6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #30

Ar-Rahman

Ar-Rahman

Fadil belajar bahwa Allah adalah Zat Kasih Sayang yang Tak Bertepi.

°˖✧✿✧˖°

Malam beranjak tenang di kompleks Pondok Pesantren Darul Hikmah, Jawa Timur. Angin pegunungan yang dingin dan segar berembus perlahan melewati selasar surau, membawa kehangatan malam di dalam majelis ilmu yang penuh dengan keberkahan. Di dalam aula utama surau yang berdinding kayu ukir jati tua dan beralaskan karpet hijau tebal, puluhan santri duduk bersila dalam barisan yang sangat rapi. Di hadapan mereka, Kiai Haji Zulfakar Al-Quthuz duduk tawaduk di atas dampar kayu yang sedikit meninggi. Di sekeliling beliau, enam santri utama—Fadil, Fauzan, Faris, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq—duduk di shaf paling depan dengan kitab catatan serta pena yang siap di genggaman.

Lampu gantung tembaga di tengah aula memancarkan pendar cahaya keemasan yang hangat, menerangi halaman-halaman kitab suci serta catatan yang terhampar di atas meja lipat kecil para santri. Kiai Zulfakar menyapu pandangan beliau ke seluruh ruangan, memberikan tatapan hangat yang menenangkan setiap jiwa yang hadir. Di sudut ruangan, wewangian kayu gaharu berembus tipis dari pembakar dupa, menciptakan suasana spiritual yang begitu khusyuk dan menyerap ke dalam dada.

"Anak-anakku sekalian," buka Kiai Zulfakar dengan suara yang dalam, lembut, namun amat berwibawa. "Malam ini kita akan mengaji salah satu pondasi paling mendasar dalam mengenal Pencipta kita, yaitu pengenalan terhadap Asmaul Husna, secara khusus membedah nama Ar-Rahman—Kasih Sayang yang Tak Bertepi."

Fadil menunduk takzim, lalu memberanikan diri mengangkat tangannya pelan. "Sembah sungkem saya, Kiai. Mengapa mengenal Asmaul Husna Ar-Rahman menjadi pintu utama sebelum kita mempelajari cabang ilmu agama lainnya?"

Kiai Zulfakar tersenyum mendengar pertanyaan Fadil. "Pertanyaan yang sangat bagus, Fadil. Bagaimana mungkin seorang hamba bisa mencintai, menaati, dan menyembah Tuhan-Nya dengan khusyuk, jika ia tidak mengenal sifat dan kasih sayang dari Penciptanya?"

Fauzan membetulkan letak pecinya yang sedikit miring, lalu menyela dengan nada ingin tahu. "Apakah sekadar menghafal dan menyebut nama Ar-Rahman sudah cukup bagi seorang santri, Kiai?"

"Menghafal adalah langkah awal yang mulia, Fauzan," jawab Kiai Zulfakar seraya membuka kitab di hadapannya. "Namun, hakikat sejati dari Asmaul Husna adalah menginternalisasikannya—meresapi maknanya ke dalam dada dan mencerminkannya dalam perilaku sehari-hari."

"Bagaimana cara kita membumikan nama Ar-Rahman yang maha suci itu dalam keseharian kita di pesantren ini, Kiai?" pangkas Faris penuh kesungguhan.

Kiai Zulfakar mengangguk pelan. "Itulah yang akan kita bedah malam ini, Faris. Kita mulai dari menyadari hal-hal kecil di sekitar kita yang sering kita abaikan."

°˖✧✿✧˖°

Suasana di aula surau mendadak semakin hening dan berwibawa. Suara gesekan pena di atas kertas catatan dari Ghalib, Rayyan, dan Yafiq terdengar teratur di antara dengungan embun malam yang makin menusuk tulang. Kiai Zulfakar membetulkan posisi sorban hijaunya yang menjuntai di bahu, lalu menatap keenam santri di hadapannya satu per satu dengan tatapan mata yang bening.

"Allah memperkenalkan diri-Nya pertama kali dalam kitab suci dengan sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim," tutur Kiai Zulfakar. "Siapa di antara kalian yang bisa menjelaskan perbedaan mendasar dari kedua nama mulia ini?"

Ghalib mengangkat tangan kanannya seraya menundukkan pandangan. "Izin menjawab, Kiai. Setahu saya, Ar-Rahman adalah kasih sayang Allah yang bersifat umum untuk seluruh makhluk di dunia tanpa terkecuali, sedangkan Ar-Rahim adalah kasih sayang khusus untuk orang beriman kelak di akhirat."

"Penjelasan yang cukup tepat, Ghalib," puji Kiai Zulfakar seraya mengangguk setuju. "Lantas, bagaimana kalian melihat implementasi nyata dari sifat Ar-Rahman tersebut dalam kehidupan kalian sehari-hari di pesantren ini?"

