Kiai Zulfakar mulai mengenalkan Asmaul Husna.
°˖✧✿✧˖°
Hujan lebat baru saja surut di langit Pesantren Luhur Al-Hikmah, menyisakan derai tiris yang menetes dari lisplang genting sirap. Angin pegunungan berhembus dingin menembus kisi-kisi jendela kayu jati surau tua, menggoyangkan lidah api lampu sentir yang berkedip di atas dampar kayu. Di dalam keheningan yang lembap itu, Faris duduk bersila dengan buku-buku jemari terkepal rapat, meremas selembar kertas lusuh hingga tepiannya robek. Napasnya memburu pendek-pendek, sementara dadanya terasa terbakar oleh amarah dan keputusasaan yang berkelindan.
Fauzan, sahabat karibnya yang duduk di sampingnya, meletakkan tangannya di atas lengan Faris dengan sorot mata cemas. "Istighfar, Faris. Kendalikan amarahmu sebelum Kiai masuk ke serambi ini."
"Bagaimana mungkin aku bisa tenang, Zan?" sahut Faris dengan nada tertahan, giginya bergemerutuk menahan gemuruh air mata. "Ayahku difitnah menggelapkan kas lumbung desa! Orang-orang munafik itu menyeretnya di depan balai warga dan mempermalukannya di hadapan orang banyak. Sekarang beliau jatuh sakit tak berdaya di pembaringan, sedangkan para pencuri yang sesungguhnya bebas tertawa di atas penderitaan kami!"
Fauzan menghela napas panjang, menatap bayangan lentera di dinding. "Tetapi meledak-ledak di hadapan majelis ini tidak akan menyelesaikan apa pun, sahabatku."
"Lalu apa gunanya kita belajar di sini bertahun-tahun?" tukas Faris dengan suara yang semakin tajam bergetar. "Kita menghafal beribu bait nadham nahwu, membedah bab keadilan dalam fiqih muamalah siang dan malam. Tetapi ketika kezaliman nyata menghantam orang tuaku di luar sana, apakah huruf-huruf di kitab ini sanggup mematahkan lidah para pembohong itu? Di manakah pertolongan yang dijanjikan itu?"
"Pertolongan itu tidak pernah terlambat, wahai anak muda," sebuah suara berat, tenang, dan berwibawa mengalun dari arah pintu masuk surau, memotong ketegangan yang menyesakkan dada itu seketika.
Seluruh santri di dalam surau serentak menundukkan kepala dengan penuh takzim. Bunyi terompah kayu yang beradu perlahan dengan lantai ubin marmer tua terdengar berirama. Kiai Zulfakar melangkah masuk dengan jubah putih gading dan surban hijau lumut yang tersampir rapi di pundaknya. Wajah sang kiai tampak teduh bagaikan telaga bening di ceruk bukit, namun sepasang matanya memancarkan kedalaman samudra yang sanggup membaca setiap riak gelombang di hati santri-santrinya. Di tangannya, sang kiai tidak membawa kitab fikih tebal seperti biasanya, melainkan sebuah mushaf tua berjilid kulit rusa bertatahkan kaligrafi emas yang berkilau lembut.
Kiai Zulfakar duduk di dampar utama tanpa terburu-buru. Beliau memandang Faris yang masih menunduk dengan pundak terguncang lirih. Tidak ada kemarahan di wajah kiai sepuh itu, hanya kehangatan belas kasih seorang ayah yang memandangi anaknya yang sedang terluka.
"Faris," panggil Kiai Zulfakar dengan suara yang begitu lembut meraba luka. "Angkat kepalamu, Nak."
Faris perlahan mengangkat wajahnya yang sembap oleh air mata yang tertahan. "Ampunkan kelancangan hamba, Kiai. Hati hamba gelap malam ini. Jiwa hamba dipenuhi bara dan tanya yang tak terjawab."
"Kegelapan di dalam dadamu bukan karena malam yang pekat, melainkan karena engkau mencoba memikul beban semesta dengan kedua tanganmu yang kecil," ujar Kiai Zulfakar seraya tersenyum tipis. Beliau meletakkan mushaf berkulit rusa itu tepat di tengah dampar kayu. "Malam ini, kita menunda sejenak pengajian fikih muamalah yang biasa kita kaji bersama. Jiwa-jiwa kalian sedang dahaga akan pegangan yang sejati. Malam ini, kita akan membuka pintu pengenalan yang paling agung: Asmaul Husna—Nama-Nama Allah Yang Mahaindah."
Fauzan menatap sang guru dengan takjub. "Asmaul Husna, Kiai? Bukankah itu wirid yang biasa kami lantunkan selepas sembahyang?"
"Bukan sekadar wirid di ujung lidah, Fauzan," jawab Kiai Zulfakar sembari memandang ke sekeliling halaqah santri. "Nama-Nama itu adalah kunci pembuka seluruh misteri takdir, perisai di tengah badai keputusasaan, dan peta bagi jiwa yang tersesat di rimba kezaliman dunia."
