6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #44

Mengapa Allah Mengujiku?

Mengapa Allah Mengujiku?

Pertanyaan besar muncul dalam hatinya.

°˖✧✿✧˖°

Matahari sore itu menggantung rendah di ufuk barat, memancarkan cahaya keemasan yang menembus celah-celah jendela berukir di Pondok Pesantren Darul Hikmah. Debu-debu halus menari di udara, terlihat jelas dalam berkas cahaya yang jatuh diagonal ke lantai kayu berwarna cokelat tua. Suara lantunan ayat suci Al-Qur'an samar-samar terdengar dari kejauhan, bercampur dengan bunyi jangkrik yang mulai bersiap menyambut malam.

Fadil duduk bersila di beranda depan kediaman Kiai Zulfakar. Usianya baru menginjak dua puluh tahun, namun garis-garis kelelahan sudah mulai terukir di sudut matanya. Tiga minggu terakhir ini, hidupnya terasa seperti berjalan di atas pecahan kaca. Setiap langkah menyakitkan, setiap napas terasa berat. Buku catatan kecil di tangannya sudah lusuh di sudut-sudutnya, penuh dengan tulisan tangan yang semakin lama semakin tidak beraturan.

"Allah, mengapa Engkau mengujiku sedemikian rupa?" bisiknya lirih, hampir tidak terdengar bahkan oleh dirinya sendiri.

Pertanyaan itu telah bersemayam di hatinya selama berhari-hari, tumbuh seperti tanaman liar yang akarnya semakin dalam mencengkeram relung jiwanya. Setiap kali ia mencoba mengusirnya dengan dzikir dan doa, pertanyaan itu kembali muncul dengan wajah yang berbeda. Kadang berupa kemarahan, kadang berupa kesedihan yang dalam, dan kadang berupa kehampaan yang membuatnya merasa seperti berjalan di kegelapan tanpa ujung.

Fadil mengangkat kepalanya ketika mendengar langkah kaki yang tenang mendekat. Kiai Zulfakar, pria berusia enam puluh lima tahun dengan janggut putih yang dipelihara rapi, berjalan perlahan dengan tongkat rotan di tangan kanannya. Matanya yang teduh memancarkan ketenangan yang hanya bisa dimiliki oleh seseorang yang telah melalui badai kehidupan yang panjang.

"Assalamu'alaikum, Fadil," sapa Kiai Zulfakar dengan suara lembut namun berwibawa.

"Wa'alaikumussalam, Kiai," jawab Fadil sambil berusaha berdiri, namun Kiai Zulfakar mengangkat tangannya memberi isyarat agar ia tetap duduk.

"Tidak perlu berdiri. Duduklah, nak. Wajahmu terlihat lebih pucat dari terakhir kali aku melihatmu," ujar Kiai Zulfakar sambil duduk di kursi kayu yang berada tidak jauh dari Fadil.

Fadil menundukkan kepalanya. Ia tahu bahwa Kiai Zulfakar adalah orang yang tidak bisa dibohongi. Selama lima tahun menjadi santri di pesantren ini, ia telah belajar bahwa mata Kiai Zulfakar bisa membaca isi hati seseorang seperti membaca kitab yang terbuka.

"Maafkan saya, Kiai. Saya... saya sedang tidak baik-baik saja," akunya dengan suara yang hampir bergetar.

Kiai Zulfakar mengangguk perlahan. "Aku sudah mendengar tentang ayahmu. Semoga Allah memberikan kesabaran kepadamu dan keluargamu."

Air mata yang selama ini Fadil tahan akhirnya jatuh juga. Ayahnya, yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga, tiba-tiba terserang stroke dua minggu lalu. Pabrik tempat ayahnya bekerja selama dua puluh tahun memutuskan untuk tidak memperpanjang kontraknya karena kondisi kesehatannya. Ibu Fadil harus kembali membuka warung kecil-kecilan untuk menyambung hidup, sementara adik-adiknya yang masih duduk di bangku sekolah menengah harus menunda beberapa kebutuhan mereka.

"Ayah saya... dia tidak bisa bergerak lagi, Kiai. Separuh tubuhnya lumpuh. Dan sekarang..." Fadil mengusap air matanya dengan punggung tangan. "Saya harus pulang. Saya harus bekerja untuk keluarga."

Kiai Zulfakar diam sejenak, membiarkan keheningan menyelimuti mereka berdua. Angin sore berhembus lembut, membawa aroma tanah basah dari sawah yang baru saja disiram hujan.

