malu, melainkan karena ia tidak terbiasa dipuji.

Setelah pengajian, Ustaz Hamdan memanggilnya ke ruang guru. "Fadil, minggu depan ada tamu penting dari pesantren seberang. Kiai Hasan."

"Dari pesantren seberang?"

"Ya. Beliau adalah murid tertua Kiai Abdul Muthalib. Saat ini beliau memimpin pesantren di Lamongan. Ia datang untuk meninjau perkembangan santri, dan ia meminta agar ada satu santri yang membacakan kitab di hadapannya, sebagai perwakilan Darul Hikmah."

Fadil menelan ludah. "Siapa yang dipilih, Ustaz?"

"Kamu."

Dada Fadil berdesir. "Saya?"

"Kamu sudah menunjukkan kemajuan. Membaca kitab, memahaminya, menjelaskannya. Ini bukan sekadar ujian, Fadil. Ini kesempatan."

"Tapi santri lain lebih lama di sini."

"Lebih lama tidak berarti lebih dalam. Kami memilih berdasarkan apa yang terlihat, bukan berapa lama."

Fadil pulang dengan perasaan campur aduk. Di kamar ia membuka kitab tua peninggalan kakeknya, yang kini ia baca bukan lagi dengan rasa takut, melainkan dengan rasa ingin tahu yang tenang. Di halaman pertama, tulisan tangan kakeknya masih terlihat samar.

Salim masuk membawa dua gelas teh. "Kabar buruk atau kabar baik?"

"Kabarnya, aku diminta membaca kitab di depan Kiai Hasan."

Salim meletakkan teh itu. Wajahnya sesaat berubah. "Kiai Hasan?"

"Kam tahu beliau?"

"Semua santri tahu." Salim duduk perlahan. "Beliau murid tertua kakekmu. Kalau beliau datang dan melihatmu membaca, ia akan langsung tahu kamu keturunan siapa."

"Maksudmu?"

"Keluargamu punya jejak di pesantren ini, Fadil. Ayahmu meninggalkannya dengan luka. Kakekmu meninggalkannya dengan nama besar. Sekarang kamu berdiri di antara keduanya, dan seluruh pesantren akan menonton."

Fadil menatap kitab itu. "Aku tidak mau memikirkan itu. Aku hanya mau membaca dengan jujur."

"Bagus. Karena kalau kamu berpura-pura, Kiai Hasan akan mengetahuinya dalam satu menit."

°˖✧✿✧˖°

Tujuh hari persiapan dimulai. Fadil tidak menambah jumlah halaman. Ia tetap membaca satu bagian setiap hari, tetapi kali ini ia membaca kitab yang akan dibawakannya di hadapan Kiai Hasan, sebuah bab tentang adab penuntut ilmu, dengan tujuan memahami setiap kalimat sampai ke akarnya.

Setiap pagi setelah Subuh, ia duduk di serambi masjid. Setiap malam, ia mengulang di bawah lampu perpustakaan. Ia menulis pertanyaan-pertanyaan di tepi kertas, lalu bertanya kepada Ustaz Hamdan ketika ada yang tidak ia pahami.

"Fadil, kamu melatih terlalu keras," kata Hamzah suatu sore. "Kalau kamu sakit sebelum tampil, bagaimana?"

"Aku hanya ingin siap."

"Kamu sudah siap. Bahkan lebih siap dari yang pernah kamu kira."

Fadil tersenyum tipis. "Zain bilang, siapa yang pernah menertawakan cara belajarku, sekarang ikut belajar denganku. Kalau begitu, aku tidak boleh mengecewakan orang yang sudah percaya padaku meski dia dulu mengejek."

Zain yang mendengar dari kejauhan berseru, "Siapa yang pernah mengejek kamu?"

"Kamu."

"Itu dulu. Sekarang aku teman belajarmu."

"Kamu tetap mengejek kadang."

"Sedikit. Itu bumbu."

Malam ketiga, Ustaz Hamdan menemui Fadil di perpustakaan. "Ada satu hal yang ingin kuperingatkan."

"Silakan, Ustaz."

"Kiai Hasan bukan hanya menguji bacaannya. Beliau mengenal kakekmu, ayahmu, dan sejarah keluarga ini. Kalau beliau bertanya tentang keluargamu, kamu tidak perlu takut menjawab dengan jujur. Jangan menambah, jangan mengurangi."

"Apakah beliau tahu tentang ayahku?"

"Beliau tahu lebih banyak daripada yang kamu tahu."

Fadil berpikir sejenak. "Kenapa beliau tidak pernah menemuiku selama ini?"

"Karena beliau menunggu."

"Menunggu apa?"

"Menunggu kamu cukup kuat untuk menerima yang akan beliau sampaikan."

Kalimat itu menggantung di udara. Fadil ingin bertanya lebih jauh, tetapi Ustaz Hamdan sudah berdiri.

"Satu halaman untuk hari ini," kata ustaz itu sambil tersenyum. "Jangan lupa. Bahkan saat persiapan, disiplin tetap dijaga."

Fadil mengangguk. Malam itu ia membaca satu halaman lagi, tetapi pikirannya terus melayang kepada Kiai Hasan, kepada kakeknya, dan kepada ayahnya yang menunggu di kampung, tidak tahu bahwa anaknya akan segera berdiri di hadapan murid tertua kakeknya.

°˖✧✿✧˖°

Tiga hari sebelum kedatangan Kiai Hasan, sesuatu terjadi.

Fadil sedang membaca kitab peninggalan kakeknya di perpustakaan ketika matanya menemukan sesuatu yang selama ini luput. Di bagian akhir kitab, setelah halaman kosong, ada tulisan tangan yang berbeda dari tulisan Kiai Abdul Muthalib. Tulisan itu lebih kasar, lebih tergesa, seolah ditulis oleh seseorang yang tengah marah atau terluka.

Lihat selengkapnya