6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #37

Ujian Seorang Santri

Ujian Seorang Santri

Ia diuji oleh penghinaan dan kesalahpahaman dari orang lain.

°˖✧✿✧˖°

Pagi itu, suasana Pondok Pesantren Al Hidayah terasa lebih sibuk daripada biasanya. Para santri bergegas menuju masjid setelah menyelesaikan persiapan untuk mengikuti pengajian pagi. Sebagian membawa kitab kuning yang sudah penuh dengan catatan kecil, sementara sebagian lainnya masih menguap karena udara subuh yang dingin membuat mata terasa berat.

Fadil berjalan bersama Rasyid menuju masjid.

Kitab yang baru diberikan Ustaz Rahman berada di tangannya. Sejak beberapa hari terakhir, Fadil berusaha lebih tekun mempelajari isi kitab tersebut. Setelah melalui berbagai kesulitan, ia mulai merasakan perubahan. Ia memang belum sepenuhnya memahami semua yang dibaca, tetapi setidaknya ia tidak lagi merasa ingin menyerah setiap kali menemukan kalimat yang sulit.

“Dil.”

Fadil menoleh.

“Apa?”

“Semalam kamu belajar sampai jam berapa?”

“Tidak terlalu malam.”

Rasyid menyipitkan mata.

“Jangan bohong.”

Fadil tersenyum.

“Ya sudah. Sampai hampir tengah malam.”

“Pantas matamu seperti orang baru kehilangan arah hidup.”

Fadil tertawa kecil.

“Kamu sendiri?”

“Aku tidur lebih cepat.”

“Berarti kamu lebih pintar mengatur waktu.”

“Bukan. Aku lebih pintar menghindari rasa kantuk.”

Keduanya tertawa pelan.

Namun, ketika memasuki halaman masjid, tawa mereka berhenti.

Beberapa santri sedang berkumpul di dekat rak kitab. Salah seorang di antara mereka, Farhan, memandang Fadil dengan ekspresi yang sulit dibaca. Farhan bukan teman dekat Fadil. Mereka pernah beberapa kali belajar dalam kelompok yang sama, tetapi hubungan mereka biasa saja.

Ketika Fadil hendak melewati mereka, Farhan berkata dengan suara cukup keras.

“Kalau sudah merasa paling alim, sebaiknya jangan terlalu banyak gaya.”

Langkah Fadil terhenti.

Rasyid langsung menoleh.

“Apa maksudmu?”

Farhan tertawa kecil.

“Aku bicara biasa saja.”

“Biasa dari mana?”

Fadil menyentuh lengan Rasyid.

“Sudahlah.”

Farhan kembali berkata, “Memang benar, kan? Baru beberapa bulan di pondok sudah berubah seolah-olah paling tahu agama.”

Beberapa santri mulai memperhatikan.

Fadil menundukkan pandangan.

“Aku tidak pernah merasa seperti itu.”

“Tidak merasa, tapi kelakuanmu begitu.”

Fadil menarik napas.

“Apa yang pernah kulakukan sampai membuatmu berpikir begitu?”

Farhan tidak langsung menjawab.

Ia justru tersenyum sinis.

“Tidak perlu pura-pura tidak tahu.”

Kemudian ia pergi bersama dua santri lainnya.

Rasyid menatap punggung Farhan dengan kesal.

“Dil, kamu harus menjelaskan.”

“Menjelaskan apa?”

“Dia jelas-jelas menuduhmu.”

Fadil menggeleng.

“Kalau dia salah paham, mungkin nanti akan ada kesempatan untuk menjelaskan.”

“Kalau dia menyebarkan cerita?”

Fadil terdiam.

Kekhawatiran Rasyid ternyata bukan tanpa alasan.

Menjelang siang, Fadil mulai merasakan perubahan sikap beberapa santri. Ada yang memandangnya aneh. Ada yang berbisik ketika ia lewat. Bahkan seorang santri yang biasanya menyapanya hanya tersenyum tipis lalu pergi.

