6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #29

Pelajaran tentang Nama-Nama Allah

Pelajaran tentang Nama-Nama Allah

Kiai Haji Zulfakar Al-Quthuz mulai mengenalkan Asmaul Husna.

°˖✧✿✧˖°

Malam beranjak tenang di kompleks Pondok Pesantren Darul Hikmah, Jawa Timur. Angin pegunungan berembus perlahan, membawa kehangatan malam di dalam majelis ilmu yang penuh dengan keberkahan. Di dalam aula utama surau yang berdinding kayu ukir dan beralaskan karpet hijau tebal, puluhan santri duduk bersila dalam barisan yang rapi. Di hadapan mereka, Kiai Haji Zulfakar Al-Quthuz duduk tawaduk di atas dampar kayu. Di sekeliling beliau, enam santri pilihan—Fadil, Fauzan, Faris, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq—duduk di shaf paling depan dengan kitab catatan serta pena yang siap di genggaman.

Lampu gantung di tengah aula memancarkan pendar cahaya keemasan, menerangi halaman-halaman kitab suci yang terhampar di atas meja lipat kecil para santri. Kiai Zulfakar menyapu pandangan beliau ke seluruh ruangan, memberikan tatapan hangat yang menenangkan setiap jiwa yang hadir.

"Anak-anakku sekalian," buka Kiai Zulfakar dengan suara yang dalam, lembut, namun berwibawa. "Malam ini kita akan mengaji salah satu pondasi paling mendasar dalam mengenal Pencipta kita, yaitu pengenalan terhadap Asmaul Husna."

Fadil menunduk takzim, lalu memberanikan diri mengangkat tangannya pelan. "Sembah sungkem saya, Kiai. Mengapa mengenal Asmaul Husna menjadi pintu utama sebelum kita mempelajari cabang ilmu agama lainnya?"

Kiai Zulfakar tersenyum mendengar pertanyaan Fadil. "Pertanyaan yang sangat bagus, Fadil. Bagaimana mungkin seorang hamba bisa mencintai, menaati, dan menyembah Tuhan-Nya dengan khusyuk, jika ia tidak mengenal sifat dan nama-nama keagungan dari Penciptanya?"

Fauzan membetulkan letak pecinya, lalu menyela dengan nada ingin tahu. "Apakah sekadar menghafal sembilan puluh sembilan nama tersebut sudah cukup bagi seorang santri, Kiai?"

"Menghafal adalah langkah awal yang mulia, Fauzan," jawab Kiai Zulfakar seraya membuka kitab di hadapannya. "Namun, hakikat sejati dari Asmaul Husna adalah menginternalisasikannya—meresapi maknanya ke dalam dada dan mencerminkannya dalam perilaku sehari-hari."

"Bagaimana cara kita membumikan nama-nama yang maha suci itu dalam keseharian kita di pesantren ini, Kiai?" pangkas Faris penuh kesungguhan.

Kiai Zulfakar mengangguk pelan. "Itulah yang akan kita bedah malam ini, Faris. Kita mulai dari nama pertama yang sangat fundamental: Ar-Rahman dan Ar-Rahim."

°˖✧✿✧˖°

Suasana di aula surau mendadak semakin hening. Suara gesekan pena di atas kertas catatan dari Ghalib, Rayyan, dan Yafiq terdengar teratur di antara dengungan embun malam. Kiai Zulfakar membetulkan posisi sorban hijaunya, lalu menatap keenam santri di hadapannya satu per satu.

"Allah memperkenalkan diri-Nya pertama kali dalam kitab suci dengan sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim," tutur Kiai Zulfakar. "Siapa di antara kalian yang bisa menjelaskan perbedaan mendasar dari kedua nama mulia ini?"

Ghalib mengangkat tangan kanannya seraya menundukkan pandangan. "Izin menjawab, Kiai. Setahu saya, Ar-Rahman adalah kasih sayang Allah yang bersifat umum untuk seluruh makhluk di dunia, sedangkan Ar-Rahim adalah kasih sayang khusus untuk orang beriman kelak di akhirat."

