6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #42

Al-Fattah

Al-Fattah

Fadil belajar memahami : Pintu yang Terbuka Setelah Kesulitan

°˖✧✿✧˖°

Malam beranjak kian pekat di kompleks Pondok Pesantren Darul Hikmah, Jawa Timur. Angin dingin khas pegunungan berembus lembut menembus celah-celah ukiran kayu surau tua, membawa keharuman tanah basah dan dedaunan pinus yang menentramkan jiwa. Di dalam aula utama surau yang beralaskan karpet hijau tebal, puluhan santri duduk bersila dalam barisan yang amat rapi. Di hadapan mereka, Kiai Haji Zulfakar Al-Quthuz duduk bersila di atas dampar kayu jati dengan keanggunan serta ketenangan yang bersahaja. Di sekeliling beliau, enam santri utama—Fadil, Fauzan, Faris, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq—duduk khusyuk di barisan paling depan dengan kitab catatan serta pena yang siap di genggaman.

Lampu gantung tembaga tua memancarkan pendar cahaya keemasan yang hangat, menerangi lembaran-lembaran kitab klasik bertinta hitam. Kiai Zulfakar menatap keenam muridnya satu per satu dengan pandangan mata yang sangat teduh, membawa kedamaian bagi siapa saja yang memandangnya. Di sudut ruangan, wewangian kayu gaharu membumbung tipis dari tempat pembakaran dupa tembaga, menciptakan nuansa spiritual yang amat kental.

"Anak-anakku sekalian," buka Kiai Zulfakar dengan suara yang dalam, lembut, namun amat berwibawa. "Malam ini kita akan menyelami kedalaman makna dari nama Allah yang Maha Pembuka, yaitu Al-Fattah—Yang Maha Membukakan Pintu-Pintu Kemudahan dan Jalan Keluar di Saat Hamba-Nya Menghadapi Jalan Buntu."

Fadil menunduk takzim, lalu memberanikan diri mengangkat tangannya pelan. "Sembah sungkem saya, Kiai. Bagaimana seorang santri dapat memperatikan dan memahami hakikat sifat Al-Fattah tatkala ia sedang membentur tembok kesulitan yang seolah tak berujung?"

Kiai Zulfakar tersenyum melihat kesungguhan Fadil. "Pertanyaan yang amat mendalam, Fadil. Meneladani dan memahami sifat Al-Fattah berarti kita menanamkan keyakinan mutlak di dalam dada. Tidak ada satu pun pintu kesulitan yang dikunci oleh Allah tanpa Dia sediakan kunci pembukanya."

Fauzan membetulkan letak pecinya, lalu ikut menyela dengan nada penasaran. "Jika kunci pembuka itu ada, lantas mengapa terkadang kita merasa jalan buntu itu tertutup begitu lama, Kiai?"

"Sebab Allah ingin menguji kesabaran dan keikhlasan jemarimu dalam mengetuk pintu-Nya," jawab Kiai Zulfakar seraya membuka halaman kitabnya. "Pintu kemudahan seringkali terbuka tepat di saat hamba-Nya sudah berada di puncak kepasrahan."

"Apakah kepasrahan itu menjadi kunci utama untuk mengetuk pintu Al-Fattah, Kiai?" pangkas Faris penuh ketakziman.

Kiai Zulfakar mengangguk pelan. "Kepasrahan yang diiringi dengan ikhtiar tanpa henti dan doa yang terus membubung. Ketika manusia menyerah pada kekuatannya sendiri, di situlah pertolongan Al-Fattah bekerja."

Ghalib, Rayyan, dan Yafiq mendengarkan dengan penuh rasa hormat, menyiapkan catatan mereka untuk menyerap tiap petuah emas sang guru.

°˖✧✿✧˖° Peristiwa Pemicu °˖✧✿✧˖°

Suasana di aula surau mendadak semakin hening dan penuh kekhusyukan. Suara gesekan pena di atas kertas catatan milik Ghalib, Rayyan, dan Yafiq terdengar teratur di antara dengungan embun malam yang kian dingin. Kiai Zulfakar membetulkan posisi sorban hijaunya, lalu menatap keenam santri di hadapannya satu per satu dengan pandangan mata yang jernih dan mendalam.

"Seringkali," tutur Kiai Zulfakar pelan namun tegas, "pikiran manusia menjadi gelap tatkala rencananya membentur dinding tebal. Ia mengira perjalanan telah usai, padahal Al-Fattah hanya sedang menyuruhnya berbelok ke arah pintu yang lebih mulia."

Fadil terdiam merenungi kata-kata sang guru. Ketika menghadapi jalan buntu, Fadil belajar untuk tidak berputus asa. Ia teringat kejadian tiga hari lalu di laboratorium makhtutah (manuskrip kuno) pesantren. Saat itu, ia diberi tugas menyusun kembali lembaran kitab tua peninggalan pendiri pondok yang rusak termakan zaman. Berjam-jam ia mencoba mencocokkan susunan bait-bait yang terpisah, namun selalu membentur jalan buntu. Susunan itu tidak pernah cocok dan makna kalimatnya menjadi kacau. Rasa putus asa sempat membisikkan agar ia berhenti. Namun, setelah ia mengambil wudu, bersujud dua rakaat, dan memohon petunjuk Al-Fattah, matanya mendadak tertuju pada sebuah lipatan rahasia di sampul dalam kitab yang selama ini terabaikan. Dari sana, seluruh teka-teki susunan lembaran itu terbuka dengan sempurna.

