6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #32

Al-Fattah

Fadil belajar tentang Allah Yang Maha Pembuka.

°˖✧✿✧˖°

Bunyi derit keras logam berkarat yang terpelintir paksa memecah kesunyian lembayung di pelataran bengkel tua Sukamaju. Fadil menyeka peluh pekat yang menetes pedih ke sudut kelopak matanya. "Ayo, sedikit lagi... berputarlah, kumohon demi apa pun jangan macet sekarang!" bisiknya getir seraya mengerahkan sisa tenaga pada anak kunci kuno warisan sang kakek.

Namun gerigi tembaga tua itu tak mampu menahan tekanan beban rantai baja. *KRAK!* Suara logam getas itu berdentang tajam, disusul keheningan yang menyesakkan dada. Separuh badan kunci patah dan tertancap mati kaku di dalam silinder lubang gembok. Fadil jatuh berlutut di tanah berdebu, menatap telapak tangannya yang menghitam. "Ya Tuhan, kenapa harus di saat genting seperti ini semua pintu tertutup rapat?!" jeritnya putus asa.

Deru langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari arah pematang sawah yang merekah. Rizal berlari kencang dengan napas terengah-engah, memegangi dadanya yang naik-turun. "Fadil! Gawat sekali! Dinding tebing bukit kapur di hulu sungai runtuh total barusan!" teriak Rizal panik sembari mencengkeram kusen gerbang. "Saluran primer desa tertimbun bongkahan batu cadas raksasa! Tak setetes pun air sungai yang bisa mengalir ke persawahan warga!"

Fadil tersentak berdiri, mencengkeram kerah baju sahabatnya dengan tatapan nanar. "Berapa lama tanaman cabai warga bisa bertahan tanpa pasokan air itu, Zal?" tanya Fadil dengan bibir gemetar. Rizal menggeleng kalut seraya menyeka keringat dingin di pelipisnya. "Paling lama tiga hari, Dil! Kalau tiga hari ke depan tanah tetap gersang, ratusan hektare tanaman cabai dan padi bunting akan puso total! Seluruh petani desa kita bangkrut!"

"Bencana tidak berhenti di situ, Fadil," lanjut Rizal dengan nada suara kian bergetar cemas. "Juragan Suro sudah berkeliling kampung sejak ashar tadi mengumumkan ancaman. Jika besok petang uang sewa genset pompa sebesar dua juta rupiah belum dilunasi tunai, dia akan menyita paksa mesin diesel milik keluargamu!" Fadil terpaku kaku, dadanya serasa dihantam godam godam godam tak kasatmata.

"Ayahku sedang terbaring sekarat di bilik kamar dengan demam tifoid tinggi, Zal!" sergah Fadil dengan suara serak menahan tangis amarah. "Dari mana kami mencari uang tebusan dua juta rupiah dalam dua puluh empat jam ke depan? Di dalam gudang ini tersimpan pompa sentrifugal manual buatan Kakek Mansur, satu-satunya tumpuan harapan untuk menyedot telaga bawah tanah ke sawah warga!"

Rizal menyalakan senter ponselnya, memeriksa celah gembok yang tersumbat potongan tembaga. "Patahannya terkunci terlalu dalam, Dil. Rantai pengikatnya baja murni setebal ibu jari. Gergaji besi biasa takkan mampu memotongnya sebelum subuh nanti!" desah Rizal lemas. Fadil meninju daun pintu besi hingga buku-buku jarinya memar membiru. "Kenapa setiap jalan yang kupilih selalu berujung pada tembok buntu?!"

"Apakah tidak ada duplikat kuncinya di laci kamar ayahmu?" tanya Rizal mendesak cemas. Fadil menggeleng pasrah seraya mengusap keningnya yang berdebu. "Tidak ada, Zal. Kakek hanya mewariskan satu kunci asli ini sebelum wafat lima tahun lalu. Beliau hanya berpesan bahwa pintu gudang ini hanya boleh dibuka saat bencana kekeringan melanda desa."

"Lalu sekarang apa rencanamu?" bisik Rizal memandang gerbang berkarat itu dengan gamang. Fadil menyandarkan punggungnya ke dinding bata yang retak. "Aku tidak punya rencana lagi, Zal. Rasanya seperti dikepung api dari segala penjuru. Setiap kali aku berusaha bernapas, asap keputusasaan mencekik tenggorokanku sampai aku tak berdaya."

