6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #47

Musuh yang Menjadi Saudara

Musuh yang Menjadi Saudara

Salah satu santri yang sebelumnya bermusuhan mulai dekat dengannya.

°˖✧✿✧˖°

Pagi itu halaman pesantren masih basah oleh embun. Para santri berjalan menuju masjid dengan sarung dan peci, sebagian membawa kitab yang baru saja mereka ambil dari kamar. Suasana biasanya tenang, tetapi pagi itu terdengar suara keras dari belakang asrama.

“Jangan sentuh barangku!”

Fadil yang baru keluar dari kamar langsung menoleh. Suara itu sangat dikenalnya.

Jazuli.

Santri yang selama beberapa bulan terakhir selalu berselisih dengannya.

Jazuli berdiri di depan seorang santri muda bernama Hamdan. Tangannya mengepal. Di hadapannya, sebuah ember berisi pakaian terjatuh ke tanah.

“Aku cuma memindahkan embermu supaya jalan tidak tertutup,” kata Hamdan.

“Tidak perlu ikut campur!”

“Sudah, Zul,” Fadil menyela.

Jazuli menoleh tajam.

“Kamu lagi?”

Fadil berjalan mendekat.

“Masalahnya apa?”

“Tidak ada urusanmu.”

“Kalau tidak ada urusanku, aku tidak akan ikut.”

Beberapa santri mulai berhenti dan memperhatikan.

Jazuli mendengus.

“Kamu selalu merasa paling benar.”

Fadil diam sejenak.

“Aku tidak merasa paling benar. Aku cuma tidak ingin masalah kecil menjadi besar.”

“Masalah kecil?” Jazuli menunjuk ember yang jatuh. “Kamu tidak tahu apa-apa.”

“Kalau begitu, jelaskan.”

Jazuli menatapnya dengan sorot mata keras. Namun sebelum ia menjawab, terdengar suara salah seorang pengurus.

“Semua ke masjid! Kiai sudah menunggu!”

Para santri segera bubar.

Jazuli mengambil embernya lalu pergi tanpa menatap Fadil lagi.

Hamdan mendekati Fadil.

“Terima kasih, Kak.”

Fadil tersenyum.

“Tidak perlu berterima kasih. Lain kali jangan membalas kemarahan dengan kemarahan.”

Hamdan mengangguk.

Namun Fadil masih memperhatikan punggung Jazuli yang menjauh.

Ada sesuatu yang berbeda pagi itu.

Selama ini Fadil selalu menganggap Jazuli sebagai orang yang sengaja mencari masalah dengannya. Jazuli sering menyindirnya, menantangnya dalam latihan bela diri, bahkan beberapa kali membuat suasana belajar menjadi tegang.

Tetapi pagi itu Fadil melihat sesuatu yang selama ini tidak pernah ia perhatikan.

Wajah Jazuli tampak lelah.

Bukan sekadar marah.

Seperti seseorang yang sedang menyimpan beban.


Selepas pengajian, Fadil duduk di teras masjid sambil membaca kitab. Dari kejauhan, ia melihat Jazuli berjalan sendirian membawa ember menuju sumur.

Fadil kembali menundukkan kepala.

Ia berusaha mengabaikannya.

Namun tiba-tiba terdengar suara benda jatuh.

Brak!

Fadil bangkit.

Jazuli terduduk di dekat sumur.

“Zul!”

“Aku tidak apa-apa.”

Fadil menghampiri.

“Kamu kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

“Kakimu?”

Jazuli mencoba berdiri, tetapi wajahnya meringis.

Fadil langsung memegang lengannya.

“Duduk dulu.”

“Aku bisa sendiri.”

“Kalau bisa sendiri, kamu tidak akan jatuh dua kali.”

Jazuli terdiam.

Untuk pertama kalinya, mereka duduk berdua tanpa saling menyerang.

Fadil melihat pergelangan kaki Jazuli mulai membengkak.

“Kita ke tempat pengobatan.”

“Tidak perlu.”

“Perlu.”

“Aku tidak mau merepotkan.”

Fadil menatapnya.

“Sejak kapan menolong saudara disebut merepotkan?”

Jazuli mengangkat wajah.

“Saudara?”

Fadil tersenyum tipis.

“Kita sama-sama santri di tempat yang sama. Bukankah itu sudah cukup?”

Jazuli tidak menjawab.

Tetapi untuk pertama kalinya, sorot matanya tidak lagi penuh permusuhan.

°˖✧✿✧˖° Titik Plot Pertama — 650–1.050 kata °˖✧✿✧˖°

Setelah pergelangan kaki Jazuli diperiksa, pengurus mengatakan bahwa ia hanya mengalami keseleo ringan. Ia diminta beristirahat selama beberapa hari.

Fadil membantu membawakan barang-barangnya.

“Aku bisa bawa sendiri,” kata Jazuli.

“Kalau begitu, aku pegang dari sisi satunya.”

“Kamu keras kepala.”

“Kamu juga.”

Jazuli tanpa sadar tersenyum.

Fadil ikut tersenyum.

Itulah pertama kalinya mereka tertawa bersama.

Namun hubungan mereka belum sepenuhnya berubah.

Malam harinya, Fadil sedang mengulang hafalan ketika Jazuli duduk di sebelahnya.

“Dil.”

