6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #41

Ketika Rezeki Terasa Sempit

Ketika Rezeki Terasa Sempit

Kabar dari rumah membuat Fadil kembali memikirkan kesulitan orang tuanya.

°˖✧✿✧˖°

Malam kian melarut di kompleks Pondok Pesantren Darul Hikmah, Jawa Timur. Angin dingin khas pegunungan berembus lembut menembus celah-celah ukiran kayu surau tua, membawa keharuman tanah basah dan dedaunan pinus yang menentramkan jiwa. Di dalam aula utama surau yang beralaskan karpet hijau tebal, puluhan santri duduk bersila dalam barisan yang amat rapi. Di hadapan mereka, Kiai Haji Zulfakar Al-Quthuz duduk bersila di atas dampar kayu jati dengan keanggunan serta ketenangan yang bersahaja. Di sekeliling beliau, enam santri utama—Fadil, Fauzan, Faris, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq—duduk khusyuk di barisan paling depan dengan kitab catatan serta pena yang siap di genggaman.

Lampu gantung tembaga tua memancarkan pendar cahaya keemasan yang hangat, menerangi lembaran-lembaran kitab klasik bertinta hitam. Kiai Zulfakar menatap keenam muridnya satu per satu dengan pandangan mata yang sangat teduh, membawa kedamaian bagi siapa saja yang memandangnya. Di sudut ruangan, wewangian kayu gaharu membumbung tipis dari tempat pembakaran dupa tembaga, menciptakan nuansa spiritual yang amat kental.

"Anak-anakku sekalian," buka Kiai Zulfakar dengan suara yang dalam, lembut, namun amat berwibawa. "Malam ini kita akan menyelami hakikat ujian hidup tatkala Allah menakar dan menyempitkan rezeki lahiriah hamba-Nya."

Fadil menunduk takzim, lalu memberanikan diri mengangkat tangannya pelan. "Sembah sungkem saya, Kiai. Bagaimana seorang santri dapat menjaga keteguhan hatinya saat kesempitan rezeki mulai menguji ketenangan jiwa dan fokus belajarnya?"

Kiai Zulfakar tersenyum melihat kesungguhan Fadil. "Pertanyaan yang amat mendalam, Fadil. Kesempitan rezeki bukanlah tanda bahwa Allah murka, melainkan sebuah undangan khusus agar hamba-Nya melipatgandakan keikhlasan dan sandaran batin."

Fauzan membetulkan letak pecinya, lalu ikut menyela dengan nada penasaran. "Jika kesempitan itu datang bertubi-tubi, apakah itu bentuk ujian keimanan ataukah teguran, Kiai?"

"Bisa jadi keduanya, Fauzan," jawab Kiai Zulfakar seraya membuka halaman kitabnya. "Bagi jiwa yang beriman, kesempitan adalah pendorong untuk semakin mendekatkan diri kepada Sang Maha Memelihara."

"Bagaimana cara agar kita tidak mengeluh tatkala beban hidup keluarga di rumah terasa begitu berat, Kiai?" pangkas Faris penuh ketakziman.

Kiai Zulfakar mengangguk pelan. "Dengan menyadari bahwa Allah Al-Qabidh—Yang Maha Menyempitkan—selalu menyandingkan sifat-Nya dengan Al-Basit—Yang Maha Melapangkan."

Ghalib, Rayyan, dan Yafiq mendengarkan dengan penuh rasa hormat, menyiapkan catatan mereka untuk menyerap tiap petuah emas sang guru.

°˖✧✿✧˖°

Suasana di aula surau mendadak semakin hening dan penuh kekhusyukan. Suara gesekan pena di atas kertas catatan milik Ghalib, Rayyan, dan Yafiq terdengar teratur di antara dengungan embun malam yang kian dingin. Kiai Zulfakar membetulkan posisi sorban hijaunya, lalu menatap keenam santri di hadapannya satu per satu dengan pandangan mata yang jernih dan mendalam.

"Seringkali," tutur Kiai Zulfakar pelan namun tegas, "pikiran manusia terpecah tatkala bayang-bayang kesulitan ekonomi melanda keluarga di kampung halaman. Padahal, tugas santri di sini adalah menjaga nyala api keikhlasan."

Fadil terdiam merenungi kata-kata sang guru. Dadanya terasa sesak seketika. Tadi sore, selepas shalat Asar, seorang pengurus pondok menyerahkan selembar surat dari ibunya di kampung. Dalam surat bertinta tipis itu, ibunya mengabarkan bahwa panen padi di sawah kecil mereka gagal total akibat serangan hama. Ayahnya pun kini terpaksa berutang untuk memenuhi kebutuhan harian dan biaya sekolah adik-adiknya. Kabar dari rumah itu membuat Fadil kembali memikirkan kesulitan orang tuanya. Rasa bersalah sempat menyusup di hatinya karena merasa belum bisa membantu perekonomian keluarga sementara ia sibuk menimba ilmu di Darul Hikmah.

