6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #32

Al-Ghafur

Al-Ghafur

Fadil belajar tentang Kesempatan untuk Memperbaiki Diri

°˖✧✿✧˖°

Malam beranjak semakin larut di kompleks Pondok Pesantren Darul Hikmah, Jawa Timur. Angin dingin khas pegunungan berembus perlahan membelai selasar surau tua berdinding kayu ukir jati, membawa suasana hening yang menentramkan jiwa. Di dalam aula utama surau yang beralaskan karpet hijau tebal, puluhan santri duduk bersila dalam barisan yang rapi. Di hadapan mereka, Kiai Haji Zulfakar Al-Quthuz duduk tawaduk di atas dampar kayu yang sedikit meninggi. Di sekeliling beliau, enam santri utama—Fadil, Fauzan, Faris, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq—duduk di shaf paling depan dengan kitab catatan serta pena yang siap di genggaman.

Lampu gantung tembaga memancarkan pendar cahaya keemasan yang hangat, menerangi lembaran-lembaran kitab klasik bertinta hitam. Kiai Zulfakar menyapu pandangan beliau ke seluruh ruangan, memberikan tatapan lembut namun menembus hingga ke dalam dada. Di sudut ruangan, wewangian kayu gaharu berembus tipis dari tempat pembakaran dupa, menciptakan suasana spiritual yang begitu khusyuk.

"Anak-anakku sekalian," buka Kiai Zulfakar dengan suara yang dalam, lembut, namun amat berwibawa. "Malam ini kita akan mengaji salah satu nama Allah yang paling menentramkan jiwa hamba yang berdosa, yaitu Al-Ghafur—Yang Maha Pengampun, Sang Pemilik Kesempatan untuk Memperbaiki Diri."

Fadil menunduk takzim, lalu memberanikan diri mengangkat tangannya pelan. "Sembah sungkem saya, Kiai. Mengapa mengenal nama Al-Ghafur menjadi kebutuhan mendasar bagi kita yang sedang menuntut ilmu di pesantren ini?"

Kiai Zulfakar tersenyum melihat kesungguhan Fadil. "Pertanyaan yang sangat jernih, Fadil. Manusia diciptakan bukan sebagai malaikat yang bebas dari dosa, melainkan makhluk yang sering terpeleset dalam salah dan lupa. Tanpa mengenal Al-Ghafur, seorang hamba akan mudah putus asa saat menyadari kekhilafannya."

Fauzan membetulkan letak pecinya, lalu ikut menyela dengan nada penasaran. "Apakah ampunan Allah dalam sifat Al-Ghafur memiliki batas tertentu untuk seorang santri yang berulang kali melakukan kesalahan, Kiai?"

"Ampunan Allah tidak pernah bertepi, Fauzan," jawab Kiai Zulfakar seraya membuka halaman kitabnya. "Namun, hakikat Al-Ghafur bukan sekadar meminta maaf di lisan, melainkan tentang taubatan nasuha—penyesalan sejati yang dibuktikan dengan kesungguhan untuk membenahi diri."

"Bagaimana seorang santri bisa merasakan bahwa ampunan Al-Ghafur telah meresap ke dalam dadanya, Kiai?" pangkas Faris penuh ketakziman.

Kiai Zulfakar mengangguk pelan. "Itulah yang akan kita bedah malam ini, Faris. Kita belajar bagaimana kesalahan masa lalu bukan akhir dari segalanya, melainkan awal dari proses penyucian jiwa."

°˖✧✿✧˖°

Suasana di aula surau mendadak semakin hening. Suara gesekan pena di atas kertas catatan dari Ghalib, Rayyan, dan Yafiq terdengar teratur di antara dengungan embun malam yang kian dingin. Kiai Zulfakar membetulkan posisi sorban hijaunya, lalu menatap Fadil dengan pandangan yang dalam, seolah-olah beliau mengetahui ada beban tersembunyi di dalam dada santri mudanya itu.

"Beberapa hari lalu," tutur Kiai Zulfakar pelan namun tegas, "terjadi peristiwa yang menguji kejujuran dan kerapian di lingkungan pesantren kita. Sebuah kitab klasik karangan pendiri pesantren sempat berpindah tempat dan rusak tipis karena kelalaian dalam penanganan."

Fadil mendadak mematung. Jantungnya berdegup kencang secara tiba-tiba, dan jemarinya yang memegang pena menjadi bergetar. Kejadian tiga hari lalu di perpustakaan tua mendadak berputar kembali di ingatan Fadil. Saat itu, karena terburu-buru menyalin tugas catatan, ia secara tidak sengaja menjatuhkan kitab tua tersebut hingga sampul kayunya sedikit retak dan beberapa halamannya terlipat kasar. Karena rasa takut dijatuhi hukuman keras atau dikeluarkannya dari shaf santri utama, Fadil mengembalikannya ke rak secara sembunyi-sembunyi tanpa melapor kepada pengurus.

"Siapa di antara kalian yang mengetahui hakikat mendasar dari nama Al-Ghafur ketika seseorang terjerat dalam kesalahan?" tanya Kiai Zulfakar menatap keenam santri utama.

