Ar-Razzaq
Fadil belajar bahwa Allah adalah Zat Pemberi Rezeki.
°˖✧✿✧˖°
Pagi itu pesantren masih diselimuti udara dingin ketika Fadil keluar dari asrama sambil membawa sapu lidi.
Langit belum sepenuhnya terang. Cahaya matahari baru mulai menyentuh pucuk-pucuk pohon di halaman pesantren. Embun masih menempel di rumput, sementara suara beberapa santri yang sedang membaca Al-Qur'an terdengar dari serambi masjid.
Fadil berhenti sejenak.
Ia memandang halaman yang akan dibersihkannya.
Dulu, sebelum datang ke pesantren, pekerjaan seperti ini mungkin tidak pernah terpikirkan olehnya. Di rumah, meskipun keluarganya hidup sederhana, ia masih memiliki kenyamanan yang tidak disadarinya. Ada ibu yang menyiapkan makanan, ada ayah yang bekerja mencari nafkah, dan ada rumah yang selalu menjadi tempatnya kembali.
Sekarang ia harus belajar melakukan semuanya sendiri.
“Fadil!”
Fadil menoleh.
Rasyid berjalan mendekat sambil membawa dua ember.
“Sudah mulai?”
“Belum. Baru mau.”
Rasyid meletakkan ember.
“Kalau begitu kita bersihkan halaman bagian depan bersama.”
Fadil mengangguk.
Mereka mulai menyapu.
Beberapa menit kemudian, seorang santri kecil datang membawa kabar.
“Fadil, nanti setelah mengaji Kiai memanggilmu.”
Fadil menghentikan gerakannya.
“Kiai?”
“Iya.”
“Ada apa?”
“Tidak tahu.”
Santri itu pergi.
Rasyid tersenyum.
“Kamu sering sekali dipanggil Kiai akhir-akhir ini.”
Fadil tertawa kecil.
“Jangan membuatku semakin penasaran.”
“Siapa tahu Kiai mau menguji kamu.”
“Kalau begitu aku harus siap.”
Setelah halaman selesai dibersihkan, Fadil menuju masjid. Seusai pengajian pagi, ia langsung berjalan ke rumah Kiai Zulfakar Al-Quthuz.
“Assalamu'alaikum, Kiai.”
“Wa'alaikumussalam. Masuklah, Fadil.”
Fadil duduk bersila.
Kiai Zulfakar sedang memegang sebuah kitab.
“Kamu tahu kenapa saya memanggilmu?”
“Belum, Kiai.”
Kiai menutup kitab.
“Bagaimana menurutmu tentang rezeki?”
Fadil berpikir sejenak.
“Rezeki adalah sesuatu yang Allah berikan kepada manusia.”
“Apakah rezeki hanya uang?”
Fadil menggeleng.
“Tidak, Kiai. Kesehatan, ilmu, keluarga, waktu, dan kesempatan juga rezeki.”
Kiai tersenyum.
“Jawabanmu benar. Tapi apakah kamu benar-benar memahaminya?”
Fadil terdiam.
Kiai mengambil sebuah kitab kecil dari meja.
“Hari ini kita belajar satu nama Allah.”
Fadil memperhatikan.
Kiai membuka halaman kitab.
“Ar-Razzaq.”
Fadil mengulanginya perlahan.
“Ar-Razzaq.”
“Artinya?”
“Yang Maha Pemberi Rezeki.”
Kiai mengangguk.
“Allah bukan sekadar memberikan rezeki. Allah adalah sumber seluruh rezeki.”
Fadil mendengarkan dengan saksama.
“Lalu,” kata Kiai, “saya ingin melihat apakah kamu mampu memahami nama Allah ini bukan hanya melalui kitab, tetapi melalui kehidupan.”
Fadil menatap gurunya.
“Bagaimana caranya, Kiai?”
Kiai tersenyum.
“Mulailah dengan satu pertanyaan.”
“Apa?”
“Kalau suatu hari ikhtiar kamu tidak menghasilkan apa yang kamu harapkan, kepada siapa kamu akan menggantungkan harapanmu?”
Fadil terdiam cukup lama.
Pertanyaan itu sederhana.
Namun entah mengapa, terasa sangat berat.
°˖✧✿✧˖° Titik Plot Pertama — 650–1.050 kata °˖✧✿✧˖°
Fadil kembali ke asrama dengan pikiran yang penuh.
Sepanjang perjalanan, kalimat Kiai terus terngiang.
Kalau ikhtiarmu tidak menghasilkan apa yang kamu harapkan, kepada siapa kamu akan menggantungkan harapanmu?
Ia duduk di samping Rasyid.
“Ada apa?”
Fadil menghela napas.
“Kiai mengajariku tentang Ar-Razzaq.”
“Ar-Razzaq?”
“Allah Yang Maha Pemberi Rezeki.”
Rasyid mengangguk.
“Lalu?”
“Kiai bertanya, kalau usaha kita gagal, kepada siapa kita menggantungkan harapan.”
Rasyid tersenyum.
“Bukankah jawabannya Allah?”
“Benar.”
“Lalu kenapa bingung?”
“Karena mengatakan Allah adalah pemberi rezeki lebih mudah daripada benar-benar mempercayainya ketika kebutuhan datang.”
Rasyid terdiam.
Fadil melanjutkan,
“Kalau kita tidak punya uang, kita takut. Kalau makanan sedikit, kita khawatir. Kalau pekerjaan tidak ada, kita panik. Kadang kita tahu Allah memberi rezeki, tetapi hati kita tetap takut.”
