6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #53

Pelajaran yang Belum Selesai

Pelajaran yang Belum Selesai

Kiai Zulfakar belajar memahami : Mengenal Allah dalam Setiap Keadaan

°˖✧✿✧˖°

Malam kian melarut di kompleks Pondok Pesantren Darul Hikmah, Jawa Timur. Angin dingin khas pegunungan berembus lembut menembus celah-celah ukiran kayu surau tua, membawa keharuman tanah basah dan dedaunan pinus yang menentramkan jiwa. Di dalam aula utama surau yang beralaskan karpet hijau tebal, puluhan santri duduk bersila dalam barisan yang amat rapi. Di hadapan mereka, Kiai Haji Zulfakar Al-Quthuz duduk bersila di atas dampar kayu jati dengan keanggunan serta ketenangan yang bersahaja. Di sekeliling beliau, enam santri utama—Fadil, Fauzan, Faris, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq—duduk khusyuk di barisan paling depan dengan kitab catatan serta pena yang siap di genggaman.

Lampu gantung tembaga tua memancarkan pendar cahaya keemasan yang hangat, menerangi lembaran-lembaran kitab klasik bertinta hitam. Kiai Zulfakar menatap keenam muridnya satu per satu dengan pandangan mata yang sangat teduh, membawa kedamaian bagi siapa saja yang memandangnya. Di sudut ruangan, wewangian kayu gaharu membumbung tipis dari tempat pembakaran dupa tembaga, menciptakan nuansa spiritual yang amat kental.

"Anak-anakku sekalian," buka Kiai Zulfakar dengan suara yang dalam, lembut, namun amat berwibawa. "Malam ini kita melangkah ke puncak pemahaman tauhid harian, yakni bagaimana mengenal Allah SWT dalam setiap keadaan—baik saat lapang maupun sempit, saat gembira maupun duka."

Fadil menunduk takzim, lalu memberanikan diri mengangkat tangannya pelan. "Sembah sungkem saya, Kiai. Bagaimanakah cara seorang hamba menjaga keheningan hatinya agar senantiasa menyaksikan keagungan Allah dalam dinamika hidup yang terus berubah?"

Kiai Zulfakar tersenyum mendengar pertanyaan itu. "Pertanyaan yang amat bernilai, Fadil. Kuncinya terletak pada pemaknaan Asmaul Husna. Jika engkau memahami Al-Latif, engkau melihat kelembutan-Nya dalam ujian yang tersamar. Jika engkau memahami Al-Hakim, engkau menerima kebijaksanaan-Nya dalam takdir yang tak sesuai harapanmu."

Fauzan membetulkan letak pecinya, lalu ikut menyela dengan nada penasaran. "Apakah itu berarti setiap kejadian yang menimpa kita sebenarnya adalah cermin dari manifestasi Asmaul Husna, Kiai?"

"Tepat sekali, Fauzan," jawab Kiai Zulfakar seraya mengelus janggut putihnya. "Tidak ada satu pun helai daun yang gugur melainkan dalam pengetahuan dan takdir-Nya yang penuh hikmah."

"Bagaimana agar batin kita tak tergoyahkan saat badai kesusahan datang melanda, Kiai?" pangkas Faris penuh ketakziman.

Kiai Zulfakar mengangguk pelan. "Sandarkan jiwamu pada Al-Baqi Yang Mahakekal, bukan pada dunia yang fana dan selalu berubah ini."

Ghalib, Rayyan, dan Yafiq mendengarkan dengan penuh rasa hormat, menyiapkan catatan mereka untuk menyerap tiap petuah emas sang guru.

°˖✧✿✧˖°

Suasana di aula surau mendadak semakin hening dan penuh kekhusyukan. Suara gesekan pena di atas kertas catatan milik Ghalib, Rayyan, dan Yafiq terdengar teratur di antara dengungan embun malam yang kian dingin. Kiai Zulfakar membetulkan posisi sorban hijaunya, lalu menatap keenam santri di hadapannya satu per satu dengan pandangan mata yang jernih dan mendalam.

"Banyak orang hafal sembilan puluh sembilan nama keagungan Allah," tutur Kiai Zulfakar pelan namun tegas, "tetapi sedikit sekali yang benar-benar menghidupkan nama-nama itu dalam gerak-gerik batinnya. Mereka hafal Ar-Rahman, namun bertindak kejam. Mereka hafal Al-'Alim, namun berbuat curang di kala sembunyi."

Fadil terdiam merenungi kata-kata sang guru. Hatinya tersentak begitu dalam. Fadil menyadari bahwa Asmaul Husna bukan sekadar hafalan lisan atau bait-bait puji-pujian yang dilantunkan seusai shalat fardhu. Nama-nama Allah harus hidup dalam akhlak, pilihan, kesabaran, doa, dan seluruh perjalanan hidupnya. Selama bertahun-tahun di pondok, ia sering merasa bangga karena mampu menghafal Asmaul Husna beserta urutannya tanpa cela. Namun malam ini, teguran lembut Kiai Zulfakar menyadarkannya bahwa hafalan tanpa pembuktian akhlak adalah seperti pohon rindang yang tidak berbuah.

