6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #33

Pintu yang Tertutup

Pintu yang Tertutup

Sebuah masalah di pesantren membuat Fadil merasa semua jalan tertutup.

°˖✧✿✧˖°

Adzan Subuh belum lama selesai menggema di lorong asrama ketika langkah kaki berhenti di depan bilik nomor tujuh. Fadil baru saja melipat sarungnya, masih setengah mengantuk, saat kepala Ubay menyembul dari balik tirai.

"Fadil, Ustadz Hamdan minta kamu ke kantor. Sekarang."

Fadil mengernyit. "Sekarang? Baru jam setengah lima, Bay."

"Katanya penting. Jangan tanya saya kenapa, saya cuma disuruh." Ubay menatap sebentar, lalu menurunkan suaranya. "Raut beliau beda. Aku belum pernah lihat beliau segitunya."

"Segitunya gimana?"

"Seperti orang yang mau mengucapkan sesuatu yang berat."

Fadil menghela napas, merapikan pecinya, lalu mengikuti Ubay menembus dingin pagi. Lampu-lampu kantor penerima tamu sudah menyala, sesuatu yang aneh untuk jam segini. Di meja panjang, Ustadz Hamdan duduk sendirian. Jari-jarinya mengusap tasbih tanpa henti.

"Assalamu'alaikum, Ustadz."

"Wa'alaikumsalam. Duduklah, Fadil."

Fadil duduk di kursi di hadapannya. Ustadz Hamdan menatapnya lama, seperti sedang mengumpulkan kata-kata. Akhirnya beliau membuka laci dan meletakkan selembar surat di atas meja.

"Kamu tahu, sejak semester lalu, koperasi pesantren ini rugi. Dapur kita makan hutang hampir tiga bulan. Papan rehat sudah dua kali menunda renovasi." Beliau berhenti. "Dan bulan ini, pengurus memutuskan sesuatu yang tidak akan mudah untukmu dengar."

Fadil menegakkan punggungnya. "Surat itu soal apa, Ustadz?"

"Beasiswa anak yatim. Program itu resmi diberhentikan mulai semester depan."

Udara di ruangan itu terasa menyempit. Fadil merasakan detak jantungnya turun ke perut. Tiga tahun ia bertahan di pesantren ini dengan beasiswa itu. Beasiswa itulah yang membayar makan, kitab, dan seragamnya. Satu-satunya pintu yang membuat ia bisa belajar tanpa membebani ibunya di rumah.

"Berarti saya harus pulang, Ustadz?"

Ustadz Hamdan tidak menjawab. Beliau menunduk, tasbih di tangannya berhenti berputar. "Saya sudah berjuang keras di rapat kemarin. Saya mengusulkan beasiswamu diperpanjang, tapi jumlahnya tidak cukup. Mereka bilang, kalau satu santri yatim tetap dibiayai, santri lain akan protes."

"Karena yang lain juga susah."

"Ya. Dan karena itu, Fadil, saya tidak bisa membela dirimu terlalu keras. Bukan karena kamu tidak layak, tapi karena kalau saya terlalu memihak, nama saya ikut dipertanyakan."

Fadil menelan ludah. "Jadi kapan saya harus pergi?"

"Belum ada yang pasti. Ada satu hal lagi yang harus diselesaikan lebih dulu." Ustadz Hamdan menatapnya tajam. "Kotak infak santri. Dua minggu lalu kamu yang memegang kuncinya, betul?"

"Betul, Ustadz. Saya yang mengumpulkan dan menghitungnya."

"Besok pagi, bawalah ke kantor. Ustadz Hilmi akan menghitungnya untuk laporan ke papan rehat. Jumlah itu akan menentukan apakah pesantren ini selamat bulan depan."

Fadil mengangguk, meski dadanya terasa sesak. Ia berdiri, hendak berpamitan, ketika Ustadz Hamdan memanggilnya lagi.

"Fadil."

