
Al-Mujib
Fadil belajar memahami : Doa yang Tidak Pernah Sia-Sia
°˖✧✿✧˖°
Malam kian melarut di kompleks Pondok Pesantren Darul Hikmah, Jawa Timur. Angin dingin khas pegunungan berembus lembut menembus celah-celah ukiran kayu surau tua, membawa keharuman tanah basah dan dedaunan pinus yang menentramkan jiwa. Di dalam aula utama surau yang beralaskan karpet hijau tebal, puluhan santri duduk bersila dalam barisan yang amat rapi. Di hadapan mereka, Kiai Haji Zulfakar Al-Quthuz duduk bersila di atas dampar kayu jati dengan keanggunan serta ketenangan yang bersahaja. Di sekeliling beliau, enam santri utama—Fadil, Fauzan, Faris, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq—duduk khusyuk di barisan paling depan dengan kitab catatan serta pena yang siap di genggaman.
Lampu gantung tembaga tua memancarkan pendar cahaya keemasan yang hangat, menerangi lembaran-lembaran kitab klasik bertinta hitam. Kiai Zulfakar menatap keenam muridnya satu per satu dengan pandangan mata yang sangat teduh, membawa kedamaian bagi siapa saja yang memandangnya. Di sudut ruangan, wewangian kayu gaharu membumbung tipis dari tempat pembakaran dupa tembaga, menciptakan nuansa spiritual yang amat kental.
"Anak-anakku sekalian," buka Kiai Zulfakar dengan suara yang dalam, lembut, namun amat berwibawa. "Malam ini kita akan membedah dan menyelami salah satu nama-Nya yang amat agung, yaitu Al-Mujib—Yang Maha Mengabulkan, Dzat yang senantiasa mendengarkan setiap bisikan doa hamba-Nya dan tidak pernah mengabaikan seuntai harapan pun yang melambung ke langit."
Fadil menunduk takzim, lalu memberanikan diri mengangkat tangannya pelan. "Sembah sungkem saya, Kiai. Bagaimanakah cara seorang hamba memahami sifat Al-Mujib tatkala bentuk jawaban atas doa-doanya terasa amat berbeda dari apa yang selama ini dipintanya?"
Kiai Zulfakar tersenyum melihat kesungguhan Fadil. "Pertanyaan yang amat mendalam, Fadil. Ketahuilah bahwa Al-Mujib mengabulkan doa berdasarkan kadar ilmu-Nya yang Mahaluas, bukan berdasarkan kadar hawa nafsu dan kesempitan sudut pandang hambanya."
Fauzan membetulkan letak pecinya, lalu ikut menyela dengan nada penasaran. "Apakah itu berarti setiap pinta yang terucap di bibir kita pasti diberi balasan oleh Allah, Kiai?"
"Pasti, Fauzan," jawab Kiai Zulfakar seraya membuka halaman kitabnya. "Tidak ada doa yang terbuang sia-sia. Allah mengabulkannya dalam tiga wujud: diberikan langsung sesuai pinta, diganti dengan hal lain yang jauh lebih baik, atau disimpan sebagai perbendaharaan pahala yang megah di akhirat kelak."
"Bagaimana agar batin kita tidak goyah tatkala wujud pengabulan itu belum terlihat oleh mata kepala kita, Kiai?" pangkas Faris penuh ketakziman.
Kiai Zulfakar mengangguk pelan. "Tanamkan keyakinan bahwa Allah Maha Tahu kapan waktu terbaik untuk menyingkap rahasia kebaikan-Nya kepadamu."
Ghalib, Rayyan, dan Yafiq mendengarkan dengan penuh rasa hormat, menyiapkan catatan mereka untuk menyerap tiap petuah emas sang guru.
°˖✧✿✧˖°
Suasana di aula surau mendadak semakin hening dan penuh kekhusyukan. Suara gesekan pena di atas kertas catatan milik Ghalib, Rayyan, dan Yafiq terdengar teratur di antara dengungan embun malam yang kian dingin. Kiai Zulfakar membetulkan posisi sorban hijaunya, lalu menatap keenam santri di hadapannya satu per satu dengan pandangan mata yang jernih dan mendalam.
"Sering kali," tutur Kiai Zulfakar pelan namun tegas, "manusia merasa doanya ditolak hanya karena Allah tidak memberikan apa yang secara spesifik ia sebutkan dalam ratapannya. Padahal, penolakan atas wujud yang kau minta sering kali merupakan pengabulan sejati atas keselamatan jiwamu."
Fadil terdiam merenungi kata-kata sang guru. Hatinya tersentuh begitu dalam. Fadil belajar bahwa jawaban doa tidak selalu datang dalam bentuk yang ia bayangkan. Selama ini, dalam sujud-sujud panjangnya di sepertiga malam, Fadil senantiasa memohon agar diberikan kelapangan jalan untuk menempuh jalur pengabdian ilmiah tertentu dan penyelesaian masalah ekonomi keluarganya dengan cara yang sudah ia susun rapi dalam benaknya. Namun, kenyataan hidup sering kali berbelok ke arah yang sama sekali berbeda, menghadapkannya pada rintangan baru dan pilihan-pilihan yang tak pernah ia sangka. Kata-kata Kiai Zulfakar mengenai hakikat Al-Mujib seolah membanting cermin prasangkanya, membukakan mata batinnya bahwa Allah sedang mengabulkan doanya melalui cara yang jauh lebih indah dan selamat.
