6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #39

Al-Ghafur

Fadil belajar tentang ampunan Allah.

--

Derai hujan lebat mengguyur atap seng Surau Baiturrahim bagai ribuan jarum tajam yang dilemparkan dari langit kelam pekat tanpa jeda. Di sudut serambi yang remang-remang diterpa tiupan angin lembap, Fadil duduk meringkuk memeluk kedua lututnya yang gemetar kedinginan. Kedua telapak tangannya mencengkeram erat sebuah amplop cokelat tebal yang telah koyak di bagian ujungnya—berisi lembaran uang kas panti asuhan yatim yang tiga pekan lalu ia ambil secara sembunyi-sembunyi demi melunasi utang judinya.

Cahaya redup dari layar ponselnya yang retak berpendar di kegelapan serambi surau. Sebuah pesan singkat dari Ilham, sahabat karibnya sejak masa kanak-kanak, terpampang menyayat ulu hatinya:

"Fadil, tolong aku segera. Pengurus panti dan warga kampung berkumpul malam ini di balai warga. Mereka menuduhku mencuri sisa dana renovasi asrama yatim karena kunci cadangan laci itu hanya ada di kamarku. Jika kau tahu sesuatu tentang masalah ini, datanglah kemari menolongku, Fadil. Demi Allah, aku tidak pernah menyentuh uang amanah itu sepeser pun."

Dada Fadil bagai dihantam palu godam berkarat yang teramat keras. Rasa sesak merayap naik menyumbat kerongkongannya hingga ia sulit bernapas.

"Apa yang telah kuperbuat pada saudaraku sendiri?" bisik Fadil dengan nada parau yang gemetar hebat. "Aku manusia terkutuk yang tak tahu diri. Aku serigala berbulu domba yang amat menjijikkan di depan orang."

Tiba-tiba derit pintu kayu surau memecah kesunyian malam yang mencekam. Sesosok lelaki tua bersurban putih melangkah keluar menenteng lentera minyak tanah. Dialah Abah Syamsul, pengasuh surau tua yang memiliki raut wajah teduh dan tatapan mata menyejukkan sanubari.

"Fadil? Sedang apa kau duduk termenung sendirian di lantai serambi yang dingin ini, Nak?" tanya Abah Syamsul seraya meletakkan lentera minyak kecil di atas undakan batu kali.

Fadil tersentak kaget. Dengan panik ia menyembunyikan amplop cokelat tebal itu ke balik lipatan jaketnya yang basah kuyup.

"Ti-tidak ada apa-apa, Abah. Saya hanya meneduh sebentar menunggu badai malam ini reda."

"Hujan di luar memang lebat," Abah tersenyum tipis sembari menatap lekat kedua mata Fadil yang memerah dan membengkak. "Tetapi badai di dalam dadamu agaknya terdengar jauh lebih memekakkan telinga daripada petir di angkasa raya malam ini."

Fadil menelan ludah yang terasa sepahit empedu. Butiran air mata menetes perlahan membasahi pipinya yang pucat pasi.

"Abah... apakah pendosa hina yang berlumuran lumpur kemunafikan masih berhak menginjakkan kakinya di serambi rumah Allah ini?"

"Mengapa kau melontarkan pertanyaan getir semacam itu, wahai anak muda?" Abah Syamsul melangkah mendekat, lalu duduk beralaskan selembar sajadah pandan di samping tubuh Fadil.

"Karena saya telah melewati batas kebiadaban, Abah!" tangis Fadil pecah, bahunya berguncang menahan kepedihan batin. "Saya telah mengkhianati amanah anak-anak yatim piatu. Saya membiarkan sahabat terbaik saya menanggung aib fitnah keji atas kejahatan kotor yang sesungguhnya saya lakukan dengan sadar. Serambi suci ini terlalu mulia untuk diinjak oleh telapak kaki saya yang berlumuran noda kehinaan."

"Apakah dosamu membuatmu merasa telah terkutuk selamanya dan tak lagi memiliki jalan pulang ke hadirat-Nya?" selidik Abah dengan nada suara lembut yang merengkuh jiwa pemuda itu.

"Benar sekali, Abah!" jerit Fadil tertahan di tengah deru angin malam. "Setiap kali saya jatuh dalam maksiat, saya bersujud meratap memohon ampunan. Saya bersumpah tidak akan mengulanginya lagi. Namun sebulan kemudian, nafsu serakah meremukkan janji suci itu! Bukankah Allah murka kepada hamba yang mempermainkan tobatnya sendiri? Saya merasa pintu langit telah digembok rapat untuk pendosa busuk seperti saya."

"Kau keliru besar, Fadil," Abah Syamsul menghela napas panjang menatap curahan hujan di pekarangan surau. "Rasa putus asamu itulah yang sesungguhnya jauh lebih berbahaya bagi jiwamu daripada ketergelinciranmu."

"Bagaimana mungkin hal itu terjadi, Abah?" tanya Fadil dengan tatapan nanar penuh kebingungan batin. "Bukankah wajar jika seorang pendosa membenci dirinya sendiri?"

"Membenci dosa adalah pangkal tobat nasuha," sahut Abah dengan nada tegas namun sarat limpahan kasih sayang. "Akan tetapi, meyakini bahwa dosamu lebih besar daripada rahmat Allah adalah jerat kesombongan batin yang paling halus dan membinasakan iman manusia."

Fadil terhenyak kaku membisu. Kata-kata sang guru menusuk lubuk hatinya yang terdalam laksana sembilu tajam. Air matanya menetes kian deras di atas selasar kayu basah, membasahi lantai serambi surau yang sunyi sepi.

