6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #52

Mengenal Allah, Mengenal Diri

Mengenal Allah, Mengenal Diri

Fadil menyadari perubahan terbesar terjadi dalam dirinya.

°˖✧✿✧˖°

Malam kian melarut di kompleks Pondok Pesantren Darul Hikmah, Jawa Timur. Angin dingin khas pegunungan berembus lembut menembus celah-celah ukiran kayu surau tua, membawa keharuman tanah basah dan dedaunan pinus yang menentramkan jiwa. Di dalam aula utama surau yang beralaskan karpet hijau tebal, puluhan santri duduk bersila dalam barisan yang amat rapi. Di hadapan mereka, Kiai Haji Zulfakar Al-Quthuz duduk bersila di atas dampar kayu jati dengan keanggunan serta ketenangan yang bersahaja. Di sekeliling beliau, enam santri utama—Fadil, Fauzan, Faris, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq—duduk khusyuk di barisan paling depan dengan kitab catatan serta pena yang siap di genggaman.

Lampu gantung tembaga tua memancarkan pendar cahaya keemasan yang hangat, menerangi lembaran-lembaran kitab klasik bertinta hitam. Kiai Zulfakar menatap keenam muridnya satu per satu dengan pandangan mata yang sangat teduh, membawa kedamaian bagi siapa saja yang memandangnya. Di sudut ruangan, wewangian kayu gaharu membumbung tipis dari tempat pembakaran dupa tembaga, menciptakan nuansa spiritual yang amat kental.

"Anak-anakku sekalian," buka Kiai Zulfakar dengan suara yang dalam, lembut, namun amat berwibawa. "Malam ini kita akan menyelami pilar utama maqam spiritual, sebagaimana kaidah makhsyur para arifin: Man 'arafa nafsahu faqad 'arafa Rabbahu—Barang siapa yang mengenal dirinya, maka sungguh ia akan mengenal Rabb-nya."

Fadil menunduk takzim, lalu memberanikan diri mengangkat tangannya pelan. "Sembah sungkem saya, Kiai. Bagaimanakah keterikatan antara pengenalan kelemahan diri dengan pengenalan keagungan Allah SWT?"

Kiai Zulfakar tersenyum melihat kesungguhan Fadil. "Pertanyaan yang amat bernilai, Fadil. Ketahuilah bahwa engkau tidak akan pernah sanggup menyaksikan keagungan Allah secara murni sebelum engkau mengakui fakirnya dirimu di hadapan-Nya. Pengenalan diri adalah pintu gerbang menuju ma'rifatullah."

Fauzan membetulkan letak pecinya, lalu ikut menyela dengan nada penasaran. "Apakah itu berarti kesombongan batin adalah penghalang terbesar bagi seorang santri untuk mengenal Allah, Kiai?"

"Tepat sekali, Fauzan," jawab Kiai Zulfakar seraya membuka halaman kitabnya. "Orang yang merasa dirinya mampu, berilmu, dan suci akan terhalang dari cahaya-Nya. Allah hanya menampakkan keagungan-Nya pada hati yang merunduk dan merasa butuh."

"Bagaimana cara kita mengikis prasangka dan ego diri agar cahaya itu dapat meresap sempurna, Kiai?" pangkas Faris penuh ketakziman.

Kiai Zulfakar mengangguk pelan. "Dengan senantiasa bermuhasabah, mengakui kelemahan raga, dan melihat bahwa seluruh kebaikan yang ada padamu adalah milik-Nya belaka."

Ghalib, Rayyan, dan Yafiq mendengarkan dengan penuh rasa hormat, menyiapkan catatan mereka untuk menyerap tiap petuah emas sang guru.

°˖✧✿✧˖°

Suasana di aula surau mendadak semakin hening dan penuh kekhusyukan. Suara gesekan pena di atas kertas catatan milik Ghalib, Rayyan, dan Yafiq terdengar teratur di antara dengungan embun malam yang kian dingin. Kiai Zulfakar membetulkan posisi sorban hijaunya, lalu menatap keenam santri di hadapannya satu per satu dengan pandangan mata yang jernih dan mendalam.

"Proses menimba ilmu di pondok ini," tutur Kiai Zulfakar pelan namun tegas, "bukan sekadar menumpuk hafalan atau menguasai tata bahasa Arab. Perjalanan sejati seorang santri adalah perjalanan melintasi lorong batinnya sendiri untuk menemukan cermin kebenaran."

Fadil terdiam merenungi kata-kata sang guru. Hatinya tersentuh begitu dalam. Fadil menyadari perubahan terbesar terjadi dalam dirinya. Dahulu, ketika pertama kali menginjakkan kaki di Pondok Pesantren Darul Hikmah, ia datang dengan ambisi besar untuk membuktikan kehebatan akalnya, mengejar pengakuan sebagai santri tercerdas, serta mudah merasa kecewa tatkala ujian hidup tak berjalan sesuai rencananya. Namun, tempaan hari demi hari di bawah bimbingan Kiai Zulfakar dan kebersamaan dengan para sahabatnya perlahan-lahan mengikis keangkuhan itu. Ia mendapati jiwanya yang dahulu keras kini melunak; hatinya yang dahulu bergemuruh oleh tuntutan dunia kini menjadi tenang dan pasrah. Perubahan terbesar itu bukanlah pada tumpukan kitab yang ia hafal, melainkan pada kemampuannya untuk mengenali betapa fakirnya ia tanpa pertolongan Allah.

