6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #43

Pintu yang Tertutup

Pintu yang Tertutup

Sebuah masalah di pesantren membuat Fadil merasa semua jalan tertutup.

°˖✧✿✧˖°

Malam kian melarut di kompleks Pondok Pesantren Darul Hikmah, Jawa Timur. Angin dingin khas pegunungan berembus lembut menembus celah-celah ukiran kayu surau tua, membawa keharuman tanah basah dan dedaunan pinus yang menentramkan jiwa. Di dalam aula utama surau yang beralaskan karpet hijau tebal, puluhan santri duduk bersila dalam barisan yang amat rapi. Di hadapan mereka, Kiai Haji Zulfakar Al-Quthuz duduk bersila di atas dampar kayu jati dengan keanggunan serta ketenangan yang bersahaja. Di sekeliling beliau, enam santri utama—Fadil, Fauzan, Faris, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq—duduk khusyuk di barisan paling depan dengan kitab catatan serta pena yang siap di genggaman.

Lampu gantung tembaga tua memancarkan pendar cahaya keemasan yang hangat, menerangi lembaran-lembaran kitab klasik bertinta hitam. Kiai Zulfakar menatap keenam muridnya satu per satu dengan pandangan mata yang sangat teduh, membawa kedamaian bagi siapa saja yang memandangnya. Di sudut ruangan, wewangian kayu gaharu membumbung tipis dari tempat pembakaran dupa tembaga, menciptakan nuansa spiritual yang amat kental.

"Anak-anakku sekalian," buka Kiai Zulfakar dengan suara yang dalam, lembut, namun amat berwibawa. "Malam ini kita akan menyelami hakikat penderitaan jiwa tatkala Allah menutup pintu-pintu kemudahan lahiriah di hadapan hamba-Nya."

Fadil menunduk takzim, lalu memberanikan diri mengangkat tangannya pelan. "Sembah sungkem saya, Kiai. Bagaimana seorang santri dapat menjaga keteguhan hatinya saat sebuah masalah besar di pesantren membuat dirinya merasa seluruh jalan telah tertutup rapat?"

Kiai Zulfakar tersenyum melihat kesungguhan Fadil. "Pertanyaan yang amat mendalam, Fadil. Tertutupnya pintu lahiriah bukanlah tanda kemurkaan Tuhan, melainkan cara Allah memaksa hamba-Nya untuk berhenti mengetuk pintu duniawi dan kembali mengetuk pintu-Nya."

Fauzan membetulkan letak pecinya, lalu ikut menyela dengan nada penasaran. "Jika semua jalan terasa tertutup tanpa sisa, dari mana seorang hamba harus mulai melangkah, Kiai?"

"Dari dalam dadanya sendiri," jawab Kiai Zulfakar seraya membuka halaman kitabnya. "Ketika pintu keluar di luar sana terkunci, pintu penyerahan diri di dalam jiwa justru baru saja dibukakan lebar-lebar."

"Apakah penyerahan diri itu berarti pasrah tanpa ikhtiar, Kiai?" pangkas Faris penuh ketakziman.

Kiai Zulfakar mengangguk pelan. "Pasrah dalam ketauhidan adalah puncak dari ikhtiar batiniah. Ia berhenti mengandalkan kekuatan otaknya dan menyerahkan seluruh pengaturannya kepada Sang Maha Mengatur."

Ghalib, Rayyan, dan Yafiq mendengarkan dengan penuh rasa hormat, menyiapkan catatan mereka untuk menyerap tiap petuah emas sang guru.

°˖✧✿✧˖°

Suasana di aula surau mendadak semakin hening dan penuh kekhusyukan. Suara gesekan pena di atas kertas catatan milik Ghalib, Rayyan, dan Yafiq terdengar teratur di antara dengungan embun malam yang kian dingin. Kiai Zulfakar membetulkan posisi sorban hijaunya, lalu menatap keenam santri di hadapannya satu per satu dengan pandangan mata yang jernih dan mendalam.

"Seringkali," tutur Kiai Zulfakar pelan namun tegas, "fitnah dan kesalahpahaman di tengah majelis menjadi jalan buntu yang menghimpit dada. Di saat itulah prasangka manusia diuji sampai batas terakhirnya."

Fadil terdiam merenungi kata-kata sang guru. Dadanya terasa begitu berat dan sesak. Tadi siang, sebuah masalah rumit meletus di perpustakaan pustaka kuno pesantren. Sejumlah lembaran manuskrip berharga milik pendiri pondok mendadak hilang dari lemari terkunci, dan sebuah masalah di pesantren membuat Fadil merasa semua jalan tertutup. Karena Fadil adalah santri yang memegang kunci piket perpustakaan minggu ini, tuduhan tuduhan tak bersurat perlahan mengarah kepadanya. Ia telah berusaha menjelaskan kepada pengurus dan memeriksa seluruh sudut ruangan, namun bukti-bukti situasi justru seolah mengurungnya tanpa celah. Rekan-rekan santri junior mulai berbisik-bisik, dan pintu kepercayaan yang selama ini terbangun seolah runtuh seketika.