"Kamu tahu, Fadil," akhirnya Kiai Zulfakar berbicara, "ada sebuah pertanyaan yang selalu muncul ketika manusia dihadapkan pada kesulitan. Pertanyaan yang sama yang pernah ditanyakan oleh Nabi Ayyub, Nabi Yunus, bahkan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam ketika beliau diusir dari Thaif."

Fadil mengangkat wajahnya, menatap Kiai Zulfakar dengan mata yang basah.

"Kamu ingin bertanya mengapa Allah mengujimu, bukan?" tanya Kiai Zulfakar dengan tatapan yang menembus.

°˖✧✿✧˖°

Fadil mengangguk pelan, tidak mampu menyembunyikan apa yang selama ini mengganjal di hatinya. Bibirnya bergetar ketika ia mencoba merangkai kata-kata yang telah lama tersimpan di dalam dada.

"Ya, Kiai. Saya... saya merasa tidak adil. Saya sudah berusaha menjadi anak yang baik. Saya shalat lima waktu, saya puasa, saya mengaji. Saya tidak pernah meninggalkan perintah Allah. Tapi mengapa justru keluarga saya yang diuji seperti ini? Mengapa bukan orang-orang yang durhaka kepada orang tua? Mengapa bukan mereka yang mencuri, yang berbohong, yang menzalimi orang lain?"

Kata-kata itu keluar seperti air bah yang bendungannya telah jebol. Fadil tidak bisa menghentikannya lagi. Selama ini ia menyimpannya rapat-rapat di dalam hati, takut dianggap kufur atau tidak bersyukur. Namun di hadapan Kiai Zulfakar, ia merasa aman untuk mengeluarkan semua yang mengganjal.

"Adik saya yang bungsu, Fatimah, dia baru masuk SMP tahun ini. Dia sangat ingin memiliki sepeda seperti teman-temannya. Tapi sekarang... sekarang uang tabungannya harus dipakai untuk membeli obat ayah. Dia tidak pernah mengeluh, Kiai. Dia bahkan tidak menangis ketika ibu mengatakan bahwa dia harus berhenti les mengaji karena tidak ada biaya. Tapi saya tahu, saya melihat matanya. Dia menyimpan kesedihannya sendiri."

Fadil menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tubuhnya bergetar hebat menahan isak tangis yang sudah tidak bisa dibendung lagi.

"Dan saya... saya harus meninggalkan pesantren ini. Padahal ini adalah impian saya sejak kecil. Saya ingin menjadi hafiz Al-Qur'an, Kiai. Saya ingin menjadi seperti Kiai. Tapi sekarang..."

Kiai Zulfakar tidak langsung menjawab. Ia membiarkan Fadil menangis, melampiaskan semua beban yang selama ini dipendamnya. Beberapa menit berlalu dalam keheningan, hanya diisi oleh suara isak tangis Fadil yang semakin lama semakin mereda.

Ketika Fadil akhirnya mengangkat wajahnya, Kiai Zulfakar tersenyum tipis. Senyum yang tidak mengandung kebahagiaan, melainkan pemahaman yang mendalam. Senyum yang mengatakan, "Aku mengerti. Aku pernah berada di posisimu."

"Fadil," panggil Kiai Zulfakar dengan suara yang lembut namun tegas, "bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu?"

Fadil mengangguk, mengusap sisa air mata di pipinya.

"Menurutmu, apa yang dimaksud dengan iman?"

Pertanyaan itu sederhana, namun membuat Fadil terdiam. Ia telah mendengar kata "iman" ribuan kali dalam ceramah dan pelajaran, namun tiba-tiba saja kata itu terasa asing di lisannya.

"Iman adalah... percaya kepada Allah, Kiai," jawabnya ragu-ragu.

"Percaya kepada Allah. Ya, itu benar," Kiai Zulfakar mengangguk. "Tapi percaya seperti apa? Apakah percaya bahwa Allah ada? Bahwa Allah menciptakan langit dan bumi? Bahwa Allah mengirimkan para nabi?"

Fadil mengangguk lagi, meskipun ia mulai merasa bahwa jawabannya tidak akan cukup.

"Fadil, banyak orang percaya bahwa Allah ada. Bahkan iblis pun percaya bahwa Allah ada. Iblis mengetahui dengan pasti bahwa Allah itu nyata, bahwa Allah itu Maha Kuasa, bahwa Allah itu Pencipta. Tapi apakah iblis beriman? Tidak. Karena iman bukan sekadar percaya bahwa Allah ada. Iman adalah percaya bahwa Allah itu baik."

Kata-kata itu menghantam Fadil seperti petir di siang bolong. Ia menatap Kiai Zulfakar dengan mata terbelalak.

