6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #48

As-Sabur

As-Sabur

Fadil belajar memahami : Belajar Menunggu

°˖✧✿✧˖°

Malam kian melarut di kompleks Pondok Pesantren Darul Hikmah, Jawa Timur. Angin dingin khas pegunungan berembus lembut menembus celah-celah ukiran kayu surau tua, membawa keharuman tanah basah dan dedaunan pinus yang menentramkan jiwa. Di dalam aula utama surau yang beralaskan karpet hijau tebal, puluhan santri duduk bersila dalam barisan yang amat rapi. Di hadapan mereka, Kiai Haji Zulfakar Al-Quthuz duduk bersila di atas dampar kayu jati dengan keanggunan serta ketenangan yang bersahaja. Di sekeliling beliau, enam santri utama—Fadil, Fauzan, Faris, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq—duduk khusyuk di barisan paling depan dengan kitab catatan serta pena yang siap di genggaman.

Lampu gantung tembaga tua memancarkan pendar cahaya keemasan yang hangat, menerangi lembaran-lembaran kitab klasik bertinta hitam. Kiai Zulfakar menatap keenam muridnya satu per satu dengan pandangan mata yang sangat teduh, membawa kedamaian bagi siapa saja yang memandangnya. Di sudut ruangan, wewangian kayu gaharu membumbung tipis dari tempat pembakaran dupa tembaga, menciptakan nuansa spiritual yang amat kental.

"Anak-anakku sekalian," buka Kiai Zulfakar dengan suara yang dalam, lembut, namun amat berwibawa. "Malam ini kita akan membedah dan menyelami hakikat dari Asmaul Husna yang amat agung, yaitu As-Sabur—Yang Maha Sabar, Dzat Yang Tidak Pernah Tergesa-gesa dalam Menimpakan Hukuman Maupun Menjawab Doa Hamba-Nya."

Fadil menunduk takzim, lalu memberanikan diri mengangkat tangannya pelan. "Sembah sungkem saya, Kiai. Bagaimana seorang santri dapat meneladani sifat As-Sabur dalam kehidupan harian tatkala keinginannya dirasa tak kunjung terwujud?"

Kiai Zulfakar tersenyum melihat kesungguhan Fadil. "Pertanyaan yang amat indah, Fadil. Meneladani As-Sabur berarti belajar menundukkan ketergesaan hawa nafsu dan meyakini sepenuh hati bahwa penundaan dari Allah adalah bentuk kasih sayang yang berbalut hikmah."

Fauzan membetulkan letak pecinya, lalu ikut menyela dengan nada penasaran. "Apakah rasa gelisah saat menunggu jawaban doa itu menandakan kurangnya iman, Kiai?"

"Gelisah adalah tanda kelemahan manusiawi, Fauzan," jawab Kiai Zulfakar seraya membuka halaman kitabnya. "Namun jika engkau merawat kegelisahan itu hingga berburuk sangka pada takdir, di situlah letak kekufuran nikmat."

"Bagaimana cara kita menjaga keteguhan batin tatkala proses penantian terasa begitu membakar jiwa, Kiai?" pangkas Faris penuh ketakziman.

Kiai Zulfakar mengangguk pelan. "Dengan menyadari bahwa Allah sedang menata wadah jiwamu agar siap menerima pemberian-Nya di waktu yang paling tepat."

Ghalib, Rayyan, dan Yafiq mendengarkan dengan penuh rasa hormat, menyiapkan catatan mereka untuk menyerap tiap petuah emas sang guru.

°˖✧✿✧˖°

Suasana di aula surau mendadak semakin hening dan penuh kekhusyukan. Suara gesekan pena di atas kertas catatan milik Ghalib, Rayyan, dan Yafiq terdengar teratur di antara dengungan embun malam yang kian dingin. Kiai Zulfakar membetulkan posisi sorban hijaunya, lalu menatap keenam santri di hadapannya satu per satu dengan pandangan mata yang jernih dan mendalam.

"Seringkali," tutur Kiai Zulfakar pelan namun tegas, "manusia merasa doanya diabaikan hanya karena jawaban yang ia minta tidak kunjung datang sesuai dengan hitungan penanggalan dunianya. Padahal, Allah tidak pernah terlambat, dan tidak pula terlalu cepat."

Fadil terdiam merenungi kata-kata sang guru. Hatinya tersentuh begitu dalam. Ia mulai memahami bahwa tidak semua doa harus dijawab dengan segera. Selama berbulan-bulan menimba ilmu di Darul Hikmah, Fadil menyimpan satu doa khusus dalam setiap sujud sepertiga malamnya—sebuah ketetapan hati mengenai arah pengabdian hidupnya serta petunjuk atas ikhtiar keluarganya di kampung halaman yang sedang dihimpit kesulitan ekonomi. Namun, hingga malam ini, keadaan di luar sana seolah masih tampak konstan tanpa tanda-tanda perubahan berarti. Rasa tidak sabar dan pertanyaan-pertanyaan batiniah kerap mengusik keheningan tidurnya. Melalui pemaparan sifat As-Sabur, sebuah pencerahan hangat perlahan merayapi relung hatinya.