"Siapa di antara kalian yang sedang merasa dihimpit oleh jalan buntu yang tak bersimpul?" tanya Kiai Zulfakar memecah keheningan.

Fadil perlahan menundukkan kepala, lalu menjawab dengan suara bergetar. "Saya, Kiai. Masalah hilangnya lembaran manuskrip di perpustakaan siang tadi membuat saya merasa seluruh jalan kebenaran telah tertutup bagi saya."

"Keterusterangan yang amat jujur, Fadil," puji Kiai Zulfakar lembut. "Lantas, apa yang membuat dadamu terasa begitu sempit saat ini?"

"Saya merasa prasangka orang-orang telah mengunci pintu keadilan," aku Fadil pelan. "Saya tidak tahu lagi harus membela diri dengan cara bagaimana tatkala semua bukti seolah menyudutkan posisi saya."

Ghalib yang duduk di samping Fadil menepuk bahu sahabatnya itu. "Fadil tidak mungkin melakukan hal serendah itu, Kiai. Kami meyakini integritas dan kejujurannya."

Rayyan mengacungkan jari penunjuknya. "Kiai, bagaimana seseorang bisa bertahan tatkala pintu penjelasan sudah tidak lagi didengar oleh orang lain?"

"Dengan menyadari bahwa pertolongan Allah tidak bergantung pada pembelaan manusia," tegas Kiai Zulfakar. "Manusia bisa menutup ribuan pintu keadilan lahiriah, tetapi tidak akan pernah sanggup menutup pintu kebenaran yang dipegang oleh Al-Hakam—Yang Maha Memutuskan."

Yafiq yang duduk di samping Rayyan ikut angkat bicara. "Apakah kesunyian dalam kesalahpahaman ini merupakan cara Allah membersihkan niat kita, Kiai?"

"Tentu saja, Yafiq," jawab Kiai Zulfakar yakin. "Saat pembelaan manusia sirna, engkau murni hanya berharap kepada-Nya."

Fadil menunduk penuh rasa haru. Nasihat sang Kiai seolah menjadi pencerah di tengah kegelapan yang menghimpit jiwanya sejak siang tadi.

"Masya Allah..." bisik Yafiq penuh ketakjuban. "Betapa dalamnya perlindungan bagi jiwa yang teraniaya."

"Maka dari itu," pangkas Kiai Zulfakar dengan tatapan teduh, "kembalikan seluruh bebanmu kepada Sang Maha Mengetahui."

°˖✧✿✧˖°

Kiai Zulfakar membalikkan lembaran kitab klasiknya yang berwarna kekuningan. Beliau menunjuk pada barisan kaligrafi Arab bertuliskan Al-Mani' (Yang Maha Mencegah/Menutup) dan Al-Fattah (Yang Maha Membuka). Beliau memandang keenam santrinya dengan tatapan yang penuh makna tersembunyi.

"Dua nama agung ini saling melengkapi," jelas Kiai Zulfakar memecah keheningan. "Al-Mani' menutup pintu ikhtiar duniawimu agar engkau berhenti bersandar pada makhluk, sedangkan Al-Fattah membukakan pintu keajaiban tatkala engkau sudah benar-benar berserah diri."

Fadil memberanikan diri mengangkat tangannya pelan, lalu bertanya dengan rasa ingin tahu yang mendalam. "Kiai, tatkala kita berada di dalam kepungan sifat Al-Mani', bagaimana caranya agar rasa kecewa dan dendam tidak mengotori keheningan batin kita?"

Kiai Zulfakar menatap Fadil dengan pandangan yang penuh kasih sayang guru. "Fadil, ketahuilah bahwa ketika Allah menutup sebuah pintu untukmu, itu bukan karena Dia hendak menyiksamu, melainkan karena Dia hendak menyelamatkanmu dari bahaya yang ada di balik pintu itu, atau Dia ingin mengarahkan pandanganmu ke pintu lain yang jauh lebih agung."

Fauzan menyimak penjelasan tersebut seraya bertanya, "Kiai, apakah tuduhan salah yang menimpa seorang santri dapat menjadi pelebur dosa-dosanya yang tersembunyi?"

"Benar, Fauzan," jawab Kiai Zulfakar. "Ujian berupa kesalahpahaman adalah salah satu cara tercepat untuk merontokkan dosa dan mengangkat derajat seorang hamba di sisi Allah, asal ia menyambutnya dengan kesabaran."

Faris mengangkat tangannya pelan. "Kiai, bagaimana kita menjaga agar lidah tidak melontarkan sumpah atau doa buruk bagi orang-orang yang telah berprasangka buruk kepada kita?"

Lihat selengkapnya