6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #35

Kesalahan yang Disembunyikan

Kesalahan yang Disembunyikan

Fadil menghadapi persoalan yang menguji kejujurannya.

°˖✧✿✧˖°

Matahari pagi menembus celah gorden kamar Fadil, membentuk garis-garis cahaya yang jatuh tepat di atas tumpukan kitab kuning di meja belajarnya. Angin dari jendela yang sedikit terbuka membawa aroma tanah basah setelah hujan semalam, bercampur dengan wangi kemenyan yang biasa dibakar di aula utama pondok. Fadil duduk di tepi ranjang, kedua tangannya menopang dagu, menatap layar ponsel yang menampilkan pesan dari Ustadz Hasan, pengasuh kelas sekaligus wali asramanya.

"Fadil, saya butuh bantuanmu. Ada yang harus kita bicarakan sebelum rapat pengurus pondok besok. Bisa datang ke kantor pengasuh jam sepuluh?"

Pesan itu sederhana, tetapi ada nada yang tidak biasa. Fadil sudah mengenal Ustadz Hasan selama tiga tahun. Pengasuh itu tidak pernah memanggil santri ke kantornya tanpa alasan jelas. Dan kata "rahasia" yang tidak tertulis namun terasa menggantung di antara baris-baris pesan membuat perut Fadil sedikit mual.

Ia meletakkan ponsel dan berjalan ke meja, menyibak tumpukan kitab. Di bawah kitab Fathul Mu'in, terselip selembar kertas yang sudah ia lupakan selama seminggu terakhir. Kertas itu adalah lembar jawaban ujian tengah semester mata pelajaran Nahwu. Di sudut kanan atas, tertulis nama Fadil Pratama dengan angka 92 dilingkari merah. Namun, ada yang aneh. Di kolom jawaban nomor tujuh belas, tulisan tangan itu bukan miliknya.

Fadil mengerutkan dahi. Ia mengingat dengan jelas bahwa saat ujian berlangsung, ia sempat bingung dengan soal nomor tujuh belas. Soal itu tentang i'rab kalimat yang mengandung isim maushul. Ia menulis jawaban seadanya, meskipun tidak yakin. Namun, di lembar yang kini ada di tangannya, jawaban nomor tujuh belas tertulis dengan rapi dan lengkap, seolah dikerjakan oleh orang yang benar-benar memahami materi.

"Ada yang salah," gumam Fadil.

Ia membalik lembar itu, memeriksa apakah ada tulisan lain. Tidak ada. Hanya jawaban-jawaban yang tertulis dengan tinta hitam, sementara miliknya menggunakan tinta biru. Jantung Fadil berdebar lebih cepat. Ia mencoba mengingat kembali apa yang terjadi setelah ujian. Ustadzah Nur, pengajar Nahwu, mengumpulkan lembar jawaban dan membawanya ke kantor pengasuh. Tidak ada yang aneh saat itu.

Fadil duduk kembali di tepi ranjang, mencoba menenangkan diri. Mungkin ini hanya kesalahan pengoreksian. Mungkin Ustadzah Nur salah menilai. Tetapi mengapa tulisan itu berbeda? Mengapa jawaban yang seharusnya kosong menjadi terisi?

Ponselnya bergetar lagi. Kali ini pesan dari Rina, sahabatnya sejak SMP yang juga mondok di asrama putri.

"Fad, kamu udah denger? Ada yang aneh sama nilai Nahwu. Beberapa anak bilang nilai mereka berubah drastis. Ada yang tadinya 70 jadi 85. Kamu gimana?"

Fadil menelan ludah. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Jika ia jujur, mungkin masalah ini akan menjadi besar. Tetapi jika ia diam, ia merasa seperti menyimpan bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Ia mengetik balasan dengan tangan sedikit gemetar. "Belum cek. Nanti aku kabari."

Setelah mengirim pesan, Fadil memutuskan untuk mandi dan bersiap ke sekolah. Ia berharap pertemuan dengan Ustadz Hasan akan menjelaskan semuanya. Namun, di dalam hati kecilnya, ia sudah tahu bahwa ini bukan sekadar kesalahan administratif. Ada sesuatu yang disembunyikan, dan ia berada tepat di tengah-tengahnya.

Sepanjang perjalanan ke kantor pengasuh, Fadil tidak bisa berhenti memikirkan lembar jawaban itu. Ia mencoba mengingat wajah-wajah teman sekelasnya saat ujian berlangsung. Siapa yang duduk di dekatnya? Siapa yang mungkin bisa mengubah jawabannya? Atau apakah ini perbuatan Ustadzah Nur sendiri?

