6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #37

Seorang santri mawas diri

Seorang santri mawas diri

Fadil Meneladani Sang Maha Melihat dalam Menjaga Keheningan Jiwa

°˖✧✿✧˖°

Al-Bashir: Meneladani Sang Maha Melihat dalam Menjaga Keheningan Jiwa

Malam beranjak semakin pekat di kompleks Pondok Pesantren Darul Hikmah, Jawa Timur. Angin dingin khas pegunungan berembus perlahan membelai selasar surau tua berdinding kayu ukir jati, membawa suasana hening yang menentramkan jiwa. Di dalam aula utama surau yang beralaskan karpet hijau tebal, puluhan santri duduk bersila dalam barisan yang sangat rapi. Di hadapan mereka, Kiai Haji Zulfakar Al-Quthuz duduk tawaduk di atas dampar kayu yang sedikit meninggi. Di sekeliling beliau, enam santri utama—Fadil, Fauzan, Faris, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq—duduk di shaf paling depan dengan kitab catatan serta pena yang siap di genggaman.

Lampu gantung tembaga memancarkan pendar cahaya keemasan yang hangat, menerangi lembaran-lembaran kitab klasik bertinta hitam. Kiai Zulfakar menyapu pandangan beliau ke seluruh ruangan, memberikan tatapan lembut namun menembus hingga ke dalam dada. Di sudut ruangan, wewangian kayu gaharu berembus tipis dari tempat pembakaran dupa, menciptakan suasana spiritual yang begitu khusyuk.

"Anak-anakku sekalian," buka Kiai Zulfakar dengan suara yang dalam, lembut, namun amat berwibawa. "Malam ini kita akan mendalami kelanjutan pencerahan dari nama Allah yang Mahagung, yaitu Al-Bashir—Yang Maha Melihat Setiap Perbuatan dan Gerak-Gerik Hamba-Nya."

Fadil menunduk takzim, lalu memberanikan diri mengangkat tangannya pelan. "Sembah sungkem saya, Kiai. Bagaimana seorang santri dapat memperatikan dan meneladani sifat Al-Bashir dalam kehidupan sehari-hari di pesantren ini?"

Kiai Zulfakar tersenyum melihat kesungguhan Fadil. "Pertanyaan yang sangat mendalam, Fadil. Meneladani sifat Al-Bashir berarti kita mengasah penglihatan batin kita untuk senantiasa tajam memperhatikan kebaikan, menjaga keheningan jiwa, serta melihat segala sesuatu dengan kacamata kearifan Ilahi."

Fauzan membetulkan letak pecinya, lalu ikut menyela dengan nada penasaran. "Apakah meneladani Al-Bashir juga berarti kita harus pandai memperhatikan cela dan kekurangan diri sendiri sebelum melihat cela orang lain, Kiai?"

"Tepat sekali, Fauzan," jawab Kiai Zulfakar seraya membuka halaman kitabnya. "Penglihatan yang dituntun oleh sifat Al-Bashir adalah penglihatan yang jujur. Ia sibuk menatap cacat di dalam dadanya sendiri sehingga tak sempat mencari-cari keburukan saudaranya."

"Bagaimana cara menjaga agar mata zhohir dan batin kita tidak ternoda oleh hal-hal yang dibenci Allah, Kiai?" pangkas Faris penuh ketakziman.

Kiai Zulfakar mengangguk pelan. "Itulah yang dinamakan Ghaddu Al-Bashar dan penajaman Bashirah. Malam ini kita akan mengupas bagaimana Fadil dan kalian semua belajar memperhatikan sifat Al-Bashir dalam setiap helatan napas dan amalan."

°˖✧✿✧˖° Peristiwa Pemicu °˖✧✿✧˖°

Suasana di aula surau mendadak semakin hening dan penuh kekhusyukan. Suara gesekan pena di atas kertas catatan dari Ghalib, Rayyan, dan Yafiq terdengar teratur di antara dengungan embun malam yang kian dingin. Kiai Zulfakar membetulkan posisi sorban hijaunya, lalu menatap keenam santri di hadapannya satu per satu dengan pandangan mata yang jernih dan mendalam.

"Seringkali," tutur Kiai Zulfakar pelan namun tegas, "manusia merasa bahwa penglihatannya sudah cukup tajam hanya karena ia bisa melihat warna dan rupa. Padahal, mata lahiriah kerap menipu, sedangkan pandangan Al-Bashir menembus hingga ke dalam niat yang paling tersembunyi."

Fadil terdiam merenungi kata-kata sang guru. Ia teringat kejadian tadi siang di sudut perpustakaan tua pesantren. Saat itu, ia melihat seorang santri junior tampak mengesap air mata di balik rak buku karena kesulitan menghafal bait-bait Alfiyah. Kebanyakan santri lain melewati junior itu tanpa memperhatikan kesusahannya. Namun, karena Fadil mencoba memperhatikan sekitar dengan kepekaan batin, ia menghampiri santri itu, mendengarkan keluh kesahnya, dan membantunya menghafal hingga paham. Tidak ada pengurus yang melihat kebaikan kecil itu, tetapi Fadil merasakan ketenangan luar biasa di dadanya.

