Kelembutan mulai tumbuh dalam diri Fadil.
°˖✧✿✧˖°
Kabut tipis turun perlahan menyelimuti genting-genting seng berkarat di pinggiran kota saat gema azan magrib baru saja pudar dari pengeras suara surau tua. Di teras depan rumah tua peninggalan kakeknya, Fadil berdiri mematung melipat tangan di dada. Jemarinya kaku mencengkeram kemeja kantor yang berdebu. Bertahun-tahun ia mengunci diri dalam ketegasan dingin tanpa ampun; baginya hidup adalah kalkulasi angka, batas tenggat waktu, dan kewajiban kaku yang tak boleh meleset sedetik pun. Hatinya telah lama mengeras seperti batu kali yang menolak basah oleh air hujan.
Tiba-tiba derap langkah tergesa memecah kesunyian gang sempit berkerikil. Pintu pagar kayu berderit ngilu ketika Rayyan, adiknya, menerobos masuk dengan napas memburu dan dada kembang-kempis.
“Mas Fadil! Akhirnya kamu pulang juga ke rumah ini!” seru Rayyan tersengal, kedua tangannya memegangi tiang kayu teras.
Fadil menatap adiknya dengan kening berkerut dingin. “Jangan terbiasa berteriak di depan teras orang, Rayyan. Biasakan bersikap tenang. Ada apa lagi sekarang? Bukankah kemarin uang bulanan dan jatah obat sudah kutransfer penuh ke rekeningmu?”
“Ini bukan soal uang, Mas! Selalu saja uang dan angka yang kamu bicarakan setiap bertemu!” tukas Rayyan dengan mata memerah menahan pedih yang lama membakar dadanya.
“Lalu apa?” potong Fadil tajam. “Kalau kamu membuat masalah baru lagi di kampusmu, aku tegaskan malam ini, aku tidak akan membelamu di depan dekan.”
“Umi, Mas! Umi jatuh di dekat lemari mushaf setengah jam lalu!” jerit Rayyan parau, suaranya tercekat di tenggorokan. “Beliau pingsan dan tubuhnya sedingin es!”
Napas Fadil tercekat sesaat, namun egonya tetap bertahan tenang. “Jatuh? Bagaimana bisa sampai terjatuh? Kenapa kamu tidak langsung memanggil mantri Hasan di ujung gang desa?”
“Mantri Hasan sedang dinas luar kota sejak kemarin siang!” jawab Rayyan menahan tangis yang tumpah. “Sarah sedang menemani di dalam, tapi Umi menolak dibawa ke puskesmas sebelum bertemu kamu. Umi terus memanggil-manggil namamu, Mas. Beliau berbisik, ‘Di mana Fadil? Tolong panggilkan Fadil...’”
Fadil terdiam sejenak. Angin senja berhembus kian dingin menembus kemejanya. “Kenapa harus aku yang pertama dicari? Kamu tahu sendiri sudah berbulan-bulan aku dan Umi tidak pernah bisa bicara tanpa perdebatan sengit.”
“Karena Umi mencintaimu, Mas! Kenapa hatimu bisa sekeras padas pada ibumu sendiri?” bisik Rayyan pedih. “Apakah kamu sama sekali tidak punya rasa kasihan pada wanita yang melahirkanmu?”
“Kamu tidak pernah mengerti betapa beratnya memikul beban keluarga ini sendirian, Rayyan,” desis Fadil dingin, memalingkan pandangan ke arah halaman becek. “Aku harus membanting tulang agar kita tidak dipandang sebelah mata oleh orang lain.”
“Aku memang tidak sepintar kamu dalam mencari rupiah di kota,” potong Rayyan getir, “tapi aku punya nurani, Mas. Aku melihat Umi setiap malam duduk di sajadah lusuh itu, membolak-balik lembaran Surah Ar-Rahman sambil terisak dalam sujudnya. Umi tidak pernah meminta kemewahan hartamu, Mas. Umi hanya ingin kelembutanmu kembali seperti waktu kita kecil dulu.”
Kata ‘kelembutan’ menampar nurani Fadil seketika. Selama ini ia menganggap kelembutan adalah kelemahan, sebuah celah berbahaya yang dulu membuat ayahnya hancur dan terhina hingga meninggalkan setumpuk utang yang harus dilunasi seorang diri. Namun melihat sorot mata Rayyan yang hancur, sebongkah karang di dadanya mulai tergores retakan halus yang tak terduga.
“Apakah Umi masih sadar sekarang?” tanya Fadil akhirnya, suaranya melunak satu oktaf tanpa ia sengaja kendalikan.
“Masih, tapi sangat lemah,” angguk Rayyan cepat menyeka air matanya. “Napasnya pendek dan tersengal-sengal. Di tangannya ada mushaf tua peninggalan Ayah. Masuklah sekarang, Mas. Kumohon padamu, buang dulu harga dirimu malam ini saja.”
“Apakah Umi sempat mengeluh sakit di dada sebelum terjatuh?” selidik Fadil seraya melangkah mendekat.
“Umi memegangi dadanya sambil bergumam bahwa hatinya perih karena merindukanmu,” bisik Rayyan lirih.