Ia melewati koridor pondok yang masih basah. Beberapa santri terlihat duduk di serambi masjid, membaca Al-Qur'an. Fadil tidak menyapa mereka. Ia hanya ingin segera bertemu Ustadz Hasan dan mendapatkan jawaban.

Namun, sebelum ia sampai di kantor pengasuh, seseorang memanggilnya dari arah belakang.

"Fadil, tunggu!"

Fadil berbalik. Rina berlari kecil menghampirinya, wajahnya terlihat cemas. Ia mengenakan jilbab putih dan gamis panjang, seragam resmi santri putri.

"Kamu belum jawab pesanku," kata Rina sambil mengatur napas. "Ada apa sebenarnya? Kamu kelihatan pucat."

Fadil menghela napas. "Aku juga belum tahu, Rin. Ustadz Hasan yang minta aku datang. Katanya ada yang harus dibicarakan."

Rina mengerutkan dahi. "Tentang nilai Nahwu?"

"Aku tidak tahu. Tapi sepertinya iya."

Rina menggenggam lengan Fadil. "Aku dengar Ustadzah Nur tidak masuk hari ini. Katanya sakit. Tapi ada yang bilang dia dipanggil pengurus pondok."

Fadil merasakan darahnya mengalir lebih cepat. "Dari mana kamu dengar itu?"

"Dari Sinta. Ibunya Sinta kan bekerja di dapur umum. Kemarin dia lihat Ustadzah Nur keluar dari kantor pengurus dengan mata merah."

Fadil terdiam. Semakin banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa nilai-nilainya berubah? Dan mengapa Ustadzah Nur terlihat menangis?

°˖✧✿✧˖°

Kantor pengasuh terasa lebih dingin dari biasanya. Kipas angin di sudut ruangan berputar pelan, tetapi keringat tetap membasahi punggung Fadil. Ustadz Hasan duduk di belakang meja kayu yang penuh tumpukan kitab dan kertas ujian. Wajahnya keras, tetapi ada sesuatu di matanya yang sulit Fadil baca. Kecewa? Marah? Atau mungkin takut?

"Duduk, Fadil," perintah Ustadz Hasan sambil menunjuk kursi di seberang meja.

Fadil menurut. Ia meletakkan tasnya di lantai dan duduk dengan punggung tegak, berusaha terlihat tenang meskipun jantungnya berdegup kencang.

"Kamu pasti bertanya-tanya kenapa saya memanggilmu," mulai Ustadz Hasan. Ia membuka laci meja dan mengeluarkan sebuah map plastik berwarna biru. "Ini tentang ujian Nahwu minggu lalu."

Fadil menelan ludah. "Ada apa, Ustadz?"

Ustadz Hasan membuka map dan mengeluarkan beberapa lembar jawaban. Ia meletakkannya di meja, menghadap Fadil. "Lihat ini. Lembar jawabanmu."

Fadil menatap lembar itu. Sama seperti yang ia temukan di kamarnya. Nama Fadil Pratama, nilai 92, dan jawaban nomor tujuh belas yang bukan tulisannya.

"Ustadz, saya..." Fadil berhenti. Ia tidak tahu harus mulai dari mana.

"Kamu sadar ada yang aneh dengan lembar ini?" tanya Ustadz Hasan.

Fadil mengangguk pelan. "Saya baru sadar tadi pagi, Ustadz. Jawaban nomor tujuh belas bukan tulisan saya."

Ustadz Hasan menghela napas panjang. Ia menyandarkan punggung ke kursi dan menatap langit-langit ruangan. "Fadil, saya sudah mengajar selama lima belas tahun. Saya tahu ketika ada sesuatu yang tidak beres. Lembar jawabanmu bukan satu-satunya yang berubah."

Fadil mengerutkan dahi. "Maksudnya, Ustadz?"

Ustadz Hasan kembali menatap Fadil. "Ada tujuh lembar jawaban lain yang nilainya dinaikkan. Semuanya dari kelasmu. Dan semuanya memiliki pola yang sama. Jawaban yang salah diperbaiki, tulisan tangan berbeda, dan nilai akhir melonjak drastis."

Fadil merasakan tanah di bawah kakinya seolah bergetar. "Jadi, ada yang sengaja mengubah nilai kami?"

Ustadz Hasan tidak langsung menjawab. Ia membuka laci lagi dan mengeluarkan selembar kertas lain. "Ini surat pengunduran diri Ustadzah Nur. Ia mengaku telah mengubah nilai-nilai tersebut."

Fadil terbelalak. "Ustadzah Nur? Kenapa?"

"Katanya karena tekanan. Ia tidak menjelaskan detail, tetapi ia menulis bahwa ia tidak sanggup lagi menanggung beban ini. Pengurus pondok sedang mempertimbangkan apakah akan melaporkan ini ke yayasan atau menyelesaikannya secara internal."