Ghalib mengangkat tangan kanannya seraya menundukkan pandangan. "Izin menjawab, Kiai. Al-Ghafur berasal dari kata ghafara yang berarti menutupi. Allah Al-Ghafur adalah Dzat yang tidak hanya mengampuni dosa, tetapi juga menutupi keburukan hamba-Nya agar tidak dipermalukan di hadapan makhluk lain."

"Penjelasan yang sangat indah, Ghalib," puji Kiai Zulfakar. "Lantas, bagaimana tindakan hamba yang jujur ketika Allah telah menutup keburukannya?"

Rayyan mengacungkan jari penunjuknya. "Apakah hamba itu harus segera mengakui kesalahannya kepada sesama dan bertaubat kepada Allah sebelum tutupan itu diangkat, Kiai?"

"Tepat sekali, Rayyan!" tegas Kiai Zulfakar. "Barang siapa menutupi kesalahannya karena kesombongan, maka ia menolak kasih sayang Al-Ghafur. Namun barang siapa yang datang membawa penyesalan dan pengakuan, maka Al-Ghafur akan memeluknya dengan ampunan yang menenangkan."

Yafiq yang duduk di samping Rayyan ikut angkat bicara. "Kiai, jika seseorang menunda pengakuan kesalahannya karena takut akan prasangka buruk kawan-kawannya, bagaimana hukumnya?"

"Itu adalah bisikan setan yang ingin memenjarakan jiwa manusia dalam ketakutan palsu, Yafiq," jawab Kiai Zulfakar lembut. "Setan membuat manusia takut kepada vonis makhluk, padahal yang seharusnya ditakuti adalah murka Sang Pencipta."

Fadil menundukkan kepalanya dalam-dalam. Setiap kata yang diucapkan sang guru terasa seperti sembilu yang menyayat nuraninya. Air mata penyesalan mulai menggenang di sudut matanya, menahan rasa sesak yang membakar dada.

"Masya Allah..." bisik Yafiq penuh perenungan. "Betapa ruginya orang yang enggan mengakui kesalahannya."

"Maka dari itu," pangkas Kiai Zulfakar dengan tatapan teduh, "jangan pernah membiarkan kesalahan kecil menumpuk menjadi noda hitam yang mengeras di dalam hati."

°˖✧✿✧˖°

Kiai Zulfakar membalikkan lembaran kitab klasiknya yang berwarna kekuningan. Beliau menunjuk pada barisan kaligrafi Arab bertuliskan Al-Ghafur, At-Tawwab (Maha Penerima Taubat), dan Al-'Afuw (Maha Pemaaf). Beliau memandang keenam santrinya dengan tatapan yang penuh makna tersembunyi.

"Nama-nama ini saling melengkapi," jelas Kiai Zulfakar memecah keheningan. "Al-Ghafur mengampuni dan menutupi, At-Tawwab selalu membuka pintu kembalinya hamba, dan Al-'Afuw menghapus bekas dosa hingga tak tersisa."

Fadil memberanikan diri mengangkat wajahnya yang pucat, lalu bertanya dengan suara agak bergetar. "Kiai, bagaimana jika seseorang merasa dosanya terlalu besar dan merasa tidak layak lagi berada di majelis ilmu yang suci ini?"

Kiai Zulfakar menatap Fadil dengan pandangan yang penuh kasih sayang guru. "Fadil, pemikiran bahwa dirimu tidak layak mendapatkan ampunan adalah bentuk prasangka buruk kepada Allah. Rahmat dan ampunan Al-Ghafur jauh lebih besar daripada seluruh dosa yang pernah dilakukan oleh seluruh hamba di muka bumi ini."

Fauzan menyimak anggukan Kiai Zulfakar, lalu bertanya, "Berarti, tidak ada dosa yang terlalu besar bagi Al-Ghafur, Kiai?"

"Tidak ada, Fauzan," tegas Kiai Zulfakar. "Selama nyawa belum sampai di kerongkongan dan matahari belum terbit dari barat, pintu At-Tawwab selalu terbuka lebar. Yang menjadi masalah adalah apakah hamba itu mau melangkah masuk atau tetap bertahan dalam kesombongannya."

Faris mengangkat tangannya pelan. "Kiai, bagaimana cara membedakan antara penyesalan yang tulus dengan penyesalan yang hanya di bibir saja?"

"Penyesalan tulus (taubatan nasuha) memiliki tiga syarat utama," terang Kiai Zulfakar. "Pertama, mencabut diri seketika dari kesalahan tersebut. Kedua, menyesali perbuatan itu dari lubuk hati yang paling dalam. Ketiga, bertekad kuat untuk tidak akan pernah mengulanginya lagi. Jika berkaitan dengan hak sesama manusia, maka syarat keempat adalah meminta maaf dan mengganti kerugiannya."

Ghalib mencatat poin-poin tersebut di atas kertas catatannya. "Kiai, apakah memperbaiki kerusakan yang kita perbuat adalah bagian dari pembuktian taubat kepada Al-Ghafur?"

Lihat selengkapnya