"Siapa di antara kalian yang memahami perbedaan antara pandangan mata kepala dan pandangan mata batin (Bashirah)?" tanya Kiai Zulfakar memecah keheningan.

Ghalib mengangkat tangan kanannya seraya menundukkan pandangan. "Izin menjawab, Kiai. Mata kepala hanya melihat penampakan luar yang fana, sedangkan Bashirah yang diterangi cahaya Al-Bashir mampu melihat kebenaran, hikmah, dan ketulusan di balik suatu peristiwa."

"Penjelasan yang sangat jernih, Ghalib," puji Kiai Zulfakar. "Lantas, apa yang terjadi jika seseorang hanya mengandalkan mata kepalanya saja dalam menilai sesama?"

Rayyan mengacungkan jari penunjuknya. "Ia akan mudah tertipu oleh sangkaan, mudah berburuk sangka, dan meremehkan orang lain yang tampak bersahaja di matanya, Kiai."

Yafiq yang duduk di samping Rayyan ikut angkat bicara. "Kiai, bagaimana jika kita merasa bahwa amal-amal baik kita yang tersembunyi tidak pernah diperhatikan oleh orang lain?"

"Itulah tanda bahwa engkau masih bergantung pada pandangan makhluk, Yafiq," jawab Kiai Zulfakar lembut. "Cukuplah Al-Bashir yang menjadi saksi atas setiap detak kebaikanmu. Penglihatan Allah tidak pernah terlelap dan tidak pernah luput."

Fadil menunduk penuh rasa syukur. Nasihat sang Kiai seolah menjawab seluruh pertanyaan yang selama ini bersemayam di dalam sanubarinya.

"Masya Allah..." bisik Yafiq penuh ketakjuban. "Betapa bahagianya jiwa yang merasa cukup hanya dengan dipandang oleh Allah."

"Maka dari itu," pangkas Kiai Zulfakar dengan tatapan teduh, "pertajamlah penglihatan hatimu dengan senantiasa memperhatikan sifat Al-Bashir."

°˖✧✿✧˖° Titik Plot Pertama °˖✧✿✧˖°

Kiai Zulfakar membalikkan lembaran kitab klasiknya yang berwarna kekuningan. Beliau menunjuk pada barisan kaligrafi Arab bertuliskan Al-Bashir, Al-Lathif (Maha Lemut/Maha Teliti), dan Al-Khabir (Maha Waspada). Beliau memandang keenam santrinya dengan tatapan yang penuh makna tersembunyi.

"Tiga nama agung ini saling bertautan," jelas Kiai Zulfakar memecah keheningan. "Al-Bashir melihat segalanya, Al-Lathif menjangkau hal-hal yang paling halus, dan Al-Khabir mengetahui seluk-beluk rahasia di balik setiap kejadian."

Fadil memberanikan diri mengangkat tangannya pelan, lalu bertanya dengan rasa ingin tahu yang mendalam. "Kiai, tatkala kita sedang melintasi ujian hidup atau kesulitan belajar, bagaimana sifat Al-Bashir menguatkan dada seorang penuntut ilmu?"

Kiai Zulfakar menatap Fadil dengan pandangan yang penuh kasih sayang guru. "Fadil, ketika engkau sadar bahwa Al-Bashir menatap setiap kepayahanmu, setiap lelahmu menelaah kitab di sepertiga malam, maka rasa lelah itu berubah menjadi kemanisan ibadah. Engkau tahu bahwa tidak ada satu tetes pun keringatmu yang terbuang sia-sia."

Fauzan menyimak penjelasan tersebut seraya bertanya, "Kiai, apakah menyandarkan harapan pada penglihatan Al-Bashir dapat menghapuskan sifat ingin dipuji (riya) dari dalam batin kita?"

"Pasti, Fauzan," jawab Kiai Zulfakar. "Riya hanya tumbuh di hati yang haus akan tatapan manusia. Jika engkau sudah kenyang dan bahagia dengan tatapan kasih sayang Al-Bashir, pujian seluruh manusia di bumi tak akan membuatmu jumawa, dan celaan mereka tak akan membuatmu kerdil."

Faris mengangkat tangannya pelan. "Kiai, bagaimana kita melatih diri agar mata kita tidak digunakan untuk memandang hal-hal yang diharamkan?"

"Ingatlah bahwa mata itu adalah amanah yang dipinjamkan oleh Al-Bashir," terang Kiai Zulfakar. "Malu rasanya menggunakan nikmat penglihatan dari Allah untuk bermaksiat, sementara Sang Pemilik Penglihatan sedang menatap kita secara langsung."

Ghalib mencatat poin-poin penting tersebut di atas kertas catatannya. "Kiai, apakah orang yang tajam Bashirah-nya akan mudah memahami keagungan ayat-ayat Allah?"

"Ya, Ghalib," sahut Kiai Zulfakar. "Hati yang dipenuhi pendar Al-Bashir akan melihat tanda-tanda kebesaran Allah pada setiap lembaran kitab, pada setiap helai daun, dan pada setiap peristiwa kehidupan."

Lihat selengkapnya