6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #31

Ketika Rezeki Terasa Sempit

Ketika Rezeki Terasa Sempit

Kabar dari rumah membuat Fadil kembali memikirkan kesulitan orang tuanya.

°˖✧✿✧˖°

Surat itu datang di sore hari, diantar oleh seorang kurir desa yang biasa melintas di jalan depan pesantren. Amplopnya lusuh, terbuat dari kertas cokelat bekas bungkus gula, dengan nama Fadil Ar Rimbai tertulis di sudut kanan atas menggunakan tinta hitam yang sudah mulai pudar. Fadil menerimanya dengan tangan gemetar. Sudah tiga bulan ia tidak menerima kabar dari rumah. Sudah tiga bulan pula ia tidak pulang, menahan rindu demi mengejar hafalan dan menyelesaikan bab-bab kitab yang belum tuntas.

Ia duduk di beranda asrama timur, di bangku kayu yang sudah ia tempati sejak pertama kali datang ke pesantren ini. Angin sore berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dan bunga sawo dari halaman depan. Beberapa santri lalu-lalang, ada yang menuju masjid, ada yang menuju dapur. Tidak ada yang memperhatikan Fadil yang sedang menatap amplop di tangannya dengan perasaan campur aduk.

Akhirnya, ia membuka amplop itu. Di dalamnya, ada selembar kertas tipis yang dilipat menjadi empat. Tulisan di atasnya adalah tulisan tangan ibunya, Bu Siti Zubaidah. Tulisannya rapi, meskipun ada beberapa huruf yang tampak goyah, seperti ditulis oleh tangan yang lelah. Fadil membaca surat itu pelan-pelan, kata demi kata, seolah setiap kalimat adalah beban yang harus ia tanggung.

"Anakku Fadil yang kami banggakan,

Semoga Allah selalu menjaga kamu di sana. Kami di rumah baik-baik saja, meskipun akhir-akhir ini hujan jarang turun. Sawah kami mulai mengering. Padi yang ayah tanam bulan lalu banyak yang tidak tumbuh. Ayah mencoba mencari air dari sungai kecil di sebelah utara, tetapi sungai itu pun mulai surut. Ayah sekarang pergi ke pasar setiap pagi untuk membantu orang berjualan, kadang mengangkat barang, kadang membersihkan kios. Hasilnya tidak seberapa, tapi cukup untuk makan sehari-hari.

Kami tidak ingin kamu khawatir. Kami hanya ingin kamu tahu bahwa kami selalu mendoakanmu. Jangan lupa shalat, jangan lupa makan, jangan lupa istirahat. Kami rindu padamu, Nak. Tapi kami tahu kamu sedang mengejar sesuatu yang lebih besar dari sekadar rindu.

Salam dari ayah,

Bu Siti Zubaidah"

Fadil menutup surat itu. Tangannya gemetar. Matanya panas. Ia menatap langit sore yang berwarna jingga keemasan, tetapi tidak melihat keindahannya. Yang ia lihat hanyalah sawah-sawah kering di desanya. Yang ia dengar hanyalah suara ayahnya, Pak Abdul Jabbar, yang biasa membangunkan dia sebelum subuh dengan suara berat dan penuh kasih.

°˖✧✿✧˖°

Fadil memasukkan surat itu ke dalam saku bajunya. Ia duduk terdiam selama beberapa menit, mencoba menenangkan pikiran yang tiba-tiba berputar liar. Ia teringat ayahnya yang selalu bangun paling awal, yang selalu tersenyum meskipun tubuhnya kurus dan punggungnya mulai bungkuk. Ia teringat ibunya yang selalu menyisihkan nasi terakhir untuk anaknya, meskipun ia sendiri belum makan.

"Fadil, kamu belum makan?"

Rahmat muncul dari balik pintu asrama. Wajahnya yang biasanya ceria kini tampak khawatir. Ia mendekat dan duduk di samping Fadil.

"Kamu dari tadi duduk di sini. Aku panggil dari tadi tapi kamu tidak dengar."

Fadil menoleh. Ia mencoba tersenyum, tetapi gagal. "Aku... baru dapat surat dari rumah."

Rahmat menatap amplop lusuh di tangan Fadil. "Ada apa? Ada kabar buruk?"

"Tidak buruk," jawab Fadil pelan. "Tapi tidak baik juga. Sawah kami kering. Ayah sekarang kerja di pasar. Ibuku bilang mereka baik-baik saja, tapi aku tahu mereka sedang kesulitan."

Rahmat terdiam. Ia menepuk pundak Fadil dengan pelan. "Kamu mau pulang?"

Fadil menggeleng. "Belum. Aku belum bisa pulang. Ujian akhir sebentar lagi. Kalau aku pulang sekarang, aku akan ketinggalan banyak hal."

"Tapi kamu juga tidak bisa tenang kalau terus memikirkan mereka."

Fadil menunduk. Ia tahu Rahmat benar. Ia tahu bahwa pikirannya akan terbelah antara pesantren dan rumah. Ia tahu bahwa hatinya akan selalu gelisah.

°˖✧✿✧˖°

Malam itu, Fadil tidak bisa tidur. Ia berbaring di dipan, menatap langit-langit yang gelap. Di sebelahnya, Rahmat dan Sukron sudah tidur pulas. Fadil mendengar suara jangkrik di luar, sesekali suara sandal menyeret di lorong. Ia memikirkan ayahnya yang sekarang mengangkat barang di pasar. Ia memikirkan ibunya yang mungkin sedang menahan lapar agar adik-adiknya bisa makan.

Ia bangkit dari dipan. Ia mengenakan sandal, lalu keluar kamar. Udara malam dingin. Ia berjalan menuju masjid, tempat yang selalu ia tuju ketika hatinya gelisah. Di dalam masjid, lampu-lampu masih menyala. Beberapa santri sedang membaca Al-Qur'an, tetapi sebagian besar sudah pulang ke asrama. Fadil duduk di sudut masjid, dekat mimbar, lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Ya Allah, bisiknya dalam hati. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku ingin membantu orang tuaku, tapi aku tidak punya apa-apa. Aku ingin pulang, tapi aku takut mengecewakan mereka. Aku ingin terus belajar, tapi pikiranku terbelah. Beri aku petunjuk, Ya Allah.

Ia duduk di sana selama hampir satu jam. Air matanya mengalir tanpa ia sadari. Ia merasa seperti anak kecil yang tersesat di tengah hutan. Ia merasa tidak berdaya.

Lihat selengkapnya