Rasyid mengangguk pelan.
“Berarti yang harus dilatih bukan hanya ucapan.”
“Tapi hati.”
“Betul.”
Hari itu Fadil mulai memperhatikan kehidupan para santri.
Ada santri yang mendapatkan kiriman makanan dari rumah.
Ada yang tidak.
Ada yang memiliki uang saku lebih.
Ada yang harus sangat berhati-hati menggunakan uangnya.
Ada pula santri yang hampir tidak pernah menerima kiriman.
Namun mereka semua tetap makan.
Tetap belajar.
Tetap tertawa.
Fadil mulai menyadari bahwa rezeki memiliki bentuk yang sangat luas.
Saat makan siang, ia melihat seorang santri bernama Salman hanya mengambil nasi sedikit.
Fadil memperhatikannya.
“Salman, kenapa sedikit?”
Salman tersenyum.
“Aku sudah kenyang.”
Fadil tahu jawaban itu tidak sepenuhnya benar.
Ia mengambil sebagian lauknya dan meletakkannya di piring Salman.
“Makan.”
Salman menggeleng.
“Jangan. Itu punyamu.”
“Allah yang memberi.”
Salman menatap Fadil.
“Kalau kamu berbagi, nanti kamu kurang.”
Fadil tersenyum.
“Kalau rezeki hanya diukur dari apa yang ada di piring, mungkin benar.”
“Lalu?”
“Kalau rezeki adalah apa yang Allah tetapkan, aku tidak perlu takut kehilangan sesuatu yang memang bukan milikku.”
Salman terdiam.
Kemudian tersenyum.
“Terima kasih.”
Percakapan sederhana itu terus teringat oleh Fadil.
Malamnya, ia kembali membuka catatan.
Ia menulis satu kalimat:
Allah Ar-Razzaq. Aku hanya penerima.
Kemudian ia berhenti.
Ia menambahkan:
Tetapi aku tetap wajib berusaha.
Ia menatap tulisan itu.
Ada dua hal yang mulai ia pahami.
Tawakal bukan berarti duduk menunggu.
Ikhtiar juga bukan berarti merasa dirinya sendiri yang menentukan hasil.
Manusia berjalan.
Allah menentukan ke mana jalan itu berakhir.
°˖✧✿✧˖°
Beberapa hari kemudian, pesantren mendapat kabar bahwa persediaan bahan makanan untuk dapur mulai menipis.
Pengurus dapur terlihat sibuk menghitung bahan.
Fadil kebetulan sedang membantu membawa karung beras.
“Mas, berasnya tinggal berapa?”
Seorang pengurus menghela napas.
“Tidak banyak.”
“Cukup sampai kapan?”
“Mungkin dua atau tiga hari.”
Fadil terdiam.
“Belum ada kiriman?”
“Belum.”
Kabar itu perlahan diketahui para santri.
Tidak ada yang panik, tetapi suasana menjadi berbeda.
Malam itu Fadil melihat beberapa pengurus berbicara serius.
Rasyid duduk di sebelahnya.
“Fadil.”
“Iya?”
“Kalau beras habis bagaimana?”
Fadil tersenyum.
“Ya cari.”
“Kalau belum dapat?”
“Berdoa.”
“Kalau tetap belum dapat?”
Fadil terdiam.
Pertanyaan itu justru membuatnya mengingat pelajaran Kiai.
Ar-Razzaq.
Keesokan paginya, Fadil bersama beberapa santri diminta membantu menghubungi pemasok bahan makanan.
Mereka pergi ke pasar terdekat.
Namun harga beras sedang naik.
Pedagang pertama tidak dapat memberikan harga yang sesuai kemampuan pesantren.
Pedagang kedua juga demikian.
Pedagang ketiga bahkan berkata,
“Maaf, stok saya juga terbatas.”
Fadil mulai merasa cemas.
Dalam perjalanan pulang, salah seorang santri mengeluh.
“Bagaimana ini?”
Fadil menjawab,
“Kita belum selesai berusaha.”
“Sudah tiga tempat.”
“Berarti baru tiga tempat.”
Santri itu menatap Fadil.
“Kamu tidak takut?”
Fadil tersenyum.
“Takut.”
“Lalu kenapa tetap tenang?”
“Karena takut tidak boleh membuat kita berhenti berusaha.”
Mereka kembali ke pesantren.
Sesampainya di halaman, Fadil melihat Kiai Zulfakar sedang berdiri.
Kiai memandang mereka.
“Bagaimana?”
Fadil menjawab jujur.
“Belum berhasil, Kiai.”
“Kenapa?”
“Harga terlalu tinggi.”
“Lalu?”
“Kami akan mencoba lagi.”
Kiai mengangguk.
“Bagus.”
Fadil memberanikan diri bertanya.
“Kiai, apakah ini yang dimaksud Ar-Razzaq?”
Kiai tersenyum.
“Bisa jadi.”
“Maksudnya?”
“Kamu sedang belajar bahwa rezeki tidak selalu datang melalui pintu yang kamu pikirkan.”
Fadil terdiam.
Kiai melanjutkan,
“Jangan mengira karena Allah Ar-Razzaq maka manusia tidak perlu berusaha.”
“Iya.”
“Dan jangan pula mengira karena manusia berusaha maka manusia yang menentukan hasil.”
Fadil mengangguk.