Faris menyeka sisa air mata di pipinya dengan ujung lengan baju, lalu memberanikan diri berucap lirih, "Apakah pengenalan itu sanggup mencabut rasa sakit dari hati hamba yang hancur ini, wahai guru mulia?"
Kiai Zulfakar membalas tatapan itu tanpa keraguan sedikit pun. "Ia tidak hanya mencabut duri rasa sakit itu, Nak, melainkan akan mengubah setiap tetes luka pedih menjadi mata air kekuatan batin yang tak terkalahkan bagi siapa pun yang bersedia memahami rahasia agung di balik setiap asma kemuliaan Ilahi Rabbi sekarang juga selamanya."
°˖✧✿✧˖°
Kiai Zulfakar membuka lembaran pertama mushaf tua itu dengan jemari yang tenang. Bau harum minyak misik dan kertas merang berusia ratusan tahun segera menguar lembut, menenangkan ketegangan di udara surau. Beliau menunjuk bait kaligrafi di baris teratas yang disepuh tinta emas murni berkilauan indah.
"Pelajaran pertama kita berakar pada dua nama yang senantiasa mengawali setiap hembusan napas ibadah kita: Ar-Rahman dan Ar-Rahim," sabda Kiai Zulfakar dengan nada lembut yang meresap ke sanubari. "Namun kebanyakan manusia hanya menjadikannya pemanis bibir belaka tanpa pernah menyelami samudra maknanya yang tak bertepi."
Faris tidak sanggup menahan gejolak di dadanya lebih lama lagi. "Maafkan kebodohan hamba, Kiai. Tetapi bagaimana hamba bisa merasakan Ar-Rahim—Maha Penyayang—saat ayah hamba yang renta dan saleh justru dianiaya tanpa belas kasihan oleh para penguasa kampung yang congkak?"
Seluruh santri di ruangan itu menahan napas mendengar keberanian Faris menggugat secara terbuka. Namun Kiai Zulfakar tidak menunjukkan riak kemarahan sama sekali. Beliau justru memandang Faris dengan kelembutan yang semakin dalam.
"Faris, katakan padaku dengan jujur," tanya Kiai Zulfakar sambil membetulkan letak kaca matanya yang berbingkai perak, "jika seorang dokter membedah perut seorang anak kecil dengan pisau bedah yang menyayat daging hingga anak itu menjerit kesakitan berurai air mata, apakah dokter itu sedang membenci sang anak?"
Faris terdiam sesaat, lalu menjawab dengan suara bergetar pelan, "Tentu saja tidak, Kiai. Dokter itu justru sedang membuang racun yang bersarang di dalam tubuhnya agar anak itu tetap hidup selamat."
"Maka demikianlah pemahamanmu tentang Ar-Rahman dan Ar-Rahim yang selama ini keliru," tutur Kiai Zulfakar seraya mengetuk dampar kayu pelan dengan jari telunjuknya. "Ar-Rahman adalah rahmat Allah yang melimpah ruah kepada seluruh makhluk tanpa kecuali, sebagaimana mentari yang menyinari bunga mawar dan semak berduri secara bersamaan. Tetapi Ar-Rahim adalah kasih sayang khusus yang diselubungi di balik tirai rasa sakit dan cobaan bagi hamba-hamba pilihan-Nya."
Faris tersentak, pandangannya terpaku pada mata sang guru yang berkilat hangat dan menenangkan batinnya. "Apakah penderitaan keluarga hamba juga termasuk bentuk kasih sayang itu?"
"Tepat sekali, wahai muridku tercinta," lanjut Kiai Zulfakar dengan tatapan penuh ketulusan mendalam. "Melalui kepedihan inilah Allah sedang membedah kesombongan akalmu, merontokkan ketergantunganmu kepada sesama manusia, agar engkau benar-benar bersimpuh pasrah hanya di hadapan Ar-Rahim. Jika engkau menuntut kasih sayang Tuhan selalu berwujud manisnya madu, engkau tidak akan pernah mengenal obat pahit yang sanggup menyembuhkan penyakit rohanimu dari dalam jiwamu."
Faris terpekur bisu, mencerna untaian hikmah agung itu bagaikan tetesan embun sejuk nan menenteramkan yang menyiram bara api di rongga dadanya.
°˖✧✿✧˖°
Namun ketegangan belum mereda seutuhnya di dada para santri muda itu. Udara malam kian dingin menusuk tulang, dan suara deru angin dari perbukitan terdengar mengguncang dahan-dahan pohon randu di pelataran pesantren.
Fauzan kini mengangkat tangannya dengan kening berkerut dalam. "Kiai, hamba memahami perumpamaan tentang obat dan pisau bedah itu. Tetapi di luar pesantren ini, kenyataan berjalan dengan sangat kejam dan menyakitkan. Orang-orang yang berbuat jahat justru bertambah kaya dan dihormati, sementara orang-orang kecil yang jujur ditindas habis-habisan tanpa pembela. Di manakah wujud keadilan Tuhan yang sering kita dengungkan di atas mimbar ceramah selama ini?"