"Siapa di antara kalian yang pernah merasa kecewa karena permohonannya tidak wujud sesuai skenario pribadinya?" tanya Kiai Zulfakar memecah keheningan.
Fadil perlahan menundukkan kepala, lalu menjawab dengan jujur. "Saya, Kiai. Saya kerap terjebak dalam prasangka bahwa doa saya belum didengar hanya karena takdir berjalan tak sesuai gambaran benak saya."
"Kejujuran batin yang amat berharga, Fadil," puji Kiai Zulfakar lembut. "Mengapa engkau menyempitkan kasih Al-Mujib hanya pada gambaran benakmu sendiri?"
"Karena saya bodoh dan terlalu mengandalkan akal saya yang dangkal," aku Fadil pelan. "Saya lupa bahwa Allah lebih tahu apa yang saya butuhkan ketimbang apa yang sekadar saya inginkan."
Ghalib yang duduk di samping Fadil menepuk bahu sahabatnya itu. "Kita semua sering kali mendikte Allah dalam doa kita, Fadil. Kita meminta obat, padahal Allah ingin memberi kita kesembuhan total dengan cara-cara-Nya."
Rayyan mengacungkan jari penunjuknya. "Kiai, bagaimana melatih hati agar senantiasa bersyukur atas apa pun wujud pengabulan doa yang Allah berikan?"
"Dengan menanamkan sangka baik (husnudzon) tanpa tepi," tegas Kiai Zulfakar. "Saat engkau yakin Allah itu Al-Mujib, engkau akan tersenyum menerima apa pun wujud takdir-Nya."
Yafiq yang duduk di samping Rayyan ikut angkat bicara. "Apakah rintihan doa seorang hamba di malam hari itu sendiri sudah merupakan bentuk karunia dari Allah, Kiai?"
"Sangat benar, Yafiq," jawab Kiai Zulfakar yakin. "Kemampuanmu untuk menggerakkan bibir dan melambaikan tangan meminta kepada-Nya adalah wujud hidayah bahwa Allah ingin memberikan kebaikan kepadamu."
Fadil menunduk penuh rasa haru. Nasihat sang Kiai seolah mencabut duri kegelisahan dari dalam dadanya.
"Masya Allah..." bisik Yafiq penuh ketakjuban. "Betapa mulianya Allah yang menggerakkan doa kita sekaligus menyediakannya jawaban."
"Maka dari itu," pangkas Kiai Zulfakar dengan tatapan teduh, "jangan pernah letih memanjatkan pinta kepada Sang Maha Pengabul."
°˖✧✿✧˖°
Kiai Zulfakar membalikkan lembaran kitab klasiknya yang berwarna kekuningan. Beliau menunjuk pada barisan kaligrafi Arab bertuliskan Al-Mujib, Al-Sami’ (Yang Maha Mendengar), dan Al-Alim (Yang Maha Mengetahui). Beliau memandang keenam santrinya dengan tatapan yang penuh makna tersembunyi.
"Tiga pilar ini saling bertautan erat," jelas Kiai Zulfakar memecah keheningan. "Al-Sami’ mendengar setiap bisikan paling halus di dalam hatimu, Al-Alim mengetahui akibat jangka panjang dari apa yang kau pinta, dan Al-Mujib meracik jawaban paling sempurna berdasarkan keilmuan dan pendengaran-Nya yang mutlak."
Fadil memberanikan diri mengangkat tangannya pelan, lalu bertanya dengan rasa ingin tahu yang mendalam. "Kiai, bagaimanakah sikap batin yang paling tepat tatkala kita mendapati bahwa apa yang sangat kita takuti justru terjadi, padahal kita telah berdoa memohon perlindungan dari hal tersebut?"
Kiai Zulfakar menatap Fadil dengan pandangan yang penuh kasih sayang guru. "Fadil, ketahuilah bahwa ketika ujian yang kau takuti itu tetap menghampirimu, Al-Mujib sebenarnya sedang mengabulkan doamu bukan dengan menyingkirkan ujian itu, melainkan dengan memberikan kekuatan ekstra pada jiwamu agar engkau melampauinya dan tumbuh menjadi manusia yang jauh lebih kuat. Allah sedang menggemblengmu, bukan mengabaikanmu."
Fauzan menyimak penjelasan tersebut seraya bertanya, "Kiai, apakah ada kondisi di mana doa seorang santri terhalang untuk menembus langit?"
"Adasanya maksiat dan makanan yang haram dapat menjadi penghalang," jawab Kiai Zulfakar. "Namun selama engkau bertaubat dan menjaga kesucian rezekimu, tidak ada dinding yang sanggup menghalangi doamu sampai ke 'Arsy."
Faris mengangkat tangannya pelan. "Kiai, bagaimana jika kita merasa tidak pantas berdoa karena bergelimang dosa dan cela?"