6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #36

As-Sabur

الصَّبُورُ

As-Sabur

Fadil Belajar Tentang Kesabaran

Tema: As-Sabur (Yang Maha Sabar) — Mengendalikan gejolak ketergesaan, menata hati di hadapan ujian waktu dan cobaan pusaka.

°˖✧✿✧˖°

Kedatangan lempeng kayu jati kuno bertuliskan Asmaul Husna 'As-Sabur' dengan tenggat waktu mustahil yang menyulut ambisi dan kegelisahan Fadil.

Aroma serbuk kayu jati tua dan minyak tengkawang mengambang pekat di udara bengkel milik Abah Ilyas. Jam dinding antik berdentang pelan lima kali, menandakan senja baru saja rebah di atap genting Kota Tua. Fadil menyeka butiran peluh di dahinya dengan punggung tangan berdebu. Matanya menatap bilah pahat baja yang berjejer rapi di atas bangku kerja trembesi kokoh.

"Fadil, jangan terburu-buru mengunci pintu depan bengkel kita," panggil Abah Ilyas dari bilik belakang seraya membawa cerek tanah liat. "Ada tamu yang menempuh jalan jauh demi sebuah janji masa lalu."

Fadil menoleh dengan kening berkerut. "Tapi Abah, jam kerja kita sudah selesai lewat lima sore. Bukankah Abah berpesan bahwa mata yang lelah tak boleh memegang bilah penatah?"

"Mata boleh lelah, anak muda, tetapi nurani perajin sejati tak pernah mengenal kata tutup," sahut Abah Ilyas melangkah perlahan. Tongkat jati tuanya mengetuk ubin dengan ritme teratur menentramkan jiwa.

Belum sempat Fadil menaruh lap kainnya ke atas rak, derit pintu geser bengkel berbunyi nyaring. Sesosok pria berjas gelap dengan napas terengah melangkah masuk ke dalam ruangan. Di kedua tangannya, ia mendekap bungkusan beludru merah berhiaskan pita tembaga kusam.

"Apakah benar ini bengkel ukir pusaka milik Ki Ageng Ilyas yang tersohor?" tanya pria itu dengan suara gemetar, matanya menyapu seisi ruangan dengan cemas.

Abah Ilyas mengangguk lembut seraya meletakkan cangkir tanah liatnya di atas meja. "Benar, Tuan. Saya Ilyas. Silakan duduk dan tenangkan napas Anda terlebih dahulu. Segelas air sejuk selalu lebih berharga daripada seribu kalimat yang diucapkan dalam keadaan tergesa."

"Saya sungguh tidak punya waktu untuk duduk santai menikmati suguhan air, Ki," sergah pria itu seraya menaruh bungkusan berat tersebut di atas meja kerja utama. "Nama saya Hendra dari Yayasan Pusaka Nusantara. Kami sedang menghadapi krisis kehormatan yang luar biasa gawat dan menentukan kelangsungan pameran akbar kami."

Fadil mendekat, rasa ingin tahunya terusik hebat oleh kegelisahan pria perlente tersebut. "Krisis besar apa yang Anda maksudkan sampai harus datang terburu-buru begini, Pak Hendra?"

Pak Hendra membuka simpul beludru dengan jemari gemetar. Kain tersibak, menampakkan lempengan kayu jati tua berumur dua abad. Pada permukaannya terukir kaligrafi Asmaul Husna gaya Tsuluts yang memukau: 'As-Sabur'—Maha Penyabar. Namun tepat di tengah guratan indah itu, tampak retakan menganga selebar dua jemari, disertai noda kehitaman akibat kelembapan tanah.

"Subhanallah... lempeng jati abad kedelapan belas peninggalan Pesantren Kasepuhan," bisik Abah Ilyas penuh takzim.

"Tepat sekali, Ki," ujar Pak Hendra cepat. "Empat hari lagi peresmian museum nasional oleh menteri kebudayaan. Lempeng As-Sabur ini mahkota utama pameran. Tiga pemulih pusaka senior di ibu kota menyerah angkat tangan, dan hanya nama Ki Ilyas yang dipercaya mampu menyambung urat kayu purba ini tanpa cela visual sedikit pun."

Fadil menatap ukiran As-Sabur itu dengan dada berdebar kencang. Pikirannya melayang pada tumpukan tagihan operasi ibunya di rumah sakit yang menunggak dua bulan. Ambisi mudanya melonjak seketika.

"Empat hari? Mengapa kita harus ragu menerimanya?" Fadil menyela dengan percaya diri, memotong pembicaraan gurunya. "Jika kita memakai lem resin polimer cepat kering serta mesin pemotong mikrometer modern di ruang belakang, dalam dua hari retakan ini tertutup rata tanpa cela sedikit pun, Pak!"

