Menolong Tanpa Dilihat
Ia membantu seorang santri yang sedang kesulitan.
°˖✧✿✧˖°
Pagi itu, hujan turun sejak sebelum azan Subuh. Atap-atap kamar santri di Pondok Pesantren Darul Kikmag, Jawa Timur, berderit diterpa angin. Air mengalir dari talang yang penuh daun, membentuk tirai tipis di sepanjang halaman. Tanah di antara asrama putra dan musala berubah menjadi lumpur.
Fadil terbangun karena suara benda jatuh.
“Duk!”
Ia membuka mata. Di sampingnya, Raka masih meringkuk di balik sarung. Juna tidur dengan mulut sedikit terbuka, sedangkan Ilham sudah duduk sambil meraba-raba mencari kopiahnya.
“Apa itu?” bisik Raka.
“Entahlah,” jawab Fadil. Ia bangkit dan mengambil lampu kecil di dekat bantal. “Kalian dengar?”
“Kalau itu suara perut Juna, aku tidak mau ikut campur,” gumam Ilham.
Juna membuka mata. “Aku tidak lapar.”
“Kau bahkan belum sadar,” kata Raka.
Fadil tidak ikut tertawa. Suara itu terdengar lagi, kali ini disusul bunyi sesuatu bergeser dari arah lorong belakang. Lorong tersebut jarang digunakan karena menghubungkan asrama lama dengan gudang kitab. Sejak beberapa bulan terakhir, bagian itu ditutup sementara akibat dindingnya lembap.
“Kita lihat sebentar,” kata Fadil.
Raka langsung menggeleng. “Sebentar menurutmu bisa berubah menjadi satu jam. Nanti kalau ketahuan keluar sebelum Subuh, kita semua dihukum.”
“Kalau ada yang terluka?”
Tidak ada yang menjawab.
Fadil menyelipkan lampu ke dalam saku. Ia membuka pintu perlahan, lalu melangkah keluar. Raka, Juna, dan Ilham akhirnya menyusul. Mereka berjalan menunduk agar tidak menarik perhatian pengurus. Suara hujan menutup langkah kaki mereka.
Ketika sampai di dekat gudang kitab, Fadil mendengar suara napas tersengal.
“Siapa di sana?” tanyanya.
Tidak ada jawaban.
“Jangan takut. Kami santri dari kamar sebelah.”
Dari balik tumpukan papan, muncul wajah pucat seorang santri kecil. Usianya sekitar tiga belas tahun. Fadil mengenalinya sebagai Rafi, santri baru yang baru dua pekan tinggal di Darul Kikmag.
“Rafi?” Fadil mendekat. “Kamu sedang apa di sini?”
Rafi menekan kedua tangannya ke dada. Celananya basah sampai lutut. Di belakang tubuhnya terdapat lubang kecil di lantai gudang. Salah satu papan penutup tampak patah.
“Aku jatuh,” katanya dengan suara bergetar.
“Jatuh ke mana?” tanya Juna.
“Ke ruang bawah gudang. Aku ingin mengambil kitabku.”
Raka mengarahkan lampu. Di bawah lubang itu terdapat ruangan sempit bekas tempat menyimpan beras. Lantainya lebih rendah hampir dua meter dari permukaan gudang. Rafi rupanya turun melalui celah untuk mengambil sebuah kitab yang jatuh.
“Kenapa tidak memanggil pengurus?” tanya Ilham.
Rafi menunduk. “Kitab itu bukan milikku.”
Fadil berjongkok. “Maksudmu?”
“Kitab milik Ustaz Hamdan. Aku meminjamnya untuk menghafal. Tadi malam aku membawanya ke sini karena melihat ada bagian yang sobek. Aku ingin memperbaikinya. Tapi kitab itu jatuh ke bawah. Kalau ketahuan, aku pasti dianggap merusak.”
“Lalu kamu turun sendirian?” Raka mulai panik.
Rafi mengangguk. “Aku bisa naik tadi, tapi papan ini patah. Kakiku sempat terjepit.”
Fadil memeriksa kaki Rafi. Tidak ada luka besar, tetapi pergelangan kakinya tampak bengkak. Rafi berusaha berdiri, namun langsung meringis.