"Siapa di antara kalian yang masih menganggap Asmaul Husna sebatas teks dalam lembaran kitab?" tanya Kiai Zulfakar memecah keheningan.

Fadil perlahan menundukkan kepala, lalu menjawab dengan jujur. "Saya, Kiai. Saya menyadari bahwa Asmaul Husna bukan sekadar hafalan, melainkan lentera yang harus menerangi setiap pilihan hidup saya."

"Kesadaran yang amat mulia, Fadil," puji Kiai Zulfakar lembut. "Bagaimana engkau akan mempraktikkannya mulai malam ini?"

"Saya akan menghadirkan makna Asmaul Husna dalam tiap helai napas saya," aku Fadil pelan. "Tatkala marah, saya ingat Al-Halim. Tatkala sempit, saya ingat Al-Basit."

Ghalib yang duduk di samping Fadil menepuk bahu sahabatnya itu. "Ucapkan itu dengan penuh keteguhan, Fadil. Kami pun sering terjebak dalam hafalan tanpa perenungan."

Rayyan mengacungkan jari penunjuknya. "Kiai, apa langkah awal agar sifat Ar-Rauf dapat menjelma dalam akhlak santri?"

"Mulailah dengan mengasihi kawanmu yang paling sering membuatmu kesal," tegas Kiai Zulfakar. "Kasih sayang sejati diuji pada orang yang sulit kaumaafkan."

Yafiq yang duduk di samping Rayyan ikut angkat bicara. "Apakah bersabar atas ujian juga bentuk menghidupkan nama As-Sabur, Kiai?"

"Sangat benar, Yafiq," jawab Kiai Zulfakar yakin. "Kesabaranmu adalah bentuk penghormatanmu pada sifat As-Sabur milik Allah."

Fadil menunduk penuh rasa haru. Nasihat sang Kiai seolah membuka lembaran baru dalam perjalanan spiritualnya di Pondok Darul Hikmah.

"Masya Allah..." bisik Yafiq penuh ketakjuban. "Betapa dalamnya samudra Asmaul Husna ini."

"Maka selamilah ia dengan akhlakmu," pangkas Kiai Zulfakar dengan tatapan teduh.

°˖✧✿✧˖°

Kiai Zulfakar membalikkan lembaran kitab klasiknya yang berwarna kekuningan. Beliau menunjuk pada barisan kaligrafi Arab yang menguraikan penerapan Asmaul Husna dalam ranah pengambilan keputusan dan penyucian jiwa. Beliau memandang keenam santrinya dengan tatapan yang penuh makna tersembunyi.

"Pengetahuan tentang Allah (Ma'rifatullah)," jelas Kiai Zulfakar memecah keheningan, "harus tebal dalam dada dan tampak terang dalam perilaku. Tatkala engkau harus memilih antara kejujuran yang pahit dan kedustaan yang manis, di situlah nama Al-Haqq menagih pembuktianmu."

Fadil memberanikan diri mengangkat tangannya pelan, lalu bertanya dengan rasa ingin tahu yang mendalam. "Kiai, bagaimanakah cara kita menyelaraskan doa kita dengan pemahaman atas Al-Hakim Yang Mahabijaksana tatkala doa kita belum kunjung dikabulkan sesuai dengan waktu yang kita inginkan?"

Kiai Zulfakar menatap Fadil dengan pandangan yang penuh kasih sayang guru. "Fadil, tatkala engkau berdoa dan jawabannya tertunda, ingatlah bahwa Al-Hakim memberi sesuai dengan kebutuhan hakikimu, bukan sesuai dengan hawa nafsumu. Penundaan dari-Nya adalah bentuk perlindungan, bukan bentuk penolakan. Di situlah keimananmu pada kebijaksanaan Allah diuji."

Fauzan menyimak penjelasan tersebut seraya bertanya, "Kiai, bagaimana menjaga agar hati tidak tergelincir menjadi sombong saat kita berhasil meneladani sifat-sifat kebaikan tersebut?"

"Ingatlah bahwa seluruh akhlak terpuji itu adalah karunia dari Al-Hadi," terang Kiai Zulfakar. "Engkau tidak bisa berakhlak mulia tanpa taufik-Nya. Maka tetaplah merasa kerdil di hadapan keagungan-Nya."

Faris mengangkat tangannya pelan. "Kiai, apakah menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh merupakan wujud pengagungan pada nama Al-'Alim?"

"Benar sekali, Faris," jawab Kiai Zulfakar. "Menghargai ilmu adalah cara seorang hamba memuliakan Sang Pemilik Ilmu."

Lihat selengkapnya