Pak Hendra terbelalak menatap Fadil dengan harapan besar yang menyala. "Benarkah kau sanggup melakukan itu, anak muda? Jika kau berhasil menuntaskannya dalam tempo singkat, yayasan kami siap menggandakan uang kompensasi hingga tiga kali lipat!"

Abah Ilyas segera mengangkat tangan kanannya, menghentikan percakapan seketika dengan wibawa dingin. Sorot matanya menatap Fadil tajam menusuk batin. "Kayu jati berumur dua ratus tahun bukanlah tripleks toko bangunan yang bisa kau paksa tunduk pada zat kimia sintetis, Fadil! Kayu ini bernyawa. Ia menyerap doa dan air mata generasi saleh sebelum kita. Dan nama agung yang tertera di sana adalah As-Sabur. Bagaimana mungkin kau hendak memperbaiki nama Yang Maha Sabar dengan nafsu ketergesaan yang membabi buta dan serakah?"

"Tapi Abah, teknologi modern bisa mempercepat pengerjaan tanpa cela fisik," bantah Fadil membela diri dengan gigih.

"Kecepatan yang lahir dari keserakahan hanya akan menanam benih kecacatan abadi pada jiwamu," pungkas Abah Ilyas mengunci perdebatan sore hari itu tanpa celah.

°˖✧✿✧˖°

Fadil nekat menggunakan mesin pemotong berkecepatan tinggi di tengah malam, hingga patahan fatal meremukkan kaligrafi pusaka.

Malam kian larut di bengkel tua, menyisakan derik jangkrik di sela rumpun bambu. Abah Ilyas telah pamit beristirahat ke bilik belakang setelah menolak tawaran tergesa Pak Hendra secara halus, meminta waktu berpikir hingga fajar menyingsing. Namun bagi Fadil yang dirundung kecemasan biaya rumah sakit, menunggu fajar adalah tindakan konyol yang membuang kesempatan emas.

"Abah terlalu lamban dan terkungkung cara usang," gerutu Fadil seraya memandangi lempeng As-Sabur di bawah temaram lampu kerja. "Dunia hari ini menuntut kecepatan, bukan petuah kuno yang menyita waktu berharga."

Dari dalam lemari terkunci, Fadil mengeluarkan kotak bor gerinda mikroskopis bertenaga listrik. Tangannya sigap memasang mata pemotong berlian setipis silet cukur.

"Fadil, apakah kau masih terjaga di luar?" panggil Abah Ilyas dari balik biliknya yang temaram.

Fadil menahan napas, menyahut tenang. "Hanya merapikan perkakas, Abah. Sebentar lagi saya beristirahat tidur."

"Jangan sentuh kayu pusaka itu dengan hawa nafsu yang bergolak di dadamu," pesan Abah mengingatkan dengan nada penuh kewaspadaan batin.

"Tentu tidak, Abah. Saya hanya menata laci bilah pahat agar rapi esok," dusta Fadil menelan ludah dengan rasa bersalah yang disingkirkannya.

"Baguslah kalau begitu, tidurlah agar pikiranmu tetap jernih menyambut esok pagi," jawab Abah menutup percakapan bilik tidurnya.

"Maafkan saya, Abah, tetapi uang tiga kali lipat ini mutlak dibutuhkan ibu saya untuk operasi ginjalnya malam ini," bisik Fadil memantapkan tekad nekatnya seorang diri di sudut bengkel.

"Hanya butuh sentuhan kecil agar rekahan bersih sempurna tanpa hambatan," tambahnya seraya memegang kendali bor.

"Bismillah... biarkan putaran bilah pemotong mikrometer ini meratakan celah kayu secara cepat dan presisi," gumam Fadil seraya menekan sakelar daya mesin bor.

Dengung denging mesin membelah kesunyian malam di bengkel tua. Fadil mendekatkan mata bor yang berputar kencang ke celah retakan kaligrafi purba. Namun begitu bilah logam panas bersentuhan dengan urat jati berumur dua abad, aroma hangus menyengat pekat di udara bengkel.

"Krak! Pletuk!"

Sebuah letupan tajam menghentak pergelangan tangannya ke samping secara mendadak.

"Astaghfirullahal'adzim! Ya Allah!" jerit Fadil dengan suara tercekat di tenggorokan.

Mesin terlepas membentur lantai ubin. Fadil menyalakan lampu sorot meja kerja. Kedua matanya terbelalak menyaksikan kehancuran fatal di depan hidungnya: lengkungan huruf Ba dan kepala huruf Waw pada lafaz suci itu pecah terbelah menjadi tiga patahan serpihan lepas yang berserakan.

"Ya Tuhan... apa yang telah kuperbuat pada pusaka keramat ini? Mengapa serat kayunya malah hancur berkeping-keping?!" tangis Fadil meraba serpihan kaligrafi dengan jemari dingin.

"Apakah ada benda yang terjatuh di luar sana, Fadil?" panggil Abah Ilyas beranjak dari pembaringannya dengan langkah tergesa.

Lihat selengkapnya