Fadil mulai memahami bahwa persoalan pagi tadi ternyata sudah berkembang.

Dan yang paling menyakitkan bukan kata-kata Farhan.

Melainkan kenyataan bahwa orang-orang mulai mempercayai sesuatu tentang dirinya yang bahkan tidak pernah ia lakukan.

°˖✧✿✧˖°

Saat istirahat siang, Rasyid datang membawa kabar.

“Dil, aku dengar sesuatu.”

Fadil yang sedang merapikan kitab menatapnya.

“Apa?”

“Farhan bilang kepada beberapa orang bahwa kamu pernah mengejek santri lain karena bacaannya salah.”

Fadil langsung mengerutkan dahi.

“Aku?”

“Iya.”

“Aku tidak pernah melakukan itu.”

“Aku tahu.”

Fadil berdiri.

“Siapa yang dia bilang?”

“Beberapa orang dari kelompok kajian.”

Fadil menghela napas panjang.

“Kenapa dia melakukan itu?”

Rasyid mengangkat bahu.

“Aku tidak tahu.”

“Apakah dia mendengar sesuatu dari orang lain?”

“Mungkin.”

Fadil duduk kembali.

Ia mencoba mengingat semua kejadian beberapa hari terakhir. Ia tidak menemukan satu pun peristiwa yang sesuai dengan tuduhan itu.

“Rasyid.”

“Hm?”

“Kalau aku mendatangi Farhan sekarang, apakah itu akan menyelesaikan masalah?”

Rasyid terdiam.

“Belum tentu.”

“Kalau aku membantah?”

“Bisa jadi dia menganggap kamu sedang membela diri.”

“Kalau aku diam?”

“Orang bisa mengira tuduhan itu benar.”

Fadil tersenyum pahit.

“Sulit juga.”

“Memang.”

Keduanya terdiam.

Tidak lama kemudian, Ustaz Rahman masuk ke ruang belajar.

“Fadil.”

Fadil berdiri.

“Ya, Ustaz.”

“Setelah pengajian nanti, temui saya.”

Fadil mengangguk.

“Baik.”

Sepanjang pengajian, pikirannya tidak sepenuhnya tenang. Ia berusaha menyimak penjelasan ustaz, tetapi bisikan beberapa santri di belakang membuat konsentrasinya terganggu.

Ketika pengajian selesai, Fadil menemui Ustaz Rahman.

“Ada apa, Fadil?”

Fadil ragu sejenak.

“Saya sedang menghadapi masalah, Ustaz.”

“Masalah apa?”

Fadil menceritakan kejadian sejak pagi.

Ustaz Rahman mendengarkan tanpa menyela.

Setelah selesai, beliau bertanya, “Apakah tuduhan itu benar?”

“Tidak, Ustaz.”

“Apakah kamu memiliki bukti bahwa kamu tidak melakukannya?”

Fadil terdiam.

“Saya tidak punya bukti khusus.”

Ustaz Rahman mengangguk.

“Lalu apa yang paling membuatmu gelisah?”

Fadil menunduk.

“Orang-orang percaya kepada sesuatu yang tidak saya lakukan.”

“Dan kamu ingin mereka segera percaya kepadamu?”

Fadil berpikir.

“Iya.”

“Kenapa?”

“Karena saya tidak ingin dianggap buruk.”

Ustaz Rahman tersenyum tipis.

“Itulah ujianmu.”

Fadil mengangkat wajah.

“Ujian saya?”

“Bukan hanya ujian tentang bagaimana orang lain memandangmu. Ini ujian tentang bagaimana kamu memandang dirimu sendiri ketika orang lain merendahkanmu.”

Fadil terdiam.

“Santri bukan hanya diuji ketika mendapatkan ilmu,” lanjut Ustaz Rahman. “Kadang ilmu yang dipelajari justru diuji melalui keadaan yang menyakitkan.”