"Ya, Ustadz?"

"Kamu santri yang jujur. Ingat itu, apa pun yang terjadi. Itu modal yang tidak bisa dibeli."

Ada sesuatu yang ganjil dalam nada beliau, seperti peringatan yang tidak lengkap. Fadil keluar dari kantor dengan langkah berat. Di lorong, Ubay masih menunggu.

"Gimana? Buruk?"

"Buruk sekali." Fadil mengetuk dadanya sendiri. "Programku diputus. Dua minggu lagi, mungkin aku sudah di rumah."

"Rumah? Maksudmu kamu keluar?"

"Bukan aku yang keluar, Bay. Pintunya yang ditutup buatku."

°˖✧✿✧˖° Titik Plot Pertama

Kembali di bilik, Fadil tidak bisa tidur. Ia menyalakan lampu minyak kecil dan mengeluarkan kotak besi yang disimpan di bawah kasurnya. Kotak infak santri itu berat; dua minggu pengumpulan dari lebih dari delapan puluh santri. Ia menghitung uang itu dengan teliti, satu per satu, seperti biasa.

Angka di pembukuannya tidak cocok.

Ia menghitung ulang. Masih sama. Tangan Fadil mulai gemetar. Ia menghitung ketiga kalinya dengan suara keras, menyebut setiap pecahan, seakan bisa memaksa uang yang hilang kembali muncul.

Tirai bilik tersibak. Salman masuk dengan mata masih sembab.

"Loh, belum tidur? Ini jam berapa–" Salman berhenti melihat wajah Fadil yang pucat. "Kenapa?"

"Sal. Hitung ini."

Salman duduk, menghitung dua menit, lalu menatap Fadil bingung. "Kurang dua juta lima ratus, Dil. Ini kan catatanmu sendiri. Dari mana tahu kurang?"

"Aku tidak tahu. Tadi malam masih utuh. Kotak ini tidak pernah meninggalkan bilikku."

"Masa? Kuncinya?"

"Di leherku." Fadil menarik tali kulit yang menggantung di dadanya, sebuah kunci kuningan kecil. "Aku tidur dengan ini, mandi dengan ini, bahkan–"

"Oke, oke, santai dulu." Salman meletakkan tangannya di bahu Fadil. "Mungkin kamu salah hitung waktu masukin. Satu-satunya yang pegang kunci cuma kamu. Kalau kamu yakin, kenapa hilang?"

"Itu tadi yang aku bilang tidak masuk akal."

Salman menatap kotak itu lama. "Kita harus lapor. Sekarang, sebelum besok pagi jadi urusan resmi."

"Lapor ke siapa? Ustadz Hilmi?" Fadil menggeleng. "Besok aku harus serahkan ini untuk dihitung di depan papan rehat. Kalau aku bilang kurang sekarang, kelihatannya seperti aku yang punya waktu buat ngatur-ngatur angka."

"Justru itu. Kalau kau diam, besok mereka yang buka dan menemukan kurang, kamu tetap yang kena. Bedanya, besok kamu sudah kelihatan bersalah sebelum sempat bicara."

Fadil memejamkan mata. Ia tahu Salman benar. Ia meraih kotak itu, dan bersama Salman, keduanya berjalan kembali ke kantor dalam gelap. Ustadz Hamdan masih di sana, menyusun berkas. Melihat mereka masuk, alis beliau terangkat.

"Sudah jam segini, kalian berdua?"

"Ustadz, saya mohon maaf. Ada sesuatu yang harus saya laporkan sebelum pagi."

Ustadz Hamdan meletakkan penanya. "Silakan."

Fadil membuka kotak di hadapan beliau. Uang itu disusun rapi, dan pembukuan Fadil di sampingnya. "Uang infak santri, Ustadz. Saya hitung tadi malam dan saya catat. Baru saja saya hitung lagi. Kurang dua juta lima ratus."

Lihat selengkapnya