“Jangan dipaksa,” kata Fadil. “Kita panggil pengurus.”
“Jangan!”
Suara Rafi terdengar lebih keras. Ia segera menoleh ke arah pintu.
“Kalau pengurus tahu, aku akan disuruh pulang,” katanya. “Aku baru saja menerima surat peringatan karena belum lancar membaca kitab. Kalau sekarang ditambah merusak kitab ustaz, aku pasti dianggap tidak bisa menjaga amanah.”
“Itu bukan alasan untuk membiarkan kakimu sakit,” ujar Fadil.
Rafi menggigit bibir. “Aku hanya ingin memperbaikinya sebelum pelajaran pagi.”
Hujan semakin deras. Air mulai merembes masuk melalui celah dinding gudang. Fadil melihat sebuah tali jemuran tergantung di dekat pintu. Ia mengambilnya, lalu mengikat salah satu ujungnya pada tiang kayu yang kokoh.
“Kita keluarkan dia sekarang,” katanya.
Raka menatapnya. “Kalau tali itu putus?”
“Jangan biarkan putus. Pegang bersama-sama.”
“Aku akan memanggil ustaz,” kata Ilham.
“Jangan dulu,” jawab Rafi cepat.
Fadil menatapnya. “Rafi, menolongmu tidak berarti menyembunyikan keadaanmu. Tetapi kalau kita bisa mengeluarkanmu dengan aman, kita akan membawamu ke kamar dan memanggil pengurus setelah itu.”
Rafi diam.
“Kau mau terus duduk di bawah sampai air masuk?” tanya Fadil.
Rafi memandang genangan kecil yang mulai terbentuk di sekitar kakinya. Wajahnya semakin pucat.
“Aku mau,” katanya pelan. “Tapi tolong jangan beri tahu siapa pun bahwa aku menangis.”
Juna menghela napas. “Kami tidak akan mengatakannya.”
Fadil menurunkan tali. “Pegang kuat-kuat. Aku turun.”
“Kamu juga bisa jatuh,” kata Raka.
“Kalau begitu, pegang talinya lebih erat.”
Fadil turun perlahan ke ruang bawah. Kakinya menyentuh lantai yang licin. Ia membantu Rafi mengikatkan tali di pinggang, lalu memberi aba-aba kepada teman-temannya.
“Satu, dua, tiga!”
Raka, Juna, dan Ilham menarik bersama-sama. Fadil menopang tubuh Rafi dari bawah. Beberapa kali kaki Rafi tergelincir, tetapi akhirnya mereka berhasil mengangkatnya ke permukaan.
Begitu keluar, Rafi langsung duduk bersandar pada dinding. Ia menahan air mata sambil memeluk kitab yang ditemukan Fadil di lantai bawah.
“Kitabnya masih ada,” katanya.
“Kitabnya bisa diperbaiki,” jawab Fadil. “Kakimu lebih penting.”
Dari kejauhan, terdengar suara kentungan kecil tanda santri harus bersiap ke musala. Fadil menoleh kepada teman-temannya.
“Kita harus segera kembali.”
Raka memandang Rafi. “Dia tidak mungkin berjalan sendiri.”
Fadil memegang bahu Rafi. “Aku antar ke kamar mandi belakang. Setelah itu kita bawa ke ruang kesehatan.”
Rafi menatap Fadil dengan cemas. “Kak, jangan biarkan mereka tahu.”
Fadil mengangguk. “Aku tidak akan membiarkanmu menghadapi ini sendirian.”
Di luar, hujan belum berhenti. Di dalam gudang yang gelap, Fadil belum menyadari bahwa pertolongan kecil itu akan menguji keberanian, persahabatan, dan kejujurannya di hadapan seluruh pondok.
°˖✧✿✧˖°
Fadil membawa Rafi melalui pintu samping menuju ruang kesehatan. Raka berjalan di depan untuk memastikan tidak ada pengurus yang melihat, sedangkan Juna dan Ilham membawa kitab yang basah. Mereka baru saja melewati dapur ketika suara seseorang menghentikan langkah.
“Kalian dari mana?”
