6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #56

Kabar Buruk dari Rumah

Kondisi ekonomi keluarganya memburuk.

°˖✧✿✧˖°

Hari itu Fadil baru saja selesai mengikuti pengajian setelah Subuh ketika seorang santri datang menghampirinya.

“Fadil.”

Fadil menoleh.

“Ya?”

“Ada telepon dari rumah.”

Fadil langsung berdiri.

“Dari siapa?”

“Katanya ibumu.”

Jantung Fadil berdegup lebih cepat.

“Ibu menelepon ke mana?”

“Ke kantor pengurus. Mereka memintamu segera menghubungi.”

Fadil mengangguk.

“Terima kasih.”

Ia berjalan cepat menuju ruang pengurus. Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan.

Beberapa hari sebelumnya ibunya masih mengabarkan bahwa pekerjaan ayahnya mulai berjalan meskipun penghasilannya belum banyak. Fadil berharap keadaan keluarga perlahan membaik.

Namun telepon sepagi ini membuat firasatnya tidak nyaman.

Setelah meminta izin, Fadil menggunakan telepon pesantren.

“Assalamu'alaikum, Bu.”

Suara ibunya terdengar dari seberang.

“Wa'alaikumussalam, Dil.”

“Ibu kenapa? Ada apa?”

Ibunya diam beberapa saat.

“Fadil…”

“Iya, Bu.”

“Ayahmu sedang tidak bekerja.”

Fadil terdiam.

“Kenapa?”

“Pekerjaan yang kemarin ternyata berhenti.”

“Berhenti?”

“Iya.”

“Bukankah baru mulai?”

“Memang. Tapi orang yang memberi pekerjaan itu mengalami masalah. Pembayarannya tertunda. Beberapa orang yang bekerja bersama ayahmu juga belum menerima uang.”

Fadil mengusap wajah.

“Berapa lama?”

“Ibu tidak tahu.”

“Ayah di rumah?”

“Ada.”

“Kenapa tidak Ayah yang bicara?”

Ibunya menarik napas.

“Ayahmu sedang tidak enak hati.”

Fadil menunduk.

“Karena pekerjaan itu?”

“Bukan hanya itu.”

“Apa lagi?”

“Uang simpanan kita hampir habis.”

Fadil memejamkan mata.

Ia teringat rumah mereka di Prabumulih.

Rumah sederhana.

Atap yang beberapa waktu lalu mulai perlu diperbaiki.

Motor tua ayahnya.

Kebutuhan sehari-hari.

Dan biaya pendidikan adiknya.

“Ibu sudah makan?”

Pertanyaan itu justru membuat ibunya terdiam.

“Sudah.”

“Jangan bohong.”

“Sedikit.”

Fadil menahan napas.

“Bu…”

“Ibu tidak menelepon untuk membuatmu khawatir.”

“Tapi Ibu mengatakannya karena keadaan memang sulit.”

“Iya.”

“Berapa kebutuhan yang paling mendesak?”

Ibunya menyebutkan beberapa hal.

Fadil mencatat semuanya.

Biaya listrik.

Kebutuhan dapur.

Biaya sekolah adiknya.

Obat untuk ayahnya yang beberapa hari terakhir kurang sehat.

Jumlahnya tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan kebutuhan orang lain.

Namun bagi keluarga Fadil, jumlah itu terasa berat.

“Bu.”

“Iya.”

“Fadil akan mencari jalan.”

“Jangan buru-buru pulang.”

Fadil terdiam.

“Ibu tidak meminta itu.”

“Tapi saya ingin membantu.”

“Ibu tahu.”

“Kalau saya bekerja di sini?”

“Kamu sedang belajar.”

“Saya bisa melakukan pekerjaan apa saja.”

“Fadil.”

Suara ibunya melembut.

“Jangan karena melihat kami susah, kamu merasa harus mengorbankan seluruh masa depanmu.”

Fadil menunduk.

“Tapi saya anak Ibu.”

“Justru karena kamu anak Ibu, Ibu ingin kamu menyelesaikan pendidikanmu.”

Telepon berakhir beberapa menit kemudian.

Fadil tetap berdiri di ruangan itu.

Tangannya masih menggenggam telepon.