“Mengapa kamu tidak segera menelepon ke kantorku sejak sore tadi?” desak Fadil dengan rasa bersalah yang mulai merayap.
“Aku takut kamu memarahiku dan menganggapku mengganggu kesibukan bisnismu,” jawab Rayyan tertunduk lesu.
“Aku tidak sekejam itu, Rayyan,” sahut Fadil pelan.
“Tindakanmu selama ini yang membuat kami merasa begitu, Mas,” balas Rayyan pelan. “Kamu selalu memasang dinding pemisah di antara kita.”
Fadil tertegun mendengar kejujuran adiknya. “Baiklah, ayo kita masuk bersama. Aku ingin melihat Umi sekarang.”
“Jangan membantah ucapan Umi ya, Mas? Hatina sangat rapuh,” pinta Rayyan cemas.
“Iya, aku berjanji tidak akan membantah sepatah kata pun,” jawab Fadil mantap.
Fadil melangkah melintasi ambang pintu rumah tua itu dengan dada berdebar kencang.
°˖✧✿✧˖°
Pintu kamar berderit pelan saat jemari Fadil mendorong daun pintunya yang kusam. Di atas ranjang besi tua berkelambu kelabu, tampak tubuh ringkih Umi Salmah terbaring menyamping tanpa daya. Wajah yang dulu teduh dan berseri kini pucat pasi, dipenuhi guratan kepedihan yang teramat dalam. Sarah, sepupu mereka yang selama ini setia merawat Umi, bangkit dari kursi rotan dengan mata sembab kemerahan.
“Mas Fadil... syukurlah Mas akhirnya sampai di rumah,” bisik Sarah dengan napas tertahan haru.
“Bagaimana kondisi Umi sekarang, Sarah? Apakah sudah minum obat?” tanya Fadil cemas.
“Suhunya sempat sangat tinggi, lalu mendadak dingin seperti es,” jawab Sarah pelan. “Umi menolak obat sebelum melihat wajah Mas Fadil.”
Mendengar percakapan itu, kelopak mata Umi Salmah perlahan terbuka. Senyum tipis yang amat rapuh tersungging di bibirnya yang kering mengelupas. “Fadil... anak sulungku, kamu sudah pulang, Nak?”
Kerongkongan Fadil mendadak tersumbat duri tak kasat mata. Tanpa berpikir panjang lagi, ia berlutut di atas lantai tegel yang dingin, menyejajarkan wajahnya dengan sang ibu. “Iya, Umi. Fadil ada di sini, di samping Umi. Kenapa Umi tidak mau segera dibawa ke dokter? Mengapa Umi membiarkan tubuh Umi tersiksa seperti ini?”
Umi Salmah mengulurkan tangannya yang kurus dengan urat-urat kebiruan menonjol. Jemari renta itu menyentuh pipi kokoh Fadil. Sentuhan itu terasa amat hangat dan penuh kerinduan mendalam.
“Umi hanya ingin mendengar suaramu mengaji lagi, Nak,” bisik Umi dengan air mata merebak di pelupuk matanya. “Sudah bertahun-tahun rumah ini sepi dari suaramu membaca kalam Tuhan.”
“Fadil sibuk mencari nafkah di kota, Umi,” sahut Fadil membela diri, meski kini suaranya bergetar hebat. “Semua jerih payah ini kulakukan agar keluarga kita tidak dihina orang lain lagi.”
“Harta tidak akan pernah bisa membasuh luka batinmu, Fadil,” tutur Umi penuh keibuan. Umi menyodorkan mushaf bersampul beludru hijau ke pangkuan putranya. “Bacakan untuk Umi... Surah Ar-Rahman. Lunakkanlah hatimu yang keras di hadapan Sang Maha Pengasih.”
Fadil menatap mushaf berdebu itu dengan tangan gemetar hebat. “Umi, lisanku sudah terlalu kotor oleh urusan dunia. Suaraku sudah terlampau kasar untuk firman suci ini.”
“Kasih sayang Allah jauh melampaui segala kesalahanmu, Nak,” bisik Umi meyakinkan. “Bacalah sekarang... Umi mendengarkan setiap hembusan suaramu.”
“Apakah pembacaanku masih bisa menyenangkan hati Umi?” tanya Fadil dengan mata basah.
“Setiap huruf darimu adalah penyejuk jiwa Umi yang lelah,” senyum Umi lembut.
Dengan dada sesak, Fadil membuka mushaf itu. “Bismillahir-rahmanir-rahim... Ar-Rahman... ‘Allamal-Qur'an... Khalaqal-insan... ‘Allamahul-bayan...”
Setiap ayat yang meluncur bagai mata air sejuk membasahi tanah tandus di dadanya. Air mata Fadil menetes ke lembaran mushaf, menghidupkan kembali kelembutan yang telah lama terkubur.
°˖✧✿✧˖°
Belum sempat Fadil menyelesaikan ayat ketujuh, suara benturan keras mengguncang pintu depan rumah tua itu. Bunyi gedoran kayu bertubi-tubi dan makian bernada tinggi seketika merobek keheningan kamar yang sakral.