6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #38

Tidak Membalas dengan Kekerasan

Kemampuan bela dirinya diuji.

°˖✧✿✧˖°

Hari Jumat adalah hari paling ramai di pasar desa, dan bagi santri pesantren, satu-satunya kesempatan pergi ke luar kompleks. Fadil berjalan di samping Salman, membawa keranjang belanja mingguan untuk dapur. Di depannya, Ubay asyik memilih salak, tanpa menyadari bahwa tiga pemuda berjaket lusuh telah berdiri mengelilinginya.

"Eh, nakal," kata pemuda yang paling tinggi, menyeringai. "Uang masuk, baru boleh lewat."

Ubay mengangkat wajahnya dengan bingung. "Uang masuk? Pasar ini bebas, Kang."

Pemuda itu melemparkan tawa pendek. Ia melangkah maju, dan saku Ubay langsung dirobeknya. Beberapa lembar uang receh jatuh berhamburan ke tanah.

"Lihat, santri sok suci, dompetnya tipis."

Fadil menutup keranjangnya dan berjalan mendekat. "Kang, ini bisa diselesaikan dengan baik-baik. Silakan kembalikan itu, kami tidak akan membuat masalah."

Pemuda tinggi itu menoleh. Matanya menyipit. "Kamu dari mana? Jangan sok berani."

"Dari pesantren. Kami hanya mau belanja dan pulang."

"Ya, ya, aku tahu. Kamu juga bisa pergi, asal kasih uang jalan."

Salman menarik lengan Fadil. "Dil, jangan. Kita lapor saja."

"Lapor?" Pemuda itu tertawa keras. "Lapor ke siapa? Polisi kampung? Sini, biar aku tunjukkan apa adanya."

Ia melemparkan tinju ke arah Ubay. Refleks Fadil bekerja sebelum pikirannya sempat. Tangan kanannya menangkis pergelangan sang pemuda, memutarnya, dan menahan siku lawan hingga berhenti beberapa senti dari wajah Ubay. Semua gerakan itu terjadi dalam satu tarikan napas, diam, dan tepat.

Pemuda itu terpaku. Ia menarik tangannya, menatap Fadil dengan campuran kaget dan marah. "Kamu... kamu bisa silat."

Fadil melepaskan tangannya pelan-pelan, menjaga wajahnya tetap tenang meski jantungnya berdebar. "Saya tidak ingin bertengkar, Kang. Kami cuma mau lewat."

Teman-teman pemuda itu menatap satu sama lain. Yang tinggi menunjuk Fadil dengan jarinya. "Ingat wajahmu. Aku akan tunggu, santri. Kita belum selesai."

Mereka pergi dengan mendorong Ubay ke samping. Fadil menunduk memunguti uang receh itu sementara tangan Salman gemetar memegang bahunya.

"Dil... sejak kapan kamu bisa begitu?"

"Sejak kecil." Fadil memasukkan uang itu ke kantong Ubay. "Ayahku mengajariku. Tapi aku tidak ingin menggunakannya. Itu janjiku."

"Janji sama siapa?"

"Pada ayah, sebelum beliau wafat."

Ubay menatap Fadil dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih, Fadil. Tapi, kenapa kamu tidak memukulnya saja? Dia sudah merobek bajuku."

"Kalau aku memukul, dia akan memanggil teman-temannya, lalu mereka menyerang kalian semua." Fadil membenahi keranjangnya. "Pukulan tidak pernah menyelesaikan sesuatu, hanya menunda masalah."

Malam harinya, kabar tentang "santri sakti" dari pesantren itu sudah menyebar ke seluruh kampung. Dan di ruang makan, sebelum salat Isya, Ubay membawa kabar yang membuat suasana berubah.

"Mereka datang ke gerbang," kata Ubay, suaranya bergetar. "Pemuda pasar itu. Katanya, Sabtu sore, mereka mau tantang pesantren kita. Kalau Fadil tidak muncul, mereka bilang akan menutup sumur desa yang kita pakai, dan semua santri tidak boleh lewat pasar lagi."

Salman menoleh ke arah Fadil. "Kita harus lapor ke Ustadz Hamdan."

Fadil menelan ludah. Di sudut pikirannya terdengar suara ayahnya, pelan seperti angin malam. "Siapa yang bisa, jangan sombong. Pukulan adalah jawaban terakhir bagi orang yang sudah kehilangan akal." Ia mengepalkan tangan, lalu melemaskannya.

°˖✧✿✧˖°

Kantor Ustadz Hamdan malam itu terasa sempit. Beliau mendengarkan seluruh cerita tanpa menyela, jari-jarinya menyentuh tasbih. Ketika Fadil selesai, beliau menatapnya lama.

"Jadi kamu bisa silat, dan selama tiga tahun di pesantren ini, tidak pernah sekalipin kelihatan?"

"Saya tidak pernah perlu, Ustadz. Sampai hari ini."

"Dan sekarang kamu butuh."

Fadil menggeleng. "Justru tidak, Ustadz. Saya tidak akan bertemu mereka untuk bertengkar. Saya hanya ingin memastikan teman-teman aman."

Ustadz Hamdan mengangguk pelan. "Keputusanmu baik. Tapi kamu harus tahu, besok sore mereka tidak akan datang hanya untuk menonton. Kalau kamu tidak muncul, mereka akan merasa menang, dan itu akan menjadi kebiasaan. Mereka akan datang lagi dan lagi."

"Bukankah lebih baik kami lapor ke polisi, Ustadz?"

"Polisi desa kita cuma dua orang, dan pemuda itu keponakan kepala desa. Laporanmu akan hilang di meja." Ustadz Hamdan menghela napas. "Aku tidak menyuruhmu bertengkar. Tapi aku menitipkan sesuatu padamu: kebenaran harus muncul dengan kepala tegak, bukan berlari."

Kabar itu menyebar seperti api di jerami kering. Santri-santri muda mulai membicarakan "Fadil yang akan melawan pemuda pasar" dengan mata berbinar, seperti menceritakan pahlawan yang nyata. Rafi menghampirinya di halaman setelah Dhuha.

"Jadi, rencanamu besok?"

"Tidak ada rencana bertengkar, Rafi."

Rafi mengerutkan kening. "Kamu serius? Mereka merobek baju Ubay, menakut-nakuti anak-anak di pasaran. Dan kamu mau datang dengan tangan kosong untuk ngobrol?"

"Justru karena itu aku datang dengan tangan kosong."

"Kamu penakut, Fadil." Rafi memalingkan muka. "Kalau aku punya ilmumu, aku sudah tunjukkan siapa pemilik kampung ini."

"Justru kamu tidak punya ilmuku, Rafi, karena kamu memikirkannya seperti itu." Fadil tersenyum tipis. "Besok sore, kalau kamu mau, kamu bisa lihat sendiri."

Malam harinya, telepon ruang kantor berdering. Ustadz Hamdan memanggil Fadil. Dari gagang itu, suara mamanya terdengar cemas, seperti orang yang mendengar kabar buruk dari jauh.

"Nak, mama dengar ada keributan di pesantrenmu. Benar?"

"Tidak ada apa-apa, Bu. Hanya masalah kecil di pasar."

Lihat selengkapnya