Mereka menoleh. Ustaz Hamdan berdiri di bawah teras sambil membawa payung. Jubahnya sedikit basah, mungkin baru datang dari rumah pengasuh.
Rafi langsung menunduk.
Fadil menjawab, “Kami menemukan Rafi di belakang gudang, Ustaz.”
“Menemukan?” Ustaz Hamdan memandang kaki Rafi. “Apa yang terjadi?”
Raka membuka mulut, tetapi Fadil lebih dulu berkata, “Kakinya terkilir. Kami akan membawanya ke ruang kesehatan.”
Ustaz Hamdan mengambil lampu dari tangan Fadil. “Kenapa kitab saya ada di tangan Juna?”
Tidak seorang pun menjawab.
“Siapa yang membawa kitab itu ke gudang?”
Rafi mengangkat wajah. “Saya, Ustaz.”
“Kenapa?”
“Saya ingin memperbaiki bagian yang sobek.”
Ustaz Hamdan membuka kitab tersebut. Beberapa halaman terlihat bergelombang terkena air. Sampulnya juga terlepas di salah satu sisi.
Rafi menunduk semakin dalam. “Maafkan saya.”
Ustaz Hamdan memandangnya cukup lama. “Kau meminta izin?”
“Belum.”
“Lalu kau masuk ke gudang yang ditutup?”
“Ya.”
“Dan turun ke ruang bawah sendirian?”
Rafi mengangguk.
“Kalau kakimu lebih parah, siapa yang akan bertanggung jawab?”
Rafi tidak menjawab. Matanya mulai berkaca-kaca.
Fadil merasa tidak tahan melihatnya. “Ustaz, Rafi memang salah karena tidak meminta izin, tetapi dia tidak bermaksud merusak kitab. Dia hanya takut dimarahi karena halaman yang sobek.”
Ustaz Hamdan memandang Fadil. “Kau ikut turun ke ruang bawah?”
“Ya.”
“Siapa yang menyuruhmu?”
“Tidak ada.”
“Kenapa kau melakukannya?”
Fadil sempat terdiam. “Karena Rafi tidak bisa keluar sendiri.”
Ustaz Hamdan menghela napas. “Baik. Bawa dia ke ruang kesehatan. Setelah salat Subuh, kalian semua datang ke kantor saya.”
Raka berbisik, “Semua?”
“Semua yang berada di gudang,” jawab Ustaz Hamdan.
Di ruang kesehatan, Rafi dibaringkan. Ustaz Hamdan memeriksa kakinya dan meminta Ilham mengambil kain kompres. Fadil berdiri di sudut ruangan, memikirkan panggilan ke kantor setelah salat.
“Aku akan mendapat hukuman,” kata Rafi.
“Belum tentu,” jawab Fadil.
“Aku masuk gudang tanpa izin, merusak kitab, dan membuat kalian ikut terkena masalah.”
“Kau tidak membuat kami ikut terkena masalah. Kami memilih membantumu.”
“Kalau kalian tidak datang, aku mungkin masih di bawah.”
Juna duduk di sisi ranjang. “Kalau kami tidak datang, aku juga tidak bisa tidur lagi. Suara jatuhnya terlalu keras.”
Ilham tersenyum. “Aku ikut karena Juna ikut. Kalau sendirian, aku pasti kembali tidur.”
Raka menatap Fadil. “Masalahnya, kita semua akan ditanya. Jangan ada yang berbohong.”
Fadil mengangguk. “Tidak ada yang perlu disembunyikan.”
Rafi memejamkan mata. “Tapi kalau aku dikeluarkan?”
Ustaz Hamdan yang sedang membalut kaki Rafi menjawab, “Di Darul Kikmag, kesalahan tidak langsung membuat seseorang dikeluarkan. Namun kesalahan yang disembunyikan bisa menjadi lebih besar.”
Rafi menelan ludah. “Saya minta maaf, Ustaz.”
“Mintalah maaf setelah kau mengerti kesalahanmu.”
“Saya mengerti.”
“Benarkah?”
Rafi menatap kitab yang diletakkan di meja. “Saya seharusnya meminta izin. Saya juga seharusnya tidak turun sendirian.”