"Siapa di antara kalian yang pernah merasa berada di titik jenuh dan hampir berputus asa menghadapi kebuntuan?" tanya Kiai Zulfakar memecah keheningan.

Fadil perlahan menundukkan kepala, lalu menjawab dengan jujur. "Saya, Kiai. Saat meneliti susunan makhtutah tua kemarin, saya sempat merasa berada di jalan buntu yang gelap gulita."

"Lantas, apa yang membuatmu tidak membiarkan rasa putus asa itu memadamkan semangatmu, Fadil?" tanya Kiai Zulfakar lembut.

"Saya mengingat ajaran Kiai," jawab Fadil pelan. "Bahwa kebuntuan adalah tanda keterbatasan akal manusia, bukan keterbatasan pertolongan Allah. Begitu saya berserah diri, Al-Fattah membukakan jalan yang tak terduga."

Ghalib yang duduk di samping Fadil menepuk bahu sahabatnya itu. "Fadil sungguh telaten, Kiai. Kami melihat sendiri bagaimana beliau tidak menyerah meski lembaran kitab itu amat rumit."

Rayyan mengacungkan jari penunjuknya. "Kiai, bagaimana cara menjaga agar api harapan tidak padam saat kesulitan datang beruntun?"

"Dengan selalu mengingat bahwa bersama kesulitan ada kemudahan yang menyertainya," tegas Kiai Zulfakar. "Allah tidak menyebutkan kemudahan setelah kesulitan hanya sekali, melainkan mengulangnya untuk menegaskan janji-Nya."

Yafiq yang duduk di samping Rayyan ikut angkat bicara. "Apakah itu berarti setiap dinding tebal yang menghalangi kita sebenarnya adalah pintu yang belum kita ketuk dengan kunci yang tepat, Kiai?"

"Penafsiran yang amat indah, Yafiq," jawab Kiai Zulfakar lembut. "Tugas kita adalah mencari kuncinya melalui ikhtiar dan doa."

Fadil menunduk penuh rasa syukur. Nasihat sang Kiai seolah menguatkan kembali keyakinannya dalam mengarungi setiap kerumitan ilmu di pesantren ini.

"Masya Allah..." bisik Yafiq penuh ketakjuban. "Betapa tenangnya jiwa yang selalu meyakini pertolongan Al-Fattah."

"Maka dari itu," pangkas Kiai Zulfakar dengan tatapan teduh, "jangan pernah menutup pintu harapanmu selagi Al-Fattah adalah Tuhanmu."

°˖✧✿✧˖° Titik Plot Pertama °˖✧✿✧˖°

Kiai Zulfakar membalikkan lembaran kitab klasiknya yang berwarna kekuningan. Beliau menunjuk pada barisan kaligrafi Arab bertuliskan Al-Fattah, Al-'Alim (Yang Maha Mengetahui), dan Al-Lathif (Yang Maha Lembut). Beliau memandang keenam santrinya dengan tatapan yang penuh makna tersembunyi.

"Tiga nama agung ini bekerja seiring," jelas Kiai Zulfakar memecah keheningan. "Al-'Alim mengetahui letak kerumitan masalahmu, Al-Lathif mengalirkan solusinya dengan cara yang amat halus, dan Al-Fattah membuka pintu kelapangan itu lebar-lebar."

Fadil memberanikan diri mengangkat tangannya pelan, lalu bertanya dengan rasa ingin tahu yang mendalam. "Kiai, tatkala seorang penuntut ilmu menghadapi kebingungan dalam memahami ilmu-ilmu yang rumit, bagaimana ia harus memanggil nama Al-Fattah dalam ibadahnya?"

Kiai Zulfakar menatap Fadil dengan pandangan yang penuh kasih sayang guru. "Fadil, bacalah doa Ya Fattahu Ya 'Alim, Iftah Lana Baban Fathan Mubina. Mintalah agar Allah tidak hanya membuka pintu paham bagi akalmu, tetapi juga membukakan pintu khasyah (rasa takut dan takzim) di dalam hatimu. Sebab ilmu tanpa terbukanya pintu hati hanya akan menjadi beban."

Fauzan menyimak penjelasan tersebut seraya bertanya, "Kiai, apakah kebiasaan berputus asa bisa menghalangi datangnya pertolongan Al-Fattah?"

"Sangat bisa, Fauzan," jawab Kiai Zulfakar. "Putus asa adalah bentuk sangkaan buruk kepada Allah. Bagaimana mungkin pintu pertolongan akan terbuka jika hamba-Nya sudah terlebih dahulu meyakini bahwa pintu itu akan tetap terkunci?"

Faris mengangkat tangannya pelan. "Kiai, bagaimana kita membedakan antara jalan buntu yang menyuruh kita bersabar dengan jalan buntu yang menyuruh kita berganti arah ikhtiar?"

"Dengan Istikharah dan musyawarah," terang Kiai Zulfakar. "Jika engkau telah berikhtiar maksimal namun pintu itu tetap tertutup rapat, bisa jadi Al-Fattah sedang mengarahkan langkahmu menuju pintu lain yang jauh lebih berkah bagimu."

Lihat selengkapnya