6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #43

Al-Hakim

Al-Hakim

Fadil belajar bahwa tidak semua kejadian harus langsung dipahami.

°˖✧✿✧˖°

Kabut tebal merambati pelataran Masjid Menara Padas ketika deru knalpot jip tua Fadil meredup di undakan rumput basah. Jarum jam tangan mekaniknya menunjuk pukul enam pagi lewat sepuluh menit. Di balik kacamata kawat tipis, matanya memicing menatap lembaran kalkulasi struktur di atas kap mobil. Semua jadwal sudah terkunci mati dalam benaknya tanpa boleh meleset sedetik pun.

"Pagi ini uji hidrolik pondasi kubah utama harus selesai sebelum jam dua siang," gumam Fadil sembari mencatat angka kompresor pada buku sakunya. "Jika tim inspeksi yayasan tiba dan kita belum mengantongi kurva kelentingan beton, izin pemugaran peninggalan abad keenam belas ini akan dibekukan sepihak oleh birokrasi kabupaten."

"Denah itu tidak akan terbang ke mana-mana, Fadil. Duduklah dulu, seruput wedang jahe ini selagi hangat," tegur Abah Mansur seraya meletakkan cangkir enamel di meja kayu. Sorot mata pria sepuh berpeci putih itu teduh sekali, kontras dengan degup dada Fadil yang bergolak kencang di dada.

"Saya tidak punya waktu untuk duduk santai, Abah," tolak Fadil cepat tanpa menoleh dari sketsa baja. "Birokrasi kabupaten tidak peduli pada filosofi kesabaran. Mereka menuntut angka kepastian, kapasitas beban, dan sertifikasi kelayakan fisik. Jika hari ini kita gagal menguji pilar barat, enam bulan jerih payah saya terbuang sia-sia ke tong sampah."

Abah Mansur menghela napas lembut, memutar tasbih kayunya pelan. "Kecemasanmu tidak pernah bisa mempercepat ketetapan yang sudah digariskan oleh Al-Hakim, Fadil. Manusia menyusun jadwal hidupnya dengan penggaris kaku, tetapi Sang Maha Bijaksana menenun takdir dengan kebijaksanaan yang melampaui rumus matematika terhebatmu."

"Bagi saya, logika teknik adalah wujud amanah ikhtiar, Abah. Tanpa perhitungan presisi, kubah batu seberat lima puluh ton ini bisa menimpa jamaah di bawahnya!" sergah Fadil defensif sembari mengencangkan helm proyek kuningnya. "Saya hanya menuntut kepastian logis. Semua hal di dunia ini mestinya punya penjelasan rasional yang bisa diukur saat itu juga."

"Apakah kamu yakin mata manusiamu yang lemah sanggup menatap ujung benang hikmah seketika itu pula?" tanya Abah Mansur lirih menatap mata pemuda itu.

"Harus bisa, Abah! Kalau tidak bisa dipahami nalar, buat apa akal ini diciptakan Tuhan?" cetus Fadil dengan nada pongah yang menggelegak di dadanya. "Dunia ini bergerak berlandaskan hukum kausalitas yang nyata, bukan teka-teki hampa!"

Namun kalimat arogan itu belum genap mengendap di udara dingin ketika sebuah dentuman menggelegar dari lantai bawah tanah. Getaran hebat merayap naik ke lantai padas, disusul desis uap panas bercampur ledakan tabung cadangan. Dari ventilasi samping mihrab, kepulan asap hitam pekat mendadak membubung tinggi ke udara pagi.

"Astaghfirullahal'adzim! Suara apa itu tadi?!" pekik Abah Mansur bangkit dari bangku kayu.

Fadil melompat panik dari kap jipnya, buku catatan di genggamannya jatuh terinjak lumpur. "Genset tiga fasa! Pipa pendingin kompresor hidrolik meledak!" jeritnya seraya berlari kencang menuju pintu ruang genset bawah tanah. "Matikan sakelar induknya sekarang!"

Sebelum langkah Fadil mencapai undakan tangga semen, pintu besi terbanting terbuka dari dalam. Mandor Kusno merangkak keluar dengan wajah belepotan jelaga panas, batuk hebat hingga memuntahkan lendir kelabu ke lantai.

"Pak Fadil! Tolong... Neng Dania masih terperangkap di dalam!" teriak Kusno terbata-bata dengan napas tersengal parah. "Tadi Neng Dania bersikeras mencari cetak biru cadangan di rak belakang generator... tiba-tiba tabung oli meledak dan pipa gas buang patah total!"