“Bagus. Sekarang istirahat.”
Setelah salat Subuh, Fadil, Raka, Juna, dan Ilham berdiri di depan kantor Ustaz Hamdan. Rafi duduk di kursi roda kecil yang dipinjam dari ruang kesehatan. Beberapa santri yang lewat memandangi mereka. Kabar tentang kejadian di gudang mulai beredar.
“Katanya ada yang membobol gudang,” bisik seorang santri.
“Katanya kitab ustaz dicuri.”
“Katanya Fadil yang menyuruh Rafi masuk.”
Fadil mendengar semuanya, tetapi tidak menanggapi. Ia hanya menatap pintu kantor. Ketika pintu terbuka, Ustaz Hamdan mempersilakan mereka masuk.
“Ceritakan dari awal,” kata beliau.
Rafi menatap Fadil. “Saya yang bercerita?”
“Kau yang memulai kesalahan. Maka kau juga yang harus memulai kejujuran.”
Rafi mengangguk, lalu menceritakan semuanya. Suaranya bergetar, tetapi ia tidak menyembunyikan satu pun bagian. Ia mengakui mengambil kitab tanpa izin, masuk ke gudang, turun ke ruang bawah, dan meminta bantuan Fadil agar kejadian itu tidak diketahui.
Setelah selesai, ruangan menjadi sunyi.
Ustaz Hamdan menatap Fadil. “Apakah benar Rafi meminta kalian merahasiakan kejadian ini?”
“Benar,” jawab Fadil.
“Dan apakah kau berjanji menyembunyikannya?”
Fadil memandang Rafi, lalu menunduk. “Saya berjanji tidak membuatnya menghadapi ketakutan itu sendirian. Saya tidak bermaksud berbohong kepada ustaz.”
Ustaz Hamdan menyandarkan tubuh ke kursi. “Itu jawaban yang berbeda.”
Fadil tidak tahu apakah itu pujian atau teguran.
°˖✧✿✧˖°
Ustaz Hamdan tidak memberikan hukuman saat itu. Beliau hanya meminta Rafi membersihkan gudang setelah kakinya pulih, sedangkan Fadil dan teman-temannya diminta membantu memperbaiki papan lantai serta mengeringkan kitab.
“Apakah itu saja?” tanya Juna ketika mereka keluar kantor.
“Menurutmu kurang?” jawab Raka.
“Aku hanya heran. Biasanya kalau ada yang masuk gudang tanpa izin, hukumannya lebih berat.”
Ilham mengangkat kitab yang masih basah. “Mungkin karena Rafi sudah jujur.”
Fadil tidak ikut bicara. Ia melihat beberapa santri di dekat sumur berbisik-bisik sambil memandang ke arahnya. Salah satunya adalah Bima, santri senior yang dikenal suka membuat kesimpulan sebelum mengetahui cerita sebenarnya.
“Ada apa?” tanya Raka.
“Tidak ada,” jawab Fadil.
Bima mendekat. “Kalian memang hebat. Bisa keluar sebelum Subuh, masuk gudang, lalu membuat Rafi seolah-olah korban.”
Raka mengerutkan dahi. “Apa maksudmu?”
“Aku dengar Fadil yang menyuruh Rafi mengambil kitab. Katanya Fadil ingin memakai kitab itu untuk menyalin catatan, tapi tidak mau ketahuan.”
“Itu tidak benar,” kata Juna.
“Kalau tidak benar, kenapa Fadil diam?”
Fadil menatap Bima. “Aku diam karena tidak ingin memperpanjang cerita yang tidak kau ketahui.”
“Berarti kau tidak membantah.”
“Tidak semua ucapan harus dibantah.”
Bima tertawa kecil. “Jawaban orang yang menyembunyikan sesuatu.”
Rafi yang duduk di kursi roda terlihat semakin gelisah. Fadil segera mendorong kursi itu menuju ruang kesehatan. Namun sejak saat itu, kabar tersebut menyebar lebih cepat. Beberapa santri mulai menganggap Fadil sebagai orang yang membuat Rafi melanggar aturan.
Saat jam makan siang, Raka meletakkan piringnya dengan keras.