Fadil terdiam. Ia mengingat wajah Ustadzah Nur saat mengajar. Guru itu memang terlihat lelah akhir-akhir ini. Ada kalanya ia datang terlambat, atau lupa membawa kitab. Tetapi Fadil tidak pernah menyangka bahwa Ustadzah Nur bisa melakukan sesuatu seperti ini.

"Ustadz, saya tidak minta nilai saya dinaikkan," kata Fadil akhirnya. "Saya bahkan tidak tahu kalau jawaban saya diubah."

Ustadz Hasan menatap Fadil dengan tatapan yang lebih lembut. "Saya tahu, Fadil. Itu sebabnya saya memanggilmu. Saya ingin kamu jujur. Apakah kamu melihat sesuatu yang mencurigakan saat ujian berlangsung? Apakah ada yang mendekati mejamu?"

Fadil mencoba mengingat kembali. Ujian berlangsung selama sembilan puluh menit. Ia duduk di baris ketiga, dekat jendela. Di sebelah kanannya ada Rina, dan di sebelah kirinya ada Bayu. Ustadzah Nur berkeliling sesekali, tetapi tidak ada yang mencurigakan.

"Tidak ada, Ustadz. Saya tidak melihat siapa-siapa."

Ustadz Hasan mengangguk. "Baiklah. Saya percaya padamu. Tetapi ada satu hal lagi yang harus kamu tahu."

Fadil menunggu dengan napas tertahan.

"Pengurus pondok ingin menyelesaikan ini secara internal. Artinya, tidak ada laporan resmi. Tetapi ada syaratnya. Semua santri yang nilainya diubah harus menandatangani surat pernyataan bahwa mereka tidak mengetahui perubahan tersebut. Jika tidak, kasus ini akan dibawa ke jalur hukum."

Fadil mengerutkan dahi. "Jadi, kami harus berbohong?"

Ustadz Hasan menggeleng. "Bukan berbohong. Hanya menyatakan bahwa kalian tidak terlibat. Itu benar, kan?"

Fadil ingin mengatakan ya. Ia ingin menandatangani surat itu dan melupakan semuanya. Tetapi ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Jika Ustadzah Nur mengubah nilai karena tekanan, siapa yang menekannya? Dan mengapa hanya nilai tertentu yang dinaikkan?

"Ustadz, siapa saja yang nilainya diubah?" tanya Fadil.

Ustadz Hasan terdiam sejenak. "Kamu, Rina, Bayu, Sinta, Andi, Dewi, dan dua santri dari kelas sebelah."

Fadil mengenal semua nama itu. Mereka adalah santri-santri yang biasanya mendapat nilai rata-rata. Tidak ada yang menonjol, tetapi juga tidak ada yang buruk. Mengapa mereka?

"Ustadz, saya perlu waktu untuk berpikir," kata Fadil.

Ustadz Hasan mengangguk. "Saya mengerti. Tetapi keputusan ini harus diambil sebelum rapat pengurus besok. Kamu punya waktu sampai sore ini."

Fadil berdiri dan mengambil tasnya. Ia berjalan keluar kantor pengasuh dengan langkah berat. Di koridor, Rina sudah menunggu. Wajahnya penuh tanda tanya.

"Gimana?" tanya Rina.

Fadil menggeleng. "Nanti aku cerita. Aku butuh udara."

Ia berjalan menuju taman belakang pondok. Di sana, di bawah pohon kurma yang rindang, Fadil duduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia merasa terjebak di antara kejujuran dan kesetiaan. Jika ia menandatangani surat itu, ia berbohong untuk melindungi Ustadzah Nur. Jika ia menolak, kasus ini bisa menjadi besar dan menghancurkan karier Ustadzah Nur.

Namun, ada satu hal yang terus mengganggu pikirannya. Mengapa Ustadzah Nur mengubah nilai? Apa tekanan yang ia maksud? Dan siapa yang sebenarnya diuntungkan dari perubahan nilai ini?

Fadil mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi pesan. Ia mengetik pesan untuk Rina. "Kita perlu bicara. Temui aku di taman belakang. Jangan bilang siapa-siapa."

Tidak lama kemudian, Rina datang. Ia duduk di samping Fadil dengan wajah cemas.

"Ada apa sebenarnya, Fad?" tanya Rina.

Fadil menceritakan semuanya. Tentang lembar jawaban yang berubah, tentang pengakuan Ustadzah Nur, dan tentang surat pernyataan yang harus ditandatangani.

Rina terdiam lama. "Jadi, Ustadzah Nur yang mengubah nilai kita?"

Lihat selengkapnya