"Siapa di antara kalian yang merasa letih karena hajatnya belum juga dikabulkan?" tanya Kiai Zulfakar memecah keheningan.

Fadil perlahan menundukkan kepala, lalu menjawab dengan suara bergetar. "Saya, Kiai. Kadang ada bisikan di dada yang bertanya-tanya mengapa pertolongan Allah terasa begitu lambat datangnya."

"Kejujuran batin yang amat jujur, Fadil," puji Kiai Zulfakar lembut. "Lantas, apa yang membuatmu merasa pertolongan itu lambat?"

"Karena saya menggunakan ukuran waktu saya yang sempit," aku Fadil pelan. "Saya terlalu bernafsu ingin melihat hasil tanpa menikmati proses penyucian diri dalam penantian ini."

Ghalib yang duduk di samping Fadil menepuk bahu sahabatnya itu. "Kita semua pernah terjebak dalam jebakan waktu duniawi itu, Fadil. Kita lupa bahwa Allah Maha Mengatur waktu."

Rayyan mengacungkan jari penunjuknya. "Kiai, bagaimana membedakan antara penundaan yang menjadi ujian kesabaran dengan penundaan yang disebabkan oleh dosa-dosa kita sendiri?"

"Dua-duanya menuntut respon yang sama," tegas Kiai Zulfakar. "Jika itu ujian, ia menambah ketinggian derajatmu. Jika itu karena dosa, ia memanggilmu untuk beristighfar. Keduanya adalah rahmah dari As-Sabur."

Yafiq yang duduk di samping Rayyan ikut angkat bicara. "Apakah penantian itu sendiri dinilai sebagai ibadah yang berdiri sendiri, Kiai?"

"Tentu saja, Yafiq," jawab Kiai Zulfakar yakin. "Menunggu kelapangan dari Allah dengan sikap ridha adalah salah satu bentuk ibadah paling mulia di sisi-Nya."

Fadil menunduk penuh rasa haru. Nasihat sang Kiai seolah runtuh menjadi gerimis yang menyirami dahaga jiwanya.

"Masya Allah..." bisik Yafiq penuh ketakjuban. "Betapa indahnya penantian jika dihiasi dengan kesadaran iman."

"Maka dari itu," pangkas Kiai Zulfakar dengan tatapan teduh, "pasrahkan penanggalan hidupmu kepada Sang Pemilik Waktu."

°˖✧✿✧˖°

Kiai Zulfakar membalikkan lembaran kitab klasiknya yang berwarna kekuningan. Beliau menunjuk pada barisan kaligrafi Arab bertuliskan As-Sabur, Al-Halim (Yang Maha Penyantun), dan Al-Hakim (Yang Maha Bijaksana). Beliau memandang keenam santrinya dengan tatapan yang penuh makna tersembunyi.

"Tiga nama agung ini adalah pondasi dari ketenangan jiwa," jelas Kiai Zulfakar memecah keheningan. "Al-Hakim menetapkan takdir dengan keahlian hikmah-Nya, Al-Halim menahan kemurkaan-Nya saat hamba-Nya berbuat salah, dan As-Sabur memberikan jeda waktu agar hamba-Nya tumbuh dewasa dalam keimanan."

Fadil memberanikan diri mengangkat tangannya pelan, lalu bertanya dengan rasa ingin tahu yang mendalam. "Kiai, bagaimana caranya agar batin kita tidak goyah tatkala melihat orang lain begitu cepat mendapatkan apa yang mereka doakan, sementara kita masih berada dalam lorong penantian?"

Kiai Zulfakar menatap Fadil dengan pandangan yang penuh kasih sayang guru. "Fadil, ketahuilah bahwa ladang setiap jiwa memiliki musim panennya masing-masing. Tanaman jagung bisa dipanen dalam hitungan bulan, namun pohon jati membutuhkan puluhan tahun untuk tumbuh kokoh menjadi penopang bangunan yang megah. Allah sedang membina dirimu menjadi pohon jati, bukan tanaman yang mudah tumbang oleh angin."

Fauzan menyimak penjelasan tersebut seraya bertanya, "Kiai, apakah menunda kepuasan dan keinginan harian juga termasuk bagian dari latihan meneladani As-Sabur?"

"Benar sekali, Fauzan," jawab Kiai Zulfakar. "Menahan diri dari makanan yang lezat saat berpuasa, menahan kantuk di sepertiga malam, dan menahan emosi saat disakiti adalah latihan-latihan kecil untuk membentuk jiwa yang sabar."

Faris mengangkat tangannya pelan. "Kiai, bagaimana menjaga agar lidah tidak mengeluh tatkala ujian penantian itu terasa amat menghimpit fisik dan mental?"

"Gantilah keluhanmu dengan zikir Ya Sabur," terang Kiai Zulfakar. "Lidah yang disibukkan oleh Asmaul Husna tidak akan memiliki ruang untuk meratap."

Lihat selengkapnya