“Ya?”

“Kenapa kamu selalu ikut campur kalau aku bertengkar?”

Fadil menutup bukunya.

“Karena aku tahu rasanya punya masalah sendiri.”

Jazuli mengerutkan kening.

“Maksudmu?”

“Di rumahku juga tidak selalu mudah.”

Jazuli diam.

Fadil melanjutkan.

“Aku datang ke pesantren bukan karena hidupku sempurna. Justru karena aku ingin belajar menjadi lebih kuat.”

“Dengan ilmu agama?”

“Dengan agama dan kesabaran.”

Jazuli menundukkan kepala.

“Aku kira kamu merasa lebih baik daripada aku.”

Fadil menggeleng.

“Aku juga sering salah.”

“Termasuk waktu latihan bela diri?”

Fadil tertawa kecil.

“Terutama waktu latihan bela diri.”

Jazuli ikut tertawa.

Suasana yang selama ini selalu tegang tiba-tiba menjadi ringan.

“Dil.”

“Hmm?”

“Aku minta maaf.”

Fadil menatapnya.

“Untuk apa?”

“Banyak hal.”

Fadil tidak langsung menjawab.

“Aku juga minta maaf.”

“Kamu?”

“Aku juga pernah membalas perkataanmu dengan emosi.”

Jazuli mengulurkan tangan.

“Damai?”

Fadil menyambutnya.

“Damai.”

Jabat tangan itu sederhana.

Tetapi bagi keduanya, itu seperti membuka pintu baru.

---

Keesokan harinya, perubahan itu mulai terlihat.

Jazuli yang biasanya duduk jauh dari Fadil kini memilih duduk di dekatnya saat pengajian.

Ketika Fadil kesulitan memahami satu bagian kitab, Jazuli ikut membantu.

Ketika Jazuli tertinggal catatan, Fadil meminjamkan bukunya.

Beberapa santri bahkan mulai menggoda mereka.

“Dulu kalian hampir berkelahi setiap hari. Sekarang duduk berdampingan.”

Jazuli menjawab santai.

“Manusia boleh berubah.”

Fadil menambahkan.

“Yang penting berubah ke arah yang baik.”

Mereka tertawa.

Tetapi di balik perubahan itu, ada sebuah rahasia yang belum Fadil ketahui.

Jazuli ternyata bukan sekadar santri yang keras kepala.

Ia sedang menghadapi masalah keluarga.

Ayahnya kehilangan pekerjaan. Ibunya sakit. Adiknya masih sekolah. Sejak menerima kabar tersebut, Jazuli sering merasa tidak berdaya.

Kemarahannya selama ini ternyata bukan semata-mata ditujukan kepada Fadil.

Ia sedang marah kepada keadaan.

Dan Fadil menjadi orang yang paling mudah dijadikan sasaran.

°˖✧✿✧˖° -

Suatu sore, Fadil menemukan Jazuli duduk sendirian di belakang masjid.

Wajahnya tertunduk.

“Zul?”

Jazuli tidak menjawab.

Fadil duduk di sampingnya.

“Ada masalah?”

“Tidak.”

“Kalau tidak mau cerita, tidak apa-apa.”

Jazuli tetap diam.

Beberapa saat kemudian ia berkata pelan.

“Ayahku kehilangan pekerjaan.”

Fadil menoleh.

“Ibumu?”

“Sakit.”

“Adikmu?”

“Masih sekolah.”

Jazuli menarik napas panjang.

“Aku di sini belajar agama, tapi keluargaku sedang kesulitan. Kadang aku merasa bersalah.”

“Bersalah karena apa?”

“Karena aku tidak bisa membantu.”

Fadil menggeleng.

“Jangan bilang begitu.”

“Lalu apa yang harus kukatakan?”

“Bahwa kamu sedang berusaha.”

“Berusaha tidak membuat perut keluargaku kenyang.”

Fadil terdiam.

Ia memahami perkataan itu.

Kemiskinan bukan sekadar angka. Kemiskinan kadang membuat seseorang merasa tidak berharga.

“Aku pernah melihat orang tuaku berjuang,” kata Fadil. “Aku tahu rasanya melihat orang yang kita sayangi kesulitan.”

Jazuli mengusap wajahnya.

“Aku malu kalau harus meminta bantuan.”

“Meminta bantuan bukan berarti lemah.”

“Kalau terus dibantu?”

“Yang lemah adalah orang yang menyerah meski masih bisa berusaha.”

Jazuli menatap Fadil.

“Apa yang bisa kulakukan?”

“Kita pikirkan bersama.”

“Kita?”

“Iya. Kita.”

Jazuli tersenyum getir.

“Kenapa kamu mau repot-repot membantuku?”

Fadil menjawab sederhana.

“Karena kamu saudaraku.”

Jazuli terdiam lama.

“Saudara?”

“Bukankah kita sudah berdamai?”

“Berdamai berbeda dengan menjadi saudara.”

Fadil tersenyum.

“Kalau begitu, mulai hari ini kita saudara.”

Jazuli menunduk.

Matanya berkaca-kaca.

“Jangan membuatku menangis.”

“Kenapa?”

“Karena selama ini aku mengira tidak ada yang peduli.”

Fadil menepuk bahunya.

“Ada.”

“Siapa?”

Lihat selengkapnya