Kesalahan Masa Lalu
Ia mulai berdamai dengan kesalahan yang pernah dilakukannya.
°˖✧✿✧˖°
Matahari pagi menembus celah gorden kamar Fadil, membentuk garis-garis cahaya yang jatuh tepat di atas tumpukan buku dan album foto di meja belajarnya. Angin dari jendela yang sedikit terbuka membawa aroma tanah basah setelah hujan semalam, bercampur dengan wangi kopi yang baru diseduh ibunya di dapur. Fadil duduk di tepi ranjang, kedua tangannya menopang dagu, menatap layar ponsel yang menampilkan pesan dari Rina, sahabatnya sejak SMP.
"Fad, kamu masih simpan foto-foto lama? Aku nemu satu foto kita waktu SMP. Kamu masih ingat kejadian itu?"
Fadil mengerutkan dahi. Ia meletakkan ponsel dan berjalan ke meja, membuka album foto yang sudah berdebu. Halaman demi halaman ia balik, sampai matanya berhenti pada sebuah foto yang diambil enam tahun lalu. Di foto itu, ia dan Rina berdiri di depan gerbang SMP dengan seragam putih biru. Wajah Fadil terlihat murung, sementara Rina tersenyum lebar.
Fadil mengingat hari itu dengan jelas. Hari itu adalah hari ketika ia melakukan kesalahan yang sampai sekarang masih menghantuinya. Ia menipu gurunya, Bu Kartika, dengan memalsukan tanda tangan orang tuanya di buku rapor. Saat itu, ia ketahuan, tetapi Bu Kartika memilih untuk tidak melaporkannya ke kepala sekolah. Guru itu hanya menatapnya dengan mata kecewa dan berkata, "Fadil, aku berharap kamu belajar dari ini."
Namun, Fadil tidak benar-benar belajar. Ia hanya merasa lega karena tidak dihukum. Ia melanjutkan hidupnya, pindah ke pondok pesantren, dan mencoba melupakan kejadian itu. Tetapi kenangan itu selalu kembali, terutama saat ia sendirian.
Ponselnya bergetar lagi. Pesan dari Rina.
"Fad, Bu Kartika meninggal kemarin. Aku baru dapat kabar dari grup alumni."
Fadil tercekat. Tangannya gemetar. Ia menatap layar ponsel, membaca pesan itu berulang kali. Bu Kartika meninggal. Guru yang pernah ia tipu. Guru yang tidak pernah ia minta maaf.
"Kapan pemakamannya?" Fadil mengetik dengan tangan gemetar.
"Besok pagi. Kamu datang?"
Fadil tidak langsung menjawab. Ia meletakkan ponsel dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Perasaan bersalah yang selama ini ia pendam kembali muncul, lebih kuat dari sebelumnya.
Ia teringat wajah Bu Kartika saat mengetahui tanda tangan itu palsu. Guru itu tidak marah, tidak membentak. Ia hanya terdiam lama, lalu berkata dengan suara pelan, "Fadil, kejujuran itu bukan hanya tentang tidak berbohong. Ini tentang berani mengakui kesalahan."
Fadil tidak mengerti saat itu. Ia hanya ingin cepat-cepat keluar dari ruang guru dan melupakan semuanya. Tetapi sekarang, setelah bertahun-tahun, ia baru menyadari betapa dalam kata-kata itu.
Ia bangkit dari ranjang dan berjalan ke jendela. Di luar, langit cerah, tetapi hatinya gelap. Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Ia harus datang ke pemakaman Bu Kartika. Bukan hanya untuk menghormati gurunya, tetapi juga untuk meminta maaf yang selama ini tertunda.
Ia mengambil ponsel dan membalas pesan Rina. "Aku datang. Jam berapa?"
"Jam delapan pagi. Aku jemput kamu di pondok."
Fadil menghela napas. Ia menatap album foto di mejanya. Foto itu masih di halaman yang sama, menatapnya dengan tatapan yang tidak menghakimi. Fadil menutup album dan meletakkannya kembali di rak.
Ia duduk di tepi ranjang, mencoba menenangkan diri. Tetapi bayangan Bu Kartika terus muncul di pikirannya. Wajahnya yang lembut, suaranya yang tenang, dan mata kecewanya saat mengetahui kebohongan Fadil.
"Mungkin ini saatnya," gumam Fadil. "Mungkin ini saatnya aku berdamai dengan masa lalu."