Darah Fadil mendadak tersedot habis dari kepalanya. Jantungnya berdegup liar menghantam rusuk. "Apa katamu?! Dania di dalam ruangan gas beracun itu?! Kenapa kamu biarkan adik kandungku masuk ke ruangan mesin tua itu, Kusno?!"

"Neng Dania bilang Bapak butuh arsip aslinya pagi ini juga..." rintih Kusno ketakutan menatap kobaran asap pekat. "Saya sudah melarangnya, Pak!"

"Tutup mulutmu! Mana alat pemadam?!" bentak Fadil kalap, hendak menerobos pekatnya jelaga beracun tanpa masker pelindung.

"Fadil, tahan dirimu! Tutup hidungmu pakai kain sarung basah ini! Jangan nekat menerjang maut tanpa pelindung!" bentak Abah Mansur menahan bahu pemuda itu sekuat tenaga.

"Lepaskan saya, Abah! Kalau Dania sampai celaka atau mati di bawah sana, saya tidak akan pernah memaafkan proyek celaka ini seumur hidup saya!" raung Fadil murka, merangsek masuk ke dalam kegelapan pekat demi menyelamatkan satu-satunya darah daging yang ia miliki di dunia fana ini.

°˖✧✿✧˖°

Di dalam lorong sempit bawah tanah, udara terasa bagaikan timah cair mendidih yang membakar paru-paru. Asap hitam karbon monoksida bergulung-gulung membutakan mata. Fadil merangkak meraba lantai basah, terbatuk-batuk hingga matanya perih mengucurkan air mata.

"Dania! Kamu dengar suara Mas Fadil?! Dania!" teriak Fadil serak ke lorong gelap bersuhu panas menyengat.

Hening yang mematikan sempat membalas panggilannya, hingga terdengar erangan lirih dari balik rak besi yang roboh. "Mas... tolong... aku sesak sekali..."

"Bertahanlah, Dek! Mas di sini!" Fadil mengerahkan seluruh tenaganya mengangkat balok rak yang menimpa kaki adiknya, lalu langsung membopong tubuh lunglai Dania keluar menembus kepulan asap maut.

Tiga puluh menit kemudian, di ruang gawat darurat Puskesmas Lembah Giri, suara desis tabung oksigen mendominasi ruangan berbau karbol. Dania terbaring pucat dengan masker pernapasan menutupi hidung dan mulutnya. Jarum infus tertancap di pergelangan tangannya yang dingin.

Dokter Arya keluar dari balik tirai pembatas sembari melepas stetoskopnya. Wajah dokter senior itu tampak letih namun penuh kelegaan.

"Bagaimana kondisi adik saya, Dok? Tolong katakan yang sejujurnya!" serbu Fadil menyongsong dokter dengan kedua tangan bergetar hebat.

"Adikmu mengalami keracunan inhalasi gas buang yang cukup pekat, Fadil," jawab Dokter Arya dengan nada serius. "Beruntung kamu menariknya keluar tepat pada waktunya. Kalau Dania terlambat sepuluh atau lima belas menit saja di dalam ruangan beracun itu, saturasi oksigen di otaknya akan anjlok drastis dan kerusakannya menjadi permanen."

Fadil mengusap wajahnya yang berlumur jelaga, lututnya nyaris limbung mencium lantai semen. "Alhamdulillah... ya Tuhan..."

"Sekarang Dania sudah stabil, biarkan dia istirahat total," tambah Dokter Arya menepuk bahu Fadil sebelum beranjak ke ruang rawat lain.

Abah Mansur melangkah mendekat, menyodorkan segelas air hangat ke hadapan Fadil. "Minumlah dulu, Nak. Basuh tenggorokanmu yang kering terbakar."

Fadil menerima gelas itu, namun bukannya bersyukur dengan lapang dada, kepalanya kembali didera badai kepanikan baru. Pikirannya melayang pada puing genset yang hancur dan waktu inspeksi yang kian menipis.

"Tetapi kenapa musibah ini harus terjadi hari ini, Abah?" geram Fadil pelan dengan kepahitan. "Seluruh genset cadangan hangus. Pompa hidrolik mati total. Dania celaka, sementara seluruh berkas perizinan yang disiapkan berbulan-bulan lumat tersiram air pemadam. Kenapa takdir memperlakukan saya sekejam ini di saat-saat paling krusial?"

Abah Mansur memandang Fadil dengan tatapan teduh tak beriak. "Fadil, apakah kamu menganggap penyelamatan nyawa adikmu ini sebuah kesialan belaka?"

Lihat selengkapnya