"Siapa di antara kalian yang menyadari bahwa musuh terbesar dalam menuntut ilmu adalah persepsi diri sendiri?" tanya Kiai Zulfakar memecah keheningan.

Fadil perlahan menundukkan kepala, lalu menjawab dengan jujur. "Saya, Kiai. Saya menyadari perubahan terbesar terjadi dalam diri saya justru tatkala ego dan kesombongan batin saya runtuh di tempat ini."

"Kejujuran batin yang amat tinggi, Fadil," puji Kiai Zulfakar lembut. "Perubahan seperti apa yang paling kau rasakan dalam batinmu?"

"Dahulu saya mengira saya menguasai ilmu," aku Fadil pelan. "Kini saya sadar bahwa ilmu itu milik Allah, dan saya hanyalah wadah kosong yang sedang dikasihi-Nya."

Ghalib yang duduk di samping Fadil menepuk bahu sahabatnya itu. "Kita semua mengalami transformasi itu, Fadil. Melihatmu berubah membuat kami ikut merenungi cacat batin kami sendiri."

Rayyan mengacungkan jari penunjuknya. "Kiai, bagaimana menjaga agar kesadaran akan fakirnya diri ini tidak berubah menjadi rasa putus asa?"

"Fakir di hadapan Allah adalah puncak kemuliaan, Rayyan," tegas Kiai Zulfakar. "Putus asa datang dari mengandalkan diri sendiri, sedangkan kepasrahan lahir dari mengandalkan Allah."

Yafiq yang duduk di samping Rayyan ikut angkat bicara. "Apakah mengenal diri juga berarti kita paham batas-batas kemampuan fisik dan batin kita, Kiai?"

"Sangat benar, Yafiq," jawab Kiai Zulfakar yakin. "Paham batas diri membuatmu tidak takabur saat berhasil dan tidak hancur saat gagal."

Fadil menunduk penuh rasa haru. Nasihat sang Kiai seolah mengukuhkan kedamaian baru yang merayapi seluruh sel tubuhnya.

"Masya Allah..." bisik Yafiq penuh ketakjuban. "Betapa indahnya proses penyucian jiwa di pondok ini."

"Maka rawatlah kesadaran itu," pangkas Kiai Zulfakar dengan tatapan teduh.

°˖✧✿✧˖°

Kiai Zulfakar membalikkan lembaran kitab klasiknya yang berwarna kekuningan. Beliau menunjuk pada barisan kaligrafi Arab yang menguraikan tingkatan-tingkatan nafs—mulai dari Nafs Ammarah, Lawwamah, hingga Mutma'innah. Beliau memandang keenam santrinya dengan tatapan yang penuh makna tersembunyi.

"Mengenal diri," jelas Kiai Zulfakar memecah keheningan, "adalah memetakan penyakit-penyakit yang bersarang di dalam nafs. Tanpa diagnosa yang jujur atas cacat dirimu, engkau tidak akan pernah sanggup mengobatinya dengan penawar ma'rifatullah."

Fadil memberanikan diri mengangkat tangannya pelan, lalu bertanya dengan rasa ingin tahu yang mendalam. "Kiai, bagaimanakah tanda-tanda rasional tatkala seorang santri mulai berhasil melintasi maqam mengenal dirinya sendiri?"

Kiai Zulfakar menatap Fadil dengan pandangan yang penuh kasih sayang guru. "Fadil, tandanya amat nyata: ia tidak lagi tersanjung oleh pujian manusia dan tidak lagi tumbang oleh celaan mereka. Matanya hanya tertuju pada ridha Allah. Ketika engkau mengenal dirimu sebagai hamba yang hina, pujian tak akan membuatnya melayang, karena engkau tahu siapa dirimu yang sebenarnya di hadapan-Nya."

Fauzan menyimak penjelasan tersebut seraya bertanya, "Kiai, apakah penderitaan atau kesusahan merupakan cara Allah yang paling cepat untuk memaksa kita mengenal diri kita sendiri?"

"Benar sekali, Fauzan," jawab Kiai Zulfakar. "Saat kesusahan menimpa, seluruh topeng ketakaburanmu runtuh. Engkau terdesak hingga tak punya pilihan selain bersimpuh dan mengakui: Ya Allah, aku tidak memiliki daya dan upaya selain dari-Mu."

Faris mengangkat tangannya pelan. "Kiai, bagaimana jika kita mendapati diri kita masih sering tergoda oleh keinginan duniawi setelah merasa mengenal diri?"

Lihat selengkapnya