Matanya kosong.

Seorang pengurus yang berada tidak jauh darinya bertanya,

“Fadil, ada masalah?”

Fadil mengangguk perlahan.

“Keluarga saya sedang kesulitan.”

Pengurus itu terdiam.

“Kalau kamu perlu waktu, bicarakan dengan Kiai.”

Fadil mengangguk.

“Saya akan menemui beliau.”

Ia keluar dari ruangan.

Untuk pertama kalinya sejak kembali ke pesantren, langkah Fadil terasa sangat berat.

Kabar dari rumah bukan sekadar berita.

Itu seperti panggilan yang meminta dirinya pulang.

°˖✧✿✧˖° Titik Plot Pertama — 650–1.050 kata °˖✧✿✧˖°

Fadil menemukan Jazuli di halaman pesantren.

Jazuli sedang membawa beberapa buku.

Begitu melihat wajah Fadil, ia langsung berhenti.

“Dil?”

Fadil menatapnya.

“Ada kabar dari rumah.”

“Buruk?”

Fadil mengangguk.

“Pekerjaan ayah berhenti.”

Jazuli meletakkan bukunya.

“Kenapa?”

“Masalah pembayaran.”

“Lalu?”

“Uang simpanan hampir habis.”

Jazuli terdiam.

“Seberapa parah?”

“Cukup parah.”

Fadil duduk di bangku.

“Aku ingin pulang.”

Jazuli ikut duduk.

“Kamu sudah bicara dengan Kiai?”

“Belum.”

“Kalau begitu jangan mengambil keputusan sekarang.”

Fadil menatapnya.

“Zul, bagaimana aku bisa belajar dengan tenang kalau di rumah mereka kesulitan makan?”

“Kamu tahu sendiri ibumu tidak ingin kamu berhenti.”

“Ibu memang begitu.”

“Lalu?”

“Justru itu masalahnya.”

Fadil mengusap wajah.

“Orang tua sering menyembunyikan kesulitan supaya anaknya tidak khawatir.”

Jazuli mengangguk.

“Aku tahu.”

“Kalau aku tetap di sini, rasanya seperti meninggalkan mereka.”

“Tidak.”

Fadil menoleh.

“Kenapa?”

“Karena kamu tidak meninggalkan mereka. Kamu sedang berusaha mencari jalan agar suatu hari bisa membantu lebih banyak.”

Fadil tersenyum pahit.

“Kalimatmu mudah.”

“Tidak mudah.”

“Lalu?”

“Aku juga pernah berada di posisi itu.”

Fadil terdiam.

Jazuli melanjutkan,

“Dulu aku berpikir satu-satunya cara berbakti adalah pulang setiap kali keluargaku punya masalah.”

“Lalu kamu sadar?”

“Bahwa kadang orang tua membutuhkan kita bukan hanya hari ini.”

Fadil menunduk.

“Mereka juga membutuhkan masa depan kita.”

Jazuli mengangguk.

“Tepat.”

Fadil menghela napas.

“Tapi kebutuhan hari ini tetap nyata.”

“Benar.”

“Listrik harus dibayar.”

“Benar.”

“Adikku sekolah.”

“Benar.”

“Dapur harus mengepul.”

“Benar.”

Fadil menatap Jazuli.

“Jadi apa yang harus aku lakukan?”

Jazuli tersenyum.

“Cari jalan yang tidak membuatmu kehilangan dua-duanya.”

---

Siang itu Fadil menemui Kiai Haji Zulfakar Al-Quthuz.

“Assalamu'alaikum, Kiai.”

“Wa'alaikumussalam. Masuklah.”

Fadil duduk.

“Kiai, saya mendapat kabar dari rumah.”

“Saya sudah mendengar sedikit.”

“Keadaannya memburuk.”

Kiai mengangguk.

“Ayahmu kehilangan pekerjaan?”

“Iya.”

“Dan kebutuhan keluarga semakin berat?”

“Iya.”

Fadil menunduk.

“Saya ingin pulang.”

Kiai tidak langsung menjawab.

“Apakah orang tuamu memintamu pulang?”

“Tidak.”

“Apakah mereka menyuruhmu berhenti belajar?”

“Tidak.”