“Ini keterlaluan,” katanya. “Aku akan mendatangi Bima.”
“Jangan,” ujar Fadil.
“Dia menuduhmu.”
“Kalau kau mendatanginya dengan marah, dia akan menganggap tuduhannya benar.”
“Jadi kita diam saja?”
“Kita tidak diam. Kita bekerja sesuai perintah ustaz.”
Ilham menyendok sayur. “Aku tidak mengerti. Bukankah yang penting Rafi sudah selamat?”
“Tidak semua orang melihat keselamatan sebagai hal terpenting,” kata Fadil. “Ada yang lebih suka cerita yang terdengar menarik.”
Juna memandangnya. “Kau merasa terganggu?”
“Ya.”
“Marah?”
“Ya.”
“Lalu kenapa wajahmu tenang?”
“Karena kalau wajahku ikut marah, masalahnya menjadi dua kali lebih besar.”
Sore harinya, Fadil dan teman-temannya membersihkan gudang. Rafi tetap berada di ruang kesehatan karena kakinya belum boleh digunakan. Fadil menemukan beberapa papan lapuk dan serpihan kayu di dekat lubang.
Raka mengangkat salah satu papan. “Lihat ini.”
Di bawah papan terdapat bekas garis hitam seperti goresan arang. Bentuknya menyerupai tanda panah menuju sisi belakang gudang.
“Apa itu?” tanya Ilham.
Fadil berjongkok. “Sepertinya bukan goresan biasa.”
Juna memeriksa dinding. “Di sana ada celah.”
Mereka menggeser karung-karung lama. Di baliknya terdapat pintu kecil yang tertutup papan. Pintu itu tidak tercantum dalam denah gudang.
“Jangan dibuka,” kata Raka.
“Kenapa?” tanya Ilham.
“Karena pengalaman tadi pagi belum cukup?”
Fadil menyentuh papan penutup. Papan itu tampak baru dipasang, berbeda dari kayu lain yang sudah lapuk. Di permukaannya terdapat noda tanah basah.
“Sepertinya ada orang yang baru saja melewatinya,” kata Fadil.
Sebelum mereka dapat memeriksa lebih jauh, terdengar langkah kaki. Bima muncul bersama dua santri senior.
“Kalian masih mencari alasan?” tanyanya.
Raka berdiri. “Kami sedang membersihkan gudang.”
“Ustaz meminta kalian membersihkan seluruh gudang, bukan membuat keributan.”
“Kami tidak membuat keributan,” kata Fadil.
Bima memandang pintu kecil itu. “Apa yang kalian temukan?”
“Tidak ada hubungannya denganmu.”
“Kalau begitu, buka.”
“Kenapa aku harus membuka sesuatu yang tidak diperintahkan?”
Bima melangkah lebih dekat. “Karena kalau ada barang hilang di baliknya, kalian akan menjadi orang pertama yang dicurigai.”
Fadil menatapnya. “Apakah ada barang yang hilang?”
Bima tidak menjawab. Dua santri di belakangnya saling berpandangan.
Raka berbisik kepada Fadil, “Ada sesuatu yang tidak mereka katakan.”
Fadil juga merasakan hal yang sama.
Malam itu, setelah pengajian, Ustaz Hamdan mengumumkan bahwa kotak sumbangan untuk perbaikan asrama tidak ditemukan di ruang kantor. Kotak tersebut terakhir terlihat sehari sebelumnya, sebelum hujan turun.
“Tidak ada yang boleh menuduh siapa pun,” kata Ustaz Hamdan di hadapan para santri. “Jika ada yang mengetahui sesuatu, sampaikan kepada pengurus.”
Ruang pengajian langsung dipenuhi bisikan.
Fadil menoleh kepada Rafi yang duduk di barisan belakang bersama tongkat penyangga. Wajah Rafi berubah pucat.
“Kenapa?” bisik Fadil setelah pengajian.
Rafi memegang ujung bajunya. “Aku melihat kotak itu.”
“Di mana?”
“Di dekat gudang.”
“Kapan?”
“Malam sebelum hujan. Aku sedang mencari kitab Ustaz Hamdan.”
“Kenapa tidak mengatakan sejak tadi?”