"Penjelasan yang cukup tepat, Ghalib," puji Kiai Zulfakar. "Lantas, bagaimana implementasi sifat Ar-Rahman tersebut dalam kehidupan sosial kalian di pesantren ini?"

Rayyan mengacungkan jari penunjuknya. "Apakah itu berarti kita wajib bersikap kasih sayang kepada siapa pun tanpa membeda-bedakan suku, asal-usul, atau tingkatan derajatnya, Kiai?"

"Tepat sekali, Rayyan!" tegas Kiai Zulfakar dengan mata berbinar. "Seorang penuntut ilmu yang dadanya dipenuhi pemahaman Ar-Rahman tidak akan pernah menyimpan rasa benci, sombong, atau merendahkan kawan sesama santri."

Yafiq yang duduk di sebelah Rayyan tampak merenungkan ucapan sang guru, lalu ikut angkat bicara. "Kiai, jika Allah Maha Pengasih, mengapa kadang kita merasakan ujian hidup yang berat dan pahit?"

"Ujian dan musibah juga merupakan bentuk kasih sayang Allah yang tersembunyi, Yafiq," jawab Kiai Zulfakar dengan lembut. "Seperti seorang ibu yang memberikan obat pahit kepada anaknya yang sakit. Pahitnya obat itu bukan karena benci, melainkan demi kesembuhan sang anak."

"Masya Allah..." bisik Yafiq dengan dada yang bergetar haru. "Sungguh kedalaman makna yang luar biasa."

"Maka dari itu," pangkas Kiai Zulfakar, "jangan pernah menilai kebaikan Allah hanya dari kenikmatan lahiriah semata."

°˖✧✿✧˖°

Kiai Zulfakar membalikkan lembaran kitab klasiknya. Beliau menunjuk pada barisan kaligrafi Arab bertuliskan Al-Malik dan Al-Quddus. Beliau memandang keenam santrinya dengan tatapan yang penuh makna tersembunyi.

"Nama berikutnya yang wajib kalian pahami adalah Al-Malik—Maha Raja, Sang Pemilik Kekuasaan—dan Al-Quddus—Maha Suci," jelas Kiai Zulfakar.

Fadil menyimak dengan cermat, lalu bertanya, "Kiai, bagaimana seorang santri seperti kami bisa meneladani sifat Al-Malik sementara kami tidak memiliki kekuasaan apa pun?"

Kiai Zulfakar tersenyum tipis. "Kekuasaan teragung bagi seorang manusia bukan terletak pada mahkota atau takhta, Fadil. Melainkan kekuasaan untuk mengendalikan hawa nafsu dan amarah di dalam jiwanya sendiri."

Fauzan mengangguk-angguk paham. "Berarti, orang yang mampu memimpin dan menguasai dirinya sendiri dari perbuatan maksiat adalah raja sejati menurut konsep Al-Malik?"

"Benar sekali, Fauzan," jawab Kiai Zulfakar. "Dan ketika kamu menguasai dirimu, jaga kebersihan jiwamu sebagaimana makna Al-Quddus. Bersihkan hatimu dari penyakit iri, dengki, dan riya."

Faris mengangkat tangannya. "Kiai, bagaimana jika dalam menimba ilmu ini, kita sering kali merasa tidak fokus karena memikirkan masalah keluarga atau duniawi?"

"Kembalikan hatimu kepada sifat Al-Quddus," tutur Kiai Zulfakar. "Sucikan niatmu kembali. Menuntut ilmu di pesantren ini adalah ibadah yang suci, maka jangan noda ia dengan niat-niat duniawi yang kotor."

Ghalib mencatat setiap kata dari sang guru dengan penuh ketelitian. "Kiai, apakah kebersihan fisik dan kesucian pakaian juga bagian dari pengamalan Al-Quddus?"

"Tentu saja, Ghalib," sahut Kiai Zulfakar. "Kebersihan lahiriah adalah cerminan dari kesucian batiniah. Santri Darul Hikmah harus menjadi teladan dalam kebersihan sarung, peci, hingga kebersihan kamar asramanya."

"Kami siap menjalankan petunjuk Kiai," tegas Rayyan mewakili rekan-rekannya dengan penuh semangat.

Lihat selengkapnya