“Lalu mengapa kamu ingin pulang?”

“Karena saya merasa harus membantu.”

Kiai menatapnya.

“Itu niat yang baik.”

Fadil mengangkat kepala.

“Tapi?”

“Yang perlu kita pikirkan adalah caranya.”

Fadil mengangguk.

“Saya bisa bekerja.”

“Bisa.”

“Kalau begitu saya pulang.”

“Belum tentu.”

Fadil terdiam.

“Kiai?”

“Jangan menganggap hanya ada dua pilihan: pulang atau tidak peduli.”

Fadil mendengarkan.

“Kamu bisa membantu dari sini.”

“Bagaimana?”

“Kamu bisa mencari pekerjaan yang dapat dilakukan tanpa meninggalkan pendidikan.”

Fadil mulai berpikir.

Kiai melanjutkan,

“Namun jangan sampai pekerjaan itu membuatmu meninggalkan kewajibanmu.”

“Saya mengerti.”

“Dan jangan meminjam uang sembarangan.”

“Saya tidak akan.”

“Jangan pula merasa malu meminta bantuan yang halal ketika memang diperlukan.”

Fadil menunduk.

“Saya malu, Kiai.”

“Kenapa?”

“Karena selama ini saya ingin menjadi orang yang membantu, bukan orang yang dibantu.”

Kiai tersenyum.

“Manusia tidak selamanya berada di satu posisi.”

Fadil terdiam.

“Hari ini kamu mungkin membutuhkan bantuan. Besok kamu bisa menjadi orang yang membantu orang lain.”

Fadil mengangguk.

“Yang penting?”

“Jangan kehilangan harga diri karena menerima bantuan yang baik.”

°˖✧✿✧˖°

Sejak percakapan itu, Fadil mulai mencari cara membantu keluarganya tanpa meninggalkan pesantren.

Ia berbicara dengan pengurus.

“Saya ingin mencari pekerjaan ringan setelah kegiatan belajar.”

Pengurus menatapnya.

“Pekerjaan apa?”

“Saya bisa membantu mengajar anak-anak mengaji.”

“Itu bisa.”

“Kalau ada pekerjaan lain?”

“Kamu bisa membantu administrasi pesantren.”

Fadil mengangguk.

“Saya bersedia.”

Mulailah Fadil mengisi waktu luangnya dengan berbagai pekerjaan.

Pagi untuk belajar.

Siang membantu pesantren.

Sore mengajar beberapa anak mengaji.

Malam mengulang pelajaran.

Penghasilan yang diperolehnya tidak besar.

Namun setiap kali menerima uang, ia menyisihkan sebagian untuk dikirimkan kepada keluarganya.

Jazuli memperhatikan kebiasaan itu.

“Kamu kirim berapa?”

“Tidak banyak.”

“Jangan sampai kamu sendiri kekurangan.”

“Aku masih punya makan di pesantren.”

“Dan kebutuhan lain?”

“Aku bisa mengatur.”

Jazuli mengangguk.

“Kalau kurang, bilang.”

Fadil tersenyum.

“Kenapa?”

“Karena kita saudara.”

Fadil menatapnya.

“Dulu aku tidak pernah membayangkan kamu akan mengatakan itu.”

“Kenapa?”

“Dulu kita bermusuhan.”

Jazuli tertawa.

“Sekarang berbeda.”

“Jauh.”

---

Namun usaha Fadil ternyata tidak semudah yang dibayangkan.

Ia mulai kelelahan.

Suatu malam setelah mengajar mengaji, Fadil kembali ke kamar dengan langkah berat.

Jazuli melihat wajahnya.

“Capek?”

“Sedikit.”

“Sudah makan?”

“Belum.”

“Kenapa?”

“Uang makan tadi aku sisihkan.”

Jazuli langsung mengerutkan kening.

“Kamu tidak boleh begitu.”

“Aku masih bisa makan nanti.”

“Dil.”

Jazuli mengambil makanan miliknya.

“Ini.”

Fadil menggeleng.

“Aku tidak mau.”

“Kenapa?”

“Aku masih punya.”

“Kamu baru bilang uang makanmu disisihkan.”

Fadil terdiam.

Lihat selengkapnya