Kalimat itu membuat Fadil terdiam lebih lama.

°˖✧✿✧˖°

Sore harinya, masalah semakin besar.

Ketika Fadil keluar dari perpustakaan, seorang santri bernama Ilham menghampirinya.

“Kamu Fadil?”

“Iya.”

“Aku ingin bertanya.”

“Tanya saja.”

“Kenapa kamu menghina bacaan Ahmad kemarin?”

Fadil terkejut.

“Aku tidak pernah menghina Ahmad.”

“Tapi Farhan bilang begitu.”

Fadil menarik napas.

“Kalau kamu ingin tahu kebenarannya, sebaiknya tanyakan kepada Ahmad sendiri.”

Ilham terdiam.

“Kamu tidak marah?”

“Aku kecewa karena ada kesalahpahaman.”

“Kalau memang tidak benar, kenapa kamu tidak marah kepada Farhan?”

Fadil menjawab perlahan.

“Marah tidak otomatis membuat sesuatu menjadi benar.”

Ilham tampak berpikir.

Namun sebelum ia pergi, dua santri lain datang.

“Jangan terlalu percaya dengan Fadil.”

Fadil kembali diam.

Salah seorang dari mereka berkata, “Dia memang pandai terlihat tenang.”

Fadil menatap mereka.

“Kalau kalian memiliki pertanyaan tentang saya, tanyakan langsung.”

“Memangnya kamu mau menjawab?”

“Kalau saya tahu jawabannya, tentu.”

Mereka akhirnya pergi.

Fadil berdiri sendirian.

Untuk pertama kalinya sejak berada di pesantren, ia merasakan sesuatu yang sangat berat.

Bukan rasa lelah.

Bukan kesulitan membaca kitab.

Bukan pula rasa rindu kepada rumah.

Melainkan perasaan ketika seseorang dinilai buruk tanpa kesempatan untuk menjelaskan.

Malam itu, setelah salat Isya, Fadil duduk di serambi masjid.

Rasyid datang membawa dua gelas air.

“Minum.”

Fadil menerimanya.

“Terima kasih.”

“Masih kepikiran?”

Fadil mengangguk.

“Rasanya aneh.”

“Apa?”

“Di rumah dulu, kalau ada masalah, aku bisa menjelaskan kepada banyak orang. Di sini, aku tidak bisa mengendalikan apa yang orang katakan.”

Rasyid duduk di sebelahnya.

“Memang tidak bisa.”

“Aku ingin semuanya segera selesai.”

“Wajar.”

Fadil menatap halaman pesantren.

“Kalau aku membalas Farhan dengan perkataan yang sama, apakah aku salah?”

Rasyid tidak langsung menjawab.

“Kamu ingin membalas karena ingin membela diri atau karena sakit hati?”

Fadil terdiam.

“Mungkin dua-duanya.”

Rasyid tersenyum.

“Berarti jangan.”

Fadil tertawa kecil.

“Nasihatmu seperti ustaz.”

“Jangan menghina aku.”

Fadil kembali tersenyum.

Namun kemudian wajahnya serius.

“Aku takut kalau diam berarti aku lemah.”

Rasyid menggeleng.

“Diam tidak selalu berarti lemah.”

“Lalu?”

“Kadang diam berarti kamu sedang berusaha agar luka tidak berubah menjadi dosa.”

Fadil menatap sahabatnya.

Kalimat itu sederhana.

Namun malam itu, kalimat tersebut terasa sangat dalam.

°˖✧✿✧˖°

Keesokan harinya, Fadil mendapatkan kesempatan berbicara dengan Ahmad.

Ia mendekati Ahmad setelah pengajian.

“Ahmad, boleh aku bertanya?”

“Boleh.”

“Apa aku pernah mengejek bacaanmu?”

Ahmad terlihat terkejut.

“Kenapa kamu bertanya begitu?”

“Karena ada yang mengatakan demikian.”

Ahmad menunduk sebentar.

Lihat selengkapnya