°˖✧✿✧˖°

Abah Syamsul bangkit sejenak melangkah ke bilik surau, lalu kembali membawa dua cangkir tembikar berisi seduhan teh serai jahe panas yang mengepulkan uap wangi menenangkan kalbu. Beliau menyodorkan satu cangkir tembikar ke hadapan Fadil yang masih menggigil kedinginan beralaskan papan serambi basah oleh tempias air hujan yang dingin.

"Minumlah dulu teh hangat ini, Nak. Hangatkan kerongkonganmu sebelum kau menghakimi takdir jiwamu sendiri di hadapan sang Khalik," tutur Abah dengan sorot mata teduh penuh keayoman seorang guru bijak.

Fadil menyambut cangkir itu dengan kedua telapak tangan yang gemetar hebat. Kehangatan tembikar meresap ke kulitnya yang pucat pasi, namun kebekuan di rongga dadanya terasa tak bergeming sedikit pun di tengah dinginnya malam.

"Terima kasih banyak atas perhatian ini, Abah," bisik Fadil lirih setelah menyesap cairan hangat itu perlahan. "Tetapi seduhan teh manis ini sungguh tak sanggup membersihkan noda kebusukan yang meracuni batin saya."

"Katakanlah kepadaku secara jujur, Fadil," Abah menatap lurus ke dalam manik mata pemuda itu, "mengapa kau membiarkan Ilham disidang sendirian malam ini di balai pertemuan warga?"

Fadil meremas cangkir tembikar hingga persendian jemarinya memutih pucat. Napasnya tercekat mengingat peristiwa kelam tiga pekan lalu yang menjadi sumber malapetaka kehinaan hidupnya.

"Karena saya dirundung ketakutan luar biasa, Abah!" ucap Fadil dengan suara serak menahan sesak di dada. "Saya terjerat utang pinjaman daring berbunga mencekik akibat kecerobohan spekulasi. Para penagih kasar meneror dan mengancam mendatangi rumah ibu saya yang sakit jantung. Dalam kepanikan buta, saya menduplikasi kunci laci asrama panti dari gantungan kunci Ilham, lalu mengambil dana renovasi itu seraya berjanji menggantinya dalam tiga hari."

"Dan janji tiga hari itu lenyap ditelan waktu hingga berganti tiga pekan," potong Abah Syamsul dengan nada suara yang tenang namun menusuk sanubari.

"Benar sekali apa yang Abah katakan," air mata Fadil kembali mengalir membasahi pipinya yang kuyu. "Uang itu lenyap tak berbekas. Malam ini pengurus membuka laci dan hanya mendapati kunci Ilham tertinggal. Seluruh warga menuduh Ilham sebagai pencuri hina, kehormatan keluarganya diinjak-injak, sementara saya duduk meringkuk di sini laksana pengecut tak bernyali!"

"Lalu apa yang hendak kau lakukan sekarang, anak muda?" tanya Abah tanpa secuil pun nada kebencian di wajahnya. "Apakah kau berniat melarikan diri menaiki bus malam ke luar kota, mengubur bangkai kejahatan ini hingga membusuk bersama jasadmu kelak?"

"Tadinya saya hendak melarikan diri, Abah," tangis Fadil kian pilu tersedu-sedu di serambi. Tetapi batin saya menjerit tersiksa di sini. Apakah pintu tobat masih terbuka lebar bagi jiwa pendosa pengkhianat yang kotor seperti saya ini?

°˖✧✿✧˖°

Kilatan petir menyambar di angkasa raya, memantulkan bayangan jeruji jendela surau pada dinding semen yang berlumut tipis. Gemuruh guntur yang menggelegar susul-menyusul menggetarkan lantai papan serambi, seolah mencerminkan pergolakan dahsyat yang sedang memporak-porandakan batin pemuda yang tengah tersungkur tak berdaya itu. Angin dingin meniup ujung jubah putih Abah Syamsul yang duduk tenang menatap muridnya dengan penuh kesabaran ruhani seorang pembimbing jiwa.

"Pintu tobat tertutup?" Abah Syamsul tersenyum prihatin mendengar ratapan pilu pemuda di hadapannya. "Siapa manusia di bumi ini yang berhak menutup pintu ampunan Tuhan bagi hamba-Nya?"

Fadil mencengkeram dadanya yang berdenyut ngilu laksana ditikam duri beracun. Kesedihannya meluap tak terbendung lagi di serambi yang dingin itu.

"Saya sendiri yang merasakannya dengan amat nyata, Abah! Ini bukan kekhilafan pertama saya! Dulu saya terjerumus maksiat, lalu bersujud menangis meraung-raung di atas sajadah hingga fajar menyingsing, bersumpah demi Allah tidak akan mengulangi dosa itu lagi. Namun beberapa bulan berselang, saya jatuh ke lubang kehinaan yang sama persis! Bukankah tobat berulang semacam itu adalah pelecehan menjijikkan terhadap keagungan nama Allah Yang Maha Suci?"

Abah meletakkan telapak tangannya yang kokoh di atas pundak Fadil yang kurus, menyalurkan getaran keteguhan yang meredam kepanikan batin pemuda itu secara perlahan. Kehangatan telapak tangan sang guru mengalirkan ketenangan batin yang amat sangat dibutuhkan.

"Apakah kau mengira hamba beriman diciptakan laksana malaikat suci tanpa hawa nafsu?" tanya Abah seraya menatap teduh pupil mata Fadil yang basah oleh genangan air mata penyesalan.

"Tentu saja tidak, Abah," sahut Fadil sembari menggelengkan kepala dengan rasa putus asa. "Namun orang beriman tidak akan berulang kali mengkhianati Rabb-nya dengan kemunafikan memalukan semacam ini!"

Lihat selengkapnya