6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #40

Ar-Razzaq

Ar-Razzaq

Fadil belajar memahami : Rezeki yang Telah Dijamin

°˖✧✿✧˖°

Malam kian melarut di kompleks Pondok Pesantren Darul Hikmah, Jawa Timur. Angin dingin khas pegunungan berembus lembut menembus celah-celah ukiran kayu surau tua, membawa keharuman tanah basah dan dedaunan pinus yang menentramkan jiwa. Di dalam aula utama surau yang beralaskan karpet hijau tebal, puluhan santri duduk bersila dalam barisan yang amat rapi. Di hadapan mereka, Kiai Haji Zulfakar Al-Quthuz duduk bersila di atas dampar kayu jati dengan keanggunan serta ketenangan yang bersahaja. Di sekeliling beliau, enam santri utama—Fadil, Fauzan, Faris, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq—duduk khusyuk di barisan paling depan dengan kitab catatan serta pena yang siap di genggaman.

Lampu gantung tembaga tua memancarkan pendar cahaya keemasan yang hangat, menerangi lembaran-lembaran kitab klasik bertinta hitam. Kiai Zulfakar menatap keenam muridnya satu per satu dengan pandangan mata yang sangat teduh, membawa kedamaian bagi siapa saja yang memandangnya. Di sudut ruangan, wewangian kayu gaharu membumbung tipis dari tempat pembakaran dupa tembaga, menciptakan nuansa spiritual yang amat kental.

"Anak-anakku sekalian," buka Kiai Zulfakar dengan suara yang dalam, lembut, namun amat berwibawa. "Malam ini kita akan menyelami kedalaman makna dari nama Allah yang Maha Pemurah, yaitu Ar-Razzaq—Yang Maha Memberi Rezeki kepada seluruh makhluk-Nya tanpa pernah terputus."

Fadil menunduk takzim, lalu memberanikan diri mengangkat tangannya pelan. "Sembah sungkem saya, Kiai. Bagaimana seorang santri dapat memperatikan dan memahami hakikat sifat Ar-Razzaq dalam kehidupan sehari-hari di pesantren ini?"

Kiai Zulfakar tersenyum melihat kesungguhan Fadil. "Pertanyaan yang amat mendalam, Fadil. Meneladani dan memahami sifat Ar-Razzaq berarti kita memperluas kacamata batin kita. Banyak manusia mengira rezeki hanyalah lembaran uang atau harta benda semata."

Fauzan membetulkan letak pecinya, lalu ikut menyela dengan nada penasaran. "Jika bukan hanya harta benda, lantas apa saja wujud rezeki yang sebenarnya telah dijamin oleh Allah untuk kita, Kiai?"

"Ilmu yang bermanfaat, kesehatan raga, sahabat-sahabat yang saleh, serta kesempatan untuk melakukan ketaatan—semua itu adalah bagian dari rezeki yang sangat agung," jawab Kiai Zulfakar seraya membuka halaman kitabnya.

"Apakah rezeki ilmu dan kesehatan itu kedudukannya lebih tinggi daripada rezeki materi, Kiai?" pangkas Faris penuh ketakziman.

Kiai Zulfakar mengangguk pelan. "Materi akan sirna dan habis dimakan waktu, sedangkan ilmu dan kebaikan batin akan terus mengalir menjadi bekal hingga akhirat kelak."

Ghalib, Rayyan, dan Yafiq mendengarkan dengan penuh rasa hormat, menyiapkan catatan mereka untuk menyerap tiap petuah emas sang guru.

°˖✧✿✧˖°

Suasana di aula surau mendadak semakin hening dan penuh kekhusyukan. Suara gesekan pena di atas kertas catatan milik Ghalib, Rayyan, dan Yafiq terdengar teratur di antara dengungan embun malam yang kian dingin. Kiai Zulfakar membetulkan posisi sorban hijaunya, lalu menatap keenam santri di hadapannya satu per satu dengan pandangan mata yang jernih dan mendalam.

"Seringkali," tutur Kiai Zulfakar pelan namun tegas, "manusia merasa cemas dan gelisah karena takut kekurangan. Padahal, Allah telah menjamin rezeki setiap makhluk bahkan sebelum ia dilahirkan ke dunia ini."

Fadil terdiam merenungi kata-kata sang guru. Ia teringat kejadian tadi sore di halaman pesantren. Saat itu, ia melihat seorang santri junior tampak duduk bersedih di bawah pohon beringin karena kiriman uang dari orang tuanya di kampung terlambat datang. Fadil yang kebetulan memiliki sedikit tabungan dan bekal makanan, segera menghampiri santri itu, membagi sebagian makanannya, serta menghiburnya. Ketika membantu adik kelasnya itu, Fadil merasa hatinya amat lapang. Ia menyadari bahwa diberi kesempatan oleh Allah untuk berbagi dan menolong orang lain adalah sebuah bentuk rezeki batin yang tak ternilai harganya.