"Percaya bahwa Allah itu baik," ulang Kiai Zulfakar dengan penuh penekanan. "Ketika kamu bertanya mengapa Allah mengujimu, sebenarnya kamu sedang mempertanyakan kebaikan Allah. Kamu sedang berkata dalam hatimu, 'Jika Allah itu baik, mengapa Ia mengizinkan ini terjadi padaku? Mengapa Ia tidak melindungiku dari kesulitan ini?'"

Fadil membuka mulutnya untuk membantah, namun tidak ada kata yang keluar. Karena jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia tahu bahwa Kiai Zulfakar benar. Pertanyaannya bukan sekadar "mengapa", melainkan sebuah tuduhan tersembunyi bahwa Allah tidak adil.

°˖✧✿✧˖°

"Kiai, saya... saya tidak bermaksud..."

"Aku tahu kamu tidak bermaksud demikian," potong Kiai Zulfakar dengan lembut. "Dan justru karena itulah aku ingin membantumu memahami. Karena pertanyaan yang tidak terjawab akan menjadi bisikan syaitan yang perlahan-lahan menggerogoti imanmu."

Kiai Zulfakar bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah rak buku yang berada di sudut ruangan. Rak itu penuh dengan kitab-kitab kuning, beberapa di antaranya sudah sangat tua hingga kertasnya menguning dan tepinya rapuh. Ia mengambil sebuah kitab berukuran sedang dengan sampul kulit berwarna cokelat tua.

"Kitab ini adalah Ihya' Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali," ujar Kiai Zulfakar sambil kembali duduk. "Di dalamnya, Imam Al-Ghazali menulis tentang sesuatu yang sangat penting. Beliau mengatakan bahwa ada perbedaan antara musibah yang menimpa orang beriman dan musibah yang menimpa orang kafir."

Fadil menyimak dengan penuh perhatian, meskipun hatinya masih bergolak dengan berbagai emosi.

"Ketika musibah menimpa orang kafir, itu adalah hukuman. Allah memberikan hukuman di dunia sebelum hukuman yang lebih besar di akhirat. Tetapi ketika musibah menimpa orang beriman, itu adalah ujian. Dan ujian, Fadil, adalah bentuk kasih sayang Allah."

"Kasih sayang?" Fadil mengulang kata itu dengan nada tidak percaya. "Bagaimana bisa penderitaan disebut sebagai kasih sayang?"

Kiai Zulfakar tersenyum. "Coba pikirkan ini. Seorang ayah yang baik, apakah dia akan membiarkan anaknya bermain-main sepanjang hari tanpa belajar? Apakah dia akan membiarkan anaknya makan permen sebanyak yang dia mau hingga giginya rusak? Tidak, bukan? Seorang ayah yang baik akan mendisiplinkan anaknya, memberikan batasan, bahkan kadang memberikan hukuman ketika anaknya melakukan kesalahan. Apakah itu berarti ayah tersebut tidak sayang kepada anaknya?"

Fadil terdiam. Ia mulai memahami arah pembicaraan Kiai Zulfakar, namun hatinya masih menolak untuk menerima.

"Allah adalah sebaik-baiknya ayah," lanjut Kiai Zulfakar. "Dia mengetahui apa yang tidak kita ketahui. Dia mengetahui bahwa jika kita dibiarkan hidup dalam kesenangan terus-menerus, kita akan lupa kepada-Nya. Kita akan menjadi sombong, merasa bahwa semua yang kita miliki adalah hasil usaha kita sendiri. Kita akan melupakan bahwa setiap napas yang kita hirup adalah pemberian-Nya."

"Tapi Kiai, saya tidak seperti itu," bantah Fadil. "Saya tidak pernah melupakan Allah. Saya selalu bersyukur atas apa yang saya miliki."

"Apakah kamu yakin?" tanya Kiai Zulfakar dengan tatapan tajam. "Coba renungkan kembali. Sebelum ayahmu sakit, apakah kamu pernah benar-benar merasakan nikmatnya kesehatan? Apakah kamu pernah benar-benar bersyukur atas kemampuan ayahmu untuk bekerja? Atau apakah kamu menganggap semua itu sebagai sesuatu yang biasa, sesuatu yang memang seharusnya ada?"

Fadil membuka mulutnya, namun tidak ada kata yang keluar. Karena ia tahu, jauh di dalam hatinya, bahwa Kiai Zulfakar benar. Sebelum ayahnya sakit, ia memang menganggap kesehatan ayahnya sebagai sesuatu yang biasa. Ia tidak pernah benar-benar bersyukur atas nikmat tersebut.

Lihat selengkapnya