Al-'Alim
Ia memahami bahwa Allah mengetahui sesuatu yang tidak diketahui manusia.
°˖✧✿✧˖°
Hujan turun sejak selepas Subuh di Pondok Pesantren Al Hidayah, Jawa Timur.
Atap-atap bangunan pondok memantulkan suara rintik yang rapat. Halaman yang biasanya dipenuhi langkah para santri berubah menjadi hamparan tanah basah dengan genangan kecil di beberapa sudut.
Fadil duduk di dalam kelas sambil memandangi kitab di hadapannya.
Hari itu Ustaz Rahman tidak langsung meminta para santri membaca.
Ia justru menulis satu kata di papan tulis.
العليم
Al-'Alim.
Fadil memperhatikan tulisan itu.
Ustaz Rahman kemudian berbalik.
"Siapa yang tahu arti Al-'Alim?"
Beberapa tangan terangkat.
Seorang santri menjawab,
"Yang Maha Mengetahui, Ustaz."
"Benar."
Ustaz Rahman menatap seluruh kelas.
"Allah mengetahui segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari ilmu-Nya."
Fadil mencatat.
Namun entah mengapa, hari itu kata tersebut terasa berbeda.
Ustaz Rahman melanjutkan.
"Manusia hanya mengetahui apa yang Allah izinkan untuk diketahui. Pengetahuan manusia terbatas. Bahkan ketika kita merasa sudah memahami suatu keadaan, belum tentu kita mengetahui keseluruhan kenyataannya."
Fadil berhenti menulis.
Kalimat itu menarik pikirannya ke berbagai hal.
Ia teringat beberapa kejadian selama berada di pondok.
Kegagalannya membaca kitab.
Rasa malu yang pernah ia rasakan.
Keinginan untuk menyerah.
Bahkan beberapa keputusan dalam hidupnya yang sampai sekarang masih membuatnya bertanya-tanya.
Ustaz Rahman bertanya,
"Fadil."
Fadil tersentak.
"Iya, Ustaz?"
"Menurutmu, kenapa manusia sering kecewa ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginannya?"
Fadil berpikir.
"Karena manusia merasa tahu apa yang terbaik untuk dirinya?"
Ustaz Rahman tersenyum.
"Jawaban yang bagus."
Fadil menunduk.
"Padahal belum tentu, ya?"
"Belum tentu."
Kelas kembali hening.
Ustaz Rahman berkata,
"Kadang manusia menangisi sesuatu yang tidak didapatkannya, padahal ia tidak tahu apa yang sedang Allah hindarkan darinya."
Fadil menelan ludah.
Kalimat itu terasa semakin dekat.
Ia tidak tahu kenapa.
Tetapi ada sesuatu di dalam dirinya yang seperti disentuh.
"Dan sebaliknya," lanjut Ustaz Rahman, "kadang manusia tidak menyukai sesuatu yang terjadi padanya, padahal di baliknya terdapat kebaikan yang belum mampu ia lihat."
Fadil menatap papan tulis.
Al-'Alim.
Allah Maha Mengetahui.
Ia mengulang kata itu dalam hati.
Untuk pertama kalinya, ia tidak melihatnya sekadar sebagai salah satu nama Allah yang harus dihafalkan.
Ia merasa sedang diajarkan cara memandang hidup.
°˖✧✿✧˖°
Selepas pelajaran, Fadil tidak langsung meninggalkan kelas.
Ia masih memandangi tulisan di papan.
Rasyid yang sudah berdiri di dekat pintu memanggil,
"Fadil."
"Hm?"
"Kamu tidak ikut ke masjid?"
"Sebentar."
Rasyid kembali mendekat.
"Kamu memikirkan Al-'Alim?"
Fadil mengangguk.
"Iya."
"Kenapa?"
Fadil menunjuk papan.
"Kalau Allah mengetahui segala sesuatu, berarti Allah juga tahu apa yang akan terjadi pada kita sebelum kita mengetahuinya?"
"Ya."
"Termasuk sesuatu yang sekarang tidak kita pahami?"
"Ya."
Fadil terdiam.
"Berarti..."
"Apa?"
"Kalau saya gagal dalam sesuatu, belum tentu itu akhir yang buruk."
Rasyid mengangguk.
"Belum tentu."
"Kalau saya mendapatkan sesuatu yang saya inginkan, belum tentu itu juga yang terbaik."
"Benar."
Fadil tersenyum tipis.
"Berat juga memahami ini."
"Kenapa?"
"Karena manusia suka memastikan masa depan."
Rasyid tertawa.
"Kamu ingin semuanya jelas?"
"Iya."
"Sayangnya hidup bukan kitab yang bisa kamu baca dari halaman terakhir."
Fadil ikut tertawa.
Namun sesaat kemudian wajahnya kembali serius.
"Aku sering marah pada keadaan."
Rasyid terdiam.
"Kadang saya berpikir, kenapa harus saya yang mengalami ini?"
"Semua orang pernah berpikir begitu."
"Termasuk kamu?"
"Termasuk aku."
Fadil memandang temannya.
"Terus bagaimana?"
"Belajar percaya."
"Percaya tanpa tahu?"
"Justru di situlah sulitnya."
Fadil mengangguk perlahan.
Mereka kemudian berjalan menuju masjid.
Di sepanjang jalan, Fadil memperhatikan halaman pondok yang basah.
Ia teringat hujan yang datang pagi tadi.
Semalam langit masih cerah.
Tidak ada yang tahu kapan hujan akan turun.
Tetapi Allah tahu.
Begitu pula dengan hidup.
Manusia hanya melihat satu bagian kecil.
Sementara Allah mengetahui keseluruhannya.
Fadil mulai memahami bahwa keterbatasan manusia bukan sesuatu yang harus membuatnya putus asa.
Justru karena manusia terbatas, ia membutuhkan Allah.
Sesampainya di masjid, Fadil duduk di serambi.
Rasyid bertanya,
"Kalau begitu, apa yang akan kamu lakukan sekarang?"
Fadil menjawab,
"Belajar."
"Belajar apa?"
"Belajar menerima bahwa saya tidak harus mengetahui semuanya."
Rasyid tersenyum.
"Itu pelajaran besar."
Fadil menatap langit yang masih mendung.
"Dan belajar percaya kepada Yang Maha Mengetahui."
°˖✧✿✧˖°
Hari-hari berikutnya, pelajaran tentang Al-'Alim terus membekas dalam pikiran Fadil.
Ia mulai melihat berbagai kejadian dengan cara berbeda.
Ketika ia gagal membaca kitab, ia tidak lagi langsung menganggap dirinya tidak mampu.
Ketika hafalannya tertinggal, ia tidak lagi buru-buru membandingkan dirinya dengan santri lain.
Ketika rencana belajarnya tidak berjalan, ia mencoba bertanya,
"Apa yang bisa saya perbaiki?"
Bukan lagi,
"Kenapa Allah membuat saya gagal?"
Suatu sore, Ustaz Rahman kembali memanggilnya.
"Fadil."
"Iya, Ustaz."
"Bagaimana perkembangan bacaanmu?"
"Masih banyak salah."
"Dan?"
"Saya tetap belajar."
Ustaz Rahman tersenyum.
"Itu yang penting."
Fadil duduk.
"Ustaz, saya ingin bertanya."
"Tanyakan."
"Bagaimana kalau kita sudah berusaha sungguh-sungguh, tapi hasilnya tetap tidak sesuai harapan?"
Ustaz Rahman menjawab,
"Apakah tugas manusia hasil atau usaha?"
"Usaha."