"Siapa di antara kalian yang menyadari bahwa kehadiran kawan-kawan di sekeliling kalian malam ini adalah bagian dari rezeki?" tanya Kiai Zulfakar memecah keheningan.

Ghalib mengangkat tangan kanannya seraya menundukkan pandangan. "Izin menjawab, Kiai. Memiliki sahabat-sahabat yang saling mengingatkan dalam kebaikan seperti di Darul Hikmah ini adalah rezeki persaudaraan yang sangat mahal harganya."

"Penjelasan yang sangat jernih, Ghalib," puji Kiai Zulfakar. "Lantas, apa yang terjadi jika seseorang menyempitkan pemahamannya tentang rezeki hanya sebatas uang?"

Rayyan mengacungkan jari penunjuknya. "Ia akan senantiasa merasa kurang, mudah iri hati pada pencapaian orang lain, dan lupa bersyukur atas nikmat kesehatan serta ilmu yang sudah ia genggam, Kiai."

Yafiq yang duduk di samping Rayyan ikut angkat bicara. "Kiai, bagaimana jika kita sedang merasa kesulitan dalam menghafal atau memahami sebuah bab ilmu? Apakah itu berarti rezeki ilmu kita sedang ditahan oleh Allah?"

"Bukan ditahan, Yafiq," jawab Kiai Zulfakar lembut. "Melainkan Allah sedang menguji kesungguhan dan kesabaranmu. Rasa lelahmu dalam menuntut ilmu adalah proses pembersihan hati agar siap menampung rezeki ilmu yang lebih besar."

Fadil menunduk penuh rasa syukur. Nasihat sang Kiai seolah menjawab seluruh perenungan yang selama ini bersemayam di dalam sanubarinya.

"Masya Allah..." bisik Yafiq penuh ketakjuban. "Betapa kayanya jiwa yang mampu melihat rezeki Allah di setiap sudut kehidupannya."

"Maka dari itu," pangkas Kiai Zulfakar dengan tatapan teduh, "bukalah matamu untuk melihat betapa melimpahnya rezeki Ar-Razzaq yang telah mengelilingimu."

°˖✧✿✧˖°

Kiai Zulfakar membalikkan lembaran kitab klasiknya yang berwarna kekuningan. Beliau menunjuk pada barisan kaligrafi Arab bertuliskan Ar-Razzaq, Al-Karim (Maha Pemurah), dan Al-Wahhab (Maha Pemberi Karunia). Beliau memandang keenam santrinya dengan tatapan yang penuh makna tersembunyi.

"Tiga nama agung ini saling bertautan," jelas Kiai Zulfakar memecah keheningan. "Ar-Razzaq menjamin rezekimu, Al-Karim memberinya dengan penuh kemuliaan, dan Al-Wahhab mengaruniakannya tanpa meminta balasan dari hamba-Nya."

Fadil memberanikan diri mengangkat tangannya pelan, lalu bertanya dengan rasa ingin tahu yang mendalam. "Kiai, tatkala seseorang merasa cemas akan masa depannya—seperti bagaimana ia akan mencari penghidupan setelah lulus dari pesantren—bagaimana sifat Ar-Razzaq menguatkan jiwanya?"

Kiai Zulfakar menatap Fadil dengan pandangan yang penuh kasih sayang guru. "Fadil, burung yang terbang di pagi hari dalam keadaan perut kosong tidak pernah membawa kalkulator untuk menghitung rezekinya. Namun ia kembali ke sarangnya di sore hari dalam keadaan kenyang. Jika makhluk yang tidak berakal saja dijamin rezekinya oleh Ar-Razzaq, bagaimana mungkin manusia yang beriman dan menuntut ilmu akan ditelantarkan?"

Fauzan menyimak penjelasan tersebut seraya bertanya, "Kiai, apakah menyandarkan keyakinan pada Ar-Razzaq dapat menghapuskan sifat kikir dan takut miskin dari dalam dada kita?"

"Pasti, Fauzan," jawab Kiai Zulfakar. "Ketakutan akan kemiskinan hanya muncul ketika manusia menganggap rezeki itu berasal dari usahanya sendiri. Jika ia sadar bahwa Ar-Razzaq adalah pemilik tunggal seluruh perbendaharaan langit dan bumi, ia tidak akan pernah takut memberi dan berbagi."

Faris mengangkat tangannya pelan. "Kiai, bagaimana kita melatih diri agar senantiasa bersyukur atas rezeki kesehatan dan kesempatan yang sering kita lupakan?"

"Gunakan kesehatan dan kesempatan itu untuk taat kepada Allah," terang Kiai Zulfakar. "Cara terbaik bersyukur atas rezeki raga yang sehat adalah menggunakannya melangkah ke majelis ilmu dan sujud di sepertiga malam."

Ghalib mencatat poin-poin penting tersebut di atas kertas catatannya. "Kiai, apakah rezeki berupa kawan yang saleh dapat membawa kita keselamatan hingga di akhirat?"

Lihat selengkapnya