"Siapa di antara kalian yang sedang merasakan beban pikiran akan kondisi keluarga di rumah?" tanya Kiai Zulfakar memecah keheningan.

Fadil perlahan menundukkan kepala, lalu menjawab dengan jujur. "Saya, Kiai. Kabar kegagalan panen dan kesulitan utang orang tua saya tadi sore membuat batin saya cukup terguncang."

"Keterusterangan yang amat jujur, Fadil," puji Kiai Zulfakar lembut. "Lantas, apa yang engkau rasakan tatkala menerima kabar duka tersebut?"

"Saya merasa tertekan dan sedih, Kiai," aku Fadil pelan. "Saya khawatir kehadiran saya di sini justru menambah beban keuangan orang tua yang sedang dalam kesempitan."

Ghalib yang duduk di samping Fadil menepuk bahu sahabatnya itu. "Fadil telah berusaha hidup amat hemat di sini, Kiai. Kami menjadi saksi betapa beliau tidak pernah mengeluh."

Rayyan mengacungkan jari penunjuknya. "Kiai, bagaimana seorang anak bisa tetap tenang menuntut ilmu saat mengetahui orang tuanya sedang bersusah payah mencari rezeki?"

"Dengan cara menghadiahkan seluruh keberkahan menuntut ilmu ini untuk mereka," tegas Kiai Zulfakar. "Kesungguhanmu belajar di sini adalah jalur doa dan pembuka pintu keberkahan yang paling nyata bagi orang tuamu di rumah."

Yafiq yang duduk di samping Rayyan ikut angkat bicara. "Apakah doa seorang santri yang tulus bisa mengetuk kelapangan rezeki bagi keluarganya, Kiai?"

"Tentu saja, Yafiq," jawab Kiai Zulfakar yakin. "Doa penuntut ilmu yang ikhlas menembus langit tanpa penghalang."

Fadil menunduk penuh rasa haru. Nasihat sang Kiai seolah menjadi penawar langsung bagi kegelisahan yang membakar dadanya sejak sore tadi.

"Masya Allah..." bisik Yafiq penuh ketakjuban. "Betapa besarnya daya penguat dari sebuah ketenangan tekad."

"Maka dari itu," pangkas Kiai Zulfakar dengan tatapan teduh, "kembalikan seluruh ketakutanmu kepada Allah."

°˖✧✿✧˖°

Kiai Zulfakar membalikkan lembaran kitab klasiknya yang berwarna kekuningan. Beliau menunjuk pada barisan kaligrafi Arab bertuliskan Al-Qabidh (Yang Maha Menyempitkan) dan Al-Basit (Yang Maha Melapangkan). Beliau memandang keenam santrinya dengan tatapan yang penuh makna tersembunyi.

"Dua nama agung ini berpasangan," jelas Kiai Zulfakar memecah keheningan. "Al-Qabidh menyempitkan rezeki atau jalan hidup untuk menguji kesabaran, sedangkan Al-Basit membentangkan kelapangan untuk menguji rasa syukur."

Fadil memberanikan diri mengangkat tangannya pelan, lalu bertanya dengan rasa ingin tahu yang mendalam. "Kiai, tatkala kita berada dalam himpitan Al-Qabidh, bagaimana caranya agar pikiran kita tidak melayang dan merusak konsentrasi hafalan serta muthala'ah?"

Kiai Zulfakar menatap Fadil dengan pandangan yang penuh kasih sayang guru. "Fadil, ketahuilah bahwa rezeki lahiriah orang tuamu dan rezeki batinmu di sini berada di tangan Dzat yang sama. Allah tidak pernah alpa memberikan porsi yang pas. Ketika Allah menyempitkan harta lahiriah, Dia seringkali sedang meluaskan rezeki batin berupa keteguhan jiwa dan ketajaman pemahaman ilmu."

Fauzan menyimak penjelasan tersebut seraya bertanya, "Kiai, apakah kekhawatiran yang berlebihan terhadap rezeki justru bisa mengurangi keberkahan ilmu yang sedang kita pelajari?"

"Benar, Fauzan," jawab Kiai Zulfakar. "Kekhawatiran berlebihan adalah bentuk keraguan terselubung atas kemurahan Allah. Tugas hamba adalah berikhtiar dan berdoa, sedangkan urusan ketercukupan adalah mutlak hak prerogatif Allah."

Faris mengangkat tangannya pelan. "Kiai, bagaimana kita melatih diri agar tidak merasa rendah diri tatkala melihat santri lain hidup dalam serba kecukupan?"

Lihat selengkapnya