Rayyan mengacungkan jari penunjuknya perlahan. "Apakah itu berarti kita wajib bersikap kasih sayang kepada siapa pun tanpa membeda-bedakan suku, asal-usul, atau tingkatan derajatnya, Kiai?"

"Tepat sekali, Rayyan!" tegas Kiai Zulfakar dengan mata berbinar. "Seorang penuntut ilmu yang dadanya dipenuhi pemahaman Ar-Rahman tidak akan pernah menyimpan rasa benci, sombong, atau merendahkan kawan sesama santri."

Yafiq yang duduk di sebelah Rayyan tampak merenungkan ucapan sang guru dengan kening berkerut. Ia lalu ikut angkat bicara. "Kiai, jika Allah Maha Pengasih dengan rahmat yang tak bertepi, mengapa kadang kita sebagai santri masih sering merasa berduka, lelah, atau ditimpa ujian hidup yang berat dan pahit?"

"Ujian dan musibah juga merupakan bentuk kasih sayang Allah yang tersembunyi, Yafiq," jawab Kiai Zulfakar dengan penuh kelembutan. "Seperti seorang ibu yang memberikan obat pahit kepada anaknya yang sedang sakit keras. Pahitnya obat itu bukan karena sang ibu benci, melainkan demi kesembuhan dan kebaikan sang anak."

Fadil terdiam membisu mendengar perumpamaan tersebut. Bayangan tentang kesulitan-kesulitan kecil yang ia alami di pesantren—makanan seadanya, antrean kamar mandi yang panjang, hingga rasa rindu pada keluarga—mendadak melintas di benaknya. Selama ini ia sering menganggap hal-hal itu sebagai beban, bukan sebagai wujud kasih sayang Allah yang sedang menempa jiwanya.

"Masya Allah..." bisik Yafiq dengan dada yang bergetar haru. "Sungguh kedalaman makna yang sangat luar biasa."

"Maka dari itu," pangkas Kiai Zulfakar, "jangan pernah menilai kebaikan Allah hanya dari kenikmatan lahiriah yang menyenangkan nafsu semata. Belajarlah melihat kasih sayang-Nya dalam tiap hembusan napas dan kesempurnaan takdir-Nya."

°˖✧✿✧˖°

Kiai Zulfakar membalikkan lembaran kitab klasiknya yang berwarna kekuningan. Beliau menunjuk pada barisan kaligrafi Arab bertuliskan Al-Malik dan Al-Quddus yang berdampingan dengan Ar-Rahman. Beliau memandang keenam santrinya dengan tatapan yang penuh makna tersembunyi.

"Nama-nama berikutnya yang wajib kalian pahami adalah Al-Malik—Maha Raja, Sang Pemilik Kekuasaan—dan Al-Quddus—Maha Suci," jelas Kiai Zulfakar memecah keheningan.

Fadil menyimak dengan cermat, lalu bertanya, "Kiai, bagaimana seorang santri seperti kami bisa meneladani sifat Al-Malik sementara kami tidak memiliki kekuasaan atau harta apa pun di pesantren ini?"

Kiai Zulfakar tersenyum tipis. "Kekuasaan teragung bagi seorang manusia bukan terletak pada mahkota, takhta, atau banyaknya harta, Fadil. Melainkan kekuasaan untuk mengendalikan hawa nafsu dan amarah di dalam jiwanya sendiri."

Fauzan mengangguk-angguk paham seraya meremas penanya. "Berarti, orang yang mampu memimpin dan menguasai dirinya sendiri dari perbuatan maksiat adalah raja sejati menurut konsep Al-Malik?"

"Benar sekali, Fauzan," jawab Kiai Zulfakar. "Dan ketika kamu menguasai dirimu, jaga kebersihan jiwamu sebagaimana makna Al-Quddus. Bersihkan hatimu dari penyakit iri, dengki, dan riya yang sanggup mengikis habis pahala amalanmu."

Faris mengangkat tangannya. "Kiai, bagaimana jika dalam menimba ilmu ini, kita sering kali merasa tidak fokus karena memikirkan masalah keluarga atau urusan duniawi yang mengganggu pikiran?"

"Kembalikan hatimu kepada sifat Al-Quddus," tutur Kiai Zulfakar. "Sucikan niatmu kembali. Menuntut ilmu di Pesantren Darul Hikmah ini adalah ibadah yang suci, maka jangan noda ia dengan niat-niat duniawi yang kotor dan fana."

Ghalib mencatat setiap kata dari sang guru dengan penuh ketelitian di atas kertas bergarisnya. "Kiai, apakah kebersihan fisik, kerapian kamar, dan kesucian pakaian juga bagian dari pengamalan Al-Quddus?"

"Tentu saja, Ghalib," sahut Kiai Zulfakar. "Kebersihan lahiriah adalah cerminan langsung dari kesucian batiniah. Santri Darul Hikmah harus menjadi teladan dalam kebersihan sarung, peci, hingga kebersihan lingkungan di sekitarnya."

Lihat selengkapnya