"Jangan bicara seperti orang yang putus asa dari pertolongan langit, Fadil!" tegur Rizal mengguncang bahunya. Fadil menatap tanah kering dengan getir. "Bagaimana aku tidak putus asa, Zal? Lihat gembok ini! Lihat sawah yang merekah itu! Semuanya terkunci mati tanpa memberi kita ruang untuk bernapas barang sekejap!" Rizal berbisik lirih: "Pasti ada pintu rahasia yang belum kita ketahui, Dil. Kakekmu orang bijak, beliau tidak mungkin meninggalkan teka-teki tanpa kunci pemecah."

Sayup-sayup suara tabuhan bedug Magrib menggema dari surau tua di seberang parit kering. Rizal menyentuh lengan sahabatnya perlahan. "Ayo bersuci ke surau dulu, Dil. Ustadz Syakir sudah berdiri di mihrab. Pikiranmu terlalu panas untuk mengambil keputusan malam ini." Fadil menarik napas berat yang terasa perih di paru-parunya. "Pergilah duluan, Zal. Aku ingin memunguti serpihan kunci ini, meratapi betapa tak berdayanya aku di hadapan gerbang terkunci ini."

°˖✧✿✧˖°

Wangi asap kayu gaharu dan anyaman pandan basah di serambi surau sedikit meluruhkan ketegangan di pelipis Fadil. Seusai zikir panjang ba'da Magrib, pemuda itu tetap bersimpuh kaku di pojok ruangan dengan kepala tertunduk lesu. Ustadz Syakir menghampirinya tanpa suara terompah, lalu duduk bersila berhadapan. "Beban berat apa yang sedang mengurung jiwamu malam ini, Fadil?" tanya sang guru lembut menatap wajah lelah muridnya.

Fadil menelan saliva yang terasa getir di kerongkongannya. "Segalanya terkunci rapat tanpa celah, Ustadz. Sawah warga sekarat, Ayah terbaring menggigil demam tinggi, Juragan Suro mengancam menyita tanah kami esok petang, dan barusan kunci gudang pompa kakek patah di dalam gembok!" ujarnya tercekat dengan mata berkaca-kaca. "Mengapa Allah seakan menutup rapat semua pintu jalan keluar bagi kami? Apakah doa orang lemah seperti kami tak lagi bernilai?"

Ustadz Syakir meletakkan telapak tangannya yang hangat di pundak Fadil. "Pernahkah engkau meresapi salah satu nama teragung-Nya di lembar Asmaul Husna: *Al-Fattah*?" tanya ustadz dengan sorot mata meneduhkan. Fadil mendongak pelan dengan alis bertaut. "Al-Fattah? Bukankah maknanya Yang Maha Membuka?" Sang guru mengangguk pasti. "Tepat sekali. Namun makna-Nya melampaui sekadar membuka gembok besi atau pintu kayu lapuk rumahmu."

"Dia adalah Al-Fattah: Yang Maha Membuka jalan keluar ketika seluruh akal dan perhitungan manusia menyatakan jalan sudah buntu total!" terang Ustadz Syakir mantap. Fadil mengusap pipinya yang basah. "Namun bagaimana pintu itu bisa terbuka jika tangan manusia tak lagi sanggup menggapainya, Ustadz?" Ustadz tersenyum mengusap janggutnya yang memutih. "Sering kali yang terkunci bukanlah rahmat Allah, Fadil, melainkan sudut pandang dan hati kita yang terlalu angkuh mengandalkan tenaga diri."

"Bukankah Allah berfirman dalam Kitab Suci-Nya: *Apa saja rahmat yang Allah bukakan bagi manusia, maka tidak ada yang dapat menahannya*?" lanjut Ustadz Syakir dengan nada teduh menembus kalbu Fadil. Pemuda itu terdiam merenung. "Jadi, maksud Ustadz, selama ini aku salah menaruh sandaran pertolongan?" Ustadz tersenyum mengiyakan. "Kau bersandar pada sebatang kunci tembaga kuno, bukan pada Pemilik segala kunci perbendaharaan langit dan bumi."

"Apakah Al-Fattah akan menolong kami meski dosa dan kelalaianku menumpuk, Ustadz?" bisik Fadil tersedu. Ustadz Syakir menatapnya penuh kasih sayang. "Pintu tobat dan pertolongan-Nya tidak pernah dikunci dari dalam oleh Allah, Fadil. Manusialah yang sering kali mengunci pintu hatinya sendiri karena enggan berserah diri kepada-Nya."

"Lalu bagaimana aku harus memulainya kembali esok pagi?" tanya Fadil dengan secercah harapan yang kembali menyala. Ustadz Syakir berbisik lugas: "Basahi lisanmu dengan zikir: *Ya Fattah, iftah lanal khair*. Hadapi mesin itu bukan dengan dendam amarah, melainkan dengan ketundukan seorang hamba yang memohon dibukakan pintu ilham dan jalan keluar."

Lihat selengkapnya