°˖✧✿✧˖°
Perjalanan ke rumah duka terasa lebih lama dari yang Fadil bayangkan. Rina mengendarai motornya dengan hati-hati, melewati jalan-jalan yang masih basah. Fadil duduk di belakang, tidak banyak bicara. Pikirannya penuh dengan kenangan.
"Kamu okay?" tanya Rina di tengah perjalanan.
Fadil mengangguk. "Aku hanya... tidak menyangka."
"Bu Kartika memang sakit sudah lama. Kata teman-teman, dia mengidap kanker."
Fadil terdiam. Ia tidak tahu bahwa Bu Kartika sakit. Ia terlalu sibuk dengan hidupnya sendiri sampai lupa bahwa gurunya pernah berarti dalam hidupnya.
Mereka tiba di rumah duka sekitar pukul delapan pagi. Rumah itu sederhana, dengan halaman yang penuh bunga. Beberapa orang terlihat duduk di kursi plastik, mengenakan pakaian hitam. Fadil mengenali beberapa wajah. Teman-teman SMP-nya, beberapa guru lama, dan keluarga Bu Kartika.
Rina memarkir motornya. "Ayo masuk."
Fadil mengikuti Rina masuk ke rumah. Di ruang tamu, peti jenazah Bu Kartika sudah ditutup. Di depannya, ada meja dengan foto almarhumah. Fadil menatap foto itu lama. Bu Kartika tersenyum lembut, sama seperti yang ia ingat.
Seorang wanita paruh baya menghampiri mereka. "Kalian murid Bu Kartika?"
Rina mengangguk. "Iya, Bu. Saya Rina, dan ini Fadil."
Wanita itu tersenyum. "Bu Kartika sering bicara tentang murid-muridnya. Dia selalu bilang, menjadi guru adalah pekerjaan paling mulia."
Fadil menelan ludah. "Bu, saya... saya pernah melakukan kesalahan pada Bu Kartika. Saya tidak pernah minta maaf."
Wanita itu menatap Fadil dengan lembut. "Bu Kartika tidak pernah menyimpan dendam. Dia selalu bilang, setiap murid adalah kesempatan untuk belajar."
Fadil merasakan air mata mengalir di pipinya. Ia menundukkan kepala. "Saya menyesal tidak pernah minta maaf."
Wanita itu meletakkan tangannya di pundak Fadil. "Kamu bisa minta maaf sekarang. Dia pasti mendengar."
Fadil mengangguk. Ia berjalan mendekati peti jenazah dan duduk di sampingnya. Ia menutup matanya dan berdoa. Dalam hati, ia berbicara pada Bu Kartika.
"Bu, saya minta maaf. Saya menyesal telah menipu Ibu. Saya menyesal tidak pernah mengakui kesalahan saya. Saya berjanji akan menjadi orang yang lebih jujur."
Ia membuka mata dan menatap foto Bu Kartika lagi. Kali ini, ia merasakan kedamaian yang aneh. Seolah Bu Kartika mendengar dan memaafkannya.
Rina duduk di samping Fadil. "Kamu sudah bilang?"
Fadil mengangguk. "Aku sudah bilang."
Mereka duduk di sana selama beberapa menit, mengenang Bu Kartika. Lalu, seorang pria tua menghampiri mereka. Ia mengenakan kemeja putih dan peci hitam.
"Kalian murid Bu Kartika?" tanyanya.
Rina mengangguk. "Iya, Pak."
Pria itu tersenyum. "Saya suami Bu Kartika. Dia meninggalkan sesuatu untuk murid-muridnya. Surat wasiat."
Fadil dan Rina saling menatap. "Surat wasiat?"
"Bu Kartika menulis surat untuk setiap murid yang pernah ia ajar. Ia berpesan agar surat-surat itu diberikan setelah ia meninggal."
Fadil merasakan jantungnya berdegup kencang. "Apakah ada surat untuk saya?"
Pria itu mengangguk. "Ada. Namamu disebutkan."
Ia mengeluarkan sebuah amplop putih dari tasnya dan menyerahkannya pada Fadil. Fadil menerimanya dengan tangan gemetar. Di amplop itu, tertulis namanya dengan tulisan tangan Bu Kartika yang rapi.
"Terima kasih, Pak," kata Fadil.
Pria itu tersenyum. "Baca di rumah. Bu Kartika ingin kamu membacanya sendirian."